
Ayra terduduk di bawah pohon, ia menengadah menatap langit. Helaan napas berulang-ulang ia lakukan untuk mengurangi rasa sesak di dada. Memikirkan Aulia memiliki perasaan yang sama dengannya. Apakah benar dia adik?
"Sudah, Ay. Kau tidak perlu memikirkannya terlalu dalam, jika memang dia adikmu suatu saat dia akan kembali pada keluarganya. Apa kau tidak ingin bertanya pada seseorang di sana? Mungkin orang bertatto di sana mengetahui sesuatu." Rayya berjongkok di samping sahabatnya. Ia melihat Dewa yang sedang mengatur jejeran motor di parkiran.
Ayra menurunkan pandangan, diliriknya laki-laki bertubuh besar itu dengan malas. Tatto bergambar naga di tangannya, nampak jelas terlihat. Apakah dia seorang ketua gang?
"Kau tidak takut? Bagaimana jika dia justru melakukan pelecehan? Biasanya orang-orang bertatto seperti itu adalah preman yang sukanya melecehkan para gadis. Apa kau yakin ingin mendatanginya?" tanya Ayra menakuti sahabatnya itu.
"Untuk apa aku takut kalau yang bersamaku adalah Ayra. Kau tak akan membiarkannya melecehkan aku, bukan?" katanya sambil berdiri tegak dan tersenyum cengengesan.
Ayra mendengus, ia beranjak berdiri dan bersiap pergi mendatangi orang tersebut. Ayra memindai sosok tinggi besar di kejauhan itu. Dia sama sekali tidak mencurigakan.
"Bagaimana kau bisa mengira bahwa dia tahu sesuatu?" tanyanya tanpa berpaling dari arah matanya menatap.
"Hmm ... aku melihatnya berbicara dengan orang yang tadi berbicara dengan Ibumu. Aku kira orang itu memberitahunya perihal Ibumu yang sedang mencari seorang anak. Mungkin saja dia tahu sesuatu," katanya menebak-nebak.
Ayra tercenung, berpikir sejenak apa yang dikatakan sahabatnya tadi. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menemui Dewa dan bertanya padanya.
"Tadi juga ada yang nanyain ntu bocah. Karang lu bedua juga nanyain lagi. Eh ... gua kasih tau lu pada, ya. Ntu bocah karang ada di dalam pasar lagi jualin plastik kantong. Ngapa lu cari di mari?" ucap Dewa mengelak dengan lihai. Ia tak ingin Bima ditemukan orang lain. Ia tak ingin Bima pergi dari hidupnya.
Bima anaknya, dan tak boleh ada yang mengambilnya apa lagi mengakuinya. Sekalipun itu adalah orang tua kandungnya. Bila perlu, Dewa akan membawa Bima sejauh mungkin dari tempat tinggal mereka sekarang.
Orang punya kaya kalian selalu semaunya. Pake uang, sogok sana, sogok sini, yang penting dapet apa nyang didemenin. Gua kagak bakal ngasih Bima sama lu pada. Kagak bakal gua kasih.
Ayra dan Rayya saling menoleh, sorot mata Ayra menyalahkan Rayya yang sudah salah mengira.
__ADS_1
"Kalau begitu maafkan kami, Pak. Kami akan mencarinya di dalam saja. Permisi, assalamu'alaikum!" ucap Ayra tak enak.
"Ya, wa'alaikumussalaam!" Dewa menelisik kedua remaja yang perlahan meninggalkan parkiran. Matanya menyipit, mengancam dengan geram. Terlanjur sayang pada Bima, anak itu membawa banyak perubahan pada hidupnya. Membuat hidupnya lebih berwarna dan lebih berguna. Dia tak akan pernah melepaskan Bima dari hidupnya. Biarlah dia egois, selama ini pula mereka tak pernah memperlakukan Bima dengan buruk.
Tina dan Dewa bahkan menabung untuk pendidikan Bima hingga dewasa kelak. Tolong jangan pisahkan gua sama anak gua. Gua sayang banget ama dia, ya Allah.
Dewa melengos setelah kedua remaja itu menghilang di pintu pasar. Ia menjatuhkan diri di atas bale-bale, berkumpul bersama temannya. Dewa merebahkan diri bertumpu pada kedua lengan yang ia letakkan di belakang kepala.
"Ngapa, Bang? Ada nyang nanyain Bima lagi?" Temannya bertanya.
"Ngapa, sih, ntu orang pada nanyain anak Abang? Heran gua. Penasaran banget, dah, ma anak Abang," celetuk yang lain menimpali.
Dewa memiringkan tubuh, memunggungi semua rekannya. Ia menghela napas berat sambil memejamkan mata.
"Kagak tahu gua. Inget lu, ya. Jangan ampe bocorin tentang Bima ama mereka. Gua gibas lu pada!" ancam Dewa meski pelan, tapi sanggup membuat tubuh mereka merinding karena-nya.
Sementara itu, di saat yang tak jauh beda, seorang anak laki-laki berjalan lesu. Wajahnya ditekuk, kakinya tak henti menendang kerikil yang ia temui di jalanan. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya, ia baru saja keluar dari gerbang sekolah.
"Ngapa Nyak ma Babeh ngelarang Bima ke lapak lagi, ya?" Bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
Tanpa sadar, kakinya berbelok ke lain arah. Bukan jalan pulang yang ia tempuh, melainkan jalan menuju desa lain. Tak henti kakinya terus menendang kerikil di jalanan, teringat akan permintaan kedua orangtuanya tadi pagi.
"Tong, mulai ni hari lu kagak usah lagi ngikut Babeh ke lapak, ya. Di rumah aja temenin Nyak lu. Babeh takut kulit lu yang putih ntu jadi item kaya Babeh," ucap Dewa pagi tadi.
"Emang ngapa, Beh?" Berkerut dahi Bima saat menanyakan itu.
__ADS_1
"Kagak ngapa-ngapa, Tong. Babeh cuma pengen Bima fokus sekolah ama ngaji aja. Kagak usah mikirin cari duit, ntu mah kewajiban Nyak ma Babeh." Tina menimpali sembari memberikan sapuan lembut pada kepala putranya itu.
"Bener ntu nyang dibilang Nyak lu. Fokus sekolah ama ngaji aja. Nyak ma Babeh pasti bangga kalo lu jadi anak yang pinter, apa lagi pinter ngaji. Beuh, bakal Nyak ma Babeh ntu di kuburan." Dewa tersenyum saat mengatakan itu.
Mengingat itu, Bima tersenyum. Ia menggeleng karena sempat berpikiran buruk pada mereka.
"Bener Nyak ma Babeh, Bima kudu bisa ngaji. Kata pak ustad, harta yang akan ditinggal manusia di dunia adalah anak yang sholeh." Ia melangkah lebih ringan, mengayun tangan berlenggak-lenggok dengan riang.
Namun, begitu menatap sekeliling, ia tersadar arah yang dia tempuh bukanlah arah ke rumahnya.
"E ... busyet! Gua salah jalan!" Ia tepuk dahinya sebelum berbalik. Tertawa merasa konyol sendiri. Bima terus mengayun langkah tanpa memperhatikan sekitar. Samar telinganya mendengar suara seorang anak kecil yang menangis.
Kakinya berhenti berayun, ia menajamkan indera rungunya demi menangkap lebih jelas suara samar yang ia dengar.
"Aku tidak mau ikut kalian! Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Suara itu terdengar lebih jelas. Bima yang penasaran, meletakkan tas yang ia bawa di bawah pohon sebelum ia menaiki pohon tersebut.
Kepalanya celingukan, memutar ke segala arah mencari asal suara yang ia dengar. Masih berada di jalanan yang sama, ia melihat seorang gadis kecil yang diseret paksa tiga orang dewasa bertubuh besar.
"Asem banget ntu preman! Beraninya ma bocah lemah," gumamnya geram. Ia menegakkan tubuh bersiap mengejek ketiga orang tersebut.
"Woy! Preman kampret! Pengecut lu, beraninya ma bocah. Dasar preman cemen lu pada!" teriak Bima dari atas pohon. Suaranya menggelegar hingga menusuk telinga ketiga preman itu.
"Woy! Siapa tu?!" Mereka balas berteriak.
"Gua! Bima anaknya babeh Dewa!" Bocah sepuluh tahun itu melompat turun dari pohon dan mendarat di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ka-kakak!" panggil anak perempuan tersebut dengan air mata yang berderai.
Dua orang preman memundurkan tubuh mereka hingga bersembunyi di balik tubuh yang satunya ketika melihat Bima. Ada apa?