Bima

Bima
Part. 6


__ADS_3

Esok hari selalu menjadi yang ditunggu. Terkadang ingin bergegas meninggalkan hari demi bertemu esok. Rasa penasaran yang kian menggunung membuatnya tak tahan berdiam diri saja.


"Aku tidak bisa belajar kalau begini. Ah ...." gerutunya meremas pulpen di tangan dan menorehkan coretan di atas buku tulis milikinya. Ia menjatuhkan kepala di atas meja sambil membuang napas kasar.


"Kau kenapa? Apa ada masalah? Cerita saja padaku," tegur teman sebangkunya yang mendengar ia berkeluh kesah. Gadis itu membuka matanya pelan, maniknya memancarkan kegelisahan yang kentara.


"Apa kau ingat tentang adikku yang hilang sejak bayi?" Ia berucap tanpa mengangkat kepalanya dari meja. Menatap manik temannya dengan dalam. Anggukan kepalanya menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Diam menunggu gadis itu menjelaskan.


Lagi-lagi dia menghela napas berat dan lelah. "Aku tahu, Ayra. Adik yang selalu kau ceritakan itu, bukan? Ada apa lagi? Apa kau merasakan kehadirannya lagi sekarang?" Bertanya karena teman yang diajaknya berbicara justru bungkam seribu bahasa. Ia bahkan memalingkan wajah darinya.


Disapunya punggung Ayra dengan pelan, ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Sejak mereka berteman, yang selalu dibahasnya adalah adik laki-lakinya yang hilang dari sejak bayi. Dia bahkan bertekad menemukannya meskipun pihak kepolisian telah menutup kasus tersebut dan menghentikan pencarian sepuluh tahun lalu. Dan bayi itu dinyatakan meninggal karena dimakan binatang buas.


Namun, bagi Ayra dia masihlah hidup. Detak jantungnya masih bisa ia rasakan, hanya saja adiknya itu berada di tempat yang jauh dengannya. Itulah mengapa ia bertekad untuk mencarinya, bila perlu ia akan mengelilingi Negeri tempatnya tinggal itu.


"Ini sudah sepuluh tahun berlalu, tapi kau masih saja menganggapnya ada. Orang tuamu bahkan sudah merelakannya. Kau tidak bisa seperti ini terus, Ayra. Dia pun tak akan senang melihatmu yang hanya berputar di masa lalu. Kau harus mulai memikirkan masa depanmu," tutur temannya tersebut dengan lembut.


Ayra mengangkat perlahan kepalanya, dipandanginya wajah seorang gadis berkulit kuning langsat tersebut. Ia tersenyum, manis terlihat. Ayra mendengus, ia menundukkan wajah lagi.


"Bukan begitu. Ya ... aku akui memang begitu, tapi ... kau tahu adik perempuanku?" Kepalanya cepat menoleh lagi, kedua iris matanya bergerak-gerak menatap sahabatnya itu.


Ia hanya menganggukkan kepala menjawab.


"Dia bercerita kemarin saat diajak Ibu dan Ayah ke pasar. Dia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang mirip Ayahku saat tersenyum, tapi bentuk matanya mirip dengan Ibuku. Yang aku ingat, bentuk wajah itu milik Baim, adikku yang hilang. Terdengar mustahil memang, tapi aku penasaran ingin melihat anak itu," ungkap Ayra yang kembali menjatuhkan kepala di atas meja.

__ADS_1


Rayya, temannya itu tertegun mendengar ceritanya. Bagaimana mungkin ada kebetulan seperti itu. Seorang bayi yang dinyatakan meninggal dunia sepuluh tahun lalu, kemudian sekarang ia muncul lagi sebagai sosok anak kecil.


"Mungkin mereka hanya kebetulan mirip saja, Ay. Rasanya mustahil saja, bukankah adikmu itu hilang sebelum kau dan keluargamu pindah ke desa ini?" Tatapan mata Rayya menghujam tepat di maniknya tatkala Ayra menoleh padanya.


Benar, adiknya hilang di kota, sedangkan mereka pindah ke desa setelah adiknya itu jatuh ke jurang dan menghilang. Lalu, apa hubungannya dengan bocah yang diceritakan adiknya kemarin?


"Kau benar, tapi tetap saja aku penasaran ingin melihat wajahnya," gumam Ayra yang lagi-lagi membuang napas yang dalam, "aku bisa mati penasaran jika seperti ini terus," racaunya lagi sambil membenturkan dahi pada tepi meja.


Rayya mengusap punggung sahabatnya itu, ia sangat mengerti bagaimana perasaan Ayra saat ini.


"Kalau kau penasaran, kenapa tidak datang ke tempat adikmu bertemu dengannya? Kau bisa memastikan kebenarannya, bukan?" saran Rayya. Menurutnya dia sudah benar.


"Aku sudah mendatanginya kemarin, tapi dia tak di sana. Tidak ada yang tahu juga di mana rumah bocah itu." Ayra terdengar kesal. Lebih tepatnya ia kecewa karena tak dapat menemukan Bima, bocah yang dia cari.


Rayya ikut membuang napasnya, tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk membantu Ayra.


"Demi dirimu aku akan rela ikut ke mana pun kau pergi!" gombalnya. Terkekeh keduanya. Ayra merasa sedikit lega setelah mengungkapkan isi hatinya pada Rayya.


Selepas sekolah, keduanya berjalan menuju parkiran. Menggunakan sepeda motor matic milik Ayra, mereka pergi ke tempat kemarin. Lahan parkir di pasar tradisional.


"Apa di sini?" tanya Rayya begitu Ayra memarkir motornya di parkiran yang dia maksud.


"Iya." Ia membuka helm dan menggantungkannya di spion. Mengernyit dahi keduanya karena sengatan sinar matahari di siang hari itu.

__ADS_1


"Kita tunggu di sini saja," katanya sambil menyenderkan tubuh pada badan motornya. Beruntung, mereka parkir tepat di bawah pohon rindang.


"Eh ...?" Rayya melongo saat melihat seorang wanita paruh baya berjalan ke parkiran. Ia tak membawa belanjaan, tapi kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari seseorang.


"Ada apa?" tanya Ayra. Ia menegakkan tubuh dan melihat ke arah yang ditunjuk Rayya. "Ibu?" Bergumam pelan saat melihat Aulia yang berjalan di parkiran tersebut.


Apa Ibu memiliki firasat yang sama denganku?


"Eh ...?" Rayya hampir memekik saat Ayra tiba-tiba menarik tangannya. Ia melipat bibirnya menahan suara yang ingin keluar. Ayra menempelkan jari telunjuknya di bibir memintanya untuk tidak berbicara. Ia ingin tahu tujuan Aulia datang ke parkiran tersebut.


"Kenapa kita bersembunyi?" bisik Rayya yang tak mengerti dengan reaksi yang diambil Ayra.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Diamlah! Cukup kita dengarkan saja," katanya berbisik pula. Rayya menganggukkan kepala mengerti. Keduanya bersembunyi di balik badan sebuah mobil dengan mengunci mulut mereka rapat-rapat.


"Pak, saya mau bertanya. Apa di sini ada anak yang bernama Baim ... Bima? Maaf, Bima? Saya ingin bertemu dengannya. Kemarin dia menolong anak saya. Apa Bapak ingat seorang anak perempuan kecil yang dititipkan di ruang informasi?" tanya Aulia pada petugas informasi yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Benar dugaanku." Ayra bergumam. Rayya menoleh terkejut padanya. Ia mengangguk tanpa mengucapkan kata apa pun.


"Oh ... iya, saya ingat, tapi maaf saya tidak mengenal anak yang bernama Bima. Saya benar-benar minta maaf. Kemarin memang dia dibawa seorang anak, tapi saya tidak mengenalnya. Mungkin dia hanya anak-anak yang menawarkan kantong plastik pada mereka yang berbelanja di pasar. Saya tidak tahu," katanya sambil mengangkat bahu tak tahu.


Aulia menunduk, rasa tak percaya ada dalam hatinya, tapi tak mungkin juga ia memaksa orang itu untuk dapat mengingat nama anak tersebut.


"Ya sudah, terima kasih banyak, Pak," katanya gemetar. Ia berbalik dan meninggalkan parkiran tersebut bersama jejak air mata yang menetes di pipinya.

__ADS_1


"Ibu juga merasakan hal yang sama denganku," gumam Ayra sembari menatap punggung Aulia yang kian menjauh.


"Benar, ikatan batin antara Ibu dan anak biasanya terasa kuat. Mungkin dia benar itu adikmu yang hilang, Ay." Ayra mengangguk setuju dengan ucapan Rayya.


__ADS_2