
"Aulia!"
"Aulia! Sayang!"
Razka berteriak histeris memanggil istrinya ketika ia baru saja menginjakkan kaki di teras rumah yang baru beberapa hari mereka tempati itu.
Keringat dingin mengaliri kulit punggungnya, urat-urat wajahnya menegang tak sabar ingin membagi kabar yang ia bawa pada istrinya itu.
"Hei, tenangkan dirimu, Kawan! Jangan membuatnya panik," sergah Rendy sembari menepuk punggung Razka menenangkan.
"Ada apa? Kenapa Kakak berteriak-teriak? Bukannya salam atau apa?" Aulia datang bersungut-sungut, pasalnya ia sedang menjemur pakaian di belakang rumah mereka. Datang tergopoh dengan daster rumahan yang basah di bagian bawah. Kerudung instan melekat rapi di kepalanya tak pernah ia lepaskan.
"Kemari, sayang. Duduk!" Razka menggiring Aulia untuk duduk di sofa, pertemuan pagi itu gagal karena Razka mengajak mereka untuk kembali ke rumah.
Fahru sempat mengumpat tadi karena sikap Razka yang seperti orang tak waras itu.
"Eh ... Kak Ren, Fahru ... kalian juga ada di sini?" Wajah Aulia bingung melihat keduanya yang nampak lesu tak bersemangat.
"Suami Kakak seperti orang tidak waras, berteriak-teriak mengajak pulang sambil berbicara 'aku melihatnya! Aku melihatnya!' Membuat kami semua kebingungan," sahut Fahru yang masih tidak mengerti apa yang terjadi pada kakak iparnya itu.
Aulia melirik Razka, suaminya itu memang tidak seperti biasanya. Kegelisahan bercampur kebahagiaan tergurat di wajahnya yang sekaligus menegang.
"Ada apa, Kak?" Aulia menyentuh lembut lengan suaminya, tapi Razka menyambar cepat jemari istrinya dan menggenggam erat tangan itu.
"Apa kau tahu? Aku tadi melihatnya, aku benar-benar melihatnya tadi. Aku bersumpah, aku melihatnya!" seru Razka bersemangat. Aulia melirik dua laki-laki lainnya yang masih berdiri tak jauh dari sofa. Keduanya menggeleng tak tahu menjawab pertanyaan Aulia yang tak terucap.
__ADS_1
"Pelan-pelan, sayang. Apa yang Kakak lihat? Kenapa panik sekali?" ucap Aulia menenangkan suaminya yang tak mau diam.
"Baim ... aku melihat Baim di jalan, Aul. Dia ... dia sudah besar. Aku melihatnya ... aku benar-benar melihatnya, tapi ... tapi ...." Razka tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia menangis tergugu. Tangannya mengusap kedua mata yang berair.
Sekali lagi Aulia melirik kedua laki-laki itu sebelum memeluk tubuh Razka. Ia memberikan sapuan lembut pada punggung suaminya itu agar bisa menenan
"Mungkin hanya halusinasi Kakak saja. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Aulia pelan. Razka mendorong tubuh istrinya melepas pelukan. Matanya yang merah lagi basah menatap Aulia dengan keyakinan yang teramat.
"Kau selalu mengatakan padaku bahwa kau merasa dekat dengan putra kita, bukan? Hari ini aku melihatnya, dia sedang duduk di sebuah warung pinggir jalan, tapi saat aku menghampiri dia telah pergi. Apa kau tahu? Dia mirip sekali denganku, dan matanya adalah milikmu, Aul. Itu putra kita, dia kembali ... dia kembali!" Razka menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan.
Mendengar itu, Fahru dan Rendy saling menatap. Itulah tujuan mereka bertemu di restoran tersebut, untuk membahas soal perasaan Razka dan keluarganya yang merasa dekat dengan Baim.
Aulia tak kuasa menahan diri untuk tidak meraung. Ia menangis histeris, terisak-isak dalam pelukan suaminya. Perlahan ia melepas pelukan, memandangi wajah suaminya dengan sendu. Ia menahan diri dengan menekan kedua bibir agar tak menangis.
"Apa itu artinya kita sekarang dekat dengan dia, Kak? Dia ada di sekitar kita, begitu?" Razka mengangguk menjawab pertanyaan Aulia sembari mengusap pipi istrinya itu.
"Kakak tenang saja, kami akan membantu mencarinya. Jika memang Baim begitu dekat dengan kita, maka pasti kita akan menemukannya," ucap Fahru dengan pasti.
"Itu benar, Aul. Kau tenang saja, hanya doakan saja kami di rumah semoga secepatnya bisa menemukan dia," sahut Rendy pula menyanggupi.
Aulia mengangkat kepalanya, memandang kedua laki-laki itu. "Terima kasih banyak. Aku akan selalu mendoakan kalian dari rumah," ucap Aulia penuh haru.
Ia kembali kepada Razka yang masih menunduk, bahu laki-laki itu masih terguncang karena tangisnya. Sosok yang dilihatnya, benar-benar menjadikan Razka seperti orang yang tak waras.
"Jika begitu, aku pergi dulu. Semoga saja dapat menemukan petunjuk lain tentang anak kita itu," ucap Razka. Ia memupus air yang menggenangi pipi istrinya, bibirnya mengulas senyum. Terbit harapan baru di hati mereka tentang bayi mereka yang hilang, Aulia sendiri tak pernah menganggapnya mati. Nalurinya sebagai Ibu dapat merasakan detak jantung putranya di mana pun ia berada.
__ADS_1
Sementara itu, beberapa saat sebelumnya. Bima baru saja menyulut rokok kedua di tangannya, ia memainkan kepulan asap di mulut sambil merenungkan asal usul dirinya.
Ponselnya berdering di saat pandangan Razka terhalang tiang lampu dan tembok bangunan. Bima mendapat pesan dari Akmal yang memintanya segera kembali ke kantor. Ia membuang rokok di tangan sebelum beranjak meninggalkan warung. Tepat di saat itu, Razka datang tergesa menghampiri tempat duduk Bima. Sayang, pemuda itu telah melesat bersama mobilnya meninggalkan parkiran restoran.
Tuhan belum menginginkan mereka bertemu.
Bima melaju di jalanan tanpa hambatan berarti. Akhir pekan ini, Akmal masih harus datang ke kantor untuk menghadiri rapat. Majikannya itu sudah menunggu Bima di depan gedung tinggi menjulang. Kerutan di dahinya nampak banyak menahan terpaan sinar matahari di wajah.
Bima harus keluar dan membukakan pintu untuk tuannya. Ia berlari kecil menuju kursi kemudi setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Menancap gas meninggalkan gedung perkantoran tersebut.
"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Bima sesaat setelah mobil itu berada di jalan raya berebut jalanan bersama kendaraan yang lain.
"Ikuti saja petunjuk dariku, dan jangan banyak bicara!" ketus Akmal sambil memainkan gawainya.
"Baik, Tuan!" Bima tak lagi bicara. Ia hanya mengikuti arah petunjuk Akmal ke mana dia harus melaju. Matanya berusaha melirik pada orang di sampingnya yang sibuk dengan gawai. Ia tertawa sendiri, bergumam sendiri.
Kayanya dia lagi jatuh cinta.
Bima tersenyum mencibir dari balik maskernya. Kembali fokus pada jalanan tanpa menghiraukan majikannya yang seperti orang kesurupan itu.
Emang aneh kalo orang lagi jatuh cinta. Apa aja bikin dia ketawa.
Lagi-lagi bima berkomentar dalam dirinya sendiri. Senyum di bibir Akmal tak terlepas dari tempatnya. Terkadang suara tawanya terdengar, entah apa yang dilakukannya? Bima tidak tahu.
"Kau lurus saja dan temukan rumah bercat putih abu-abu. Lalu, berhenti di sana. Itu tujuanku," ucap Akmal sambil mengarahkan jari telunjuknya ke depan. Bima menghentikan laju mobil, ia menunggu pintu gerbang yang dibuka barulah membawa mobilnya masuk dan berhenti di halaman rumah yang tak kalah besar dari rumah majikannya itu.
__ADS_1
Ia membukakan pintu mobil, seorang gadis berpakaian minim berlari keluar rumah menyambutnya.
"Sayang?" Dengan manja gadis itu bergelayut di lengan Akmal. Bima tertegun, hatinya benar-benar tak percaya dengan apa yang dia lihat.