Bima

Bima
Part. 131


__ADS_3

Karena kecerobohannya, Nasya menabrak seseorang. Tabrakan yang cukup keras karena keduanya dalam keadaan terburu-buru. Hal itu membuat tubuh Nasya yang lebih kecil terjerembab di atas lantai.


"Argh!" Ia memejamkan mata menahan rasa sakit yang menimpa bokongnya. Kedua ujung alis bertaut dikala rasa sakit yang hampir menyentuh tubuhnya itu tak kunjung ia rasakan.


Nasya membuka mata, sebuah senyum manis menyambut kesadarannya. Ia meneguk ludah, betapa dekat wajahnya dengan wajah orang itu. Aroma maskulin menguar dari sosoknya menjejali indera pembau Nasya yang masih terpaku.


"Kau tak apa?" Suara seksi itu semakin membuat Nasya mabuk kepayang. Matanya tak berkedip menatap laki-laki berkacamata yang mendekap pinggangnya.


"Nasya? Kau baik-baik saja?" Suaranya kembali terdengar, sontak Nasya tersadar dan beranjak dari rengkuhannya.


Ia salah tingkah membenarkan kemeja yang dikenakan dengan cepat. Nasya meringis, saat menatap lantai kertas serta alat sekolah yang dibawanya berserakan di sana.


"Maaf," kata pria berkacamata itu sembari ikut berjongkok membantu Nasya yang lebih dulu memunguti kertas tugasnya.


"Ti-tidak apa-apa, Pak," sahut Nasya gugup. Jantungnya berdebar-debar tak karuan hampir melompat keluar. Ia melirik pria itu lewat sudut mata. Rasanya ingin segera terkumpul dan cepat-cepat pergi dari sana.


"Ini!" Pria tersebut menyodorkan selembar kertas terakhir kepada Nasya. Tertegun gadis itu, melihat tangan besar yang ditumbuhi bulu-bulu halus di bagian tertentu. Nasya meneguk saliva, entah mengapa dia tak berkutik.


"Nasya!" panggilnya sembari menggoyangkan kertas tersebut di bawah pandangan Nasya.


"Eh ... i-iya. Terima kasih, Pak," katanya dengan cepat menyambar kertas tugasnya dan segera berlari meninggalkan tempat tersebut.


Pria itu tersenyum manis, kepalanya menggeleng merasa gemas dengan tingkah gadis itu. Ia melirik sesuatu di lantai dan memungutnya.


"Sejauh mana kau lari, kita pasti akan bertemu lagi, Nasya." Ia bergumam sendiri seraya membawa kakinya melangkah ke arah yang dituju gadis tadi.


"Sial! Gara-gara kak Bima aku jadi terlambat dan harus bertabrakan pula. Memalukan!" Ia gemas sendiri berlari sambil menutup wajah dan sedikit meremasnya. Masuk ke dalam kelas, beruntung belum ada dosen di sana.


"Hah ... selamat!" katanya sambil mengurut dada dengan napas yang melega. Ia menjatuhkan kepala di atas meja, lelah sendiri setelah kejadian tak terduga tadi.


Ketiga temannya saling menatap satu sama lain, mereka menggeleng, mereka menghendikan bahu, dan menatap pada temannya itu.


"Ada apa denganmu? Kau seperti dikejar hantu," ejek salah satunya sambil cengengesan.


Nasya membalik kepala, keringat memenuhi wajah Nasya yang sedikit pucat itu.

__ADS_1


"Bukan hantu, tapi-"


"Selamat pagi!"


Deg!


Jantung Nasya tiba-tiba kembali berpacu mendengar suara yang tak asing di depan kelas. Kepalanya dengan cepat terangkat, menatap pria berkacamata di depan tanpa berkedip. Lihat, betapa ia menggemaskan dengan rahang terjatuh seperti itu.


Astaga! Ini jam dosen itu! Memekik dalam hati.


Nasya terhenyak pada sandaran kursi saat secara sadar melihat pria itu mengedipkan sebelah mata kepadanya. Buru-buru ia menunduk menghindari tatapan pria bertubuh tinggi tegap yang baru saja bertabrakan dengannya itu.


Sial! Aku lupa sekarang ini jam dosen baru itu masuk. Malunya! Apa yang harus aku lakukan?


Ia menggerutu di dalam hati. Menggigit bibirnya kuat-kuat menekan rasa gugup yang melanda hatinya.


"Selamat pagi, Pak!" Sambutan dari semua siswa kembali menyentak tubuh Nasya. Ia yang terus menunduk gelisah menghindari tatapan dosennya tersebut.


Ketukan langkah terdengar mendekat, ia membelalak menatap sepasang sepatu mengkilap yang berada tepat di bawah pandangannya.


"Kau menjatuhkan jam tanganmu," katanya sembari menyodorkan benda tersebut di bawah wajah Nasya.


Semua orang termangu melihat pemandangan itu, berpikir bahwa Nasya adalah siswa beruntung yang disapa langsung oleh dosen baru tersebut.


Pria berkacamata itu tersenyum, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh siswa yang ada dan memulai pelajaran. Sepanjang itu, Nasya terkadang melirik dirinya yang sedang menjelaskan materi ataupun duduk memeriksa tugas.


Wajahnya tersipu tatkala pandang mereka beradu.


Dadaku! Kenapa rasanya sesak sekali setiap kali dia melihatku?


Nasya menggigit bibirnya lagi. Ia rindu bunyi bel, kenapa kali ini terdengar begitu lambat.


"Apa belum waktunya istirahat? Kenapa lama sekali?" Ia berbisik pada teman di sampingnya. Temannya itu mendengus sembari memutar bola mata malas.


"Bukankah kau mengenakan jam? Lihat saja jam di tanganmu! Apa sudah waktunya istirahat? Lagi pula, ada apa denganmu? Sejak masuk ke kelas tingkahmu sudah tak jelas," cibirnya mendelik gemas pada Nasya yang hanya memasang senyum tanpa dosa.

__ADS_1


"Iya juga," katanya cengengesan. Ia berdecak beberapa kali di saat jarum jam berjalan lambat dalam pandangnya.


"Nasya? Ada apa? Apa kau mengalami kesulitan dalam materi kali ini?" Suara dosen yang bertanya membuat Nasya gelagapan ditambah pandangan semua siswa sontak mengarah ke arahnya. Ia membuka mulut, tapi tak ada kata yang tertuang karena tertegun.


Bola matanya melirik ke segala arah, ia tertunduk.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Tidak ada masalah," katanya setelah kembali mengangkat pandangan sambil mengukir senyum yang dipaksakan.


Bel berbunyi membuat Nasya bernapas lega. Dosen tersebut keluar setelah mengakhiri pelajaran diikuti semua siswa yang juga beranjak dari kursi mereka.


Tinggallah Nasya dan ketiga temannya, mereka yang penasaran dengan sikap aneh gadis itu pun melakukan interogasi kepadanya.


"Apa yang terjadi padamu? Kau aneh sekali pagi ini?" tanya salah satunya sambil menatap curiga.


"Bagaimana bisa jam tanganmu ada padanya, Nasya? Ugh ... dia manis sekali. Apa kau melihat senyumnya? Aku terpesona," timpal yang lain sembari melanglang buana membayangkan jika ia jadi Nasya.


Nasya berdecih, antara kesal dan senang tentu saja. Dosen baru itu adalah idaman setiap gadis di kampus tersebut. Banyak dari kalangan mahasiswi yang mencoba dekat dengannya, tapi pria itu tak acuh dan hanya melayani sekedarnya. Hanya sebatas murid dan siswa saja.


"Tadi aku terburu-buru karena datang terlambat tak melihat jalan di depan dan akhirnya ... menabrak dosen itu," ungkapnya bercerita saja apa adanya.


"Sudahlah, aku mau ke kantin. Tak sempat sarapan, aku lapar," sergah Nasya segera bangkit dan berjalan keluar tanpa mempedulikan teriakan temannya.


Ia berjalan sambil berceloteh dengan ketiganya tanpa ia sadari sepasang mata mengawasi dia dari balik sebuah jendela.


"Mungkinkah ...?" gumamnya menggantung. Bibirnya mengukir senyum penuh arti. Pandangan matanya teduh, dan menyiratkan kerinduan.


Ia tertegun, senyum yang sejak tadi diukirnya lenyap seketika disaat ia melihat Nasya memeluk seorang pemuda. Tanpa sadar tangannya terkepal erat, rahangnya ikut mengetat. Ada sesuatu yang membakar hatinya.


Sementara di bawah sana, Nasya sedang bermanja kepada Bima.


"Kakak, belikan aku makan. Aku tak sempat sarapan tadi," katanya yang membuat siapa saja merasa iri.


"Apa kau tak membawa uang? Ayah dan Ibu tak memberimu uang?" selidik Bima dengan mata memicing.


"Ada, tapi aku ingin Kakak yang membelikan." Nasya memasang senyum lebar, semata-mata hanya ingin menghibur Bima yang masih seringkali terlihat murung.

__ADS_1


"Hah ... baiklah. Manjanya," katanya sambil merangkul bahu Nasya dan mengajaknya ke kantin.


"Siapa pemuda itu? Apa dia kekasihnya?" Giginya bergemelutuk keras.


__ADS_2