
Keinginan dua orang tua itu sederhana saja. Mereka hanya ingin bahagia di hari tua. Ingin tenang beribadah di usia senja mereka. Ada seorang anak yang merawat ketidakmampuan mereka melakukan pekerjaan. Ada tangan yang siap menyuapi mereka makan. Ada permata yang selalu sejuk untuk dipandang. Bukan sebuah keegoisan ataupun keserakahan.
Namun, biarkan orang tua yang tak memiliki anak itu, melihat anak yang diasuh mereka sampai menutup mata. Berikan mereka kesempatan untuk dapat menikmati keberadaannya. Silahkan Tuan ajak anak itu ke mana saja dia pergi, tapi tolong, biarkan dia pulang ke dalam pelukan kami untuk sementara waktu ini.
Razka tersenyum sembari mengemudikan mobilnya keluar dari rumah sakit. Tina dan Dewa berpelukan dalam keadaan rasa yang berbeda. Perbincangan yang terjadi di antara mereka adalah sebuah kesepakatan yang ditawarkan Razka untuk keduanya.
"Jadi benar, Juan itu adalah Bima? Dia putra kalian itu, bukan? Maaf, aku tidak sengaja mendengarnya tadi. Aku mengenal namanya Juan, tapi kalian menyebutnya Bima. Anak itu ... aku tidak sengaja berpapasan dengannya tadi di lorong," ucap Razka mengawali pembicaraan.
Tina dan Dewa saling melempar pandang, mereka mengerti ke mana arah pembicaraan Razka. Ia ingin tahu soal Bima, ingin tahu asal-usul dari anak yang membuatnya penasaran sejak pertama kali melihat.
"Benar, Tuan. Dia sendiri yang ingin mengganti namanya waktu itu, sejak bayi saya kasih nama Bima padanya," sahut Dewa. Getar di lisannya semakin kentara dan jelas. Seharusnya sikap Razka membuatnya tenang. Nyatanya, hati dan pikirannya tetap dirundung rasa gelisah yang tak berujung.
Manggut-manggut kepala Tuan Besar di hadapan mereka. Ia nampak berpikir, matanya mengawang pada langit-langit ruangan yang tak terdapat apapun jua.
"Boleh aku tahu seperti apa kehidupan Bima di waktu kecil? Maaf saja, Pak, Bu, kalian sendiri tahu kisah tentang hilangnya seorang bayi dalam keluarga kami. Aku hanya merasa dekat dengannya, padahal aku tahu dia anak kalian. Aku pun hanya ingin meyakinkan hati saja bahwa dia bukanlah anakku yang hilang itu," ungkap Razka. Pandangan matanya berubah, ada embun yang timbul di kedua sudutnya.
Tina menggenggam tangan Dewa mencari penopang untuk menguatkan hatinya yang sedang tertatih. Ia seperti meniti di atas bara, berlanjut terluka, berhenti pun akan dihinggapi luka pula. Dewa menautkan jemarinya pada tangan sang istri, menyalurkan kekuatan yang mulai terkikis. Mungkin saja pertahanan mereka tak akan bertahan lama.
"Ah ... tidak apa-apa, jika kalian tak ingin menceritakannya," lanjut Razka lagi, "mungkin di lain waktu aku akan dapat mendengar kisah tentang pemuda hebat itu," katanya lagi seraya hendak beranjak.
__ADS_1
"Tu-tunggu, Tuan!" Tina menyergah dengan cepat. Ia sedikit beranjak tanpa melepaskan tautan jemarinya dari Dewa. Mengambil sesuatu dari dalam tas yang selama ia simpan dengan baik.
"Ini adalah foto Bima waktu bayi ...." Ia menjeda, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan, "dia bukan anak kandung kami. Saya ... saya yang menemukan anak itu di pinggir sawah dalam kondisi menyedihkan. Anda bisa melihatnya sendiri, Tuan," sambung Tina tak kuasa menahan tangisnya. Ia menyerahkan foto Bima waktu bayi, di saat pertama kalinya bayi itu menghadirkan senyum dalam rumah sederhana mereka di desa.
Dewa merangkul bahu istrinya, memeluknya untuk dapat memenangkan diri dan merelakan semuanya. Gemetar tangan Razka kala menerima selembar gambar dari tangan wanita itu.
Ia menelisik gambar bayi yang begitu lucu, bayi yang baru beberapa hari dilahirkan itu nampak tersenyum meskipun ada goresan luka di wajahnya. Air matanya menetes tanpa komando, diusap-usapnya gambar itu sambil terisak menjadi-jadi.
Ia mendekapnya erat, menunduk dalam tangis kerinduan. "Anakku. Dia anakku yang hilang, gambar ini menunjukkannya. Dia anakku yang hilang. Ibrahim," racau Razka di sela-sela tangisnya yang kian menjadi.
Tina tak kuasa menahan diri, ia menyembunyikan wajah di ketiak Dewa, meredam isak tangis yang semakin meraja. Laki-laki itu bahkan tak dapat berpura-pura untuk saat ini. Ia tak menyembunyikan tangisnya, sisi rapuhnya jelas nampak dari untaian air mata yang berbaris di pipinya.
Tangis kerinduan, tangis kebahagiaan, keharuan karena dapat bertemu lagi dengan anaknya yang telah lama hilang itu.
"Tuan, jadi benar Bima itu anak Anda?" tanya Dewa di antara tangisan mereka.
Razka tak menyahut, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Membuka galeri foto dan membandingkannya dengan gambar yang diberikan Tina.
"Itu foto Ibrahim, aku mengambilnya sebelum kejadian penculikan itu. Coba kalian lihat baik-baik, bukankah mereka bayi yang sama?" Kali ini tangan Dewa yang gemetar menerima uluran ponsel Razka.
__ADS_1
Mulut Tina terbuka lebar sesaat setelah ia memperhatikan kedua bayi itu. Mereka bayi yang sama, tidak salah lagi. Bima adalah anak Tuan itu. Dewa mengembalikan ponsel Razka, sesak di dada tak lagi ia hiraukan. Kini, ia harus rela melepas Bima. Tidak! Apakah dia siap berpisah dengan Bima?
Razka tersenyum, ia memasukkan kembali ponselnya dan memberikan gambar Bima kepada Tina. Ia mengusap air matanya, menguatkan hati sebelum kembali berbicara.
"Aku datang bukan untuk mengambil anak itu ... bukan. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia memang benar anakku. Aku akan membiarkan dia tinggal bersama kalian, tapi tolong, biarkan aku bertemu dengannya kapan pun aku ingin. Aku tidak bisa memisahkan kalian karena aku tahu sendiri bagaimana sakitnya perpisahan itu." Razka tersenyum, Tina dan Dewa mengangkat wajah mereka bertatapan dengan laki-laki di depan itu.
"Terima kasih, karena kalian sudah merawatnya dengan baik. Terima kasih, karena kalian menjadikannya anak yang hebat. Aku sudah mencari tahu sebelumnya seperti apa kehidupan Bima dari tetangga tempat kalian tinggal. Maaf, jika aku lancang. Aku hanya ingin tahu seperti apa kehidupan anak itu," tutur Razka sambil tersenyum yang menampakkan lesung pipinya.
Dewa dan Tina terenyuh, inilah makna buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Bima yang baik dan memiliki hati yang tulus karena ia memiliki seorang Ayah yang berhati mulia seperti Razka.
"Maafkan keegoisan kami, Tuan. Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk merawat kami di hari tua ini. Hanya Bima yang kami punya. Hanya dia satu-satunya yang kami lihat dapat membantu tulang rapuh kami, Tuan. Kami tidak akan melarang Tuan untuk mengenal Bima, kami tidak akan mencegah Bima untuk dekat dengan Ayahnya. Anda bisa membawanya ke mana saja Anda mau, tapi biarkan dia pulang ke pelukan kami, Tuan." Dewa kembali terisak.
Mendengar itu, Razka menitikan air matanya lagi. Ia terharu atas kejujuran hati Dewa. Razka melipat bibirnya sebelum tersenyum. Ia mengangkat wajah yang menunduk, bertatapan dengan dua pasang mata basah sepertinya.
"Terima kasih atas kemurahan hati kalian. Aku merasa beruntung karena Bima dipertemukan dengan orang tua asuh yang luar biasa seperti kalian. Kita akan sama-sama menjadi orang tua untuk Bima atau Ibrahim. Kalian juga orang tuannya, kalian berhak atasnya. Diizinkan mengenal saja, aku sudah sangat bahagia," ungkap Razka.
Pada akhirnya perbincangan hari itu menjadi rahasia mereka bertiga. Razka juga yang akan menanggung biaya rumah sakit Dewa. Ia meminta izin memberikan hak Bima kepada mereka. Nafkah yang selama ini tak pernah ia berikan, Razka ingin menanggung biaya pendidikan Bima. Kesepakatan itu membuat Tina dan Dewa merasa lega.
Razka kembali pulang dengan membawa hati yang bahagia. Senyum yang tak hilang membuatnya nampak awet muda. Razka memutuskan untuk pergi ke kantor setelah Briant menghubunginya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat tiba di aula kantornya. Ada Aulia di sana sedang memeluk seorang pemuda.
__ADS_1