Bima

Bima
Part. 44


__ADS_3

"Kau yakin bisa mengemudi?" Mata Akmal melirik tajam menghujam sisi bagian kiri dari tubuh Bima.


"Ya, Tuan!" Mengangguk sedikit tanpa berpaling pada laki-laki yang dia panggil Tuan. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudi, mesin baru saja dinyalakan.


"Jika kau tak pandai mengemudi, kau masih bisa mengundurkan diri dari sekarang. Aku percaya pada Dewa karena ia tak hanya pandai mengemudi, tapi juga pandai melindungiku dari bahaya. Kau yakin bisa melakukannya?" Pertanyaan kedua benar-benar menginjak harga diri Bima.


Cengkeraman tangannya pada kemudi menguat, kedua rahang beradu ketat. Bima menoleh, senyum yang dibentuknya merubah sikap angkuh pria tersebut. Mata itu berkedip gugup, Bima sungguh lebih menakutkan dari pada Dewa.


"Anda tahu siapa saya? Saya seorang joki balap liar, Tuan. Anda tahu persis seperti apa orang-orang itu, bukan?" bisik Bima dengan kepala yang sengaja dicondongkan ke arah Akmal.


Pria arogan itu memundurkan tubuh melekat dengan pintu mobil. Bulu romanya meremang tatkala mendengar suara Bima yang mendesis. Ia bahkan kesulitan meneguk saliva sendiri lantaran sesuatu menghambat kerongkongannya. Menghalangi pasokan udara yang mengalir ke paru-paru, meninggalkan sesak yang menghimpit.


Ia menarik udara sebanyak-banyaknya dengan cepat tatkala wajah Bima perlahan menjauh. Masih dengan senyum yang sama, senyum yang menghujam harga diri Akmal itu. Namun, ia tak lagi berani mempermainkan Bima.


"Jadi, Tuan, apa Anda siap berpetualang dengan saya?" Bima melirik sekilas dari duduk tegaknya di balik kemudi. Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi, menunggu jawaban Akmal. Bukankah seharusnya majikan yang berkata seperti itu?


"Ok!" lanjut Bima tatkala kepala sang majikan melalukan anggukkan. Ia bersiap menjalankan mobil, tapi seorang laki-laki paruh baya datang tergesa dan mengetuk pintunya.


Bima membuka kaca mobil, Fahru termangu ketika mendapati bukan Dewa supir anaknya kali ini.


"Ada apa, Papah? Cepatlah, aku ada meeting dengan Briant pagi ini," seru Akmal sembari menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Degh!


Mendengar nama Briant disebut, mengingatkan Bima pada saat ia menguntit di restoran waktu itu.


"Ah ... ya." Fahru melirik anaknya sebentar sebelum menatap Bima, "kembalilah ke rumah setelah mengantar Akmal." Ia menjauhkan tubuh setelah mengatakan tujuannya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Tidak bisa, Papah-"


"Tidak ada aturan darimu, Akmal. Papah ingin dia mengantar Papah setelah mengantarmu," tegas Fahru. Akmal berdecak kesal dengan wajah yang berpaling dari sosoknya.


"Tidak masalah, Tuan. Saya akan kembali ke rumah ini usai mengantar Tuan Muda," sahut Bima tegas. Fahru menganggukkan kepala dan melepas mereka pergi.


Mobil perlahan meninggalkan kediaman megah itu, hari ini Bima tak mendapat kesempatan untuk memasukinya. Tak apa, hari-hari masih banyak yang akan dilewatinya menjadi supir keluarga tersebut. Suatu saat ia pasti akan dapat memasuki rumah itu.


"Kenapa Papah selalu mengganggu kesenanganku? Padahal, hari ini aku ingin sekali pergi setelah meeting," celetuk Akmal pada dirinya sendiri. Ia tak menghiraukan Bima yang tersenyum tipis mendengar gumamannya.


Mobil terus maju di jalanan, mulus tanpa hambatan. Bima yang lincah memainkan kemudi, menyalip kendaraan-kendaraan di depannya dengan epik. Bibir Akmal membentuk garis lengkung ke atas, nampak puas dengan cara kerja Bima.


"Hmm ... kau memang berbeda dengan Dewa. Lebih berani dan lebih gesit," pujinya manggut-manggut.


Bima yang seolah tahu seperti apa tugasnya, segera keluar dan membukakan pintu untuk Akmal. Ia menunggu hingga laki-laki itu sepenuhnya berada di luar. Di depan gedung perusahaan tersebut berdiri seorang laki-laki lainnya. Memiliki wajah campuran membuatnya berbeda dengan lain.


Bima mengernyit, di tangannya menenteng tas kerja Akmal, langkah berlanjut mengikuti tuannya itu.


Mungkin dia yang namanya Briant? tebaknya dalam hati.


"Tuan Muda, rapat akan segera dimulai. Sebaiknya kita harus cepat," ucap lelaki yang dianugerahi ketampanan luar biasa itu. Kulitnya yang putih bersih nyaris tanpa cacat, tubuh proporsional berbeda dengan majikannya yang memiliki perut sedikit buncit.


"Kau boleh kembali, dan antar papahku dengan selamat," titahnya seraya mengambil tas yang dibawakan Bima. Briant melirik supir tersebut, alisnya bertaut heran.


"Baik, Tuan." Bima menyerahkan tas tersebut tanpa membungkuk. Semakin heran Briant, dia berbeda dengan Dewa yang bersikap lebih hormat.

__ADS_1


"Kau baru? Siapa namamu?" Suara Briant yang bertanya mengalihkan pandangan Bima. Hanya bola matanya saja yang terlihat berputar, sisanya tak dapat terlihat dengan jelas karena masker yang menutupinya.


Mata itu ... seperti milik siapa? Aku merasa tidak asing dengan mata itu.


"Benar, Tuan. Saya Juan, anak pak Dewa yang akan menggantikan tugas beliau mulai hari ini," sahut Bima membuang pandangan ke bawah dari bertatapan dengan Briant. Lihat! Dia bahkan tidak menunduk.


"Ikut aku!" Setelah menilik dalam-dalam sosok pemuda di hadapannya, Briant mengajaknya ke suatu ruangan. Bima mengekor di belakangnya sembari menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan setiap gedung perusahaan tersebut.


"Berikan padaku ID milik pak Dewa!" Tangannya menadah meminta pada Bima. Tanpa segan ia memberikan ID tersebut kepadanya, dan menunggu seusai perintah Briant dengan sabar.


Kedua matanya tak henti berputar ke sana ke mari mengagumi gedung tinggi yang mencakar langit tersebut.


"Enak bener kalo kerja di dalem sini. Adem," selorohnya pelan. Tak lepas senyum dari bibirnya yang tertutupi itu. Memperhatikan para karyawan yang hilir-mudik di hadapannya dengan membawa berkas di tangan.


Seragam mereka berbeda, tapi masih memiliki logo yang sama seperti jas yang ia kenakan. Tak lama Briant datang menghampirinya.


"Ini, gunakan ID milikmu sendiri. Selamat bergabung di Pratama Grup!" Briant menjulurkan tangan padanya. Bima yang awalnya bingung, selanjutnya menyambut uluran tangan tersebut usai menerima ID baru darinya.


"Briant! Asisten Tuan Muda di perusahaan ini. Jika ada yang ingin kau tanyakan, cari aku. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu," ucap Briant setelah kedua tangan bertemu dan saling berpaut. Bibirnya tersenyum, ia tak sedingin kelihatannya.


"Terima kasih, Tuan." Hati Bima menilai, Briant lebih baik dari pada majikannya. Briant mengantar Bima sampai ke parkiran, menunggu hingga pemuda tersebut menghilang bersama mobil yang dikendarainya.


"Seperti yang dikatakan paman Razka, seseorang sedang menguntitnya. Pemuda itu, membuatku curiga, tapi apa? Aku harus mengawasinya mulai hari ini," gumam Briant. Sebagai asisten yang bertanggungjawab atas keselamatan seluruh keluarga itu, Briant harus lebih waspada.


"Bibi Aulia, mata itu persis seperti miliknya. Apakah dia yang diceritakan oleh dua gadis itu saat di desa dulu?" Keningnya berkerut hingga membuat kedua pangkal alisnya bertemu satu sama lain.


"Briant!" Suara Akmal menyentaknya.

__ADS_1


"Ah ... iya, Tuan." Ia lekas berbalik dan mengikuti atasannya itu menuju ruang rapat.


__ADS_2