
Ringisan, rintihan, juga desisan yang terdengar tak dapat menembus indera rungu pemuda yang masih dikuasai api amarah itu. Kobarannya menjilat-jilat dari manik kelam yang selama ini selalu nampak tenang dan damai.
Kali ini, hanya ada dendam dan kebencian yang terlihat. Seluruh hidupnya terusik saat kedua orang tua asuhnya direndahkan. Mereka adalah segalanya, teramat berharga untuk hidup Bima. Melindungi nama baik mereka adalah tanggung jawabnya. Siapa saja yang berani menginjak harga diri keduanya, maka ia akan pasang badan untuk melindunginya.
"Baim! Hentikan, Nak! Kau tidak perlu seperti ini. Dia sepupumu!" Suara Razka memantul tak juga menyentuh gendang telinga putranya.
Akmal nampak sesak, wajahnya memerah menyedihkan. Ada air yang jatuh setiap kali matanya tertutup.
"Bima! Hentikan, Bim. Kau sahabatku, dia Kakakku, Bima. Dia juga sepupumu!" Revan memegangi lengan Bima yang masih kuat mengangkat rahang Akmal.
Tak ada suara yang terdengar darinya, hanya bunyi gemelutuk gigi yang beradu menandakan emosinya masih memuncak.
"Turunkan putraku, tolong! Dia kesakitan. Kumohon!" mohon Emilia dengan derai air mata yang semakin menganak sungai. Di sampingnya Fahru ikut menangis sambil memegangi tubuh sang istri yang terkulai lemas.
"Kak Bima! Sadar, Kak. Dengarkan suara kami, Kakak. Apa amarah membuat Kakak tuli? Kak Bima, kumohon dengarkan kami!" mohon Nasya memeluk tubuh pemuda itu dari belakang.
Ia menangis sesenggukan, lingkaran tangannya di tubuh Bima semakin menguat berharap emosi dalam dada menguap dan hilang tanpa bekas.
Namun, Bima seolah menjadi tuli. Pandangnya menjegil, menghujam laki-laki degil dalam cengkeramannya.
"Apa lu tahu seberapa berharganya mereka buat gua? Sampai-sampai lu rendahin mereka. Seumur hidup, gua jaga hati mereka supaya kagak sakit, tapi lu seenaknya ngomong sembarangan tentang Babeh gua. Mereka lebih berharga dari harta yang lu punya. Denger!" hardik Bima dengan sorot mata menohok manik Akmal yang ketakutan.
Bugh!
Tubuh lemah itu terjatuh di atas tanah, meringis sembari mencoba untuk beranjak. Sayang, rasa sakit yang disebabkan bokongnya menghantam tanah, membuatnya tak dapat berdiri. Ia beringsut mundur dikala Bima melepas lingkaran tangan Nasya dan melangkah mendekati.
"Jangan, Nak!" Razka menarik tangan putranya, langkah pemuda itu terhenti. Netranya bergeming pada sosok Akmal yang seperti seekor tikus di pojokan.
__ADS_1
"Ayah mohon, dengarkan Ayah. Dengarkan kami, Nak. Tenang, sayang. Tenangkan dirimu, tenangkan hatimu, Ibrahim. Baca istighfar, Nak, agar hatimu tenang. Baca, Ibrahim!" pinta Razka dengan lembut sangat dekat di telinganya.
Ia berucap lirih menuntun Bima untuk melantunkan kalimat istighfar dalam hati. Napas Bima yang memburu, mulai berkurang. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang mengisi paru-paru yang semakin menipis dengan udara. Lanjut membuangnya pelan menenangkan hatinya.
Bima membuka kelopak matanya, sekali lagi ia menatap Akmal sebelum berbalik menghadap sang Ayah. Wajahnya yang menghitam, pelan-pelan kembali normal. Mata kelamnya kembali mendapatkan damai yang sempat hilang beberapa saat tadi.
"Tenang, Ibrahim. Alhamdulillah, terima kasih, Nak." Razka memeluk tubuh putranya. Memberikan tepukan lembut di punggung anak itu. Bima pula sudah merasa lebih tenang, terlebih saat ia merasakan sentuhan hangat Razka yang memeluknya.
"Terima kasih, Ayah. Maaf," katanya lirih.
Emilia berlari bersama Fahru mendatangi Akmal yang masih meringkuk di atas tanah. Wanita paruh baya itu memeluk tubuh putranya sambil terisak, sedih sekaligus lega karena Bima tak membuatnya cedera parah.
"Kau baik-baik saja, sayang. Apakah sakit?" tanya Emilia sembari menyentuh rahang putranya yang memerah. Jejak jari milik Bima tercetak jelas di sana. Emilia semakin histeris, tapi ia tak dapat menyalahkan Bima.
"Sudah aku peringatkan sebelumnya untuk menjaga sikapmu, Kak. Kau terlalu menilai tinggi dirimu sendiri, sedang kau lupa siapa sebenarnya dirimu," sarkas Revan dengan tenang.
Bima melepas pelukan Razka, telinganya telah kembali normal. Suara-suara mereka terdengar jelas membuatnya merasa bersalah karena telah lepas kendali.
Razka melepasnya, membiarkan anak muda itu menyelesaikan masalah yang telah dia buat. Bima melangkah mendekati satu keluarga itu. Tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang sedang bersarang di hatinya.
"Maaf, aku minta maaf atas apa yang baru saja terjadi. Aku ... aku tidak dapat mengontrol emosi. Tolong, maafkan aku, Paman, Bibi." Bima merunduk, menyembunyikan wajahnya yang menyedihkan.
Ia benar-benar menyesal karena selalu kalah oleh amarah. Kedua tangannya terkepal, menahan gejolak rasa yang membuncah. Kali ini, emosi menyedihkan yang sedang menguasai dirinya.
"Aku hanya tidak bisa mendengar kedua orang tua asuhku direndahkan. Mereka sangat berharga untuk hidupku, mereka sangat berjasa dalam merawatku." Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "maaf, Paman. Maaf, Bibi. Maafkan aku, Akmal. Kuharap kau tak lagi merendahkan mereka atau siapapun yang statusnya berada di bawahmu karena setiap orang memiliki harga diri yang mereka jaga dengan baik."
Bima mengulurkan tangan ke depan wajah Akmal, tubuhnya sedikit membungkuk untuk Akmal dapat menggapai tangan yang ia ulurkan. Laki-laki itu, terlihat gelisah. Wajahnya yang meringis masih terlihat kesakitan.
__ADS_1
Pelan-pelan ia mengangkat wajah, menatap Bima yang tersenyum hangat padanya. Dalam hati, ia mengakui bahwa Bima adalah orang yang bertanggungjawab dan amat menjaga dirinya.
Akmal memanjangkan tangan menyambut uluran tangan Bima. Pelan Bima menarik tubuh itu hingga berdiri berhadapan. Ia merengkuhnya tanpa segan.
"Maaf, aku lepas kendali. Maafkan aku," ucap Bima dengan pelan.
"Aku juga minta maaf, atas semua sikapku selama ini. Maafkan aku juga," sambut Akmal pula yang turut menyesali perbuatannya.
Razka dan Nasya tersenyum lega. Gadis itu memeluk sang Ayah, menjatuhkan kepala di atas pundak tua milik laki-laki itu. Begitu pula dengan Emilia dan Fahru, keduanya terharu karena Bima dengan mudahnya meminta maaf tanpa segan dan malu.
Revan sendiri, tetap bersikap biasa hanya saja rasanya masih tidak percaya jika Bima itu adalah sepupunya. Anak dari Pamannya sendiri. Ini benar-benar kejutan. Sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Bima mengurai pelukan, kembali melangkah mendekati Emilia dan Fahru. Ia menyalami keduanya.
"Tolong maafkan aku, Bibi, aku sudah menyakiti putramu dengan sengaja. Maafkan aku juga, Paman, karena tak bisa mengontrol emosi," ucap Bima bersungguh-sungguh. Ia menundukkan kepala sebagai rasa hormat pada kedua orang tua sahabatnya itu.
Emilia menarik tubuh Bima ke dalam pelukan. Tangisan yang ia lakukan kali ini karena perasaan haru yang menyelubungi hatinya. Betapa Emilia bangga padanya.
Bima bergantian meminta maaf dan berpelukan bersama Fahru.
"Ayo, masuk dulu, Kak! istirahat di dalam, kita berbincang sambil minum teh," ajak Emilia pada Razka.
Laki-laki itu mengangguk seraya mengikuti langkah tuan rumah masuk.
****
Alhamdulillah sampai juga di episode seratus. Hallo teman-teman pembaca setia Bima, semoga masih tetap setia di cerita Bima, ya. Salam hangat dari author penulis Bima. Aisy Hilyah. Love you all ....
__ADS_1