Bima

Bima
Part. 23


__ADS_3

Duduk sendiri dalam kegelapan malam yang sepi. Menanti sang kumbang datang menghampiri. Berayun ke sana ke mari kedua kaki, mengusir rasa jemu yang menyelimuti. Dijatuhkannya lirikan beberapa kali, untuk dapat melihat sang pujaan hati. Dihembuskan napas berulangkali, mengurangi sesak yang menghimpit.


Di kejauhan, seorang pemuda berjalan menghampiri. Santai langkah kakinya menapak. Di kedua tangan terselip sebuah botol, air mineral yang ia bawa.


"Minum!" katanya. Diberikannya salah satu botol tadi kepada gadis itu seraya duduk di sampingnya dengan tenang. Bima tak tahu harus apa dengan gadis itu, dia mengerti betul apa yang dimaksud dengan hadiah. Akan tetapi, ia tak ingin melakukannya. Selalu teringat pada pesan orang tuanya yang jangan sampai bablas dalam bergaul.


"Mau apa lu?" Suara bentakan Bima menghentikan tangan gadis tersebut di udara tepat di bagian vitalnya. Ia nampak gugup, wajahnya tertunduk seraya menarik kembali tangannya yang ia kepalkan. Bima menegakkan duduk, berbalik menghadap ke arahnya. Ia tahu gadis itu bukan wanita seperti yang teman-temannya pakai.


"Jangan samain gua ama mereka. Jangan pernah ngarepin apa yang kagak bakalan lu dapet dari gua. Sorry, tapi gua bukan laki yang gampang make sembarang cewek," tegas Bima dengan kedua bola mata yang mengancam.


Gadis itu terisak kecil, tubuhnya berguncang menahan jerit tangis dalam hati. Malu. Bima memundurkan wajah, bersandar pada dinding gubuk yang mereka duduki.


"Maaf ... tapi kalau aku tidak melayanimu, bagaimana aku akan mendapat uang?" lirihnya bergetar. Bima mengerutkan dahi mendengar penuturannya. Ia menelisik gadis di hadapannya yang menangis entah apa sebabnya.


"Memangnya lu sering kaya gini?" Ia menggelengkan kepala membuat Bima semakin bingung, "lah? Kok, lu tahu bakalan dapet duit kalau ngelayanin gua?" kejar Bima lagi mengulik latar belakang si gadis.


Ia mengusap air matanya, meredakan tangis. Lalu, mendongak memberanikan diri untuk bertatapan dengan manik Bima. Bibirnya tersenyum meskipun terpaksa.


"Temanku bilang kalau aku mau jadi taruhan dalam lomba malam ini, aku akan dengan mudah mendapatkan uang. Asal aku mau melayani pemenang lomba malam ini saja. Jadi, biarkan aku melayanimu agar aku bisa mendapatkan uangnya," jelasnya masih dengan senyum keterpaksaan.


Bima termangu, menilik biji manik yang bertolak-belakang dengan lisan gadis itu. Ia menggeleng, bertepuk tangan beberapa kali.


"Bukan maen! Cuma pengen dapat duit lu rela ngelakuin kaya gini? Heran gua, di mana otak lu? Lu bakal kawin, gimana laki lu jadinya entar kalo lu udah kagak perawan lagi? Kagak mikir lu? Kalo gua ... langsung gua tendang ke Pluto biar kagak bisa balik lagi," sentak Bima tak tanggung-tanggung.

__ADS_1


Senyum di bibir gadis itu memudar, dilanjutkan dengan air yang terjatuh dari tempatnya membasahi pipi. Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan, kembali terisak karena penolakan Bima.


"Bilang ama gua, buat apa lu perlu duit?" Bima melembutkan suaranya. Melihatnya menangis, teringat Tina di rumah. Ia tak tega.


Gadis itu sesenggukan, masih menutup wajah ia berkata, "Aku membutuhkannya. Aku membutuhkannya untuk biaya operasi Ibuku. Ibuku harus dioperasi besok jika tidak, maka dia tidak akan selamat. Aku membutuhkan uang untuk itu bukan untuk diriku sendiri."


Bima tertegun, bayangan Tina yang menggigil karena demam saja sudah membuatnya meneguk ludah panik. Apalagi saat membayangkan wanita itu jika di posisi yang sama seperti Ibu dari gadis di hadapannya. Tak memiliki uang membuatnya harus berbuat nekad demi sang Ibu.


"Memangnya ... Ibu lu sakit apa?" Bertanya merasa iba dalam hatinya.


"Dia menjadi korban tabrak lari siang tadi. Dokter mengatakan ada pendarahan di kepala yang mengharuskan Ibuku dioperasi. Aku masih sekolah, tidak tahu harus seperti apa mencari uang." Ia semakin terisak manakala bayangan wanita yang terbaring tak berdaya di ruang IGD.


"Bapak lu ke mana?" Gadis zaman sekarang rela menggadaikan keperawanan demi empat huruf itu. Duit.


Ciuman pertama Bima. Tidak!


"Sialan lu! Maen sosor aja!" Bima mendorong tubuh gadis itu hingga menabrak dinding gubuk. Ia menyusut bibirnya yang basah menggunakan ujung pakaian miliknya.


Sementara hadis itu, termangu. Tak lama, ia menjatuhkan kepala di lantai gubuk memohon pada Bima.


"Tolong, biarkan aku melayanimu dan berikan uang kepadaku. Aku harus menyelamatkan Ibuku karena hanya dia yang aku punya. Aku tidak mau hidup sebatang kara di dunia ini. Tolong, hanya malam ini saja, biarkan aku melakukannya. Aku berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi pada siapa pun. Hanya untukmu saja. Tolong!" mohon-nya dengan laju tangis yang menyayat hati.


Bima yang kesal, perlahan mengendurkan urat-urat di wajahnya. Ia menatap dalam-dalam gadis itu, menimbang dalam hati apa yang akan dia putuskan.

__ADS_1


"Di rumah sakit mana Ibu lu dirawat?" tanya Bima pada akhirnya. Gadis itu mendongak, dengan ragu ia menyebutkan nama salah satu rumah sakit yang cukup terkenal di kota tersebut.


Bima beranjak meninggalkan gadis itu yang kebingungan dengan sikapnya. Tak seperti yang dikatakan temannya, jika ia harus melayani juara balapan malam itu sampai dia benar-benar merasa puas. Akan tetapi, kenyataan yang ia terima pemuda itu menolak bahkan mendorongnya kala ia mencium lebih dulu.


Bima kembali membawa motornya setelah berpamitan pada mereka. Berhenti di depan gubuk menemui gadis yang masih duduk termangu.


"Naik! Gua kagak mau ngelakuin begituan di sini!" Bima menunjuk belakang motor dengan dagunya. Gadis itu menggigit bibirnya ragu, baru saja ia berpikir akan terlepas dari harimau, ternyata pemuda itu tak lain adalah singa. Sama-sama kucing pemangsa.


"Kenapa? Lu kata mau ngelayanin gua, kenapa sekarang lu ketakutan? Mau duit kagak?" bentak Bima, tersenyum bibir yang tertutupi itu melihat keraguan dan ketakutan di mata gadis tersebut.


"I-iya!" Ia beranjak turun, perlahan naik ke motor Bima dengan posisi miring.


"Mau jatoh lu duduk kaya gitu?" Sengit Bima bertanya. Gadis itu kembali turun, dan naik lagi sesuai keinginan Bima. Jauh bahkan ia segan berpegangan pada Bima. Semakin tersenyum bibir Bima, ia tahu gadis itu bukan wanita sembarangan.


"Pegangan! Gua kagak mau tanggung jawab kalo lu jatoh," tegas Bima sebelum menjalankan motornya. Kedua tangan gadis bernama Chaira itu memegangi kedua sisi tubuh Bima. Jaket kulit yang dikenakan Bima yang ia pegang. Motor melaju meninggalkan arena balap meskipun balapan masih berjalan, ia tak ingin lagi melakukannya.


Belum seberapa jauh, motor kembali berhenti. Bima membuka jaket dan memberikannya pada gadis tersebut.


"Baju lu kekurangan bahan, pake jaket gua biar kagak masuk angin," katanya tanpa menoleh. Semburat warna merah muncul di kedua pipi gadis itu melihat perhatian yang Bima berikan. Ia mengambil jaket tersebut dan mengenakannya.


Motor kembali melaju, udara dingin yang menerjang tak menyentuh kulit tubuhnya bagian atas karena jaket Bima menghalau. Ia berpegangan pada tubuh Bima, lama kelamaan melingkarkan kedua tangannya di perut Bima dan menjatuhkan kepala di punggung laki-laki itu. Terasa hangat dan nyaman. Bima tersenyum.


Ke mana pun dia membawaku, aku akan menurut. Hanya malam ini saja, hanya padanya seorang.

__ADS_1


__ADS_2