
"Lu jadi berangkat kerja, Tong? Nyak kira lu cuma becanda kemaren," ujar Tina yang melihat Bima telah rapih dengan seragam kantornya.
Pemuda itu tersenyum, duduk berjongkok mengenakan sepatu, bersiap untuk pergi menjalankan tugas.
"Elah, Nyak. Kaki Bima udah sembuh, udah kagak sakit. Nyak kagak usah kuatir, anak Nyak, pan, kuat." Bima tersenyum hingga kedua matanya menyipit, sedangkan tangan sibuk menyimpulkan tali pada sepatu.
Ia beranjak mendekati Tina, meraih tangan renta wanita itu dan menciumnya. Bibirnya kembali membentuk senyuman sebelum benda lembut itu mengecup dahi Tina.
"Bima berangkat, Nyak." Ia berjalan keluar rumah, menemui Dewa yang sedang asik membaca koran ditemani secangkir teh hangat yang mengepulkan asap.
"Udah siap kerja lu? Ati-ati, ya," ucap Dewa sambil memberikan tangannya pada Bima, "Tong, lu kagak ngapa-ngapa kerja di perusahaan lu sendiri?" tanya Dewa. Mengingat perusahaan Pratama Grup adalah milik Razka, sudah pasti itu pun akan menjadi miliknya.
"Itu bukan perusahaannya Bima, Beh. Itu punya Ayah, Bima kagak punya apa-apa. Makanya doain Bima biar punya ladang usaha sendiri bakal Nyak ama Babeh," sahut Bima teguh keyakinan.
Terharu Dewa mendengarnya, apa yang dilakukan Bima saat ini semuanya hanya untuk mereka. Satu tujuan Bima adalah membuat bahagia kedua orang tua yang telah rela hati merawatnya sejak bayi itu.
"Bima berangkat, Beh. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Tina ikut berdiri di ambang pintu, mengawasi sebelah kaki Bima yang beberapa hari bergerak tak normal. Hati wanita tua itu pun merasa lega saat kaki itu telah kembali normal seperti semula.
Bunyi klakson mobil yang ditekan putra mereka menjadi tanda ia pergi mengais rezeki. Lambaian tangan Tina menjadi pengantar mobil Bima yang perlahan menghilang di jalanan.
"Bang, gimana reaksi majikan Bima kalo tau Bima itu anak Tuan Besar?" celetuk Tina sembari mendaratkan bokong di kursi lain berdampingan dengan suaminya.
__ADS_1
"Gua kagak tahu. Moga-moga, sih, kagak ada masalah. Yang gua harepin mereka semua bisa nerima Bima sebagai kelurga," tutur Dewa seraya menaruh koran di atas meja. Laki-laki yang tak lagi muda itu membawa cangkir teh miliknya, lantas merangkul Tina masuk ke rumah.
Bima bersenandung, hatinya riang gembira. Kebebasan yang tak tersentuh beberapa hari lalu, kini dapat ia rengkuh kembali. Bersamanya, ia dapat mengitari bumi. Mencari sesuatu yang disebut jati diri.
"Hah ... mudah-mudahan si Akmal kagak marah ama gua, tapi kalo marah juga gua kagak takut sama sekali," gumamnya sembari terkekeh merasa lucu sendiri.
Gerbang rumah besar itu mulai terlihat, masih kokoh seperti saat ia masuki untuk pertama kalinya. Bunyi klakson sebagai pengganti salam disambut anggukan kepala oleh sang penjaga gerbang.
Di sana, seorang laki-laki dewasa berseragam sama seperti dirinya tengah berdiri di samping badan mobil menunggu Tuannya. Dia supir yang menggantikan Bima saat keluar kota beberapa hari lalu.
Melihat Bima muncul dari balik pintu mobil, ia tersenyum sumringah. Cepat-cepat berjalan menghampiri merasa senang karena pada akhirnya bisa terbebas dari aturan dan kekangan Akmal, Tuannya.
"Juan, kau sudah kembali? Syukurlah," ujarnya sambil mengusap wajah lega.
"Memangnya kenapa, Pak? Bukankah asik menjadi supir pribadi Tuan? Bisa jalan-jalan ke mana saja," sahut Bima sambil tersenyum, tapi yang dilihat laki-laki dewasa itu ia sedang mencibirnya.
"Kau datang? Berapa lama kau berlibur? Seenaknya saja kau memutuskan tanpa ada pemberitahuan kepadaku. Kau anggap apa aku?!" hardik Akmal berdiri di atas teras memandang sengit pemuda yang baru saja turun dari mobil.
Matanya menyalang tajam, menohok manik kelam milik Bima. Seketika, ia mengernyit ketika menyadari satu hal asing dalam pandangannya. Pemuda yang berdiri di sana, sedang menatapnya dengan senyum simpul tersemat.
"Kau?" Kenapa wajahnya mirip sekali dengan paman Razka? Tak ada jerawat sama sekali, kulit wajahnya bersih, tapi kenapa selama ini dia mengatakan jika wajahnya berjerawat? Ini aneh.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bima memasang wajah jenaka melihat reaksi yang ditunjukkan Akmal.
Akmal tersadar, ia merubah ekspresi wajahnya kembali ke mood kesal.
__ADS_1
"Ke mana saja kau selama beberapa hari ini? Kenapa tidak ada laporan masuk ke mejaku tentang kau yang tidak bekerja ke kantor? Apa kau menyepelekan aku? Kau sedang menghina perusahaanku?" Langkah Akmal mendekat kepada Bima yang bergeming di tempatnya berdiri.
Sementara laki-laki pengganti dirinya, telah mundur ke belakang menghindari amukan Akmal.
"Tidak, Tuan. Maafkan saya, lain kali saya tidak akan melakukan kesalahan lagi," sahut Bima sambil menundukkan wajah menghindari tatapannya.
"Maaf?! Begitu mudah kau mengucapkannya, setelah itu melakukan kesalahan lagi dan lagi. Hmm ... kau tidak pantas menyandang gelar sebagai tim keamanan Pratama Grup!" Tangan Akmal menarik paksa ID Bima yang menempel di dada kiri.
Bima memejamkan mata, menahan kesal sekaligus amarah. Namun, ia tetap berusaha tidak mengikuti nafsu yang bergejolak dalam jiwa.
Akmal membuang ID itu ke sembarang arah, entah ke mana jatuhnya. Ia mendekat, mencengkeram dagu Bima dengan kuat membuatnya mendongak untuk dapat melihat dengan jelas wajah pekerja yang berani melawannya itu.
"Kau pikir aku takut padamu? Apa kau pikir aku tak bisa menghukum dirimu? Naif! Aku pimpinan, aku Tuanmu, apa pun dapat aku lakukan termasuk menghukum budak sepertimu!" Ia menghempaskan tangannya dengan kasar, kepala Bima tertoleh dengan kuat. Sedikit sakit karena ia baru saja pulih.
Bima menggeram, kedua tangannya terkepal erat. Rahangnya mengetat, gigi-giginya beradu kuat. Gejolak emosi telah sampai di ubun-ubun, mengepulkan asap kehitaman. Bima marah besar.
"Aku bukan budakmu!" sarkasnya dengan nada suara yang membuat gemetar hati Akmal, "jangan samakan aku dengan pekerjamu yang lain. Aku tidak sudi!" lanjutnya sambil mengangkat wajah dan membuangnya ke arah Akmal.
Biji manik hitam legam itu berubah menyeramkan disaat warna merah mengelilinginya. Rona di wajah Bima tak lagi merah, ia-nya nampak hitam dan menggelap. Semua yang melihat akan bergidik merasakan atmosfer di sekitarnya berubah drastis.
"Sadari batasan-batasanmu! Siapa kau, siapa aku? Aku bisa saja menendangmu dari perusahaan itu jika saja aku ingin," sambung Bima lagi. Ia telah berdiri tegak berhadapan dengan Akmal yang termangu dengan kaki gemetar.
Kenapa dia jadi menyeramkan begitu? Apa aku salah bicara? Tidak! Aku tidak salah berbicara, dia memang budak. Apa lagi?
Ia meyakinkan hati menegaskan bahwa Bima memang orang yang bekerja di perusahaannya. Ia tersenyum mencibir, tetap saja di matanya Bima telah salah dan harus dihukum.
__ADS_1
"Budak tetaplah budak. Sekalipun kau menolak, di mataku kau adalah budak yang aku bayar setelah bekerja. Aku beri makan sebagai upah atas kerja kerasmu. Apa kau pikir orang rendahan sepertimu mampu melawanku. Aku tidak butuh pekerja yang tidak memiliki loyalitas sepertimu! Tinggalkan mobil itu, dan kembali ke rumahmu. Mobil itu milikku!" tekan Akmal dengan wajah yang teramat dekat dengan Bima.
"Lancang sekali mulutmu itu, Akmal!" Tubuh pemuda yang mengintimidasi Bima itu menegang.