Bima

Bima
Part. 72


__ADS_3

Di kegelapan malam yang memayungi bumi, pendar-pendar lampu jalan memberikan cahaya temaram di sepanjang perjalanan. Bima menyusuri gang kecil menuju rumahnya, sebuah gang yang jarang dilewati kendaraan karena terlalu sempit. Juga diperuntukkan untuk orang-orang saja.


"Ah ... gua lupa lagi. Hari ni, 'kan, gua izin tiga hari ama Babeh ama Nyak. Entar kalo gua pulang terus mereka tanya kenapa? Gimana, ya? Ditambah gua kagak bawa mobil," ucap Bima sambil menendang kerikil menghantam dinding gang tersebut.


Meski begitu, ia tetap melanjutkan langkah menuju rumah. Bima termangu di depan rumahnya, keadaan rumah yang sudah gelap menandakan penghuninya sudah terlelap. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sebelum mengajak kakinya melangkah mendekati pintu.


Tok-tok-tok!


"Assalamu'alaikum! Nyak, Babeh!" panggilnya hampir seperti bisikan. Ia menempelkan telinga pada daun pintu mendengarkan suara dari dalam rumah. Langkah mengetuk lantai, Bima menunggu. Tak lama lampu menyala disusul pintu yang terbuka sedikit.


"Bima? Ini lu? Kagak salah liat gua?" pekik Tina yang membuka pintu.


"Iya, Nyak. Ini Bima," ucap Bima tersenyum malu dan tak enak. Tina melebarkan daun pintu mengajak putranya itu masuk. Sambil menjelaskan kenapa dia kembali karena Razka yang memintanya untuk pulang.


"Lu udah makan, Tong?" tanya Tina sambil mengantar Bima ke kamarnya. Ia berdiri di ambang pintu memperhatikan sang putra.


"Udah, Nyak," jawab singkat Bima. Tina menutup pintu dan berlalu ke kamarnya memberitahu Dewa perihal Bima yang sudah pulang. Sedikit lega hatinya karena Bima telah berada di depan mata.


Pagi menjelang, Suara kokok ayam saling bersahutan bersama burung-burung milik tetangga. Pagi buta, Bima telah siap berangkat ke kampus. Ia duduk bersama Dewa berhadapan dengan segelas susu.


Keadaan laki-laki tua itu semakin membaik, batuk-batuk darinya sudah jarang terdengar. Wajahnya yang semula pucat pasih, berangsur normal kembali. Ia menjadi lansia penurut, menghindari rokok dan menjauhi kopi meskipun tersiksa. Demi hidup yang lebih panjang, ia rela melakukannya.

__ADS_1


"Ngapa lu balik, Tong? Bukannya tiga hari, ya?" tanya Dewa sembari melirik Bima yang menyeruput gelas susunya.


"Tuan Besar yang nyuruh Bima balik, Beh. Bima kagak boleh ninggalin kuliah," sahut Bima dengan nada suara terdengar sumringah. Kebahagiaan jelas terlihat di matanya yang berbinar terang.


"Itu emang bener. Harusnya emang lu jangan ninggalin kuliah. Tuan Besar sayang ama lu, Bim." Dewa tercenung, apa sudah waktunya untuk dia jujur kepada Bima siapa orang tua kandungnya.


Ia melirik Tina yang berdiri mematung di ambang pintu dapur. Kesedihan nampak jelas di wajahnya, ketakutan pun tak luput dari matanya. Namun, Bima berhak tahu siapa tahu orang tua kandungnya, mereka tak dapat menahan dirinya seperti seekor burung dalam sangkar.


Matanya terpejam, menguatkan hati sebelum mengangguk membiarkan Dewa melakukannya. Ia berbalik dan kembali ke dapur menyiapkan sarapan. Helaan napas Dewa terdengar berat, Bima berpaling dari televisi dan memperhatikan Babehnya itu.


"Ngapa, Beh? Sesek lagi?" tanyanya sambil beringsut mendekati. Ia memeriksa suhu tubuh Dewa dengan punggung tangannya. Tersenyum bibir keriput itu, tapi air nampak menggenang di pelupuk mata. Ia meraih tangan Bima dan menggenggamnya.


"Bima, mungkin udah waktunya lu tahu siapa sebenernya lu. Mungkin juga lu udah bisa ngerasain di hati lu, tapi lu belum sadar. Perihal orang tua kandung lu ... sebenarnya lu deket banget ama mereka, Tong." Dewa memandang wajah putra yang ia asuh dan besarkan dengan tangannya sendiri.


"Ngapa, Beh? Apa Babeh tau sesuatu?" lirih Bima tanpa menuntut jawaban. Ia tak ingin memaksa lansia itu untuk menguak semuanya. Tabir yang menghalau perlahan tersingkap sedikit demi sedikit.


Dewa menganggukkan kepala sambil memejamkan mata, menahan sebak di dada yang kian meraja. Ia menarik napas lagi sebelum melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda.


"Lu tau tentang anaknya Tuan Besar yang hilang waktu bayi?" Bima mengangguk pelan mulai merasa aneh, "mereka masih mencari bayi itu ampe sekarang, Bima. Mereka yakin anak mereka tu masih hidup dan ada deket ama mereka," sambung Dewa sambil memperhatikan reaksi Bima yang diam tak berkutik.


Ia tak menyela ataupun bertanya. Bima sedang berdialog dengan hatinya yang tiba-tiba berdetak kuat. Setiap kali mendengar nama Razka disebut, setiap itu juga kebahagiaan dan kerinduan mencuat ke permukaan. Ia sendiri tak mengerti, perasaan macam apa yang selalu datang dikala mendengar nama Razka.

__ADS_1


"Kemaren, Tuan Besar datang ke rumah. Nanyain lu, dia ngerasa lu itu anaknya yang hilang, Bim ...." Dewa kembali menjeda, Bima tetap bungkam.


"Apa lu kagak ngerasa? Tuan Besar perhatian banget ama lu, dia kagak mau lu ninggalin kuliah karena pekerjaan. Dia sayang ama lu, Tong." Jantung Bima semakin kuat berdentam. Menimbulkan sesak yang semakin kentara. Perasaan aneh.


"Tuan Besar itu Ayah lu, Tong. Ayah kandung lu. Itulah kenapa muka lu mirip ama dia karena dia emang Ayah lu, Bima. Dia Ayah lu," ungkap Dewa. Air mata rembes dari kelopaknya, sungguh ia tak kuasa menahannya.


Bima menganga, matanya berkedip-kedip, napasnya memburu berat. Ia berpaling, mencerna rasa yang datang menyelimuti hatinya. Air mata terurai tanpa dapat ia tahan. Pantas saja ia merasa begitu dekat dengan Tuan Besar itu, ternyata mereka memiliki ikatan darah.


"A-apa Babeh kagak salah? Siapa tahu Bima emang cuma mirip aja," tanya Bima setelah berhasil menguasai hati dan segala rasa di dalamnya.


"Kagak, Tong. Nyak liat sendiri buktinya. Foto lu waktu bayi, ama foto anaknya Tuan Besar yang hilang ntu sama. Lu anak Tuan Besar, Bima. Lu anak mereka." Tina menimpali. Getar di lisannya tak ia sembunyikan, air matanya ikut merembes membasahi pipi. Ia berdiri di sana, di ambang pintu dapur dengan kaki yang gemetar hebat.


Bima mendongak ke arahnya, ketakutan, kesedihan, dapat ia lihat dengan jelas di manik tuanya. Penderitaan, itulah yang membayang di pelupuk mata.


Apa ini sebab kemarin lidah gua lancang manggil tu Nyonya, Ibu, karena dia emang Ibu kandung gua. Ya Allah ....


Bima beranjak, ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah Tina. Tanpa segan memeluk wanita itu, menangis sesenggukan. Balasan yang lebih erat ia terima, jelas terasa bahwa Tina tak ingin jauh darinya. Getar di tubuhnya menghantarkan ketakutan, takut akan ditinggal anak yang telah mereka asuh hampir seumur hidup mereka.


Bima melepas pelukan, ia mengusap air mata Tina dan membenarkan rambut putihnya yang berantakan. Kedua maniknya yang kelam menghujam tepat di bola mata Tina.


"Apa Nyak takut? Bima bisa rasain. Apa Nyak sedih? Hati Bima ikut sedih. Apa yang Nyak takutin? Apa Nyak takut Bima bakal ninggalin Nyak? Setelah beberapa hari Bima kenal ama tu Tuan Besar, dia kagak ada gelagat mau ambil Bima dari Nyak ama Babeh. Ntu artinya Bima boleh tinggal ama Nyak ama Babeh. Bima pengen ngerawat Nyak ama Babeh karena apa yang udah Bima terima kagak bakal bisa kebales pake apa-apa. Bima sayang Nyak ama Babeh." Pemuda itu kembali memeluknya.

__ADS_1


Tangis keharuan memenuhi seisi rumah sederhana pagi hari itu. Bima yang sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan keduanya, ia akan menepati itu. Dewa bersyukur dalam hati, berharap Bima tak seperti yang lain. Habis manis sepah dibuang.


__ADS_2