Bima

Bima
Part. 21


__ADS_3

Matahari sudah naik sepenggalan. Ia selalu berhasil mencapai puncak meskipun orang-orang menyebutnya merangkak. Panasnya menyengat kulit, memberikan rasa terbakar pada permukaannya.


Namun, hal itu tidak berlaku untuk ketiga orang yang baru saja menuruni motor. Wajah-wajah itu nampak berseri mendongak menatap gedung tinggi menjulang di hadapan mereka.


Kedua bibir terbuka lebar, mata berkaca penuh kekaguman. Kedua bola mata mereka tak henti berputar memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di pintu masuk mal.


"Nyak, ini nyang namanya emol? Rame bener. Lebih rame dari nonton layar tancep, Nyak," bisik Bima pada Tina. Tangannya tak lepas menggenggam tangan wanita itu, khawatir ia akan tersesat dan salah mengikuti orang. Bagaimana dia bisa pulang jika tersesat nanti?


"Nyak juga kagak tahu, Tong. Babeh baru ni ajak Nyak ke emol. Busyet, dah, orang-orang ngebludak amat, ya?" seru Tina tak kalah kagum dari Bima. Keduanya sedang menunggu Dewa datang dari memarkir motor. Laki-laki itu meminta mereka berdua menunggu di depan pintu mal.


"Nyak, kita di sini ngapain? Mau nonton layar tancep? Katanya si Revan, kita bisa nonton di mari, Nyak." Bertanya lagi memberitahu Tina apa yang pernah dia dengar soal mal.


Tina melongo, teringat kali terakhir dia menonton film di desa. Itu sudah sangat lama sekali, saat Bima masih balita.


"Entar lu ajak Babeh nonton, ya. Udah lama bet Nyak kagak nonton felem," katanya bersekongkol. Bocah itu mengangguk pasti. Menunggu tanpa rasa jenuh mematung bagai kedua kaki dipatri kuat.


"Nyok!" Dewa datang merangkul bahu keduanya. Senyum sumringah yang tak menutupi sikap norak anak dan istrinya membuat hati Dewa berbunga-bunga. Tak masalah orang lain melihat aneh ke arah mereka, yang penting anak bini gua seneng. Orang laen kagak penting.


Jari mereka menunjuk kian kemari, berseru ini dan itu. Lari ke sana dan ke sini. Mengagumi setiap sudut yang bernama mal.


"Nyak! Liat, ada tangga yang jalan ndiri!" seru Bima menunjuk eskalator yang bergerak naik dan turun.


"Wah ... bener lu, Tong! Nyak pengen nyobain. Nyok, ah!" Tina menarik tangan Bima tak sabar ingin mencoba tangga yang terus bergerak naik dan turun.


"Ekhem!" Suara deheman Dewa membuat mereka terhenti. Keduanya menoleh, wajah Tina dan Bima benar-benar polos kali ini. Seperti anak kecil yang bermain dan tak tahu apa-apa.


"Kemaren ada yang bilang begini kalo kagak salah, walaupun kita dari kampung, tapi kudu bisa nempatin diri kudu bisa nyesuain diri ama lingkungan. Lah, sekarang ...." Dewa terkekeh melihat wajah Tina yang bengong seperti orang linglung. Wanita cantik itu menggaruk rambut dengan kedua bibir tertarik panjang ke samping.

__ADS_1


"Ya elah, Bang. Ntu, mah, laen ma ini. Yok, ah, Bang. Gua mau nyobain yang jalan ntu." Tina menunjuk eskalator tak sabar. Tak peduli senyum nakal Dewa yang mengejek dirinya. Tak peduli orang lain yang menatap aneh pada mereka.


Ia menarik tangan Bima, eskalator di lantai satu tak begitu ramai. Mereka melompat naik dan mulai bergerak. Naik lagi, bergerak lagi. Naik lagi, bergerak lagi.


Dewa terpingkal melihat keduanya. Para pengunjung mal pun ikut menertawakan tingkah kedua orang itu, tapi mereka tak mengacuhkannya.


"Nyak, kok, kagak sampe-sampe? Malah balik lagi balik lagi. Orang-orang udah pada di atas." Bima mendongak menatap mereka yang sudah berdiri dan berjalan di lantai berikutnya. Di antara mereka ada yang tertawa melihat dia dan Tina.


"Iya, Tong. Heran Nyak, ngapa kagak bisa sampai ke atas, ya?" Tina sama bingungnya. Keduanya menatap tangga yang bergerak turun tepat di kaki mereka.


Tawa Dewa masih terdengar, ia menyusut sudut matanya yang tergenang air karena menertawakan anak dan istrinya. Ia berjalan setelah meredakan tawa menyusul keduanya. Merangkul mereka tiba-tiba, menatap bergantian anak dan istrinya yang kebingungan.


"Lu mau naek apa turun?" tanya Dewa memandang keduanya. Tina melengos cepat ke arahnya.


"Lah, mau naek, Bang. Masa turun. Kita, pan, udah di bawah," sahut Tina tak terima. Ia melirik Bima, bocah itu mengangguk polos.


Mulut Bima dan Tina membentuk huruf 'o' lebar sambil manggut-manggut faham.


"Nyok!" Dewa menggandeng keduanya menaiki tangga yang bergerak ke atas khawatir mereka akan terjengkang karena tak ada yang bisa diam di tempat.


Mereka hanya berkeliling, melihat ini dan itu. Jajan es krim tanpa membeli apa-apa. Dilanjutkan ke Timezone untuk membiarkan Bima bermain layaknya anak-anak seusianya. Di dalamnya banyak anak-anak berbagai usia sedang bermain. Bima berbaur, sedangkan Dewa menahan tangan Tina untuk tidak ikut bermain seperti Bima.


"Sini aja lu. Mau ke mana? Ntu, mah, buat anak-anak," tegasnya sambil memeluk erat pinggang ramping istrinya itu. Tina mendengus, kesal dan kecewa karena tak dapat ikut bermain bersama Bima. Namun, ia menurut juga dan duduk tenang bersama Dewa.


Getar ponsel Dewa mengganggu keasyikan keduanya melihat Bima bermain bersama anak-anak lainnya.


"Bentar, ya?" pamitnya pada Tina menunjukkan telepon yang digenggamnya. Nama majikan tertera di layar, ia keluar sebentar untuk menerima telepon disaksikan Tina yang tak berkedip melihatnya.

__ADS_1


Hanya sebentar, ia melihat Dewa yang mengangguk, tapi tak dapat mendengar apa yang dibicarakan suaminya itu. Ia tersenyum saat mendapati Tina yang sedang melihat ke arahnya. Duduk kembali dan tak lupa merangkulkan tangan di tempatnya semula.


"Ada apa, Bang? Ngapa muka Abang serius tadi waktu telepon?" tanya Tina dengan kerutan di dahi.


"Majikan Abang minta diantar ke luar kota besok. Dia dokter, Tin. Hebat, masih muda. Anaknya baru dua. Tuh, temennya si Bima," terang Dewa memberitahu. Tina menganggukkan kepalanya.


"Majikan Abang ... cewek?" Terkekeh Dewa melihat ekspresi cemburu Tina. Ia memeluknya dengan gemas, mengecup dahinya tak tahan melihat kesedihan yang terpancar di maniknya.


"Majikan Abang laki, Tin. Abang sebenarnya jaga di kantor, tapi kalo ada majikan yang pengen diantar, Abang jadi supir. Alhamdulillah, Abang dipercaya ama majikan. Kalo yang cewek dia di restoran, tapi supirnya cewek juga. Lu kagak usah mikir yang macem-macem, ya. Cuma lu di hati gua, kagak ada yang laen. Cuma lu yang bening di mata gua, Tin. Sumpah!" rayu Dewa yang berhasil memudarkan kesedihan di wajah Tina berganti semu merah di kedua pipi.


"Makasih, ya, Bang." Tina ikut memeluk bahagia dan bersyukur. Keduanya tenang kembali menunggu Bima bermain. Anak itu kerap menolong anak lainnya yang kesulitan dalam bermain. Menjadi kebanggaan tersendiri untuk Tina dan Dewa.


"Beh, nonton, Nyok! Katanya si Revan di emol kita bisa nonton tipi gede kaya layar tancep, tapi di mana? Bima kagak lihat ada tipi gede," ucap Bima dengan polosnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari layar besar yang diberitahu Revan.


"Layarnya kagak di luar, tapi di dalem. Kalo lu mau nonton, kita kudu beli tiket. Nyok, Babeh ajak kalian nonton. Bioskop namanya," sahut Dewa tersenyum pada keduanya.


Aduh, Emak, asiknye


Nonton dua-duaan, kaye Nyonye dan Tuan


Di gedongan


Mau beli minuman


Kantong kosong glondangan, malu ame tunangan


Kebingungan

__ADS_1


"Elah, Tin. Seneng bener, suara lu lembut bet, dah." Tina terkekeh mendengar pujian Dewa saat ia menyanyikan lagu berjudul Malam Minggu yang dipopulerkan oleh Benyamin Sueb di eranya. Ia memegang tangan Dewa yang merangkul bahunya. Seolah lupa pada bocah yang melirik senyum-senyum sendiri.


__ADS_2