
"Hallo, Aul! Maaf aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Kami sedang berada di rumah orang tua Bima, tapi anak itu sedang menjemputmu. Apa kau baik-baik saja?" ucap Razka segera setelah Aulia menjawab panggilannya.
Ia tersenyum lega karena Aulia masih mau menerima panggilan darinya. Laki-laki itu duduk sendiri di dalam mobil, menunggu tak sabar kedatangan Bima yang membawa serta ibunya itu. Namun, beberapa saat terdiam mendengarkan jawaban dari seberang sana, ia tak kunjung mendapatkannya jua.
Perasaan cemas pun datang tanpa diundang, prasangka buruk bermunculan satu demi satu memenuhi pikiran. Tak tenang sudah duduknya, hati kian meranyah tak tentu. Sungguh dilema.
"Aul! Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? Katakan sesuatu, Aulia! Kenapa aku diam saja?" cecar Razka semakin panik. Butiran peluh mulai merembes di pori-pori kulitnya. Tetap menunggu Aulia berbicara.
"Aul, ada apa?" Suaranya meninggi kala mendengar isak tangis Aulia di seberang sana. Ia berdecak cemas, "Aulia!" Nada itu semakin menuntut.
[Ha-halo, Kak ...!]Kalimat yang menggantung itu semakin membuat kalut perasaan Razka. Tak sabar rasanya ingin mendengar penjelasan istrinya itu.
"Aul! Cepat katakan, apa yang terjadi padamu?! Aulia!" bentak Razka tidak main-main. Rahangnya mengeras. Rasa cemas itu berganti kesal, serasa dipermainkan secara emosional oleh wanita yang tiba-tiba gagap di seberang sana.
Isak tangisnya semakin menggetarkan hati Razka, berguncang segala rasa di dada, membuncah tak terkendali.
"Aulia-"
[Datang ke rumah sakit, Ibrahim ... Ibrahim kecelakaan.]
Suara dari sebrang sana menghentak detak jantung Razka. Membuat segumpal daging dalam dada berdegup tak terkira. Seluruh otot di tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Lemah, lunglai, sungguh tak dinyana.
"A-apa yang aku katakan?" Lisannya terbata menuntut penjelasan. Hatinya pula menolak apa yang baru saja ditangkap rungunya. Semua itu hanya kelancungan semata, tiada nyata ia dengar.
"Ibrahim kecelakaan, Kak. Cepat ke rumah sakit, dia sedang di IGD sekarang. Dokter sedang menanganinya. Kak, aku takut. Aku takut sekali, Kak," rintih Aulia dengan tangis pilu yang tak dapat ditahannya.
__ADS_1
Razka seketika tersadar apa yang harus ia lakukan. Ponsel ia matikan, gegas keluar mobil menemui kedua anak dan orang tua asuh Bima.
Brak!
"Ayah? Ada apa?"
Nasya dan Ayra nampak terkejut melihat Razka yang datang dengan napas tersengal juga keringat yang membanjiri wajah. Keduanya berhambur mendekat, membantu Razka yang oleng hampir terjatuh.
"Ayah, ada apa? Kenapa Ayah seperti ini?" tanya Ayra lagi sambil membantu Razka duduk di sebuah bangku kayu. Dewa bergegas meninggalkan panggangan, seketika saja merasa cabar hati melihat keadaan Razka yang nampak lemas.
"Bima ... Bima kecelakaan, dia di rumah sakit sekarang," ucapnya terbata dan lemah. Jantungnya terasa sesak, bagai diremas-remas tanpa hati. Sakit tak terperi, tapi ia harus kuat.
"Anak gua!"
Klontang!
Tina terperenyak di atas lantai dapur, spatula di tangannya terjatuh menimpa sebuah piring yang ia gunakan untuk meletakkan berbagai macam lalapan. Jatuh berserakan, hancur berkeping-keping laksana hatinya kini yang tak berupa saat mendengar kabar tentang putranya.
Raungan darinya sungguh menyayat hati, Dewa buru-buru menghampiri. Memeluk tubuh wanita renta itu yang semakin ringkih terasa. Sungguh, ia pun merasakan hal yang sama. Hati tua itu tercabik mendengar kabar tentang putra kebanggaannya.
"Ayah, kita harus segera ke sana," tukas Nasya yang mendapat anggukan kepala dari Razka dan Ayra.
Kedua lansia yang mendengar terdiam tanpa kata. Dewa semakin gamang, ingin beranjak dan ikut bersama mereka melihat keadaan Bima.
Ia membantu Tina berdiri meski tertatih, mengayun langkah mendekati Razka dan kedua putrinya. Derai air mata tak terbendung, membanjiri kulit pipinya yang semakin keriput.
__ADS_1
"Tuan, tolong ajak kami ke sana. Kami juga ingin melihat keadaannya, kami ingin tahu kondisi anak yang kami asuh, Tuan. Tolong bawa kami serta kami ke rumah sakit," mohon Tina dengan kedua tangan tertangkup di dada.
Mereka tak tega melihat kedua lansia yang memohon dengan wajah mengiba. Derai air mata melengkapi kepiluan hati mereka. Ketulusan jelas terpancar dari manik tua berkabut milik keduanya.
"Ibu dan Bapak boleh ikut. Tak mungkin kami meninggalkan kalian. Bima anak kalian juga, bukan?" sahut Ayra seraya menyentuh lengan Tina yang masih menangkup di depan wajah.
Alangkah bahagia hatinya! Namun, semua itu tak cukup membuat hati mereka tenang. Gelisah masih melanda, kecemasan kian meraja.
"Terima kasih, Nona. Terima kasih, Tuan." Mereka mengangguk dan gegas keluar rumah bersama-sama. Ayra bertindak sebagai supir, Nasya menenangkan Tina di kursi belakang bersama Dewa. Razka sendiri tak henti menarik napas panjang dan mengurainya. Rasa sesak di dada masih berkuasa, enggan untuk enyah dari tempat segala rasa.
"Hati-hati, Kak!" Nasya memperingati disaat Ayra menancap gas lebih dalam. Gadis itu tak sabar untuk sampai di rumah sakit, tapi peringatan dari Nasya seketika menyadarkannya bahwa ada banyak nyawa yang ia bawa di dalam mobil tersebut.
Sementara di rumah sakit, Aulia kembali menangis setelah mengabari suaminya. Ia tergugu sendiri. Para pemuda yang bersamanya, nampak bingung dan gelisah. Mereka tak tahu harus apa, jadilah membiarkan Aulia menumpahkan tangisnya.
Berselang beberapa menit, pintu ruangan terbuka seorang dokter keluar dengan wajah yang terlihat lelah. Ia menyeka sisa keringat di dahi, membuka masker mengurai sesak, melangkah gontai menghampiri Aulia yang lebih dulu mendekat padanya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Aulia dengan segera. Wajah tuanya yang panik semakin terlihat keriputnya.
Jejak air masih basah di pipi, meninggalkan kemerahan di bagian matanya. Ia menatap sang dokter penuh pengharapan. Namun, helaan napas yang dihembuskan oleh laki-laki berseragam putih itu, semakin membuat hatinya tercabar.
"Beruntung anak Anda segera dibawa ke rumah sakit, Nyonya. Dia kehilangan banyak darah, tapi masih bisa diselamatkan. Sekarang anak Anda sedang tidur kami sengaja memberikannya obat penenang supaya dia bisa beristirahat. Jika Anda ingin melihat, silahkan, tapi jangan membuat keributan. Biarkan pasien beristirahat," jawab dokter sembari mengulas senyum kelegaan.
Aulia menangis setelah terkesima, ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bersyukur karena Bima masih bisa selamat dari maut. Wanita ringkih itu menjatuhkan diri di lantai, bersujud penuh syukur kepasa DIA As-Salam, Tuhan Yang Maha Memberi Keselamatan.
Diikuti tiga orang teman Bima yang ikut merasa senang mendengar kabar tentang teman mereka itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah. Terima kasih." Isak tangis mereka penuh keharuan. Doa-doa yang mereka panjatkan, didengar Tuhan menyelamatkan Bima dari intaian maut.
Aulia bersama ketiga teman Bima itu, masuk ke ruangan setelah tim medis yang menolongnya keluar. Di dalam sana, pemuda itu terbaring lemah tak berdaya. Kaki dan tangan bagian kanannya dililit perban menutupi luka. Ia menyedihkan.