
Sementara Razka merencanakan sesuatu bersama putri bungsunya, Aulia sedang merayu Ibrahim yang merajuk sesampainya di kamar. Pemuda itu persis anak kecil, telungkup di atas kasur berpura-pura terluka. Padahal, hatinya tertawa karena mendapat dukungan dari Aulia.
"Sudah, Baim. Jangan bersedih lagi. Mungkin adikmu benar belum bisa menerima kehadiranmu di rumah ini, tapi Ibu yakin lambat laun kalian akan akrab setelah mengenal satu sama lain. Sabar, ya," ucap Aulia sambil mengusap-usap punggung pemuda itu.
Tak ada sahutan, ia-nya masih menyembunyikan wajah di dalam bantal. Kekhawatiran seketika menyergap tatkala ia mengingat kata-kata Nasya yang akan membawa pemilik asli dari kalung yang ia temukan itu.
Ia harus memastikan bahwa apapun yang terjadi Aulia akan tetap mendukungnya. Gawat, jika sampai gadis nakal itu membawanya ke rumah ini, bisa terancam nasibku. Gagal sudah menjadi orang kaya. Sial! Aku harus bisa memastikan dan meyakinkan wanita ini. Dia harus ada di pihakku. Pikirnya dalam hati.
"Baim-"
"Apa aku memang tidak pantas tinggal di sini, Ibu? Apa aku memang tidak diterima di keluarga ini lagi? Jika demikian, lebih baik aku kembali pada mereka yang telah merawatku. Meski kekurangan, tapi mereka selalu memperlakukan aku dengan baik. Mereka menyayangiku, Ibu," ucap pemuda itu menukas lisan Aulia dengan cepat. Ia beranjak duduk dan menatap sendu wanita itu.
Ternganga mulut Aulia, ia merasa tersisih oleh karena ucapannya tadi. Ketakutan pun seketika merajai hatinya. Ia takut Ibrahim akan pergi lagi dan meninggalkan dirinya. Ia takut Ibrahim akan memilih hidup bersama keluarga angkatnya dari pada dirinya yang adalah ibu kandung untuk Ibrahim.
"Tidak, sayang. Mereka hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu. Kau tenang saja, Ibu akan ada untukmu dan membelamu. Sudah, jangan menangis. Kau anak Ibu, Ibrahim. Kau tidak akan ke mana-mana, kau akan tetap di sini. Ini adalah rumahmu juga." Aulia mendekap erat pemuda di hadapannya.
Ah ... lihatlah senyum liciknya itu! Ia tersenyum penuh kemenangan. Hatinya berbunga karena mendapat sumpah pembelaan dari Aulia. Sedikit lega, setidaknya untuk saat ini. Untuk ke depannya, dia akan menyusun rencana agar tetap bisa berada dalam keluarga tersebut.
"Terima kasih, Ibu. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang Ibu untukku. Jika tidak ada Ibu, entah akan seperti apa diriku ini?" keluhnya sambil tersedu-sedu. Aulia mengusap-usap punggung pemuda itu. Mereka tak sadar, di pintu itu Razka tengah menguping sekaligus mengintip.
Kau ditipunya, Aul. Aku ingin lihat saat Nasya berhasil membawa Bima, apa yang akan dia lakukan?
Razka berbalik, pergi keluar rumah menemui sahabatnya. Selalu ada bahasan untuk mereka perbincangkan. Kali ini, ia ingin menyelidiki soal pemuda yang mengaku sebagai Ibrahim di rumahnya.
"Ah, aku lupa meminta nomor kak Bima. Bagaimana caraku menghubunginya? Semoga besok kak Bima masuk kuliah," gumam Nasya sembari menggigit bibirnya bingung sendiri.
Ia menjatuhkan diri di atas ranjang, memandang langit-langit kamar bernuansa biru muda kesukaannya itu. Membayangkan sosok Bima yang nampak gagah dan tampan.
"Mmm ... jika dipikir-pikir, wajah kak Bima itu mirip sekali dengan Ayah dan Ibu? Jika dia anak mereka ... bagaimana dengan hatiku? Semoga Kak Bima orang lain yang kebetulan hanya mirip saja dengan mereka. Aku tidak mau patah hati sebelum merasakan cinta."
Ia berguling menelungkup. Menyembunyikan wajahnya yang merona saat membayangkan senyum Bima yang manis siang tadi. Kedua lesung pipinya, benar-benar menggemaskan. Dia semakin mirip dengan Razka.
[Kak Briant, besok temani aku mencari tahu identitas pemuda yang kita bawa. Maafkan aku karena tidak mendengarkan Kakak. Aku meragukan dirinya, Kak.]
__ADS_1
Ayra mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Briant. Tak perlu waktu lama, pesan balasan pun ia terima.
[Siap, Tuan Putri. Laksanakan!] Dengan ikon love di kedua matanya. Ayra tersenyum, sedikit terhibur jika sudah berbalas pesan dengan pemuda itu.
Meninggalkan mereka, di sebuah rumah sederhana. Bima dan kedua orang tuanya baru saja kembali dari rumah sakit. Keadaan Dewa yang sudah membaik, membuat laki-laki berusia lanjut itu meminta pulang. Serangkaian pengecekan dilakukan dokter, mereka juga mengubungi Razka meminta persetujuan Tuan Besar itu.
"Ah ... lega banget rasanya gua bisa keluar dari tempat sumpek itu," ucap Dewa sambil menyandarkan punggung pada dinding rumahnya. Segelas teh hangat disuguhkan Tina berikut susu untuk Bima.
Senyum di bibirnya tak pudar, hatinya teramat senang karena Bima masih bersama mereka. Pemuda itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya sebelum ikut bergabung bersama mereka berdua.
"Makanya, Bang. Kalo lu kagak mau masuk tu tempat lagi, lu kudu pinter jaga kesehatan. Kurangi kebiasaan buruk lu. Ngerokok, begadang yang kagak penting. Lu udah tua, Bang," cerocos Tina menasihati. Ia sedang menikmati sepotong roti bakar yang dibeli dalam perjalanan pulang.
Dewa tersenyum, merasa beruntung mendapat anak dan istri yang begitu memperhatikan dirinya.
"Iya, iya. Mulai sekarang gua bakal jaga kesehatan gua. Kagak mau sakit lagi kaya kemaren," sahut Dewa seraya ikut mencomot sepotong roti dan melahapnya.
Tok-tok-tok!
Pintu diketuk seseorang, Dewa dan Tina saling menatap sebelum wanita itu beranjak membukakan pintu.
"Wa'alaikumussalaam! Tu-tuan? Silahkan masuk!" Ia membentang pintu lebar-lebar mempersilakan Razka masuk. Buah tangan yang dibawanya diterima Tina saat ia menjulurkan padanya.
"Siapa, Tin?" tanya Dewa yang sedang berada di ruang keluarga rumahnya. Tak lama Razka muncul memberikan senyumnya untuk laki-laki tua itu.
"Tuan-"
"Ah ... tidak perlu! Duduk saja, Pak. Tidak perlu menyambutku!" sergah Razka yang bergegas mendekat dan duduk melantai bersama Dewa. Tina ke dapur membuatkan teh hangat untuk Razka sekaligus menyajikan apa yang dibawanya.
"Silahkan, Tuan!" Tina meletakkan cangkir dan piring berisi bungkusan di depan kedua laki-laki itu.
"Terima kasih. Mmm ...."
"Bima sedang belajar di kamarnya, Tuan. Dia tidak akan keluar sebelum selesai. Sebentar lagi dia akan selesai," beritahu Tina dengan cepat sebelum Razka bertanya perihal Bima.
__ADS_1
Razka tersenyum lagi, kepalanya mengangguk tanda mengerti. Ia beralih pada Dewa, membahas perihal keadaan laki-laki itu sambil menunggu Bima selesai. Matanya berkali-kali melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Ah ... besok Bima kudu ngantar majikan ke luar kota, Nyak. Tiga hari, Beh." Bima mengeluh sambil berjalan keluar kamar tanpa mengetahui jika ada Razka di sana.
Tina dan Dewa bungkam, tak menyahut.
"Lalu, bagaimana dengan kuliahmu?" Suara Razka yang menimpali dengan cepat membuat Bima mendongak dengan mata terbelalak.
"Tu-tuan, sejak kapan Anda di sana?" Bertanya gugup. Bola matanya berputar ke arah Tina dan Dewa yang termangu di tempat mereka.
Laki-laki berkacamata itu tersenyum ramah, "Baru saja datang," sahutnya pelan. Ia ingin memeluk Bima, pemuda yang berpenampilan apa adanya itu.
"Eh, kemari! Tunjukan sopan santunmu!" titah Tina sambil melambaikan tangan. Bima menggaruk kepalanya, bibirnya tersenyum malu. Ia mendekat dan menyalami Razka. Ditariknya tangan Bima agar ia duduk bersisian dengannya.
Meski canggung, Bima tetap duduk di antara Dewa dan Razka. Lihatlah! Betapa mirip wajah mereka!
"Nih, cobain. Tuan yang membawanya!" Dewa memberikan sebuah bungkusan kepada Bima.
"Apa ini, Beh?" Bertanya Bima ketika menerima piring berisi bungkusan itu.
"Itu sate. Dari restoran sendiri, resep turun-temurun dari Nenek. Cobalah!" ucap Razka sambil membukakan bungkusan itu. Ia melipat bibir, menahan tangis haru yang merangsek ke permukaan.
Dewa dan Tina dapat melihat itu. Mereka membiarkan Razka melakukannya. Ia pun sama berhaknya atas Bima.
"Sate? Wah ... udah lama juga Bima kagak makan sate," celetuk Bima tanpa sadar.
"Hus ... jaga lisanmu, Nak!" sergah Tina tak enak.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Saya lebih suka kalian berbicara apa adanya," sahut Razka sambil mengangkat tangannya tak apa.
Bima tersenyum jenaka, ia mengambil satu tusuk sate dan memakannya. Tusukan kedua pun lolos ke dalam tenggorokannya. Razka mengusap sudut matanya saat Bima begitu menikmati sate itu. Tangannya sendiri yang meracik secara khusus sate yang dimakan Bima.
"Pelan-pelan, Tong! Keselek lu." Tina meringis tak enak. Ia memandang Dewa yang meneguk ludah ingin merasakan sate yang dimakan Bima.
__ADS_1
"Hehe ... enak, Nyak. Ini beneran enak. Nyak ama Babeh kudu nyobain. Lain waktu Bima bakal datengin restoran Tuan buat beli sate lagi," ucap Bima sambil terus mengunyah sate di mulutnya. Razka terkekeh kecil.
Seperti itulah malam itu mereka menikmati kebersamaan. Tanpa mengetahui siapa Razka, Bima tak segan berbincang dan bersenda gurau bersama mereka bertiga. Tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, terpaksa Razka harus kembali pulang meski berat hati.