Bima

Bima
Part. 89


__ADS_3

"Bima, ngapa lu bisa kaya gini, Tong? Nyak udah sering bilang lu kudu ati-ati kalo bawa motor," lirih Tina bergetar.


"Udah, Tin. Mending kita doain aja anak kita supaya kagak kenapa-napa. Kagak usah lu mikir yang lebih buruk lagi," sahut Dewa menasihati sang istri.


Tina mengangguk, tapi air matanya belum juga mereda. Dewa mengusap-usap lengan Tina dengan tangan yang melingkari tubuh istrinya itu. Menyalurkan kekuatan pada hati wanita tua yang rapuh nan ringkih.


Mendengar suara Tina dan Dewa, Aulia meredakan tangisnya. Ia mengurai pelukan, berbalik dan menatap kedua lansia yang berdiri dengan bahu terguncang di samping ranjang Bima.


Razka mencekal tangan Aulia disaat langkah wanita itu hendak berayun. Kepalanya menggeleng tak mengizinkan sang istri membuat masalah dengan kedua orang tua asuh Bima. Wanita itu berbalik, jejak tangisan tertinggal di wajahnya yang sembab.


"Tolong, jangan buat masalah. Bima menyayangi mereka, teramat menyayangi keduanya. Begitu pun sebaliknya, mereka amat menyayangi anak kita. Kumohon, jangan berbuat hal yang membuat anak kita kecewa, Aul," sergah Razka dengan raut cemas yang tak ia tutupi.


Aulia bergeming, ia melepas cekalan tangan Razka seolah tak acuh padanya. Kembali berbalik, mendatangi tempat Dewa dan Tina memandangi Bima.


"Ibu, Bapak, maafkan saya. Maafkan kebodohan saya, karena sikap egois saya dia jadi begini. Tolong, maafkan saya," ucap Aulia setelah berdiri di belakang keduanya.


Mendengar suara lirih dan bergetar di belakang tubuh mereka, Dewa dan Tina berbalik dan mendapati Aulia dengan air matanya yang berderai. Ayra dan Nasya yang sempat merasa cemas, seketika bernapas lega mendengar ungkapan permintaan maaf dari Ibu mereka.


Tina memandang Dewa, laki-laki tua itu pun tak mengerti dengan sikap istri Tuan Besar itu.


"Tolong maafkan saya, anak kalian jadi seperti itu karena sikap egois saya yang memintanya meninggalkan kalian. Saya menyesal, benar-benar menyesal," ungkap Aulia lagi semakin dalam wajahnya menunduk dengan derai air mata yang kian menderas.


"Nyo-nyonya! Jangan begini! Tolong jangan seperti ini." Tangan Tina cepat mencegah dikala Aulia hendak menjatuhkan diri di atas lantai, "Bima adalah anak Anda. Sudah semestinya orang tua kandung menginginkan dia untuk tinggal bersama. Kami hanya orang tua asuh yang tak memiliki hak penuh atasnya, Anda dan suami Anda yang paling berhak atas Bima. Jangan menyalahkan diri Anda sendiri atas kejadian yang menimpa padanya. Ini semua takdir dari Allah," lanjut Tina sembari menatap tulus manik Aulia yang terangkat padanya.


Bibir wanita itu terbelah, ada kata yang ingin terucap, tapi lisan tiba-tiba kelu tak bergerak. Senyum yang diukir Tina membuat hati Aulia tercabik, betapa ia tak tahu diri telah menghina seorang wanita yang memiliki pancaran mata dan senyum yang tulus itu.

__ADS_1


"A-apa yang Ibu ucapkan ini benar? Di-dia boleh tinggal bersama kami?" tanya Aulia memastikan.


Mendengar itu, Tina menundukkan kepala. Ia tak menampik hatinya menderita mendengar itu. Razka sendiri tak dapat mencegah emosi kedua wanita yang sama-sama menginginkan sosok Bima ada di keseharian mereka.


Nasya dan sang Kakak, tetap diam di tempat memperhatikan percakapan dua insan yang memiliki rasa sayang tak terbatas untuk saudara laki-laki mereka itu. Sejujurnya, Dewa menginginkan Bima tetap bersamanya. Namun, apalah ia yang hanya berstatus sebagai orang tua asuh saja meskipun telah hidup bersamanya selama dua puluh tahun.


Tina menguatkan hati, helaan napas ia tahan agar tak menyinggung perasaan Aulia sebagai ibu kandung Bima. Lambat-lambat ia mengangkat wajah, kembali mengulas senyum yang sama, tapi di sana ada penderitaan yang coba ia sembunyikan.


"Tentu saja boleh, Nyonya. Bima adalah anak Anda. Ia terlahir dari rahim Anda, bukan rahim saya. Sudah pasti ikatan batin antara Ibu dan anak itu sangatlah kuat. Saya ... sudah diizinkan bertemu saja sudah sangat bersyukur dan berterimakasih. Saya tidak apa-apa, hanya satu yang saya minta tolong jaga dia sebaik mungkin. Bima sangat berharga untuk kami, karenanya, kami berdua dapat merasakan bagaimana sibuknya menjadi orang tua-"


"Berkatnya, kami berdua bisa menjalani hari-hari dengan penuh warna dan makna. Hidup kami juga lebih berharga karena hadirnya yang tanpa disengaja. Dia permata hati kami. Senyumnya, tawanya, kebahagiaannya, adalah segalanya untuk kami. Bagi kami asal dia merasa bahagia, maka dengan siapa pun dia tinggal kami akan ikhlas menerimanya," tutur Tina meski sempat menjeda ucapannya karena isak tangis yang tiba-tiba mencuat, menyeruak ke permukaan.


Penuturan panjang Tina, membuat hati Aulia tersadar sesadar-sadarnya. Betapa wanita itu menyayangi anak mereka, mencintainya dengan sepenuh hati. Ia merengkuh tubuh Tina, menumpahkan penyesalan yang terus hadir memenuhi hatinya.


Keharuan seketika memenuhi ruangan tersebut, Razka menghampiri kedua putrinya, memeluk mereka sambil tersenyum bahagia walaupun air turut berjatuhan dari pelupuk matanya. Dewa mengusap air di sudut mata, ia melirik Bima dan tersenyum.


Lu denger, Tong? Mereka sayang ama lu, cepet bangun, Bima anaknya Babeh Dewa.


Kedua kelopak mata Bima berkedut, berikut bibirnya ikut terbuka sedikit. Dewa membeliak, memastikan matanya tak salah melihat.


"Nyak!" Kata pertama yang keluar dari bibir pucatnya. Lirih dan hampir seperti bisikan.


"Bima?" panggil Dewa yang seketika menyentak kesadaran semua orang.


"Ba-beh?" Kata kedua yang meluncur dengan terbata dari lisannya. Mata itu belum terbuka, masih meraba rasa. Sekujur tubuhnya sakit tak terkira, terutama di bagian kaki kanannya.

__ADS_1


Ayra buru-buru menekan tombol panggilan. Mereka merangsek mendekati ranjang Bima.


"Baim, sayang?" panggil Aulia tak kuasa menahan diri untuk tidak menangis.


Bima membuka mata perlahan, ia memejamkannya lagi menyesuaikan dengan sorot lampu ruangan. Bola matanya berputar, mendapati semua orang ada di dekatnya, ia tersenyum. Tak lama dokter datang bersama dua orang suster, mereka memberi ruang pada tim medis untuk memeriksa keadaan Bima.


Bersyukur karena dokter mengatakan keadaan Bima yang sudah stabil. Senyum-senyum kebahagiaan jelas tercetak di bibir semua orang. Mereka bahagia, tentu saja.


"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Bima dengan suaranya yang lemah.


"Ibu baik-baik saja, sayang. Kau tak usah mencemaskan Ibu," katanya tersenyum haru.


Bima mengangguk, kebahagiaan mereka terjeda disaat ponsel Dewa berdering. Ia berpamitan untuk mengangkat telepon, sebentar saja karena terburu-buru mendatangi mereka kembali.


"Polisi menelpon, dia meminta wali Bima untuk datang memberikan keterangan dan melihat pelaku yang menabrak Bima," katanya, "saya akan pergi, Tuan," sambungnya lagi menatap Razka dengan sungguh-sungguh.


"Tidak perlu, Pak. Bapak di sini saja menemani Bima. Bukankah Bapak baru saja pulih? Biar saya yang ke sana," cegah Razka tak ingin Dewa merepotkan dirinya untuk perkara ini. Biarlah ia yang akan mengurus semuanya.


"Baik, Tuan. Terima kasih." Ia tersenyum melihat Bima yang memegangi tangannya.


"Aku ikut!" Aulia menyergah dengan cepat.


"Kalian berdua, pulanglah lebih dulu. Ini sudah mau Maghrib, bersihkan tubuh kalian dan ganti pakaian. Kalian bisa kembali sambil membawakan makanan," titahnya menunjuk kedua anak gadis yang terkejut mendengar itu.


Mereka mengangguk meskipun hati masih ingin menemani Bima. Tinggallah Dewa dan Tina yang menemani Bima.

__ADS_1


__ADS_2