Bima

Bima
Part. 110


__ADS_3

Di dalam sebuah gedung restoran dengan poster sate besar terpampang di salah satu dindingnya, seorang gadis duduk sendiri di pojokan. Itu adalah tempat yang dipilihkan Bima untuknya menunggu, sedangkan ia pergi memanggil Razka di ruangannya.


Khaira tak berkedip dengan mulut sedikit terbuka disaat Razka dan Bima berjalan bersisian menuju ke arahnya. Ia sigap berdiri, membungkuk memberi hormat setelah keduanya berada di hadapan.


"Silahkan duduk!" Razka memberi perintah menunjuk kursi yang diduduki gadis itu sebelumnya. Bima duduk di kursi lainnya di antara mereka berdua.


Khaira memberikan berkas yang ia bawa pada Razka, matanya tak henti melirik wajah mereka berdua yang serupa. Menumpuk tanya dalam hatinya.


"Khaira Nur Rahma!" ucap Razka menyebutkan namanya.


"Saya, Tuan," sahut Khaira merunduk memutus pandang dari wajah keduanya.


"Lulusan terbaik di sekolah, tak ada pengalaman kerja. Kau yakin ingin bekerja di restoran ini?" tanya Razka sembari meletakkan berkas di atas meja dan menautkan jemari di atasnya. Ia mengangkat pandangan pada wajah manis yang tertunduk di hadapan.


"Be-benar, Tuan. Saya yakin ingin bekerja di sini karena saya memang sangat membutuhkan pekerjaan," sahut Khaira dengan yakin. Razka tersenyum, ia memperhatikan Bima yang berkali-kali kedapatan melirik calon pegawainya itu.


"Kenapa kau harus bekerja? Bukankah masanya untukmu sekolah di perguruan tinggi?" tanya Razka lagi.


Wajah Khaira yang sempat terangkat kembali menunduk mendengar pertanyaan Razka. Ia menggigit bibir menimbang jawaban yang pas dalam hati sebelum mengucapnya melalui lisan.


"Saya tidak mungkin sekolah di perguruan tinggi, sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sangat sulit saya rasakan. Setelah Bapak meninggal dunia, saya hidup berdua dengan Ibu. Ibu sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, jadi saya harus bekerja untuk membantu Ibu memenuhi kebutuhan hidup kami. Tuan yang murah hati, saya berjanji akan bekerja dengan giat di sini jika Tuan menerima saya. Jadi apapun, akan saya terima yang penting saya bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk Ibu," ungkap Khaira dengan binar kesungguhan ketika ia bersitatap dengan Razka.


Pantaslah Baim terpikat olehnya, gadis ini memiliki kejujuran dan mandiri. Cantik dan manis, pintar sekali mencari calon istri.

__ADS_1


Ia melempar lirikan pada sang putra yang menunduk usai mendengar jawaban Khaira.


Lu tenang aja, Ra. Setelah lu jadi bini gua, hidup lu ama Ibu gua yang tanggung. Lu kagak perlu lagi hidup susah, lu juga kagak bakal gua izinin kerja. Gua janji, Ra. Gua janji.


Bima bertekad dalam hati. Tekad yang sama seperti keinginannya membahagiakan Tina dan Dewa. Ia pun tak akan membiarkan istrinya hidup susah kelak. Sama seperti Dewa yang rela melakukan apa saja demi membuat bahagia Tina juga dirinya.


"Mmm ... baik. Mendengar tujuanmu bekerja aku sudah bisa mengerti. Kau diterima, tetaplah berpakaian seperti ini karena menutup aurat itu menjaga harga diri dan martabat seorang wanita." Razka melempar senyum tulus pada calon menantunya itu.


Khaira merunduk berkali-kali mengucapkan rasa terima kasih padanya.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih. Semoga Allah membalas semua kebaikan Anda, dan melimpahkan berkah juga kebahagiaan untuk keluarga Anda," ucap gadis tersebut dengan tulus. Ia menyeka air yang menggenang di pelupuk mata. Terharu karena pada akhirnya mendapatkan pekerjaan untuk membantu Ibu.


Razka menganggukkan kepalanya, "Aamiin. Terima kasih banyak atas doa yang kau panjatkan untukku juga keluarga. Sekarang, apa kau tidak keberatan memakai seragam restoran seperti yang lain?" sahut Razka pula sembari mengarahkan telunjuk pada seorang pekerja yang membawakannya seragam.


"Teman, ya? Kau yakin hanya teman? Ayah melihat pandangan berbeda di matamu, Nak," cibir Razka usai Khaira meninggalkan tempat mereka berdua.


Bima melipat bibir, menahan senyum dan perasaannya dengan wajah yang tak berani ia angkat. Razka mengacak rambutnya gemas, membuat pemuda itu menengadah menunjukkan rona merah di pipinya.


"Bagaimana menurut Ayah?" tanyanya lebih seperti bisikan.


Razka mengernyitkan dahi, menggoda Bima dengan berpura-pura tak mengerti.


"Maksudmu dia menjadi pelayan di sini? Cocok, Ayah suka. Dia cantik dan menarik, akan ada banyak karyawan laki-laki yang terpikat oleh kecantikannya."

__ADS_1


"Tidak! Kenapa Ayah mengatakan itu?" pungkas Bima dengan cepat menyambar ucapan Razka yang baru berakhir. Terkekeh laki-laki itu melihat kecemburuan di wajah sang putra.


"Kenapa kau menyuruhnya bekerja? Bukannya menikahinya dan bertanggungjawab terhadapnya daripada dia bekerja memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk mendekatinya. Apa pak Dewa tahu soal ini?" ungkap Razka yang menohok harga diri Bima.


Kepala pemuda itu tertunduk, terpikirkan apa yang dikatakan Razka benar adanya. Dengan bekerja, dia memberi peluang pada laki-laki lain untuk mendekati Khaira. Ia menghela napas sebelum bertatapan dengan manik sang Ayah.


"Aku masih kuliah, Ayah. Belum memiliki pekerjaan tetap, lagipula Kakak belum menikah tidak mungkin aku mendahuluinya. Terutama, Khaira sering mengatakan ingin bekerja membantu ibunya. Ayah, aku titipkan dia pada Ayah, tolong jangan biarkan karyawan laki-laki Ayah berbuat lancang terhadapnya. Masalah Babeh, sudah tahu soal Khaira, tapi belum tahu kalau aku suka padanya," ungkap Bima memohon pada sang Ayah untuk menjaga calon istrinya itu.


Razka tersenyum, tangannya menepuk-nepuk tangan Bima yang menggenggam tangan miliknya yang lain. Memberi kepastian padanya bahwa gadis itu akan aman bersamanya.


"Kau tenang saja. Bicaralah pada pak Dewa, Nak. Bawa gadis itu ke hadapannya. Perkenalkan ia sebagai calon istrimu pada mereka bukan sebagai teman. Jangan memunggungi mereka, bagaimanapun mereka adalah orang tuamu juga," nasihat Razka pada putranya.


"Baik, Ayah. Aku mengerti," katanya mantap. Seperti inilah rasanya menasihati anak laki-laki. Berbicara dari hati ke hati, membahas persoalan lelaki. Bahagianya!


Dering ponsel milik Bima menyita perhatian, ia membuka pesan yang dikirimkan Nasya padanya. Kedua mata Bima membelalak lebar. Rahangnya mengeras, gigi-giginya bergemelutuk menahan emosi.


"Ada apa?" tanya Razka yang bingung melihat perubahan wajah Bima.


"Tidak ada, Ayah. Aku pergi dulu, Ayah harus berjanji akan menjaganya. Aku pamit, Yah. Assalamu'alaikum!" Ia meraih tangan Razka dan menciumnya.


"Wa'alaikumussalaam. Hati-hati!" Bima mengibaskan tangan sambil terus membawa langkahnya berlari keluar restoran. Tak mungkin ia memberitahu Razka perihal apa yang terjadi pada putri bungsunya itu. Dia harus belajar melindungi mereka tanpa mengandalkan Ayahnya.


Bima melesat meninggalkan restoran tak ingin terlambat hingga terjadi sesuatu yang buruk terhadap adiknya itu.

__ADS_1


"Kurang ajar! Sial! Awas lu pada, gua kagak bakal lepasin lu!" desisnya dari balik gigi yang beradu. Tangannya erat mencengkeram kemudi, terkadang memukul-mukulkannya karena kesal.


__ADS_2