Bima

Bima
Part. 119


__ADS_3

Malam Minggu malam yang panjang. Begitu disebutkan dalam sebuah lagu mendeskripsikan tentang malam akhir pekan. Malam yang selalu ditunggu anak-anak untuk dapat bermain dengan orang tua selepas enam malam lainnya disibukkan dengan pekerjaan.


Malam yang terasa penuh bunga untuk dua sejoli yang sedang dimabuk cinta. Malam akhir pekan yang ditunggu Bima datang membawa cinta. Hiruk-pikuk manusia di kota-kota besar menghidupkan suasana malam panjang itu.


Hilir-mudik kendaraan tak surut, anak-anak muda yang berkencan. Termasuk Bima yang sudah duduk di atas motor menunggu sang kekasih menyelesaikan pekerjaan.


Malam ini, ia akan membawa Khaira bertemu Dewa dan Tina sebagai calon istrinya. Berbatang-batang rokok telah disulutnya menemani kesendirian di parkiran restoran sate milik Ayahnya sendiri.


Setangkai mawar merah terselip di kepala motor, ia pandangi dengan senyum merekah tiada bertepi. Sejak kejadian di sungai, Revan tak pernah muncul di hadapannya. Entah ke mana anak itu? Bima sendiri tak menanyakannya.


Siluet yang ditunggunya muncul perlahan dari belakang bangunan tersebut. Bima beranjak turun, satu tangan ia sembunyikan di belakang dengan mawar yang akan ia berikan. Senyum manis berlesung pipi menyambut kedatangan sang gadis yang nampak bersinar dengan balutan hijab menutupi rambut.


"Kakak sudah lama menunggu?" tanyanya begitu berhadapan dengan pemuda yang memenuhinya cinta juga perhatian.


"Selama apapun gua bakal tunggu. Nih! Buat lu!" Bima menyerahkan bunga yang ia siapkan pada Khaira.


Terbelah bibir gadis itu membentuk garis lengkung ke atas. Rasa hangat menjalar di wajah hingga ke telinga. Menciptakan rona merah di kedua pipinya. Malu-malu ia menerima bunga itu dan mendekatkannya pada hidung. Menghirup aroma mawar yang khas dan menenangkan.


"Terima kasih." Ia angkat pandangan bertemu dengan manik sekelam malam milik pemuda di hadapannya.


Bima mengusap tengkuk salah tingkah, menggigit bibirnya sendiri terpesona dengan senyum dan suara lembut sang calon istri.


"Ra, malam ini gua mau bawa lu ke rumah. Apa lu keberatan?" tanya Bima mengutarakan niatnya kepada Khaira.


"Bertemu Babeh dan Nyak?" Khaira merajut kedua alis, merasa senang dan berbunga. Bima menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Tidak masalah, sudah lama juga aku juga tidak bertemu dengan mereka," katanya pasti. Bima menganggukkan kepala, bingung mau berkata apa.

__ADS_1


Ia menaiki motor, memakaikan helm pada sang kekasih sebelum memakai miliknya. Perasaan apa ini? Khaira menebak dalam hati untuk apa Bima mengajaknya bertemu dengan orang tua? Rasa hangat itu kembali terasa, rona di pipi datang tak terkira, hatinya berbunga-bunga.


Ban berdecit di halaman rumah sederhana milik Dewa. Dua lansia itu sedang duduk di teras menghabiskan malam akhir pekan dengan menikmati dua cangkir teh ditemani ubi rebus. Mengingatkan mereka pada kehidupan saat di desa dulu.


Keduanya tersenyum seraya beranjak menyambut karena melihat Bima yang datang tidak sendirian. Kedua orang tua di teras itu memperhatikan bagaimana cara Bima menyayangi calon istrinya.


Ia membukakan helm di kepala Khaira dan membawanya mendatangi Dewa dan Tina. Tina antusias menyambut gadis cantik itu. Ia mengulurkan tangan menarik lembut tangan Khaira dan menggenggamnya.


"Calon mantuku. Kau cantik sekali, Nak, memakai penutup kepala ini," katanya seraya memeluk lembut calon menantunya.


Khaira tertegun menerima sambutan hangat dari Tina yang tak ia sangka. Padahal, terakhir bertemu sebelum Dewa pulang dari rumah sakit. Ia membalas pelukan Tina, meletakan kepalanya sejenak di atas pundak ringkih itu.


Tina mengurai pelukan, mengusap pipi gadis itu yang merona hangat. Khaira tersenyum, ia menahan malu sampai-sampai lidahnya kelu tak dapat berucap. Dewa merangkul bahu putranya dengan bangga. Pandangannya tak lepas dari gadis yang disambut Tina dengan hangat itu.


"Kita masuk!" ajaknya membawa serta Bima melangkah memasuki rumah. Ketiganya duduk di atas tikar yang telah tergelar rapi. Tina pergi ke dapur mengambil satu teko kecil teh hangat juga camilan yang telah ia disiapkan.


Ia juga menuangkan teh itu ke atas cangkir milik Khaira dan Bima.


"Terima kasih, Ibu baik sekali," katanya tersenyum haru. Ia mengambil cangkir teh dan menyesapnya. Rasa hangat seketika ia rasakan mengalir di tenggorokan.


"Jangan sungkan. Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Tina. Keduanya nampak akrab dan asik mengobrol hingga lupa pada dua laki-laki yang menonton.


"Ibu baik-baik saja. Beliau menitipkan salam untuk Ibu dan Bapak," katanya sedikit merunduk karena sifat pemalunya.


"Alhamdulillah, terima kasih. Salam balik untuk beliau," sahut Tina.


Dewa melirik Bima, pemuda itu memasang senyum aneh sambil mengangkat bahu dan menggeleng. Entah apa maksudnya.

__ADS_1


Tanpa perlu memberitahu siapa Khaira, keduanya telah mengetahui bagaimana posisi gadis itu untuk Bima.


Sementara di tempat lain, lampu-lampu berkelipan menyilaukan mata. Musik berdentam menghantam rongga dada. Para gadis berpakaian minim meliuk-liuk di tengah kerumunan para lelaki menggoda.


Di sebuah meja, seorang pemuda duduk tertunduk, setengah kesadarannya hilang akibat alkohol yang ia tenggak. Penampilannya yang selalu terlihat rapi, kini nampak berantakan tak terurus.


"Lagi!" Ia berucap dengan suaranya yang berat. Membanting gelas di meja meminta seorang pelayan perempuan menuangkan minuman haram itu lagi. Sekali tenggak, gelas berikutnya langsung kosong.


Teman yang duduk bersamanya menatap cemas pemuda itu.


"Revan! Kau sudah menghabiskan hampir dua botol, kawan! Sudahlah, kau tidak takut akan bermasalah?" tegur pemuda itu kepada Revan yang sudah tak berdaya. Untuk mengangkat kelopak saja, ia sudah kepayahan.


"Aku tidak peduli! Hatiku sakit, benar-benar sakit. Dia yang baru datang itu, merebut semuanya dariku. Aku menginginkan kursi itu, tapi si tambun Akmal yang mendapatkannya. Aku mencintai gadis itu, tapi dia merebutnya. Mereka benar-benar serakah. Brengsek!" ucapnya kepayahan.


Ia meracau tak jelas, menyebut-nyebut nama Bima dan mengumpatinya.


"Kenapa? Kenapa harus dia? Dia temanku, tapi dia merebut semuanya dariku. Hah ... anak yang hilang itu, dengan tidak tahu malu mengambil semuanya. Dan mereka semua membelanya. Konyol! Aku membencinya, aku membenci mereka semua," racau Revan semakin tak terkendali.


Ia merebut botol minuman, lantas menenggaknya langsung. Berdiri sempoyongan hampir terjatuh. Menari-nari bersama para gadis meski kedua kaki tak mampu menopang tubuh.


Brugh!


Ia jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.


"Ah, sial! Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuamu nanti. Kau menyusahkan aku saja!" umpatnya sambil membantu Revan berdiri bersama satu orang lainnya. Mereka membawanya masuk ke dalam mobil, berinisiatif mengantarkan Revan ke rumahnya.


Sementara di rumah, Emilia berjalan kian kemari mencemaskan putra bungsunya.

__ADS_1


*****


Maafkan author jika update tak tentu waktu juga tak tepat waktu. Dikarenakan sedang ada kegiatan yang menyita waktu selama dua hari ini. Terimakasih karena selalu setia bersama Bima. Love you all!


__ADS_2