
Kegelapan semakin merambat menguasai malam. Rembulan nampak indah dengan bintang gemintang yang menari-nari di sekelilingnya. Perkumpulan akhir pekan itu berakhir dengan bahasan tentang pernikahan Ayra dan Briant yang akan digelar dikediaman lama Razka. Yakni, di rumah yang ditempati Emilia beserta keluarganya.
Semu merah menyembul di kedua belah pipi mulus Ayra, senyumnya tersungging manis terbayang sosok lelaki yang selalu siap sedia melindunginya dari sejak kecil itu.
"Sedang apa Kakak sekarang? Apakah sama sepertiku?" gumamnya pelan sambil berguling-guling di ranjangnya sendiri.
"Tak kusangka sebentar lagi aku akan menikah." Ia berbalik pada posisi miring. Tangannya menjeremba sebuah figura kecil yang terpasang di atas nakas samping tempat tidur.
Foto Aisyah yang tersenyum sedang menggendong dirinya di saat bayi. Ibu jarinya mengusap foto tersebut perlahan. Kerinduan yang tak pernah enyah dari hatinya, semakin membuncah tatkala ia pandangi dengan lekat wajah ayu sang Ibunda.
"Ibu, sebentar lagi aku akan menikah. Semoga kau bahagia, Ibu. Kuharap Tuhan mengizinkanmu melihatku nanti di saat hari sakral itu. Aku sayang, Ibu." Ia mendekap figura tersebut di dada. Kedua matanya terpejam menghayati dunia hayal di mana ia bisa mendekap sang Ibu.
Tanpa sadar rasa kantuk menyerang membuat kelopaknya tak kuasa untuk bertahan. Tertutup perlahan dan hanyut dalam buai alam impian yang tiada batas.
Di kamar lain, gadis kecil mereka telah terlelap. Mendekap sebuah guling berbentuk boneka ulat, ia nampak tenang.
Di kamar orang tua mereka, kedua paruh baya itu masih berdiskusi tentang pernikahan Ayra. Berbaring di atas peraduan saling mendekap memberikan rasa hangat pada masing-masing aliran darah.
"Tak kusangka putri yang kubesarkan kini telah dewasa. Sebentar lagi dia akan menikah dan tanggung jawab atasnya akan berpindah tangan pada suaminya. Rasanya, baru kemarin aku menemaninya bersekolah di taman kanak-kanak," lirih Aulia sambil membenamkan wajah di dada Razka.
Hatinya berdesir, sekonyong-konyong rasa sedih hadir tanpa diundang. Bayangan Ayra kecil yang selalu bersikap manis dan manja padanya terbetik dalam benak. Sikap dewasanya kala mendapat masalah, masih dapat ia ingat dengan jelas. Ayra anak yang mandiri tak pernah menyusahkan siapapun.
Razka menyapu lembut rambutnya, memberikan kecupan hangat pada ubun-ubun sang istri. Menenangkan wanita yang mulai terisak dalam pelukannya itu. Teringat disaat Ayra memanggilnya Ibu pada pertemuan pertama tanpa sengaja. Manis dan ia suka.
Genggaman tangan mungilnya masih terasa oleh Aulia hingga kini. Rasa hangat itu masih mengalir di seluruh permukaan kulitnya. Panggilan Ibu untuk yang pertama kali ia dengar itu bukan dari anak yang dilahirkannya, melainkan dari seorang anak kecil yang bahkan tak ia kenal.
__ADS_1
"Apa yang kau tangisi, sayang? Ayra sudah dewasa, dia sudah menentukan sendiri pada bahu siapa dia akan bersandar. Sebagai orang tau, kita hanya harus mendoakan yang terbaik untuk kehidupan mereka. Aku yakin, Briant adalah laki-laki yang bertanggungjawab pada istrinya. Sama seperti Rendy, yang rela meninggalkan Emilia demi kembali pada anak dan istrinya. Tapi ... terima kasih, karena selama ini kau telah mencintai Ayra sama seperti kau mencintai Nasya. Terima kasih," ungkap Razka dengan perasaan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Untuk apa berterimakasih, sedangkan aku tak memerlukannya. Kasih sayang seorang Ibu tak perlukan ucapan terima kasih apalagi balasan. Mereka semua anak-anakku, aku mencintai mereka termasuk putra kita yang baru kita kenal. Jangan ucapkan itu lagi," katanya dengan wajah mendongak menatap sepasang iris berwarna hitam sekelam langit malam di depannya.
Razka tersenyum, mengecup singkat bibirnya sebelum membenamkan wajah itu dalam pelukan. Gadis kecilnya yang dulu manja, kini berada dalam dekapan. Ribuan kata terima kasih ia untai untuk seseorang yang mungkin saja sedang melihatnya kini.
Kehadiran Aulia merubah segalanya. Ia dan Aisyah memiliki tempat yang istimewa di hati Razka. Keduanya teramat berharga untuk kehidupan laki-laki biasa yang menjelma menjadi luar biasa itu. Baik Aulia maupun Aisyah, keduanya mengetahui siapa Razka yang dulu dan bagaimana kehidupan laki-laki itu sebelum identitasnya terbongkar.
Meninggalkan rumah Razka, di kediaman sederhana yang dihuni Bima, ketiga orang itu tengah terlelap bersama. Di atas sebuah matras mereka tidur berbagi tempat. Sungguh menyenangkan, sama seperti saat di desa dulu mereka selalu tidur bersama seperti malam itu.
Uhuk-uhuk!
Suara batuk mengusik ketenangan tidur Bima. Alisnya bertaut, tapi kelopak enggan terbuka. Terlalu malas untuk beranjak, tidur membuai tubuhnya yang lelah setelah seharian bermain.
Uhuk-uhuk!
"Beh!" panggilnya dengan suara parau. Bima beranjak duduk, mengucek matanya untuk memperjelas penglihatan. Ia melilau mencari sosok Dewa di sekitar tempat tidur.
Suara batuk itu terdengar lagi, mata Bima sontak terbelalak. Gegas ia bangkit dan mendatangi dapur di mana asal suara batuk itu.
"Babeh! Ya Allah!" pekiknya saat mendapati Dewa yang terduduk bersandar pada dinding dengan kepayahan.
Samar Bima melihat tangan tua itu mengepal, sesuatu yang berwarna merah mencuat dari sela-sela jarinya. Ia berjongkok di hadapan Dewa memeriksa kondisi tubuh laki-laki tua itu.
"Babeh! Babeh masih bisa denger Bima, 'kan? Babeh!" panggil Bima dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit, Beh," katanya seraya memposisikan diri di depan Dewa.
"Kagak usah ... Babeh di rumah aja," bisik Dewa tersengal-sengal. Bima menolak, ia meletakkan kedua tangan Dewa di pundaknya. Beranjak bersama tubuh tua yang berada di atas punggungnya. Beruntung, ia membawa pulang mobil Razka.
"Nyak, Bima mau bawa Babeh ke rumah sakit. Penyakit Babeh kambuh, Nyak," ucap Bima dengan nada suara sedikit tinggi membangunkan Tina yang masih terlelap.
Mendengar itu mata Tina langsung melotot. Ia bangkit dan tanpa kata memakai kerudung juga menyambar tas miliknya. Setengah berlari ia menyusul Bima ke dalam mobil setelah mengunci pintu rumah.
Panik, Tina gegas duduk di samping Dewa ketika melihat suaminya yang kepayahan dalam mengambil napas.
"Bang! Lu kudu kuat, Bang. Kita ke rumah sakit. Tahan, Bang," ucap Tina menyusul isak tangisnya yang lirih terdengar.
"Gua kagak apa-apa, lu kagak usah nangis, Tin. Gua sayang ama lu, gua cinta ama lu, Tin," racau Dewa yang semakin lama semakin tak jelas bersuara.
"Kagak usah ngomong apa-apa, Bang. Lu kagak usah ngomong apa-apa," pinta Tina sambil mendekap tubuh Dewa dengan erat.
"Di mana anak gua, Tin? Di mana Bima?" tanyanya tak sadar. Bima menggelengkan kepala, air matanya jatuh tanpa dapat ia kendalikan.
Kakinya semakin dalam menginjak pedal gas, ingin segera tiba di rumah sakit.
"Bima di sini, Beh. Bima di sini!" Tangisnya semakin menjadi, melihat Dewa yang tersenyum meski dengan susah payah.
"Ngapa lu jauh-jauh dari Babeh, Tong? Lu kagak mau peluk Babeh, apa? Mari, Babeh kangen ama lu." Semakin tak karuan apa yang keluar dari lisan Dewa.
Tina meraung, ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Apa yang akan terjadi malam itu?
__ADS_1
Ban berdecit di halaman rumah sakit, gegas Bima keluar dan memeluk Dewa erat sebelum membawanya masuk. Berteriak memanggil para tenaga medis sambil terus mengendong tubuh tua itu. Dewa segera dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan.
"Allahu!"