Bima

Bima
Part. 120


__ADS_3

Brugh!


Tok-tok-tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah menyentak tubuh Emilia yang sudah gelisah sejak beberapa jam yang lalu. Cepat-cepat ia mendatangi pintu utama dan membukanya lebar-lebar.


"Argh!" Ia memekik sambil memundurkan tubuhnya beberapa langkah menjauhi sesosok tubuh yang ambruk di bawah kakinya.


Emil menelisik tubuh yang telungkup di lantai dengan wajah yang ikut terbenam di atas lantai. Kedua ujung alisnya bertemu, ia berjongkok dan memberanikan diri untuk membalik tubuh itu.


"Papah!" Ia memekik untuk yang kedua kalinya. Emilia terperenyak di lantai dengan degup jantung yang tak karuan. Bertalu-talu menghantam rongga dada.


Ia tersadar dan mendekati tubuh Revan yang tak sadarkan diri itu di atas lantai rumah. Menggugahnya pelan sembari memanggil-manggil namanya. Air mata merembes jatuh dari tempatnya.


"Revan! Bangun, Nak!"


Fahru yang tengah beristirahat di ruang keluarga bersama Akmal sontak berlari menghampiri istrinya bersama si sulung.


"Ada apa, Mah?" tanyanya panik.


"Papah! Revan, Pah. Anak kita, Mamah tidak tahu kenapa. Dia tiba-tiba jatuh sudah seperti ini," katanya mengadu. Fahru gegas menghampiri mereka, bersama Akmal keduanya membawa tubuh Revan menuju kamar.


Bau alkohol menyengat membuat Fahru dan Akmal merasa tak nyaman karenanya. Mereka membaringkan pemuda itu di atas ranjang, Emilia melepas sepatu dan kaos kakinya. Duduk sambil menyeka keringat di wajah sang putra bungsu.


"Astaghfirullah! Apa yang dilakukan anak ini? Kenapa dia sampai mabuk begini?" ucap Fahru frustasi menghadapi sikap Revan.


"Mabuk? Jadi, Revan mabuk?" Emilia merajut alis kebingungan. Pasalnya, ia tak pernah tahu soal hal-hal seperti itu.

__ADS_1


"Apa Mamah tidak mencium bau itu? Dia menenggak alkohol. Beraninya memasukkan benda haram ke dalam tubuhnya. Akmal, geledah semua yang ada dalam tubuhnya, ambil dan berikan pada Papah," titah Fahru seraya membawa dirinya keluar kamar Revan dan membanting diri di sofa ruang tengah.


Ia menyugar rambut frustrasi, keringat bermunculan di wajah karena emosi yang meledak-ledak. Akmal menghampirinya dengan membawa sesuatu di tangan. Dompet, kunci mobil, serta gawai milik Revan ia serahkan kepada papahnya.


Fahru menarik semua fasilitas Revan sebagai hukuman karena telah melampaui batas. Dua kali ia mendapati putra bungsunya itu mabuk. Pertama ketika ia menabrak Bima dan kedua ....


"Sial! Apa saja yang dilakukan anak itu di sekolah. Aku turuti keinginannya untuk bersekolah di Luar Negeri, tapi hasilnya justru seperti ini," keluh Fahru membanting tubuh pada sandaran sofa. Ia memejamkan mata lelah, menghadapi semua kejadian-kejadian yang menimpa akhir-akhir ini.


"Tenang, Pah. Sabar, Revan masih sangat muda. Jiwa mudanya masih muda tergoda dengan hal-hal seperti itu. Mungkin dia sedang ada masalah dengan teman atau mungkin pacarnya. Kita tidak tahu, bukan?" ucap Akmal menenangkan sang Ayah.


Ia memberi pijatan-pijatan lembut di bahu Fahru membuatnya perlahan merasakan ketenangan. Mencerna apa yang dikatakan Akmal, memang benar. Ia pun pernah mengalami itu di masa muda. Melampiaskan emosi pada segelas minuman haram, tapi ia sadar tak pernah melampaui batas seperti yang dilakukan anaknya itu.


"Kau benar, besok Ayah akan menanyainya. Sekarang kau tidurlah. Istirahatkan tubuhmu supaya besok lebih segar," pinta Fahru yang diangguki Akmal. Ia memang lelah, seharian bekerja memantaskan diri di perusahaan tersebut.


"Terima kasih, karena telah menjadi anak yang baik," tutur Fahru pada putranya yang baru beberapa saja melangkah dari sofa yang ia duduki.


Di kamar, Emilia menangis menyesali apa yang telah dilakukan anaknya itu. Ingin marah, tapi percuma. Anak itu bahkan tak mendengar suara tangis Ibunya yang pilu di samping ia berbaring.


"Kenapa kau jadi seperti ini, Revan? Kenapa pergi ke tempat seperti itu. Kenapa? Apa kau sudah tidak menganggap Mamahmu lagi?" Emilia tergugu. Menangis sesenggukan terdengar pilu.


Akmal yang hendak ke kamar urung disaat mendengar tangisan Emil di kamar adiknya. Ia datangi kamar itu dan menenangkan Emilia yang masih menangis.


"Mah!" panggil Akmal seraya membawa langkahnya memasuki kamar itu. Emilia tak menggubris, ia terus menangis sambil menunduk.


"Mah, sebaiknya Mamah istirahat. Ini sudah larut, tidak baik untuk kesehatan Mamah. Besok, kita akan bertanya padanya. Mungkin dia sedang ada masalah, kita tidak tahu. Aku tidak ingin Mamah sampai sakit," ucap Akmal sambil mengusap pundak Emilia yang ringkih.


Emilia mengangguk, menyentuh lembut tangan Akmal yang terasa hangat pundaknya. Putra sulungnya itu membawa Emil ke kamarnya, ia pula yang menutup pintu kamar Revan. Laki-laki bertubuh tambun itu membantu sang Ibu berbaring di ranjang, menyelimutinya sebelum pergi keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Tak lama Fahru menyusul, Emil kembali menumpahkan tangisannya saat laki-laki itu memeluk. Menyesali semua yang telah terjadi sampai rasa kantuk dan lelah karena menangis membawanya ke alam impian.


****


"Engh!" Revan melenguh sambil menutupi wajahnya yang diterpa sinar matahari. Benda langit itu telah menggantung hampir di puncaknya, tapi pemuda itu masih bergelung di dalam selimut.


"Bangun!" sentak Emilia sambil menarik paksa selimut yang menggulung tubuh anaknya itu.


Revan menggeliat, tangannya meraba-raba permukaan tubuh mencari selimut yang menghangatkan. Namun, tak jua menjeremba benda yang dicarinya.


"Revan! Bangun! Matahari sudah naik dan kau masih bergelung dalam selimut. Bangun!" bentak Emilia dengan nada suara semakin meninggi.


"Mamah, aku masih ngantuk. Biarkan aku tidur sebentar lagi," katanya dengan suara yang parau. Terdengar malas dan lesu, mungkin karena efek alkohol yang dia minum semalam masih bersarang dalam tubuhnya.


"Tidak! Bangun sekarang atau Mamah akan meminta Papah untuk menyeretmu!" tegas Emil tak ingin dibantah.


Revan membuka kelopak mata, seketika ia berdesis saat rasa sakit menyerang kepalanya.


"Kepalaku ... pusing sekali," erangnya seraya memijat kedua sisi kepala yang terasa berdenyut.


"Itu karena kau mabuk semalam. Apa yang kau lakukan hingga mabuk sampai tak sadarkan diri? Ada apa denganmu, Revan? Kau bermasalah?" Suara Emilia masih meninggi.


Mendengar itu, Revan membelalak. Membuka matanya lebar-lebar dan menatap Emilia yang menyalang kepadanya. Wajah teduh itu kini terlihat garang, ia meneguk saliva dengan susah payah. Ketakutan seketika menjalar di seluruh pembuluh darah. Membuatnya mendidih dan kepanasan.


"Ma-mamah ... bagaimana ...?"


"Apa yang bagaimana? Kau datang larut malam dan dalam keadaan mabuk tak sadarkan diri. Mamah kecewa padamu, Revan. Apa ini hasil dari belajarmu di Negri orang sana? Bangun, bersihkan dirimu dan jelaskan pada kami apa yang terjadi padamu! Papah dan Mamah menunggumu di bawah," titah Emilia sembari berbalik meninggalkan kamar anaknya itu.

__ADS_1


"Ah ... sial! Kenapa semua jadi kacau begini? Argh ... kepalaku ... sakit sekali," umpatnya diakhiri keluhan sambil menekan kepalanya yang semakin terasa berdenyut.


__ADS_2