Bima

Bima
Part. 66


__ADS_3

Laki-laki itu masih duduk di sana, menunggu dengan sabar tanpa beranjak sedikit pun. Tak henti netranya melirik gawai, memastikan detik jam sampai di mana. Tak ada balasan apa pun dari nomor asing yang ia hubungi. Baik telepon ataupun pesan, keduanya tetap bungkam.


Dia pasti sedang di perjalanan. Berhati-hatilah, Nak. Tidak perlu terburu-buru.


Hatinya memintal harap lewat doa yang ia langitkan. Berharap putra satu-satunya itu mendapat keselamatan di perjalanan bertemu dengan Ibunya.


Gawainya berbunyi sebuah pesan masuk dari seseorang yang ia tugaskan. Ia tersenyum, membuka pesan suara tersebut dan mendengarkan. Dahinya berkerut, tapi senyum yang diukirnya nampan licik dan misterius. Sesuatu membuatnya tertarik.


"Mmm ... jadi seperti itu ...." Ia bergumam usai mendengarkan pesan tersebut sampai selesai. Kembali duduk dengan pikirannya, rencana berubah. Ia melihat ke arah pintu masuk, istri juga anaknya ada di sana. Bertanya pada resepsionis tentang meja yang ditempati Razka.


Melambai tangan kanan laki-laki itu memanggil sang istri. Ia berada di ujung, duduk di dekat jendela kaca. Jauh dari meja-meja lainnya. Sengaja ia tak memesan ruang VIV. Memperhatikan lewat jendela kaca siapa yang sedang ditunggunya.


"Sayang!" Aulia meraih tangan suaminya, "Baim! Salim!" perintahnya pada pemuda yang justru tercengang melihat situasi restoran.


Buru-buru ia mendatangi Razka dan menyalaminya. Secepat kilat, Razka menarik kembali tangannya, dan diam-diam membersihkannya dengan tissue di bawah meja.


Tak sudi rasanya aku bersentuhan dengan penipu sepertinya. Lihat saja, sebentar lagi putraku yang sebenarnya akan tiba.


Ia tersenyum meski dalam hati mengumpat. Menarik Aulia untuk duduk di sampingnya dan membiarkan sebelah bangku Ibrahim kosong.


"Ibu, di mana makanannya? Aku sudah lapar," tanya Ibrahim sembari tersenyum jenaka menggemaskan. Namun, tidak bagi Razka. Ia justru berdecih dalam hati.


"Kak?" Aulia menoleh pada suaminya.


"Tunggu! Aku masih menunggu seseorang. Apakah kau lupa, aku ingin mengenalkanmu padanya. Setelah dia datang makanan akan tiba," ucap Razka memandangi keduanya sambil tersenyum.


Aulia mengangguk, ia mengedipkan mata pada Ibrahim yang nampak kecewa. Mungkin sudah sangat lapar dan tak dapat menahan diri lagi. Ia bersandar pada punggung kursi, ikut memandang ke luar jendela seperti Razka.


Sebenarnya, siapa yang sedang ditunggu Kakak? Kenapa sepertinya penting sekali.


Aulia bergumam sambil tak henti memandang Razka yang berpaling darinya. Laki-laki itu tersenyum tatkala di parkiran sebuah mobil yang ia kenal masuk dan berhenti. Dari dalamnya keluar seorang pemuda yang mengenakan seragam tim keamanan Pratama Grup.

__ADS_1


Tak lepas matanya memandang Bima yang berjalan dengan gagah di parkiran. Dahi pemuda itu mengernyit, masih bertanya dalam hati siapa yang mengundangnya makan siang di restoran mewah seperti ini.


"Kak, aku ke toilet sebentar!" pamit Aulia bergegas pergi setelah Razka mengangguk tanpa berpaling. Curiga hatinya, melihat Razka ia seperti melihat seseorang yang sedang jatuh cinta. Aulia ingin mendinginkan hatinya sebelum menghadapi kenyataan yang akan membuatnya panas meledak.


Bima masih berada di parkiran, ia melilau ke segala arah memastikan tak salah tempat yang dijanjikan. Kacamata hitam tetap bertengger di hidungnya, ia melirik jam di pergelangan tangan.


Belum waktunya makan siang, beruntung ia sudah menunaikan kewajibannya sebagai hamba saat di jalan tadi. Langkah Bima melambat tatkala hampir mencapai pintu masuk restoran. Ia bingung melihat mereka berbicara dengan seorang wanita berseragam pramusaji yang menyambut di ambang pintu.


"Permisi, Tuan Muda! Anda sudah ditunggu. Mari, saya antarkan!" Terkesima Bima dikala ia disambut dengan sangat hormat oleh wanita berseragam tadi.


Ia membuka kacamatanya, menelisik wajah tersenyum di depannya.


"Anda, tidak salah menyapa?" tanyanya dengan pelan. Degup jantungnya berlomba dengan keringat yang mulai muncul di bagian punggung. Ia akan malu jika saja wanita itu salah melayani orang.


Wanita itu menggeleng masih dengan senyum ramah tersemat di bibirnya. "Tidak, Tuan Muda. Saya tidak mungkin salah mengenali orang," katanya dengan pasti.


"Tapi saya baru pertama kalinya masuk ke restoran ini? Lagi pula, saya hanya seorang supir bukan seorang Tuan Muda," tutur Bima masih tak bisa menerima jika ia dipermalukan karena hal ini.


'Kan, kagak lucu kalo ini cuma prank. Bisa malu gua. Di mana ditaronya harga diri gua nantinya. Lagian ni orang, salah sebutan apa salah orang, ya?


"Saya tahu, Tuan Muda, tapi seseorang telah memberikan ciri-ciri Anda kepada saya. Dia mengatakan saya harus menyambut Tuan Muda dengan ramah dan mengantarkan Anda ke tempatnya," ucap wanita itu lagi keukeuh.


Tuan Muda? Berasa jadi anak gedongan gua. Ah ... ya sudahlah!


"Mari, Tuan Muda!" Tangan wanita itu mengarah ke depan meminta Bima untuk mengikuti langkahnya menuju meja Razka. Ia menggaruk kepalanya tak gatal sebelum kakinya berayun menyusul wanita tadi.


"Tuan, Tuan Muda sudah di sini," lapornya pada Razka. Ia membungkuk sebelum mempersilahkan Bima untuk duduk. Kemudian berbalik pergi dan kembali ke ambang pintu menyambut tamu yang datang.


Razka mendongak, dengan senyum yang serupa seperti malam itu.


"Tu-tuan! Anda yang mengirimi saya pesan?" Bima terpekik mendapati Razka yang duduk bersama pemuda yang ia lihat di aula waktu itu.

__ADS_1


"Benar, Juan. Aku yang mengirimimu pesan. Duduk!" Razka menunjuk kursi kosong di samping Ibrahim.


Pemuda itu mendengus, melihat Bima dengan tajam dan nampak sekali tak suka. Terlebih, pemuda yang masih berdiri itu memiliki garis wajah yang sama seperti Razka dan Aulia.


"Ayah, siapa dia? Kenapa dia harus duduk bersama kita? Bukankah dia hanya seorang pekerja? Lihat saja seragamnya," ketus Ibrahim mencibir Bima yang berdiam di tempatnya.


"Tak apa. Silahkan duduk, Juan! Aku sudah menunggumu," sahut Razka tak peduli pada reaksi tak suka yang ditampilkan Ibrahim.


"Hei! Hei! Seenaknya kau duduk! Kau lebih pantas duduk di lantai. Kau hanya seorang rendahan," cegah Ibrahim sengit. Bima termangu.


"Ibrahim!" Mendengar suara Razka yang meninggi, pemuda yang mengaku Ibrahim itu tersentak kaget. Begitu pula dengan Bima. Ia menelan saliva saat melihat mata Razka yang memerah marah. Rahang laki-laki itu mengeras menahan amarah yang meletup tak terkira.


"Jaga lisanmu! Ayah tidak suka kau merendahkan orang lain," tegas Razka menekan setiap kata yang dia ucapkan, "Juan, duduklah. Makanan sebentar lagi akan tiba," sambungnya berganti nada menjadi lembut tatkala berbicara kepada Bima.


"Ba-baik, Tuan!" Ia beranjak menarik kursi dan mendudukinya. Ibrahim menggeser kursi yang ia duduki menjauh dari Bima. Cara mereka duduk saja sudah berbeda. Bima nampak berwibawa dengan diamnya. Ia jarang berbicara, irit akan kata, dan hanya orang tertentu saja yang diajaknya berbicara.


Ia menunduk, segan pada Tuan Besar di hadapannya. Hatinya tak mengira jika Razka-lah yang telah mengundangnya.


"Kak! Suaramu yang membentak Ibrahim terdengar hingga ke lorong toilet. Kenapa Kakak membentaknya? Apa karena pekerja itu?" tuding Aulia dengan nada marah tak tertutupi. Menunjuk Bima tanpa memandang ke arahnya.


Ibrahim kembali ke mode menyedihkan, mencari pembelaan dari wanita yang mengakuinya sebagai anak tersebut. Sementara Razka memejamkan mata, menahan kecewa di dada. Ia melirik Bima yang menunduk dalam sebelum meraih tangan Aulia dengan lembut.


"Duduklah, sayang. Aku malas pasang urat hari ini. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang," ucap Razka mencoba untuk tenang dan tak tersulut emosi.


Aulia melirik Bima. Ia memegangi dada kirinya, degup jantung yang ia rasakan adalah degup yang sama setiap kali ia merasa dekat dengan Ibrahim. Namun, itu tak berlaku untuk pemuda yang berwajah muram di sana.


Pelan-pelan ia duduk di samping Razka, menatap penasaran pada pemuda yang masih menundukkan kepalanya itu.


"Juan! Ini istriku dan yang di sampingmu adalah putraku yang hilang. Angkat kepalamu dan sapa dia!" Razka menggenggam tangan Aulia sembari memerintah pada Bima.


Aulia menunggu penasaran, kenapa jantungnya berdegup-degup?

__ADS_1


******


Nah lo? Bagaimana ini pemirsa?


__ADS_2