
"Tong, lu jadi ke luar kota tiga hari? Udah ngomong lu ama majikan kalo kuliah?" tanya Dewa saat melihat Bima yang telah bersiap mengenakan seragamnya.
"Iya, Beh. Semalam Bima udah bilang, tapi majikan maunya ama Bima aja. Yah ... gimana lagi?" katanya seraya duduk di atas lantai ikut sarapan bersama Dewa.
Bima mengambil piring dan satu centong nasi goreng spesial dengan dua telur di atasnya. Tak lupa ia menyeruput susu terlebih dahulu sebelum menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Nyak ke mana, Beh?" tanyanya setelah menerima suapan nasi ke dalam mulut.
"Belanja sayur. Terus itu gimana? Tuan Besar kagak suka lu ninggalin kuliah," ucap Dewa sambil menyuap nasinya.
"Yah ... gimana, Beh? Bima izin ama dosen tiga hari kagak masuk," sahut Bima loyo, "tapi Bima mau titipin tugas nanti mampir dulu ke kampus," lanjutnya yang dibalas helaan napas dari Dewa. Keduanya melanjutkan makan tanpa berbincang lagi hingga Tina kembali dari membeli sayur, barulah ia beranjak berpamitan.
"Eh, Bim, lu tahu kagak soal anak Tuan Besar yang hilang?" Dewa bertanya di saat Bima tengah mengenakan sepatunya.
"Tahu, Beh, tapi udah ketemu kemaren." Bima menyahut tanpa menolehkan kepala pada laki-laki tua itu.
"Lah? Ketemu? Kagak mungkin. Tu orang pasti nipu, Babeh yakin. Enak aja dia ngaku-ngaku jadi anak Tuan Besar yang hilang itu. Lu kagak usah percaya ama tu orang, Bim. Dia cuma pengen manfaatin keadaaan doang," cerocos Dewa terdengar tidak suka tentang berita itu.
Bima tertegun, kenapa Dewa berkata demikian. Apakah Dewa tahu sesuatu? Ia menoleh pada Babeh, laki-laki tua itu masih bergumam tak jelas. Raut wajahnya kesal dan ia tak menutupi kebenciannya.
"Emang ngapa, Beh? Syukur, 'kan, kalo anaknya udah ketemu. Ngapa Babeh ngedumel kaya begitu?" tanya Bima terheran-heran melihat sikap Dewa yang tak biasa.
"Halah, lu kagak usah percaya ama tu orang. Dia nipu, Bima. Dia bukan anaknya Tuan Besar. Babeh, mah, yakin seratus persen." Dewa keukeuh dengan ujarannya. Pastilah begitu karena anak itu ada di depan matanya sekarang.
"Kagak tahu, Beh. Bima kagak mau ikut campur, biarin aja, tapi Tuan Besar udah baek banget ama Bima. Kagak tega juga kalo dia ampe kena tipu, entar gimana kalo tu orang bikin bahaya keluarga mereka? Tapi, Beh, anaknya sendiri yang bawa tu orang. Apa mungkin dia salah nyomot orang? Pasti, 'kan, ada buktinya atau alasan kenapa dia bawa tu orang." Penjelasan Bima membuat Dewa tercenung.
"Anaknya?" Ia bergumam meyakinkan. Pandangannya mengawang kosong, tak percaya.
"Iya. Ya udah, Beh, Nyak, Bima berangkat dulu. Majikan udah telepon aja. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
__ADS_1
Bima bergegas meninggalkan rumah bersama mobilnya. Sementara Dewa masih bergumam tak terima ada orang yang mengaku-ngaku segala Ibrahim.
"Ngapa tu orang ngelakuin itu, ya, Bang? Jelas-jelas anaknya Tuan Besar itu Bima. Apa Tuan Besar percaya ama tu orang? Kasihan juga kalo kena tipu, Bang," sahut Tina memberi tanggapan.
"Iya, Tin. Kita musti bantuin Tuan Besar. Ngapa rasanya gua kagak rela dia kena tipu? Tuan Besar udah baek banget ama kita." Tina membenarkan. Mereka berpikir dan menyusun rencana untuk membantu Razka terlepas dari penipu itu.
Sementara Bima, sedang menimbang keputusan untuk melepas maskernya. Ia hanya mengenakan kacamata hitam yang menutupi wajah bagian atasnya. Mengingat ucapan Dewa, hati Bima berdegup.
Kalo pemuda itu bukan anaknya Tuan Besar, terus di mana anak aslinya? Apa Babeh tau sesuatu, ya?
Bima berpikir sembari terus melaju menuju rumah Akmal. Sesampainya di sana, Akmal sudah menunggu dirinya.
"Kenapa kau lama sekali?" sungutnya sembari melangkah mendekati mobil.
"Maaf, Tuan." Bima sigap membukakan pintu untuknya. Menunggu sampai laki-laki tambun itu masuk dan menutup pintunya. Bima gegas menancap gas melaju di jalanan. Kemacetan bukan lagi perkara besar baginya, setiap hari ia selalu bergelut dengan jalanan yang dipadati kendaraan. Baik roda dua maupun roda empat bahkan lebih.
Meninggalkan Bima di jalanan, di rumah Razka, Nasya dan Ibrahim palsu selalu gaduh dan bertengkar. Sikap Aulia yang kerap membela pemuda itu, membuat Nasya tersisih dan dikucilkan.
"Di sana, di tempatmu. Ibu meletakkannya di sana," sahut Aulia keluar dari kamar mandi dan membawa tumpukan piring kotor tersebut.
"Maaf, ya. Aku tidak tahu itu milikmu, aku memakan semuanya," ucap sebuah suara tanpa merasa berdosa. Nasya mengeratkan rahang, kedua tangan mengepal menahan gejolak amarah yang membuncah.
"Ah ... jadi kau yang memakan milik adikmu?" Aulia terpekik sedikit. Ia menoleh dari tempatnya mencuci piring. Anggukan manja pemuda itu semakin menyulut api dalam diri Nasya.
Aulia menatap putrinya yang bergeming memejamkan mata. Ia tak tega melihatnya. "Mau Ibu buatkan lagi? Atau kau mau yang lain?" tawar Aulia pada anak bungsunya itu.
Nasya membuang napas, ia membuka kelopak matanya memandang pada wanita yang bersikap tak adil setelah kedatangan pemuda itu.
"Tidak usah, aku mau berangkat." Tanpa mendatangi ibunya, Nasya berbalik meninggalkan ruang makan dengan hati yang dongkol.
"Hei, sayang! Ada apa denganmu, Nak?" Razka yang tengah bersiap untuk pergi terkejut melihat putri bungsunya yang berjalan cepat dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Ayah. Aku mau langsung berangkat ada kelas pagi hari ini," katanya meraih tangan ayahnya dan bergegas keluar rumah setelah mencium tangan tersebut.
"Berangkatlah bersama Ayah, masuk dan tunggu Ayah di dalam mobil!" titah Razka menghentikan langkah Nasya yang sudah berada di ambang pintu. Gadis itu mengangguk tanpa memalingkan wajah, lanjut berjalan masuk ke dalam mobil Razka.
"Nasya! Sayang!" kejar Aulia, tapi dicegah Razka.
"Ada apa?" Suara Razka terdengar berat dan serak. Lama-lama, ia jengah dengan sikap pemuda asing itu yang selalu mengadu domba antara istri dan anak-anaknya.
"Ah ... hanya masalah sarapan, Baim memakan miliknya. Dia tidak tahu jika itu milik Nasya dan menghabiskannya. Aku ingin membuatkannya lagi, tapi anak itu bahkan tidak mendatangiku dan pergi begitu saja," jelas Aulia sedikit panik di wajahnya. Razka melirik belakang tubuh istrinya, di sana pemuda itu sedang duduk memperhatikan mereka.
Pandangannya kembali berputar pada manik sang istri yang gelisah. "Sepertinya, kau harus mempertimbangkan hatimu, Aul. Coba kau tanya pada hatimu sendiri, apakah benar yang kau lakukan ini? Tanya pada nuranimu apa benar pemuda yang di sana itu anakmu? Karena jujur saja, aku sama sekali tidak merasa dekat dengannya. Aku pergi, berhati-hatilah di rumah. Assalamu'alaikum!" ungkap Razka melalui hati.
Ia memberikan tangannya pada Aulia, disambut kecupan pada punggungnya. Satu ciuman mendarat hangat di dahi wanita itu, mengalirkan rasa yang menenangkan untuk hatinya.
"Pikiran ucapanku!" Razka meninggalkan rumah, ia telah meminta beberapa pengawalnya untuk mengawasi rumah juga pemuda itu. Aulia hanya berdua di rumah, tidak menutup kemungkinan pemuda asing itu melakukan sesuatu yang tak mereka inginkan.
Aulia tercenung, kata-kata yang diucapkan Razka mengandung peringatan untuknya. Namun, sisi keibuan miliknya yang sedang dimanfaatkan sang pemuda. Ia yang bersikap menyedihkan dan seolah-olah menjadi korban dalam rumah itu, membuat Aulia tak tega melihatnya.
Razka membawa Nasya ke rumah lama sebelum ke kampus. "Ayah, ke mana kita akan pergi? Bukankah ini jalan menuju rumah Akmal?" tanya gadis berhijab biru muda itu pada Ayahnya.
"Iya, sayang. Ayah harus menemui keponakanmu itu sebelum dia pergi," sahut Razka sambil terus mengemudikan mobilnya. Nasya tak lagi bertanya, sampai mobil berhenti di halaman rumah besar itu Razka bergegas keluar. Ia meminta putrinya untuk tetap berada di dalam mobil.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Fahru datang menyambut kakak iparnya. Ia tersenyum dan mempersilahkan Razka masuk, tapi laki-laki itu menolak dan menanyakan keberadaan Akmal.
"Akmal? Dia sudah berangkat satu jam yang lalu, ada apa, Kak?" tanya Fahru gusar.
Wajah sang kakak ipar memerah marah. Kedua matanya menyorot tajam, membuat Fahru kesulitan meneguk saliva. Kesalahan apa yang dilakukan anak itu hingga membuat Kak Razka marah? Ia bergumam takut.
__ADS_1