Bima

Bima
Part. 31


__ADS_3

Deru napas memburu meskipun bukan kedua kaki yang berpacu. Keringat dingin bercampur dengan rasa panas yang kian menjalar di seluruh tubuh. Jantung berdentam-dentam tak karuan, memukul-mukul dinding dada yang menghalang.


Bima membuka helmnya dengan cepat, tenggorokannya tercekat karena rasa terkejut yang tak biasa. Hidung kembang-kempis menarik udara sebanyak-banyaknya. Mengisi paru-parunya yang sempat kosong melompong.


"Hampir aja! Sial!" umpatnya. Ia menyugar rambutnya yang lembab karena keringat. Menatap langit cerah dipayungi awan putih yang berarak lambat.


Ia termangu sejenak, membayangkan wajah gadis yang berdiri di teras, sebuah ingatan mencuat ke permukaan. Jakunnya naik dan turun ketika ia menelan saliva.


"Perasaan gua kagak asing ma tu wajah? Di mana ... di mana ...?" Ia menunduk dengan bibir yang terlipat berpikir. Sekuat tenaga mengorek ingatan tentang rupa yang baru saja mampir di kedua netranya.


Bima terhenyak, mobil yang ia buntuti tadi pagi ... itu dia!


"Yah ... tu gadis yang gua liat di mobil tadi pagi. Kagak salah lagi, tapi siapa dia? Apa dia ceweknya si Revan? Kagak mungkin! Si Revan belum balik dari Luar Negeri. Kagak mungkin!" gerutunya seorang diri.


Ia tercenung, menatap kosong pada satu titik yang tak menarik.


"Masalahnya, ngapa gua tadi tiba-tiba ada di depan rumah si Revan?" Mulai berpikir, "tanpa sadar gua jalan ke sono. Kayanya ada sesuatu ama tu rumah yang gua kagak tahu. Gua kudu balik lagi ke sono. Musti balik lagi!" tekadnya berapi-api.


Ia menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali. Meneguhkan tekad meyakinkan hati. Dia harus mencari tahu sebabnya kenapa secara tidak sadar pergi ke rumah tersebut.


Bima mengenakan helmnya, menghidupkan mesin motor dan bergegas pergi. Mengambil arah sebaliknya kembali ke rumah di mana ia melihat seorang gadis yang tadi pagi ia jumpai.


"Gua kudu mastiin ada apa di rumah itu?" gumamnya sembari terus menancap gas menuju rumah itu lagi.


Bima memarkir motornya di sebuah warung pinggir jalan. Menitipkan motor tersebut kepada pemiliknya sebelum melepas jaket dan helm. Bima menutupi wajahnya menggunakan masker. Tubuhnya yang atletis nampak sempurna dan menggoda dalam balutan kaos yang dikenakannya.

__ADS_1


Secara kebetulan seorang laki-laki yang hampir tua bersama seorang wanita yang seusia dengannya keluar dari rumah tersebut diikuti dua orang gadis yang mengenakan hijab. Bima gegas bersembunyi di balik gerbang, mengintip siapa mereka.


Degh!


Jantungnya berpacu cepat ketika pandang Bima jatuh pada laki-laki berkacamata yang sedang tersenyum. Lesung pipi di kedua sisinya nampak dalam saat ia tersenyum. Tanpa Bima sadari, tangannya menyentuh wajah sendiri.


"Ngapa mirip bener ama gua, ya?" lirihnya pelan. Ia sadar wajah itu hampir serupa dengannya meskipun telah dipenuhi kerutan. Bima membuang pandangan, menjatuhkan punggung pada tembok sebelum berbalik dan pergi bersamaan dengan deru mobil yang dikendarai laki-laki tersebut.


Bima berjalan menunduk tatkala mobil itu melintasi dirinya. Wajahnya kembali terangkat menatap mobil mewah yang kian menjauh. Berkecamuk segala rasa dalam dadanya, beribu tanya membutuhkan jawaban.


Bima berlari cepat mendatangi motornya. Mengenakan jaket dengan sigap juga helm yang selalu menutupi wajahnya. Ia menjalankan motor kebanggaannya menyusul mobil tersebut. Tak ingin tertinggal, Bima terus menyalip beberapa kendaraan yang berjalan lambat di depannya.


Getar gawai di saku mengganggunya. Bima tak mengacuhkan, ia terus membuntuti mobil yang dikendarai laki-laki berwajah serupa dengannya itu sedikit jauh dan terhalang beberapa kendaraan untuk menghindari kecurigaan.


Namun, getar gawainya tak kunjung mereda. Terus dan terus bergetar mengganggu konsentrasinya. Ia terpaksa menepi, membiarkan mobil itu lolos kali ini. Satu yang ia pikirkan, Dewa yang sedang tidak sehat.


[Santai, Bro! Sorry, aku mengganggumu.] Suara di seberang sana membuat lidah Bima berdecak kesal.


"Ada apa?" ketusnya jengah. Ia berdiri gelisah dengan kepala berkali-kali menoleh ke arah jalan.


[Kelompok cheetah menantangmu berduel. Dia mendatangi arena kita dan ingin adu kecepatan denganmu, Bim. Malam akhir pekan nanti, kau bisa melakukanya, bukan?]


Bima tertegun, tawaran ini mengganggu pikirannya. Ia sudah berjanji pada Tina dan Dewa tidak akan pernah balapan lagi, tapi hasrat jiwa mudanya bergelora menyoraki. Bimbang sendiri.


"Gua kagak bisa. Sorry," sahut Bima pada akhirnya. Ia lebih memilih memegang janji pada kedua orang tuanya daripada menuruti nafsu jiwa muda yang tak ada habisnya.

__ADS_1


[Tolong kami untuk kali ini saja. Jika kau tidak mau menerima tantangan darinya, arena ini akan dirampasnya dan kami diusir tak boleh lagi menggunakan arena ini sebagai tempat latihan. Kau kawan kami, Bima. Tolong kami kali ini saja.]


Suara itu memelas, hati Bima kembali gamang mendapat tekanan dari temannya. Laki-laki selalu memegang janjinya, tapi laki-laki juga harus bersikap setia kawan. Ada aturan tersendiri dalam hidupnya bagaimana dia harus berkawan.


Bima kembali tercenung, berpikir dalam tentang permohonan temannya. Jika ia datang, maka ia telah melanggar janjinya pada Tina dan Dewa. Namun, jika tak datang, maka temannya akan kehilangan tempat berlatih mereka selama ini. Sedang ia tahu bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan arena itu sebagai tempat berlatih atau adu tanding persahabatan.


"Tapi gua bener-bener kagak bisa. Gimana kalo kalian aja yang balapan? Sama aja, 'kan?" ucap Bima mencoba mencari solusi terbaik.


Ia terdiam mendengarkan, orang-orang di seberang teleponnya sedang berdiskusi satu sama lain. Bukan hadiah yang ia pikirkan, tapi teman-temannya yang tak akan dapat lagi berlatih jika tak memiliki arena. Harus bagaimana?


[Kau dengar sendiri, bukan? Mereka yang menginginkan dirimu. Mereka mendengar kehebatanmu di jalanan, Bim. Mereka hanya ingin beradu kecepatan denganmu.]


Bima berdecak, mengumpat dalam hati. Ia terdiam, telinganya masih awas mendengarkan suara teman-teman yang memohon di seberang sana.


"Tapi gua kagak bisa janji. Lu semua kudu siap-siap gantiin gua kalo gua kagak datang. Cuma itu yang bisa gua bilang sekarang. Maafin gua," ucap Bima pada akhirnya. Mungkin kali ini saja ia akan menyalahi janjinya.


Bima memutuskan sambungan, menengadah sambil bersandar pada motor yang ia parkir di bawah pohon tanjung pinggir jalan.


Nyak, Babeh, maafin Bima. Maafin Bima. Kali ini aja, Bima janji ni yang terakhir. Bima cuma mau nolongin teman-teman Bima. Maafin Bima, Nyak, Babeh.


Ia bergumam dalam hati. Perasaan sedih memenuhi rongga dadanya saat membayangkan Dewa dan Tina yang memasang wajah kecewa ketika mereka tahu dia melakukannya lagi.


Namun, harus bagaimana lagi? Teman-temannya juga membutuhkan dirinya.


"Argh!" Bima mengacak rambutnya frustasi. Ia menunduk dengan kedua tangan mencengkeram bodi motor kuat-kuat. Kedua rahangnya beradu bersamaan dengan gigi yang saling bergesekan.

__ADS_1


"Sial! Brengsek! Awas lu pada, gua kagak bakal biarin arena tu mereka rebut. Itu punya temen-temen gua, tapi gimana ama Nya, Babeh gua? Mereka bakal kecewa kalo tahu gua balapan lagi." Ia menunduk, menjatuhkan kepala di atas motor, bimbang tak bertepi.


__ADS_2