
Rumah hanya dengan dua ruang saja itu yang akan mereka tempati mulai hari ini. Rumah yang berbeda dengan milik mereka saat di desa. Sekalipun bukan orang kaya, tapi rumah mereka jauh lebih nyaman untuk ditinggali.
"Lu kagak apa, pan, tinggal di rumah ini?" Dewa mengusap rambut putranya yang masih menatapi langit-langit rumah itu. Warna yang sudah memudar, ditambah beberapa kelompok laba-laba yang membentuk rumah. Apakah rumah ini tidak dibersihkan terlebih dahulu?
Bima menurunkan pandangan, melihat kekecewaan di manik sang Ayah yang tersenyum. Lantas, memeluk pria yang tak lagi muda itu untuk membenahi hatinya yang gundah.
"Kagak apa-apa, Beh. Mau tinggal di mana aja, asal ama Nyak dan Babeh, Bima bakalan seneng." Dewa mengusap kepala Bima.
"Kita beres-beres, Nyok! Nyak capek banget, pengen rebahan," ajak Tina yang sedari tadi menahan kakinya yang gemetar.
Semangat empat lima dikobarkan, tiga orang itu bahu membahu membersihkan rumah yang akan mereka tempati. Membenahi semuanya, belum ada apa pun di dalamnya. Beruntung Darma, temannya memberikan satu buah kasur lantai yang bisa mereka tiduri bertiga.
"Hah ... akhirnya bisa rebahan juga. Tidur, Tong. Lu capek, pan. Mari, rebahan ma Nyak." Tina melambaikan tangan memanggil Bima yang masih duduk bersandar setelah membantu membereskan semuanya.
Ia membukanya bajunya yang basah dan mengumpulkannya bersama baju milik Tina juga Dewa. Merangkak mendekat pada Tina, berbaring di sampingnya. Tak butuh waktu lama untuk keduanya dapat terlelap di alam mimpi.
Menyusul Dewa yang merebahkan diri di lantai tanpa alas apa pun. Pintu rumah mereka kunci, tak ingin ada siapa pun yang datang mengganggu.
Malam yang sama, tapi berbeda suasana. Dewa membelikan makanan untuk mereka bertiga.
"Tin, Bim, besok Babeh mau pulang dulu ke kampung. Mau ngurusin rumah ma lapak. Lu bisa jagain Nyak lu, 'kan?" Dewa melempar lirikan pada Bima yang baru saja meneguk minum usai makan.
Bocah laki-laki itu mengangguk pelan meskipun tanpa ekspresi. Dalam hati dia ingin ikut pulang, ingin bertemu gadis kecilnya atau sekedar berpamitan padanya.
Esok hari yang tak ditunggu datangnya, tetap saja berkunjung meski tak diundang. Dewa bersiap-siap pergi ke kampung kembali seorang diri meninggalkan anak dan istri di kota yang asing.
Tina yang bingung karena tak tahu harus apa, hanya berdiam diri di rumah bersama Bima. Tak banyak yang ia kerjakan, hanya membereskan sisa kemarin yang belum sempat dirapikan.
"Mau ke mana lu, Tong?" tanya Tina saat melihat Bima berjalan keluar rumah tanpa pamit padanya.
"Pengen maen, Nyak. Bima bosan," ucapnya sambil melihat anak-anak yang bermain di depan kontrakan.
__ADS_1
Tina tersenyum, ia beranjak meninggalkan pekerjaannya dan berdiri di belakang Bima. Disapunya rambut anak itu sambil ikut melihat anak-anak yang bermain.
"Bima sudah bisa berbicara bahasa mereka? Seperti Nyak saat ini, tidak apa-apa pelan-pelan saja. Yang penting Bima mau belajar," tutur Tina menggunakan bahasa yang dipelajari Dewa dan Bima darinya sejak pertama kali datang.
"Aku tidak tahu, Nyak. Gimana, ya ... geli rasanya, Nyak. Apa kagak biasa, ya?" katanya bercampur aduk. Tina tersenyum, dan mengangguk mengizinkan Bima bermain dan memperkenalkan diri pada mereka.
Lu jangan banyak omong, Bim. Diem aja kalo kagak bisa.
Pesannya dalam hati. Ia berjalan keluar, Tina mengawasi di jendela rumah mereka. Ia memperhatikan bagaimana Bima yang awalnya hanya berdiri, kemudian salah satu anak menghampiri dan mengajaknya bermain.
"Alhamdulillah, Bima emang anaknya cepet akrab. Mudah-mudahan dia diterima di kota ini," syukur Tina sambil mengusap dadanya. Ia kembali pada pekerjaan yang sempat ia tunda. Menuntaskannya hingga rapi dan bersih.
Sementara Dewa, termenung di dalam bus. Setidaknya perlu dua hari perjalanan pulang dan pergi juga untuk menyelesaikan urusannya di kampung.
"Mudah-mudahan Tina dan Bima kagak ngapa-ngapa gua tinggal. Maafin Babeh, Bima. Babeh kudu bawa lu pegi dari rumah. Babeh takut, orang-orang itu bakal ambil lu dari Babeh. Maafin Babeh. Lu anak Babeh."
Ia melipat bibir dengan pandangan yang ia palingkan ke jendela, tangan Dewa mengusap kedua matanya. Dia lelaki berhati lembut meskipun memiliki wajah yang sangar. Dia perasa sekalipun dijuluki preman.
Setengah hari perjalanan ditempuhnya di dalam bus. Ia harus menaiki angkot lagi untuk sampai di kampungnya. Dewa akan mengurus lapak juga rumah yang akan dijualnya. Ia membawa semua dokumen dan pergi ke rumah juragan tanah di kampung tersebut.
"Kenapa lu kagak bilang-bilang kalo pindah, Bang? Kita jadi sedih. Lu, 'kan, tahu preman dari kampung sebelah suka gangguin. Kalo lu kagak ada, gimana nasib kita, Bang?" keluh mereka nampak sedih dan putus asa.
"Makanya lu semua kudu kuat biar bisa jaga tempat kita ni. Gua udah kagak bisa tinggal di mari, rumah udah gua jual. Ni lapak gua serahin ma lu semua. Lu urus, lu kasih makan anak bini lu pake uang halal. Ngarti lu, ya?" tegas Dewa.
Keempat temannya itu menundukkan wajah. Bagi mereka, Dewa bukan hanya rekan, tapi juga sosok yang dituakan oleh mereka. Kakak dan Ayah yang selalu memberi nasihat-nasihat yang baik kepada mereka.
"Apa gara-gara orang yang suka nyariin Bima, Bang? Ampe ni hari mereka masih aja nyariin Bima. Heran gua pake pelet apa anak lu, Bang? Ampe saban hari dicariin orang mulu," celetuk salah satunya membuat Dewa termangu.
Itu salah satunya, tapi gua kagak bisa bilang ama lu semua.
Dewa mengibaskan tangan. "Ah ... udah kagak usah bahas soal anak gua. Gua pulang dulu, ya. Besok gua mau balik lagi. Jaga diri baek-baek, jaga ni tempat juga, ya. Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalaam!" Dewa berpelukan sebelum benar-benar meninggalkan lapak tempatnya mengais rezeki dulu. Diantar temannya itu, dia kembali ke rumah menunggu esok tiba.
Namun, sesuatu mengejutkan Dewa sesaat motor yang ia tumpangi mendekati rumah. Di teras rumahnya berdiri seorang gadis menunggu. Kening Dewa mengernyit, itu gadis yang sama yang selalu menanyakan Bima ke lapak. Di sampingnya seorang gadis kecil ikut menunggu.
Dewa menepuk lengan rekannya sebelum berjalan mendekati rumah. Kedua gadis berbeda usia itu tersenyum, tapi tidak dengan Dewa. Ia bersikap datar dan dingin. Sama sekali tidak ramah.
"Mau apa lu di rumah gua?" ketusnya bertanya begitu ia telah berdiri berhadapan dengan mereka.
Gadis yang tak lain adalah Ayra itu, menoleh pada adiknya sebelum melempar tatapan pada Dewa.
"Maafkan kami, Pak. Kami diberitahu tetangga kalau anak yang bernama Bima tinggal di rumah ini. Kalau boleh, kami ingin bertemu dengannya," ucap Ayra dengan sopan.
Dewa tersenyum, tak terlihat ramah.
"Oh ... Bima? Dia emang sempet tinggal di mari, tapi karang udah pegi ma nyak-nya. Dia udah kagak di sini lagi," jawab Dewa masih dengan nada ketus.
"Bapak bohong! Aku tidak percaya. Aku ingin memeriksanya sendiri!" hardik Ayra seraya mendorong Dewa untuk menyingkir.
"Kak! Kakak tidak boleh memasuki rumah orang lain dengan paksa!" cegah Nasya, tapi Ayra tidak peduli.
Dewa tersenyum melihat anak perempuan itu, ia berjongkok dan menatap wajahnya yang serupa dengan Bima.
Dia bener-bener mirip ama anak gua.
"Lu temennya Bima?" Gadis kecil itu mengangguk.
"Ni titipan dari Bima." Dewa mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan memberikannya pada gadis kecil itu.
Tanpa berucap, ia mengambilnya dan menyimpan di sakunya.
"Bagaimana?" tanya Dewa ketika Ayra muncul dari dalam rumah dengan wajah yang lesu sambil berdiri.
__ADS_1
"Maaf, Pak, saya sudah lancang. Ayo, Dek! Kita pulang." Ia berbalik tanpa memandang Dewa. Gadis kecil itu tersenyum pada Dewa mengucapkan terima kasih tanpa kata.
Maaf, tapi gua kagak bisa kasih Bima ama lu.