Bima

Bima
Part. 29


__ADS_3

Bima melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, tersisa waktu tiga puluh menit lagi sebelum jam pelajaran dimulai. Ia melesat bagai angin, tak takut apa pun. Menyalip beberapa kendaraan dengan kontrol diri yang hebat.


Ban berdecit kencang di saat lampu jalan berubah warna menjadi merah, ia menunggu bersama kendaraan lainnya di deretan paling depan. Di sampingnya sebuah mobil sedan berwarna hitam ikut menunggu.


Degh!


Bima memegangi dada kirinya yang tiba-tiba berdetak. Meremasnya sedikit kuat mengurangi sesak yang ada.


Ngapa jantung gua ni? Tiba-tiba sesek. Perasaan gua ngapa, ya? Aneh bener.


Ada sesuatu yang menariknya untuk menoleh mencari hal yang ia sendiri pun tak tahu. Pandangannya jatuh pada mobil di sampingnya. Kaca berwarna hitam membuat Bima tak dapat melihat siapa yang ada di dalamnya.


Sebuah wajah yang tak asing samar terlihat di kaca tersebut. Seorang gadis cantik dengan kepala yang ditutupi hijab, di dalam sana, ikut menoleh ke arahnya. Tak ada senyum, pandang keduanya beradu dalam bisu. Wajah Bima yang tertutupi helm membuatnya tak dapat dikenali.


Siapa dia? Ngapa hati gua rasanya deket ama tu cewek?


Bima bergumam. Pandangannya tak teralihkan sampai bunyi klakson menyentaknya. Ia gelagapan, melirik lampu jalan yang telah berubah warna. Mobil itu telah melesat mendahului, Bima memacu kuda besinya menyusul.


Tanpa sadar Bima mengikuti ke mana arah mobil itu pergi. Penasaran dengan gadis di dalamnya yang menarik hatinya.


"Kenapa motor itu mengikuti kita?" tanya salah satu gadis berhijab yang duduk di kursi belakang. Ia menghadap ke belakang menatap curiga pada Bima yang membuntuti.


Sang supir melirik dari spion tengah. "Siapa? Kalian mengenalnya?" Bertanya setelah melihat sendiri kebenarannya. Bima menyusul dan memacu motornya berdampingan dengan mobil tersebut. Kepalanya berkali-kali melirik ke arah mobil, tepatnya ke jendela belakang mobil tersebut.


"Bukankah kita baru saja sampai di kota ini? Mustahil kami memiliki teman, Ayah," sahut yang satunya.


"Percepat mobilnya, Ayah! Dia mungkin saja penjahat," pintanya lagi. Kecurigaan berubah menjadi ketakutan saat Bima tak henti menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Ngapa gua pengen banget nyetop ni mobil, sih? Heran gua! Hatinya tak henti bergumam heran.


"... astaga! Kelas gua!" Bima memekik sendiri, mempercepat laju motornya meninggalkan mobil yang ia buntuti. Teringat akan tugasnya sebagai mahasiswa, ia tak ingin tertinggal. Teringat akan pesan Tina dan Dewa, ia ingin belajar dengan tekun.


"Dia pergi." Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari jendela.


"Hah ... baguslah!" Sang Kakak menimpali sambil menjatuhkan punggung pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang terlipat.


"Apa kau mengenalnya, sayang?" tanya wanita yang tak lagi muda di kursi samping kemudi.


Si pengemudi mengangkat kedua bahu. Walaupun begitu, ada sesuatu yang tak asing di hatinya.


"Tapi kenapa perasaanku ... aku seperti mengenalnya. Jantungku berdetak kuat saat aku melihatnya tadi," ujar wanita di sampingnya. Ia bergerak gelisah, seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang.


"Mungkin hanya perasaanmu, sayang. Sudah, jangan dipikirkan. Itu hanya anak muda yang kebetulan lewat." Si pengemudi menanggapi.


Aulia menoleh cepat-cepat, ia membenarkan letak kacamatanya yang hampir terjatuh saat melakukannya dengan tergesa.


"K-kau ... juga?" Tak tahu harus berkata apa. Matanya melirik Ayra yang termangu tanpa kata. Pasalnya untuk kali ini, ia tak merasakan perasaan yang sama seperti Ibu dan adiknya.


Ia menghendikan bahu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aulia lewat tatapan matanya. Aulia kembali duduk di posisinya, menetralkan napas yang tiba-tiba sesak terasa. Razka yang mengemudi melirik sejenak. Ia tak menampik, hatinya pun ikut merasakan apa yang dirasakan Aulia dan Nasya. Hanya saja, ia tak ingin terlalu hanyut dalam rasa yang asing itu.


Sunyi. Tak ada lagi yang bersuara, semuanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Nasya dan Aulia dengan keyakinan hati mengenal pemuda tadi. Razka mencoba menepis rasa yang datang, dan Ayra termangu dengan pikirannya sendiri.


"Ayah, apa rumah Revan itu besar? Lebih besar dari rumah kita?" tanya Nasya memecah kesunyian. Kebisuan yang semula tercipta, perlahan menguap mengembalikan kehangatan yang selama keluar dari desa mereka rasakan.


Razka tersenyum, ia tak lagi muda sekarang. Rambutnya yang telah memutih menjadi ciri bahwa dia sudah mulai dimakan usia. Lesung di pipi semakin jelas terlihat karena kulitnya yang sudah mengendur.

__ADS_1


"Kau akan melihatnya nanti. Tahan saja rasa penasaranmu sampai kita tiba di sana," sahut Razka sedikit melirik putri bungsunya itu.


"Ibu, apa kita akan tinggal di sini? Apa aku akan kuliah di kota ini? Kakak bagaimana?" Lisan cerewetnya tak mau berhenti untuk bertanya. Demi mengusir rasa gelisah di hatinya.


"Kakak akan mengurus butik milik Nenek di kota ini," sahut Ayra disambut anggukkan kepala oleh Nasya.


"Insya Allah kita akan menetap di sini karena asal kita memang dari kota ini. Ayah membawa kalian semua pergi karena satu alasan," timpal Razka. Ia melirik Aulia sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangan ke depan.


Nasya tak pernah tahu soal Ibrahim. Ia tak pernah tahu jika memiliki Kakak laki-laki yang hilang entah ke mana. Razka dan Aulia sengaja tak menceritakannya karena mereka tak ingin lagi mengingat soal Ibrahim dan kejadian ia yang jatuh ke dalam jurang. Kenangan itu selalu menjadi mimpi terburuk dalam hidup mereka.


Nasya tersenyum, berharap dalam hati semoga kota ini adalah yang terakhir mereka singgahi dan tidak akan pernah berpindah lagi. Ia melirik Ayra yang memasang earphone dengan mata terpejam. Tenang dan santai tak terganggu sama sekali.


"Apa Kakak pernah tinggal di kota ini sebelum kita berpindah?" tanya-nya pada dua orang di kursi depan.


"Kakakmu lahir di kota ini, sayang, karena mendiang Ibu dari Kakak berasal dari kota ini. Kau juga pernah kami ajak ke sini saat Kakek dan Nenek meninggal. Hanya saja saat itu kau masih balita," terang Aulia sambil tersenyum.


Soal Nasya dan Ayra yang berbeda Ibu, ia sudah mengetahuinya saat ia bertanya wajah Ayra tak mirip dengan Aulia.


Nasya manggut-manggut mengerti. Ia tak lagi bertanya, memilih menatap jendela menopang dagu dengan sebelah tangannya.


Kak Bima!


Teringat pada Bima ketika menyentuh sesuatu yang ia kenakan di lehernya. Kalung yang dipinjamkan Bima kepadanya saat kecil dulu.


Kakak di mana sekarang? Kenapa pergi tanpa memberi kabar? Apa Kakak masih ingat padaku?


Ia lanjut bergumam dalam hati, menggenggam bandul kalung berinisial B dengan segenap rindu dalam hatinya. Ia tak pernah lupa soal Bima, dalam hati selalu berharap dapat bertemu kembali di mana pun berada.

__ADS_1


Kuharap kita akan bertemu lagi. Aku rindu Kakak.


__ADS_2