
"Arrgh!" jerit wanita itu sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Wajahnya meringis jelek, merah dan berair.
"Udah gua kasih peringatan, tapi kenapa lu masih bengal juga. Tau siapa yang lu sakitin?" Bima berjongkok di depan Yola yang masih meringis menahan sakit. Wajah gadis itu sedikit mendongak, melirik Bima yang menatapnya tajam.
"Dia adik gua. Apa lu tahu siapa Akmal? Dia sepupu gua. Jangan lagi lu datangin dia, karena gua yang akan lu hadepin. Ngarti kagak lu?" Bima menjambak kembali rambut wanita itu dan mendongakkannya. Menyentak kesadaran Yola yang sempat menghilang.
"Lepas! Kau pikir aku takut?" katanya berani.
Bima mencibirkan bibir, tangannya masih menggenggam erat rambut wanita itu. Tak ada yang berani menghentikannya, mereka terlalu takut untuk ikut campur.
"Lu emang kudu takut, Yola." Bima menghempaskan rambutnya seraya berdiri dan menepuk-nepuk pakaian, "gua tahu siapa lu? Siapa Ayah lu? Apa lu sadar lu cari masalah ama siapa?" Bima menghujam manik Yola dengan tajam. Menegaskan bahwa apa yang akan dikatakannya adalah sesuatu yang patut ia takuti.
"Lu cari masalah dengan keluarga Pratama, Yola. Gua yakin lu juga tahu konsekuensinya kalo bermasalah dengan keluarga Pratama," ungkap Bima yang berhasil membuat mata Yola membelalak juga dua temannya.
Tak hanya mereka, orang-orang yang berkerumun di tempat itu pun ikut terkejut termasuk Revi yang seketika lemas tak berdaya.
"Nasya? Kau ...?" Nasya tersenyum meski rahangnya masih terasa sakit akibat ulah Yola, ia mengangguk kecil. Mereka saling pandang tak percaya, meneguk ludah gugup dan cemas.
"Ka-kau ...?"
"Ayah lu manager pemasaran di perusahaan gua, dan gua tahu apa yang Ayah lu lakuin. Dia korupsi. Siap-siap tinggal di jalanan, Yola!" Bima berbalik mendatangi Nasya yang berdiri bersama temannya.
Diam-diam Revi mengendap hendak melarikan diri, tapi mata Bima lebih jeli dari apa yang dia kira. Ia memapak langkah laki-laki itu, pandang keduanya bertemu. Bima melemparkan serangan lewat sorot matanya yang tajam.
Bugh!
Satu pukulan melayang telak di wajahnya. Merobek daging pipi laki-laki itu hingga cairan merah merembes di sudut bibir. Ia jatuh tersungkur menghantam lantai keramik cafe tersebut.
Bibirnya berdesis, merasakan perih yang mengoyak bagian pipinya. Bima melangkah mendekati tubuhnya yang meringkuk. Ia menarik kerah baju laki-laki brengsek itu hingga membuatnya berdiri tegak.
__ADS_1
"Udah gua kasih peringatan, jangan coba-coba lu sakitin adik gua, tapi lu sama sekali kagak denger." Bima kembali melayangkan tinjunya untuk yang kedua kali. Ia kembali tersungkur tak berdaya.
"Maaf, Kak. Maafkan aku," mohonnya terbata.
"Sekalipun adik gua maafin lu, gua kagak bisa kasih lu maaf. Jangan lagi lu deketin dia kalo lu masih mau hidup!" ancamnya seraya berbalik dan pergi. Ia merangkul bahu Nasya dan membawanya pergi meninggalkan cafe terkutuk tersebut.
"Jangan lagi lu dateng ke cafe sialan itu! Awas lu!" ancam Bima setelah mereka duduk di dalam mobil.
"Iya." Nasya menundukkan wajah.
Bima menghela napas dengan tangan mencengkeram erat kemudi. Kepalanya menoleh menelisik wajah sang adik yang masih menunduk.
"Lu kagak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanyanya dengan nada cemas. Ia menyentuh lembut dagu Nasya dan mengangkatnya perlahan. Ditiliknya rahang gadis itu seraya diusap-usapnya dengan pelan.
"Sudah tidak sakit, Kak. Tidak apa-apa," ucap Nasya menurunkan tangan Bima dari dagunya, "terima kasih, Kakak sudah datang tepat waktu." Ia memeluk Bima. Hatinya sangat bersyukur karena memiliki Kakak laki-laki seperti Bima.
Sapuan lembut ia terima di kepala dari laki-laki yang kini menjadi pelindungnya, kecupan hangat di ubun-ubun pun ia rasakan menghantarkan ketenangan pada hatinya.
Yola menangis sesenggukan, ia sungguh tak menyangka jika Bima dan Nasya adalah keturunan Pratama. Orang paling berkuasa di kota tersebut. Siapa saja tahu bagaimana Tuan Besar Pratama. Dia arif dan bijaksana, suka menolong siapa saja yang membutuhkan, tapi juga kejam terhadap siapa saja yang berani mengusik keluarganya.
"Yola, kau tak apa?" Dua teman Yola mendatangi, sedangkan yang lain membubarkan diri usai memberikan cibiran pada wanita yang masih berada di atas tanah itu.
"Sombong, tahunya anak koruptor!" ejek teman Nasya sembari melengos dari tempat kejadian.
"Tidak! Dia tidak bisa melakukan itu, dia tidak bisa melemparku ke jalanan. Perusahaan itu milik Akmal, bukan miliknya. Tidak!" cerocos Yola tak karuan. Penampilannya berantakan, rambut aut-autan, air mata membanjiri pipi. Membayangkan ia harus hidup di jalanan, membuat Yola menjerit sekeras-kerasnya.
Sementara di restoran, Razka kembali memanggil Khaira. Kali ini ia membawa gadis itu ke ruangannya, berbicara secara khusus dengannya.
Tok-tok-tok!
__ADS_1
"Saya, Tuan!" ucap Khaira.
"Masuk!"
Pintu terbuka perlahan, Khaira menutupnya kembali nyaris tanpa suara. Melangkah dengan pelan seringan mungkin agar tak menimbulkan bunyi berisik. Ia berdiri di depan Razka, menunduk tak berani mengangkat wajah di hadapan laki-laki berwibawa itu.
"Duduk!" Razka tersenyum untuk mengurai ketegangan yang terpancar di wajah gadis itu.
Khaira perlahan duduk, meski tegang ia tetap mencoba bersikap tenang. Diam dan menunggu maksud Razka memanggilnya.
"Khaira? Bagaimana aku memanggilmu?" tanya Razka memulai percakapan. Ia kembali membuka berkas yang diberikan Khaira ketika baru sampai.
"Anda bisa memanggil saya Ara, Tuan," sahutnya tegas. Razka mengangguk-anggukkan kepalanya.
Khaira mati-matian menahan gugup yang meliputi hatinya, tangannya meremas ujung seragam yang ia kenakan di atas paha. Terasa lembab karena keringat mulai bermunculan di seluruh bagian tubuh.
"Ara? Baiklah," ucap Razka setelah melihat Khaira menganggukkan kepala, "kau dan Bima berteman?" tanyanya lagi yang kembali diangguki Khaira.
"Sudah berapa lama?" Khaira terdiam, berpikir sudah berapa mereka saling mengenal.
"Sejak saya masih sekolah, Tuan. Kelas tiga SMA tepatnya," sahut Khaira sembari meraba ingatan di mana ia hampir saja menyerahkan mahkota kesuciannya kepada laki-laki jika saja itu bukan Bima.
Razka kembali mengangguk kepala. Ia menelisik biji manik cokelat di hadapannya. Biji manik yang sama dengan milik Aulia dan Aisyah, biji manik menenangkan dan hangat saat memandang.
"Apa kau tahu siapa Bima?" pertanyaan ini terdengar ambigu di telinga khaira. Namun, ia hanya bisa mengangguk, setahunya saja.
"Kak Bima adalah seorang pembalap liar saat pertama kali saya kenal. Kami berteman sejak itu dan sampai sekarang. Yang saya tahu hanya itu," sahut Khaira dengan yakin.
"Hanya itu? Apa kau mengenal orang tuanya?" Khaira mengangguk mendengar pertanyaan Razka.
__ADS_1
"Baiklah ... Khaira ...."