
Berbondong-bondong orang datang menyerahkan diri ke hadapan Tuhan. Di dalam sana duduk para musafir, kepala digoyangkan bagai rumput yang tertiup angin. Berdzikir seirama ke kanan dan kiri. Tak ada lelah dan jenuh, apalagi malas. Ibadah yang mereka lakukan tak terbatas waktu.
Di jalanan, musafir lainnya sedang berjuang. Mengayun langkah untuk sampai pada tujuan. Rumah Tuhan yang selalu terbuka untuk siapa saja hamba yang datang memohon ampunan. Harum tubuh mereka menyeruak saat angin menerpa, meninggalkan jejak yang merasuk hingga ke lubang pembau.
"Beh, ngapa kagak sholat di masjid yang deket rumah aja?" tanya Bima melirik Dewa yang berjalan lambat di sampingnya. Bibir keriput miliknya tertarik ke samping mendengar pertanyaan dari anaknya itu.
"Lu pernah denger kagak soal ibadah? Katanya ustadz semakin kaki kita jauh melangkah, semakin banyak pahala yang bisa didapat. Baju, sarung, peci, motor, mobil bahkan sendal jepit yang kita pake ini bakalan jadi saksi di akherat nanti. Ntu katanya ustadz, ya, bukan kata Babeh," sahut Dewa tanpa mengalihkan pandangan dari hadapannya.
Bima manggut-manggut mendengarkan. "Tapi, Beh, ngapa kudu jauh-jauh ke masjid di mari? Pan, di masjid deket rumah juga bisa," timpal Bima lagi ikut menatap lurus ke depan.
Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah masjid yang berada di dekat pasar di kota tersebut. Pasar yang selalu ramai pengunjung, anak-anak jalanan dan anak-anak yang menamai diri mereka sebagai anak punk, berkeliaran bebas di pasar tersebut.
"Yah ... lu bakal tahu nanti kenapa Babeh bawa lu ke mari." Bima tercenung, belum mengerti apa tujuan Dewa membawanya ke masjid yang jauh dari rumah. Padahal, di dekat rumah mereka pun ada masjid yang selalu ramai ketika shalat Jum'at.
Bima tak lagi bertanya, kedua kakinya terus berayun mendekati sebuah bangunan yang ramai didatangi oleh orang-orang yang berpakaian seperti dirinya. Keduanya menuju toilet, mengambil wudhu bersama jamaah lainnya.
"Keluar! Orang seperti kalian tidak pantas datang ke tempat suci ini. Tubuh kalian kotor, perlu dibersihkan terlebih dahulu di tujuh sungai yang ada di dunia. Barulah kalian bisa memasuki rumah Allah ini!" Sebuah seruan menghentikan gerakan Bima yang sedang berwudhu.
Ia menajamkan telinga, memastikan asal suara keras dan lantang itu.
"Tapi kami ingin beribadah di sini sama seperti kalian. Bukankah rumah Tuhan terbuka untuk siapa saja?" Sahutan yang lain semakin membuat Bima penasaran. Ia menyelesaikan wudhunya dan bergegas keluar tanpa menunggu Dewa yang masih berada di dalam toilet.
Di sana, di tangga depan pintu masuk masjid ... dua orang berpakaian lusuh, tapi terlihat bersih berdiri dengan kepala menunduk. Di hadapan mereka, berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan balutan gamis putih yang menutupi hingga kedua mata kakinya.
Bima tertegun, masih berdiri di dekat pintu toilet memastikan apa suara-suara itu berasal dari mereka.
"Rumah Tuhan memang terbuka untuk siapa saja, tapi bukan untuk orang yang tubuhnya kotor seperti kalian ini. Pergi! Kami sebagai tim keamanan di rumah Tuhan ini, berhak mengusir kalian. Pergi! Sebelum kami bertindak lebih jauh dari ini!" Dua orang lainnya berdiri di kedua sisi kanan dan kirinya.
__ADS_1
Tak ada jama'ah yang membela kedua anak itu, mereka yang melintas bahkan sama sekali tak melihat ke arah mereka berdua. Tatapan-tatapan sinis, mengejek, mencibir, merendahkan, mereka layangkan terhadap dua orang pendosa yang ingin melebur dosa di rumah Tuhannya.
Bima termangu tak percaya, di belakangnya Dewa berdiri diam tak berkutik. Ia membiarkan Bima belajar dari kejadian yang sedang ia saksikan di depan matanya sendiri.
Lu kudu bisa belajar dari mereka, Tong.
Apa ini yang Babeh maksud lebih sakit dari pada ditatto?
Dewa dan Bima bergumam dalam hati, masih terpaku di tempatnya berdiri. Dewa ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu melihat kedhaliman yang nyata di hadapannya itu.
Hati Bima meringis kala melihat kedua anak itu lebih memilih berbalik dan berjalan menuruni tangga meninggalkan masjid. Langkah gontai keduanya sungguh mengiris rasa kemanusiaan Bima. Ia melirik ketiga orang di puncak tangga yang masih mematung menunggu keduanya pergi.
Bima melangkah, memapak langkah mereka. Kedua tangannya ia letakkan di salah satu bahu kedua anak itu. Langkah keduanya terjeda, kepala mereka terangkat menatap sesosok pemuda berperawakan tinggi besar tersenyum ramah pada mereka.
Bima membalik tubuh keduanya, mengajak mereka kembali menaiki tangga tanpa segan. Pandangannya menajam tatkala ia jatuhkan pada ketiga orang yang merupakan DKM masjid tersebut.
"Tidak apa-apa, rumah Allah terbuka untuk siapa saja. Termasuk kalian berdua. Jangan takut, ikut saja dengan Kakak!" ucap Bima menenangkan kedua anak yang nampak gelisah dan ketakutan.
Mata-mata sayu mereka menatap tepat di manik Bima. Keinginan yang kuat dapat Bima rasakan dari pancaran mata mereka. Ia tersenyum, memahami kegundahan hati keduanya.
"Tapi bukan untuk orang kotor seperti kami, Kak. Tuhan tak akan senang rumah-Nya kami kotori." Terhujam jantung Bima. Sakit hatinya, ucapan kedua anak itu membuat rongga dada Bima terasa sesak. Ia meneguk ludah. Senyum di bibirnya sempat raib sesaat setelah mendengar ucapan mereka.
"Kenapa? Apa karena tubuh kalian berdua bertatto, lantas Tuhan akan menolak kedatangan kalian ke rumah-Nya? Penilaian Tuhan tidak sama seperti manusia. Jangan surutkan langkah untuk mendekat kepada-Nya, Dia sedang menunggu kalian di dalam. Ayo!" Bima melanjutkan langkah mengajak keduanya. Senyum di bibir mereka mengembang mendengar ucapan Bima.
"Tunggu! Siapa yang mengizinkan kalian untuk masuk?" cegah ketiga orang itu menahan langkah Bima dan dua anak yang dibawanya.
Bima beranjak maju, berdiri di hadapan kedua anak yang kembali gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Siapa yang melarang seorang hamba mendatangi rumah Tuhannya?" sahut Bima pelan, tapi cukup menghujam. Sorot matanya yang tajam memancar penuh keberanian.
"Siapa kau hingga-"
"Aku hanya hamba Tuhan yang datang ke rumah-Nya untuk berserah diri. Jika Tuhan saja rela membuka pintu-Nya lebar-lebar, kenapa kalian justru menjadi pagar berduri yang menghadang jalan mereka?" tukas Bima dengan cepat.
Dalam waktu sekejap, perbuatan Bima menarik perhatian. Dan seketika saja mereka menjadi tontonan para jama'ah yang datang ke masjid tersebut.
Gelagapan ketiga orang sombong itu, lidah mereka kelu tak dapat menyahut.
"Dasar anak ingusan! Tahu apa kau hingga mengajari kami yang sudah hidup lebih lama darimu! Sombong!" Yang lain menimpali dengan sengit.
Bima tersenyum tipis, melirik sinis pada laki-laki dewasa yang berdiri di bagian kanan pria bergamis putih. Sementara kedua anak di belakangnya, menunduk dengan tubuh yang gemetar. Keringat membasahi pakaian mereka yang lulus.
"Aku memang tidak tahu apa-apa, Pak, tapi coba Bapak jelaskan kenapa kedua anak ini dilarang memasuki masjid?" tutur Bima masih dengan tata krama yang ia usung tinggi.
Lelaki itu tersenyum miring, pandangannya terlempar ke belakang tubuh Bima pada dua anak kumuh itu.
"Kau tidak lihat tubuh mereka? Mereka menggambar tubuhnya sendiri dengan memasukkan benda asing ke dalam kulit mereka. Orang seperti mereka itu kotor, dan tidak pantas memasuki rumah Allah yang suci ini!" tegas lelaki itu bersungut-sungut.
"Sudah, Kak. Tidak apa-apa, kami akan pergi saja." Salah satu anak berucap lirih. Bima tak menanggapi, pandangan matanya menohok manik di hadapan yang tersenyum angkuh.
"Begitukah? Lalu, bagaimana dengan kisah seorang pemabuk yang dijamin masuk surga hanya karena memungut sobekan dari ayat Al-Qur'an? Juga, bagaimana dengan kisah seorang pelacur yang dijamin masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan? Apa mereka juga tidak pantas, sedangkan yang menjamin adalah Allah sendiri?" Telak. Ketiga orang angkuh itu bungkam.
Semua jama'ah mulai berpikir bijak. Kedua anak yang hendak pergi itu terhenti saat mendengar ucapan Bima. Mereka kembali mendekat setelah Bima memintanya, dipimpin Bima keduanya masuk ke dalam masjid.
"Nabi Musa yang seorang Nabi saja ditegur dan didiamkan oleh Allah hanya karena memarahi dan memaki seorang anak gembala," pungkas Bima pelan saat melintasi mereka.
__ADS_1