Bima

Bima
Part. 77


__ADS_3

Brugh!


Bima melempar tubuh pemuda yang diseretnya ke halaman rumah Razka. Jiwa pengawalnya menguar, pantaslah Akmal selalu menginginkan dia menjadi supirnya ke mana pun dia pergi.


Razka dan yang lainnya terkejut mendengar suara itu. Aulia Melangkah perlahan setelah menangkap sosok penipu yang dilempar Bima. Sementara dia, berdiri seperti penjaga mengawasi dengan waspada.


Pemuda yang tak lain bernama Lucky itu mendongakkan kepalanya, ia kesulitan meneguk liurnya sendiri dikala melihat kotak yang ia curi ada di tangan Aulia.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Aku sangat mengenal siapa Ibumu, tapi kalian begitu tega ingin menghancurkan keluarga kami. Kenapa? Apa yang dia inginkan? Apa berniat balas dendam?" cecar Aulia, berjongkok di hadapan Lucky yang tak beranjak dari atas tanah.


Pemuda itu membuang muka darinya, meludah secara sengit. Nampak jelas jika ia begitu membencinya.


"Kalian tidak pantas bahagia!" ketus pemuda itu dengan susah payah karena dadanya masih terasa sesak akibat tarikan Bima tadi.


Aulia bergeming, mengingat kembali masa lalunya. Mengingat dosa dan kesalahan apa yang telah ia lakukan pada Ibu pemuda di hadapannya itu.


"Kenapa? Apa kesalahan keluargaku hingga kalian menganggap kami tidak pantas bahagia?" tanya Aulia pula masih dengan nada ramah dan pelan. Ia memandang intens pemuda yang masih membuang wajahnya itu.


Kini, ia menyadari satu hal. Dia bukannya mirip dengan mereka, tapi mirip seseorang yang telah lama tak ia jumpa sejak pernikahannya dulu. Seseorang yang menjauh dari kehidupannya.


"Kau mirip sekali dengannya. Aku selalu berharap kau tak akan memiliki sifat yang sama sepertinya, tapi ternyata Ibu dan anak sama saja," ujar Aulia lagi setelah menilik baik-baik pemuda itu.

__ADS_1


Lucky memalingkan wajah ke arahnya. Matanya yang merah menyorot penuh api amarah. Percikan kebencian jelas nampak di sana, dendam membara pun tak luput ia pancarkan. Kenapa masa lalu selalu menyisakan dendam yang tiada berkesudahan?


"Apa kau merasa lebih baik sekarang? Kau merasa lebih segalanya dari pada Ibuku? Kau lupa pengorbanannya, kau memang egois!" ketus Lucky. Kedua rahangnya beradu ketat, giginya merapat menekan emosi.


Terkejut Aulia mendengar penuturannya. Tentang pengorbanan, seingatnya ia yang dulu banyak berkorban. Ayra dan kedua anak yang lainnya tak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu, tapi Razka tahu dan ia membiarkan Aulia menanganinya.


Bima tetap siaga berdiri di belakang pemuda itu, ia sama sekali tak melepas tatapannya khawatir ia akan berbuat nekad dan melukai ibu kandungnya itu.


"Pengorbanan? Pengorbanan seperti apa yang dia bicarakan padamu hingga aku melihat dendam di matamu? Apa yang kau dengar bisa saja tidak benar. Kau masih muda, pikiranmu masih sangat luas. Jangan karena hanya mendengar cerita dari satu pihak, kau mau saja diadu domba. Laki-laki di sana tahu semuanya, jika kau tak percaya padaku tanyakan saja padanya," ucap Aulia sambil menunjuk Razka yang duduk di kursinya ditemani Ayra dan Nasya.


Aulia beranjak, ia berjalan mundur sedikit menjauh dari pemuda itu. Lucky melempar tatapan pada Razka, pelan-pelan ia pun bangkit meski tertatih. Tangannya menyeka keringat di dahi hingga ke leher. Terlanjur dendam karena termakan ucapan. Namun, sedikit keraguan nampak di wajahnya.


"Pulanglah! Aku memaafkanmu. Katakan pada Ibumu, aku merindukannya juga memaafkan semua kesalahannya. Tidak seharusnya kita saling membenci dan saling mendendam," titah Aulia setelah beberapa saat terdiam sambil menelisik wajah pemuda itu.


Lucky mendengus kesal, entah seperti apa hatinya saat ini. Namun, pandanganya pada wanita itu, tetap dipenuhi kebencian. Ia melirik Razka, bertambah panas hatinya kala melihat senyum yang disematkan laki-laki tua itu.


"Aku tidak akan berhenti sampai di sini. Aku pasti akan datang kembali untuk membalas semua rasa sakit yang Ibuku alami. Kalian, harus merasakan bagaimana sakitnya Ibuku," ketusnya menuding lurus ke arah Aulia sebelum berbalik menghadap Bima.


"Dan sebelum lu bisa lakuin itu, lu kudu langkahin mayat gua dulu. Gua kagak bakal biarin orang macam lu nyakitin keluarga gua!" sahut Bima menantang pemuda yang tak tahu sebab mendendam pada keluarganya itu. Ia memicingkan mata, siapa saja yang melihat akan gemetar ketakutan.


"Pergi lu! Sebelum gua bertindak bawa lu ke hotel prodeo. Beruntung, Ibu gua maafin lu. Kalo kagak, udah gua seret lu ke dalam bui," usir Bima lagi masih dengan mata menyalang pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Kita lihat saja, apa kau bisa melindungi mereka!" katanya sengit sebelum membawa langkahnya meninggalkan kediaman Razka. Suasana panas yang bergolak seketika redam bersama hilangnya sosok pemuda itu.


Bima bergeming di tempatnya, ia tak tahu harus apa setelah ini. Matanya bergerak gelisah, bibirnya terlipat gugup. Antara haru dan ragu untuk mendekat.


Ayra membawa langkah menuruni tangga teras rumahnya. Terus berjalan menghampiri tempat Bima berdiri, air matanya berderai melihat sosok sang adik setelah dua puluh tahun berlalu. Ia tak menyangka, sejak di desa dulu tak henti mencari dan sekarang dia datang dengan sendirinya. Inilah takdir, tak ada yang tahu.


"Baim!" Ayra memeluk Bima, menangis haru dan bahagia. Bima yang terkejut melirik Razka dan Aulia. Kedua lansia itu tersenyum sambil mengangguk pelan. Kedua tangan Bima membalas pelukan Ayra, menjatuhkan kepala di bahu wanita itu. Ia mencium pundak Kakaknya sambil mengeratkan pelukan.


Bima tak menampik, hatinya berbunga dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya meskipun ia berjanji tak akan pernah meninggalkan Dewa dan Tina, tapi ia juga tak bisa bersikap tak acuh terhadap keluarganya sendiri.


Bima seperti seorang laki-laki beristri dua yang harus bersikap adil terhadap keduanya. Salah sedikit sudah pasti akan menimbulkan kecemburuan dan tentunya iri hati. Bagaimana dia harus bersikap.


"Ayo, Dek. Kita masuk dan bercerita di dalam rumah," ajak Ayra melepas pelukan dan membawa Bima memasuki rumah.


Di dalam sana, ada yang terus menunduk. Menyesuaikan hatinya yang belum bisa menerima kenyataan itu. Berkali-kali ia menarik napas dan membuangnya demi menetralkan hatinya yang kembang-kempis.


"Jadi seperti itu?" tanya Ayra setelah mendengar kisah Bima yang ditemukan oleh Tina.


"Iya, kata Nyak begitu. Bayi itu dibawa-bawa anjing dan penuh luka. Mereka merawatku, mengasuhku, mendidikku bahkan Babeh membekaliku bela diri. Aku beruntung ditemukan oleh orang baik seperti mereka. Yah, kalau bukan mereka, mungkin nasibku akan berbeda," ungkap Bima tak henti memuji Dewa dan Tina.


Ada yang tidak terima dengan pernyataan Bima, ada yang merasa iri karena Bima memuji orang lain, ada yang merasa tak rela di hati anak itu bersemayam nama lain. Aulia menggeram tertahan, jemarinya meremas erat sofa yang ia duduki. Tak ada yang memperhatikan karena semua orang sedang asik mendengarkan kisah Bima kecil.

__ADS_1


"Cukup! Kau anakku, tidak ada yang bisa menggantikan posisiku sebagai ibu kandungmu. Tinggalkan mereka dan kembali pada keluargamu sendiri, Ibrahim!" Semua orang mematung tak percaya pada suara tinggi Aulia.


__ADS_2