Bima

Bima
Part. 115


__ADS_3

Ketiga orang dalam ruangan itu sama-sama terdiam. Menunggu jawab Lucky yang tak kunjung mereka terima. Bima jengah melihat Lucky yang bertele-tele seolah mengulur waktu.


Bima mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia menggulir sebelum menyerahkan benda tersebut kepada Razka.


"Aku tak sengaja melihatnya saat mengantar Nyak. Mungkin dia orang tua Lucky dan mungkin juga Ayah mengenalnya," ucap Bima memperlihatkan gambar dalam layar di mana Lucky sedang bersama seorang wanita paruh baya di sebuah toko perhiasan.


Razka mengernyit, dalam video yang diserahkan Ayra pada saat itu, wanita tersebut terlihat samar. Sementara milik Bima nampak jelas terlihat.


Razka membelalak saat mengingat siapa wanita dalam gambar tersebut. Ia melempar pandang pada Lucky membandingkan wajah keduanya.


"Kau anak Rima! Benar, itu kenapa wajahmu sedikit mirip dengan istriku karena kau anak wanita itu. Oh, aku tahu kenapa kalian melakukan semua ini? Itu karena Ayah dan Ibumu menaruh dendam dan ingin membalas kami melalui dirimu. Pengecut!" ungkap Razka membuka semua tabir setelah ia mengetahui siapa sebenarnya Lucky.


Pemuda itu menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Ia menangis sesenggukan, entah apa sebabnya.


"Aku tidak ingin dijadikan boneka lagi oleh mereka, aku tidak ingin dijadikan alat untuk balas dendam lagi oleh mereka. Aku hanya ingin mereka menyayangiku dan dapat berlaku seperti orang tua lain terhadap anaknya. Aku tidak ingin melakukan kejahatan lagi hanya untuk mendapatkan cinta mereka. Tolong aku, Paman! Tolong aku!" ucap Lucky diselingi isak tangis yang menyayat hati.


Ia terperenyak di atas lantai, kedua tangan mengepal menjadi tumpuan, kepala menunduk dalam, ia meluapkan apa yang ada dalam hatinya. Baik Razka maupun Bima, keduanya terenyuh mendengar dan melihat Lucky menangis. Penderitaan jelas tergambar lewat suara tangis yang ia perdengarkan.


Razka berjongkok di hadapannya, menilik wajah tertunduk itu dengan saksama. Ia mengusap kepala Lucky membuat pemuda itu mendongakkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan tadi semuanya benar?" tanyanya dengan pelan. Lucky menatap Razka dengan matanya yang basah.


"Sudah lama aku ingin menemui kalian untuk meminta maaf, tapi aku takut kalian menolak dan justru mengusirku. Mamah memerintahkan aku untuk mencelakai Bibi Aulia, Mamah ingin Bibi mati karena dianggap merusak kebahagiannya. Paman, percayalah padaku, aku tidak sedang berbohong. Aku sudah lelah, Paman," tutur Lucky memohon.


Pancaran penderitaan jelas terlihat di iris matanya. Kejujuran, kesungguhan, juga ketulusan, dapat Razka rasakan saat pandang mereka bertemu.


"Paman, aku hanya ingin maaf dari kalian. Setelah itu, aku berjanji tak akan lagi muncul di hadapan kalian. Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup kalian karena mereka tak menginginkan aku. Aku akan pergi, Paman. Aku akan pergi setelah mendapatkan maaf dari kalian. Aku akan pergi." Lucky kembali menunduk dan terisak semakin pilu.

__ADS_1


Aku akan menyusul Kakek saja, rasanya mati lebih baik dari pada hidup tak diinginkan seperti ini. Yang pasti aku sudah mendapat maaf dari Paman dan keluarganya.


Ia membatin, merencanakan tujuan hidupnya setelah ini. Namun, sungguh tak dinyana, Razka justru memeluknya. Lucky yang sempat terkejut, membalas pelukan Razka disaat aliran hangat ia rasakan di dalam hatinya.


"Jangan berpikir untuk mati karena hidupmu sangat berharga," ucap Razka yang seolah tahu apa yang ada dalam pikiran pemuda tersebut.


Bima mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Ayahnya itu. Mereka beranjak berdiri, Lucky berhadapan dengan Ibrahim dan memeluknya.


"Maafkan aku karena pernah mengambil tempatmu, Ibrahim. Aku benar-benar minta maaf," katanya seraya melepas pelukan setelah mendapat tepukan dua kali di punggung yang dilakukan Bima.


Razka mengajak mereka untuk duduk, ia mengibaskan tangan meminta dua pekerjanya keluar ruangan. Berbincang dengan santai layaknya sebuah keluarga.


"Jadi, Paman. Apa Paman memaafkan aku? Karena aku tak akan pergi sebelum mendengar sendiri bahwa Paman sudah memberikanku maaf," tanya Lucky sambil menatap wajah Razka yang teduh.


Laki-laki yang mulai menua itu, tersenyum. Ia menepuk pundak Lucky dengan lembut, mengusap-usapnya pelan.


Lucky terharu, ia mengusap sudut mata sambil menganggukkan kepala. Menurut pada apa yang dikatakan Razka.


"Baik, Paman. Aku tidak akan melakukan hal bodoh. Aku berjanji," katanya bergetar.


"Ya sudah, pulanglah. Ini sudah malam, kau harus beristirahat," titah Razka.


Lucky menggeleng, sudah beberapa hari ini dia pergi dari rumah dan tak ingin kembali ke rumah itu. Ia ingin pergi dan hidup sendiri tanpa ada yang mengatur, tak peduli lagi pada cinta dan kasih sayang yang dia harapkan dari mereka. Ia sudah tak menginginkannya lagi.


"Aku tidak ingin pulang ke rumah itu lagi, Paman. Aku sudah memutuskan pergi dari sana dan tak ingin kembali lagi," katanya menegaskan.


Razka melirik Bima yang duduk di samping Lucky. Pemuda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menjadi pendengar setia saja.

__ADS_1


"Kau yakin? Kau tak akan menyesal pergi dari rumah itu?" tanya Razka memastikan.


Lucky mengangguk yakin, tekadnya sudah bulat tak akan lagi kembali ke rumah itu. Mereka tak akan pernah mencarinya.


"Aku yakin, Paman. Aku sudah muak menjadi alat untuk ambisi Mamah. Aku sudah lelah," katanya yakin.


Razka menganggukkan kepala mengerti. Ia kembali menepuk bahu Lucky sebelum mengajaknya pulang bersama.


"Ikutlah dengan Paman. Tinggal di rumah Paman, kau bisa berbagi kamar dengan Baim jika ia sedang menginap di rumah. Bibimu pasti senang karena dia selalu teringat pada Riza yang pergi bersama Deri. Entah kapan pulang mereka," ucap Razka.


Helaan napasnya berhembus mengingat dua pemuda yang telah lama belum kembali pulang.


"Apa aku diterima?" tanya Lucky kembali menundukkan wajah merasa tak layak diterima oleh mereka.


Kali ini Bima yang menepuk bahunya, bagaimanapun Lucky, dia masihlah saudaranya. Anak dari adik Aulia yang berbeda Ibu. Mungkin Rima mendendam karena pernikahan paksa yang dilakukan Razka dulu dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami Kakaknya itu.


"Tenang aja, Kawan. Lu udah ngerasain sendiri kebaikan mereka apalagi Ibu, 'kan. Dia bakal maafin lu, pasti. Ikut aja sama Ayah tidur di kamar gua aja," ucap Bima sambil tersenyum.


Lucky menatap tak percaya pada sosok pemuda yang kini terlihat hangat itu.


"Lalu, kau sendiri?"


"Elah, mikirin gua. Tidur di bawah langit udah pernah gua rasain waktu di parkiran ama Babeh. Kagak usah mikirin gua," sahut Bima sembari mengibaskan tangan di udara. Razka tertegun, adakah cerita itu?


"Terima kasih," ungkap Lucky penuh haru dan syukur. Lagi-lagi Bima mengibaskan tangan tak acuh.


"Ayah, jam berapa restoran tutup? Aku khawatir Ara telah selesai dan dia memilih pulang sendiri. Lingkungan di sekitar rumahnya terlalu berbahaya untuk Ara," tanya Bima.

__ADS_1


"Antar dia pulang, Nak. Jangan sampai menyesal!" titah sang Ayah. Ketiganya membubarkan diri. Razka membawa serta Lucky pulang ke rumahnya. Bima akan pulang ke rumah Dewa saja.


__ADS_2