Bima

Bima
Part. 138


__ADS_3

"Pergi, dan lakukan tugasmu sekarang juga!" titah wanita itu sembari mengarahkan jari telunjuknya keluar rumah.


Pemuda yang tak lain adalah Lucky itu mengangkat wajah, matanya memanas, merah terlihat. Rahangnya mengeras, jelas ia sedang menahan gejolak amarah.


"Dengar! Aku memang akan pergi dari rumah ini, tapi bukan untuk melakukan kejahatan apa lagi melakukan apa yang kau perintahkan." Terhenyak Rima mendengar penuturan Lucky yang tegas dan berani.


Selama ini, anak itu selalu menurut tak pernah sekalipun membantah apa yang dia perintahkan. Namun, sekarang yang dilihatnya adalah, Lucky yang membangkang bahkan berani melawan.


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah muak menjadi boneka, Mah. Bibi Aulia adalah orang yang baik. Bukan Bibi yang jahat, tapi Mamah! Selama ini Mamah yang sudah merampas kehidupan Bibi, merebut semuanya dari Bibi. Selama beberapa hari ini aku tinggal bersama Bibi dan selama itu juga Bibi memperlakukan aku dengan baik seperti anaknya sendiri." Lucky menjeda untuk menarik napas.


"Di sana, aku mendapatkan apa yang tak aku dapat di sini. Di sana, aku dicintai, aku dibebaskan untuk melakukan apa saja yang aku inginkan. Tidak seperti di sini! Aku hanya dijadikan alat untuk ambisi Mamah dan boneka untuk balas dendam Mamah. Aku muak, Mah! Aku muak. Aku akan pergi dari hidup Mamah untuk selamanya. Mamah tenang saja, aku tak akan datang mengganggu," tegas Lucky seraya berbalik pergi meninggalkan Rima seorang diri.


Bagai disambar petir di siang bolong. Lutut Rima lemas seketika tak mampu menopang tubuhnya. Ia ambruk di lantai, air mata merembes perlahan, menangis tergugu sendirian.


Sementara Lucky telah pergi meninggalkan dia tanpa membawa apa pun. Hanya beberapa helai pakaian yang ia bawa di dalam tas. Berdiri di pinggir jalan, sedikit uang pemberian Razka dijadikan sebagai bekal untuknya pergi. Entah ke mana kaki melangkah akan membawanya. Yang pasti tak akan mungkin ia kembali ke rumah Razka. Terlalu malu untuknya kembali ke sana. Pada akhirnya ia pergi ke mana pun. Menjauh dari semua orang yang dikenalnya.


Kemeriahan pesta di rumah besar Razka masih berlangsung meriah. Para tamu masih berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Fandi cepat berbaur dengan semua keluarga. Serba salah menjadi Bima, dosennya sendiri akan menjadi adik ipar setelah mereka menikah. Ah, sial!


Satu buah mobil berhenti di parkiran, Bima sigap berdiri mengawasi tim keamanan yang lain untuk memeriksa setiap tamu yang datang. Ia mengernyitkan dahi saat satu orang laki-laki berjanggut lebat turun dari mobil tersebut, disusul laki-laki lain yang memiliki paras hampir serupa dengan keluarga Atmaja.

__ADS_1


Dari pintu belakang turun dua orang wanita dan dua anak kecil. Mungkin istri dan anak mereka.


"Akhirnya aku kembali!" gumam laki-laki berkulit putih tersebut. Ia menggandeng gadis kecil memasuki area pesta disusul laki-laki berjanggut yang menggandeng bocah laki-laki tengil. Dua wanita yang bersama mereka mengekor di belakang.


Wajah-wajah mereka tampak sumringah, melewati pemeriksaan dengan lancar dan terus masuk ke arena perkumpulan keluarga. Salah satunya berhenti tepat di hadapan Bima, tersenyum ramah sekali seolah bangga kepadanya.


"Pratama Grup semakin meningkat. Sudah dipastikan akan semakin maju karena mereka memiliki seorang Briant yang berbakat." Ia menepuk bahu Bima sebelum melanjutkan langkah.


"Kakak Dery!" Sebuah pekikan suara membuat Bima menoleh dengan cepat. Putri Atmaja berhambur memeluk laki-laki berkulit putih itu, sedang Aulia dan Razka menyambut ia yang berjenggot.


"Riza! Maa syaa Allah. Bagaimana kabar kalian?" tanya Aulia sambil memeluk wanita yang bersama keponakannya itu.


"Alhamdulillah, baik, Bibi. Kami berangkat seusai subuh bersama-sama," katanya seraya duduk menyapa semua anggota keluarga.


"Baim? Ibrahim? Dia kembali?" pekik Dery dengan mata membelalak seakan tak percaya. Dua puluh tahun lebih anak itu hilang, dan kini kembali. Rasanya hanya seperti mendengar bualan.


"Iya. Pemuda yang di sana itu Ibrahim, Kak. Seharusnya kalian melewati pemeriksaan darinya sebelum masuk," timpal Mia sambil memanjangkan leher melihat Bima.


"Apa maksud kalian laki-laki berseragam tim keamanan itu?" Kali ini Riza yang ikut memekik pula.


"Benar, Paman. Dia orangnya, bukankah dia sangat tampan," sambar Lucy yang membuat orang tuanya geleng-geleng kepala. Ayra dan Briant pun ada di perkumpulan itu.

__ADS_1


Nasya sigap berdiri dan menghampiri Bima, membawa laki-laki itu ke perkumpulan keluarga guna mengenalkannya pada kedua orang yang baru saja tiba dan jarang berkunjung itu.


"Kakak, dia Paman Dery adik Paman Hendi. Dan ini Paman Riza sepupu Ibu," ucap Nasya memperkenalkan Bima pada kedua laki-laki yang baru saja memasuki area pesta itu.


"Dia Ibrahim? Aku benar-benar tak menyangka setelah dua puluh tahun berlalu, kau akhirnya kembali juga. Lihat, dia mirip sekali dengan Kak Razka," seru Dery seraya memeluk Bima yang masih tertegun menatap mereka.


Gelak tawa kembali tercipta, celoteh ini dan itu pun kian meramaikan suasana. Mereka juga memperkenalkan Tina dan menjelaskan kedudukannya.


Hingga malam tiba, para tamu tak lagi berdatangan, tapi rumah itu masih saja ramai. Khaira dan Ibunya sudah lebih dulu diantar pulang oleh Bima.


Satu per satu dari mereka pulang, terakhir pengantin dan keluarga Dery yang berpamitan untuk istirahat di kamar mereka. Tinggallah Razka bersama Aulia, juga Tina dan Bima. Mengingat rumah itu telah dihuni oleh banyak anggota keluarga, Tina memilih pulang ke rumahnya.


"Bu, mungkin sebaiknya kita atur untuk acara lamaran Bima. Bagaimana menurut Ibu?" usul Aulia tak ingin menunda terlalu lama. Tak masalah Bima masih kuliah, Ara dan Ibunya bisa tinggal di rumah mereka menemani Tina.


"Ya, Nyonya. Lebih cepat lebih baik. Hal baik sebaiknya tidak ditunda terlalu lama," timpal Tina setuju mempercepat acara lamaran Bima untuk Ara. Sesuai kesepakatan, tiga bulan ke depan Razka akan melamar Khaira secara resmi untuk Bima.


Setelah kesepakatan dibuat, Bima dan Tina pamit pulang.


"Apa kagak apa-apa lu, Tong, nikah muda kaya begitu?" tanya Tina saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Kagak masalah, Nyak. Bima kagak mau terlambat. Selagi itu bikin Nyak bahagia, Bima juga bahagia," sahut Bima sambil tersenyum ke arah Tina.

__ADS_1


Wanita renta itu mengusap lengan putranya, ia terharu. Memang ia sangat ingin melihat Bima menikah sebelum ajal datang menjemput. Malam itu, malam penuh gairah untuk pasangan pengantin baru. Juga malam penuh cinta untuk Bima, dan malam panjang untuk Nasya juga Fandi.


Bima akan mendahului Akmal dan Farel, tidak masalah. Lagi pula tujuannya menikah adalah untuk membuat bahagia Tina di penghujung usianya.


__ADS_2