Bima

Bima
Part. 105


__ADS_3

Senandung lagu cinta tak henti menggema dari bibir tipisnya. Senyum-senyum kebahagiaan terus terpahat dengan indah. Binar-binar cinta bertebaran di pancaran sinar matanya.


"Tunggu setelah Kakakku menikah, aku akan membicarakan soal kita pada keluargaku." Begitulah ia berjanji sebelum berpamitan pada sang pujaan hati.


Tak mungkin ia mendahului Ayra menikah, lagi pula Bima masih kuliah tak akan fokus mengurus rumah tangga.


Ia bersiul mengikuti alunan musik syahdu tentang cinta. Bunga-bunga bermekaran di setiap ia melintas, lupa pada dunia yang tengah dipijaknya saat ini. Sampai dering ponsel mengejutkannya sekaligus menyadarkan dirinya dari dunia hayalan cinta.


"Nasya?" Ia memekik saat membaca nama si penelpon. Terlupa sudah pada adiknya yang masih menunggu di kampus. Pemuda yang sedang berbunga itu menancap gas melaju dengan kecepatan tinggi menjemput sang adik. Ia tak sempat berpamitan tadi padanya.


"Maafin gua, Nasya. Gua ampe lupa ama adik gua yang itu. Astaghfirullah!" katanya sambil mengusap wajah menyesal.


Bima memasuki area kampus, memarkir mobil di jejeran mobil lainnya. Berlari mencari keberadaan sang adik. Sesuai peta yang dikirimkan Nasya padanya, ia mencari posisi.


Bima menghentikan langkah di pinggir taman kampus. Di sana, di sebuah bangku ia melihat Nasya sedang duduk asik berdua dengan seorang laki-laki. Mungkin teman kelasnya, mereka terlihat akrab. Entah mengapa Bima memiliki perasaan buruk terhadap laki-laki itu.


Penampilannya terlihat baik, tapi sorot matanya yang dalam membuat Bima curiga terhadap sosoknya. Ia tak akan melarang jika pun mereka memiliki hubungan, tapi rasa tanggung jawab sebagai Kakak membuatnya harus menyelidiki siapa sosok laki-laki itu.


"Dek!" panggil Bima dengan suara seksi menggema. Serak bermartabat. Mendongak dua anak muda yang saling melempar senyum itu.


"Kakak! Ke mana saja? Aku menunggu Kakak dari tadi di sini," sungutnya dengan bibir yang dimajukan tanda kesal. Bima tersenyum, ia mengusap kepala sang adik saat Nasya berdiri di hadapannya.


"Siapa dia?" tanya Bima pelan, tanpa ada tekanan karena ia takut Nasya akan merasa dikekang, sedangkan mereka baru saja bertemu.


"Dia teman kelasku, Kak. Dia datang menemani aku mengobrol di sini. Ayah meminta kita datang ke restoran," ujarnya memberitahu Bima.


"Saya Revi, Kak. Teman Nasya, maaf jika membuat Kakak tidak senang," kata laki-laki itu sopan sambil merunduk sedikit.

__ADS_1


Bima terkesan, jarang-jarang ada anak muda yang mau menghormati laki-laki yang berjarak beberapa tahun saja darinya.


"Terima kasih karena sudah menemani adikku, tapi kami harus pergi sekarang juga. Maaf, Adik manis ini aku bawa," ucap Bima. Ia hanya mengangguk tanpa keberatan.


"Kenapa Ayah meminta datang ke restoran?" tanya Bima setelah mereka berada di dalam mobil.


"Aku tidak tahu, mungkin ingin menunjukkan restoran keluarga pada Kakak. Siapa tahu Kakak berniat mengelolanya," sahut Nasya dengan tangan yang sibuk memainkan gawai. Berbalas pesan dengan ... entah siapa karena gadis itu tak memiliki cerita selain dengan Bima.


"Kita lihat saja nanti." Bima menghendikan bahu. Ia tak memiliki ketertarikan pada usaha keluarga. Sama seperti Razka saat muda dulu, ia ingin mengembangkan diri sendiri. Jadi apapun, yang pasti berdiri di atas kaki sendiri. Tak melulu berada dibalik gelung orang tua.


Sementara di butik, Ayra sedang sibuk mendesain model baju modern. Gamis modern untuk para muslimah. Dibantu Zia yang masih mengendalikan butik milik Mamah itu, ia dengan tekun mempelajari semua tentang fashion.


"Ay, ada yang mencari di depan. Simpan dulu saja, temui dia sekarang. Mereka sedang menggoda pria itu di luar," panggil Zia sambil menggoda gadis yang tertegun mendengar ucapannya.


"Siapa, Kak?" tanyanya. Kerutan di dahi menandakan kebingungan, pasalnya Ayra sedang tidak menunggu tamu.


"Kakak tidak tahu, dia menunggu di lobi."


"Kakak!" panggil Ayra disaat ia mendapati Briant dengan tampilan sempurnanya duduk menunggu sambil membaca majalah butik.


Pemuda berdarah campuran itu tersenyum ketika menoleh pada gadis yang ditunggu. Ia beranjak mendekati, tubuh yang tegap membuat setiap ayunan langkahnya nampak gagah berwibawa.


"Ada apa? Kenapa datang di jam kerja seperti ini?" tanya Ayra yang juga membawa langkahnya mendekati Briant.


"Tidak ada, pekerjaanku sedang tidak banyak hari ini. Aku memiliki waktu senggang dan ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Apa kau bersedia?" ungkap pemuda itu dengan senyum menghanyutkan terlempar untuk Ayra.


Gadis itu tiba-tiba merona, menunduk sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


"Ayo!" Briant melangkah mendahului, ia bahkan tidak berani menyentuh gadis itu.


"Aku pamit pada Kak Zia dulu, Kak. Tunggu saja di mobil." Briant mengangguk. Ia terus keluar butik dan menunggu Ayra di dalam mobil. Bibirnya memahat senyum dikala melihat sang pujaan keluar dari gedung tersebut. Tangannya sigap membukakan pintu.


Ayra merunduk malu, ia duduk di kursi samping Briant meski gugup. Sejak kecil, Ayra sudah mengagumi sosoknya. Mengidolakan laki-laki tampan itu dan mengklaim dirinya adalah pemilik sang pujaan.


Ia menggigit bibir menahan perasaan yang menjalar di seluruh tubuh. Briant sengaja memutar lagu cinta menemani perjalanan mereka. Senja tujuannya datang, ia sengaja membawa Ayra berputar-putar kota menunggu waktu itu tiba.


"Sebenarnya kita mau ke mana, Kak?" tanya Ayra saat sadar mereka hanya memutari kota itu.


"Aku lupa, saking terpesonanya oleh sosok bidadari yang menapak bumi," godanya tanpa segan. Ayra berpaling menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Kita akan berhenti di mushola, sholat dan beristirahat dulu," katanya. Ia tersenyum saat Ayra mengangguk tanpa berpaling padanya. Hatinya sedang tak karuan untuk saat ini.


Mobil berhenti di depan sebuah mushola, keduanya akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.


"Kakak, sebenarnya kita akan ke mana?" tanya Ayra lagi usai melaksanakan ibadah. Keduanya duduk di serambi mushola menunggu waktu sambil beristirahat.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Ay. Sebentar lagi, ya. Kita tunggu di sini sampai waktunya tiba," jawabnya penuh misteri.


"Kenapa harus menunggu waktu, Kak? Bukankah lebih baik kita pergi sekarang juga?" tuntut Ayra yang mulai bosan. Namun, ia tak menampik, hatinya berbunga setiap kali mereka jalan berdua.


Briant tak menanggapi, ia melirik jam di pergelangan tangan berkali-kali. Kenapa waktu berjalan lambat sekali.


"Ayo!" Ia beranjak tiba-tiba membuat Ayra mengernyitkan dahi. Gadis itu turut beranjak meninggalkan mushola tempat mereka singgah.


Sebuah perjalanan panjang mereka tempuh. Warna jingga di langit mulai bermunculan memayungi. Senja telah tiba dan itu adalah waktu yang ditunggunya. Mobil Briant memasuki sebuah area parkir di tepi danau.

__ADS_1


Pantulan warna jingga di langit pada permukaan air danau, memberikan kesan indah untuk senja yang merasa lewati bersama.


"Ay, ini untukmu!" Ayra menoleh, ia tercengang dengan mata membelalak disaat sebuah pertunjukan dimulai. Apa maksudnya?


__ADS_2