
"Lancang sekali mulutmu itu, Akmal!" Tubuh pemuda yang mengintimidasi Bima itu menegang.
Semua orang menoleh pada gerbang di mana seorang laki-laki paruh baya bersama seorang gadis muncul. Akmal menjauhkan wajah dari Bima, ia mundur beberapa langkah. Jakunnya naik dan turun kala ia meneguk ludah basi dengan susah payah.
Bersamaan dengan itu, Revan pun keluar dari rumah. Ia tersenyum melihat Bima tanpa tahu ketegangan yang sedang terjadi di antara mereka.
"Bima!" Ia memekik seraya berlari kecil menghampiri sahabatnya itu. Tanpa segan memeluk Bima, membuat Akmal bingung melihat tingkah sang adik.
Amarah Bima perlahan menguap, hilang bersamaan dengan datangnya sosok ceria yang memeluknya. Revan menjauhkan tubuh tanpa melepas kedua tangan dari lengan atas Bima.
Matanya berbinar senang, ada sesuatu yang dia tagih dalam hati pada sahabat kecilnya itu.
"Pada akhirnya kau menerima undangan ku, Kawan!" katanya sambil terkekeh. Ia meninju pelan lengan kiri Bima, hatinya berbunga-bunga.
Kedua orang yang baru saja datang, tetap di posisi mereka. Sama sekali tak bergerak dan tak mengganggu temu kangen dua sahabat di sana.
Bibir pemuda itu tersenyum, ia memberikan anggukan kecil atas pernyataan yang baru saja diucapkan Revan.
"Aku senang. Kali ini kau harus masuk ke rumahku, aku ingin memperkenalkan dirimu pada kedua orang tuaku. Ayo!" ajak Revan menarik tangan Bima untuk memasuki rumah. Dua saudara berbeda karakter.
Akmal nampak tidak senang, ia menggeram melihat Bima yang hampir memasuki rumahnya.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi dan masuk ke rumahku?!" bentak Akmal dengan suara yang menggelegar bagai petir yang menyambar di siang bolong.
Revan dan Bima sama-sama menghentikan langkah mereka. Hati yang tadi berbunga-bunga seketika berubah kesal dan marah. Revan menarik napas panjang, melipat bibir dengan geram. Ia berbalik menghadap Kakaknya yang memunggungi.
"Ayah?" Gadis itu melingkarkan tangan di lengan sang Ayah. Keduanya masih berdiri di gerbang belum beranjak sedikit pun. Menahan geram dan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Rasanya kepala berdenyut-denyut, nyeri dan linu sekaligus. Dada sesak tak terkendali terus menyempit dan tak menyisakan ruang sama sekali.
"Aku yang mengundangnya, dia sahabatku. Ada apa denganmu, Kak? Bukankah kau juga sering membawa teman perempuanmu ke dalam rumah? Kenapa kau melarangku membawanya ke rumah. Aku ingin mengenalkannya pada Mamah dan Papah. Lagipula kau terlihat jelek jika memasang wajah seperti itu," sahut Revan yang tak peduli sama sekali pada kakaknya itu.
__ADS_1
"Ayo, Bima. Tak usah kau dengarkan dia," katanya sambil kembali menarik tangan Bima untuk memasuki rumah.
"Berhenti di sana! Kau hanya akan mengotori rumahku dengan-"
"Itu bukan rumahmu, Akmal!" tukas laki-laki yang berdiri di gerbang. Ia tak lagi bisa menahan emosi melihat anak laki-lakinya direndahkan oleh keluarganya sendiri.
Razka melangkah memasuki halaman bersama Nasya. Akmal kembali dibuat terkejut oleh ucapan Razka, kenapa pamannya itu selalu membela Bima? Hatinya mengumpat, bibirnya berkedut tanpa kata.
Di teras sana, Bima menarik tangan menghentikan Revan yang ingin membawanya masuk ke rumah. Kepala pemuda yang dianggap rendahan itu menggeleng dan meminta pada Revan untuk tetap berada di teras.
Revan membuang napas kasar, tapi menurut juga. Ia mengernyit saat melihat Razka dan Nasya yang sedang berhadapan dengan Akmal di bawah sana.
"Apa maksud, Paman? Kenapa Paman membelanya? Dia sudah mengejek perusahaan juga aku, Paman," tuding Akmal tanpa menutupi raut tak suka di wajahnya.
Razka tersenyum, hatinya sedikit memaklumi sikap yang ditunjukkan Akmal, tapi juga tidak membenarkan.
Akmal mengernyit bingung, begitu juga dengan Revan. Kedua anak itu terdiam dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Bima, menundukkan wajah dengan mata terpejam.
Apa Ayah bakal ngungkapin siapa gua?
Bergumam dalam hati, tapi pasrah menerima jika memang Razka akan menguak semuanya sekarang juga.
"Apa maksud, Kakak? Siapa yang merendahkan siapa?" Suara Emilia terdengar bingung. Ia datang bersama Fahru dan berkumpul dengan Revan juga Bima.
"Anakmu merendahkan anakku!" ketus Razka yang terlanjur kesal dengan sikap semena-mena Akmal.
Emilia melirik pemuda yang berdiri berdampingan dengan anaknya itu, dahinya mengernyit saat tak mengenali siapa sosok itu. Revan mengulas senyum, ia menarik tangan sang Mamah mendekatkan mereka berdua.
"Juan?" Lisan Emilia bergumam ragu, "apa kau Juan? Ke mana maskermu?" tanyanya lagi dengan gurat bingung yang kentara.
__ADS_1
Kali ini giliran Revan yang bingung.
"Ini Bima, Mamah. Sahabatku waktu kecil dulu. Apa Mamah ingat, aku sering menceritakannya," ucap Revan memberitahu orang tuanya itu.
Baik Emilia maupun Akmal, keduanya membelalak saat mengingat kembali Revan kecil yang setiap hari tak bosan menceritakan tentang seorang anak yang bernama Bima.
Belum sempat berucap, Nasya sudah berlari menghampiri Bima. Ia menarik tangan pemuda itu.
"Kita pulang saja, Kak. Kakak tidak seharusnya bekerja di perusahaan Kakak sendiri apalagi sampai direndahkan seperti tadi. Aku saja yang mendengar sangat kesal," ucap Nasya. Wajah cantik itu terlihat jutek, matanya berkerling tajam. Berputar dengan nyalang pada Akmal yang mematung.
"Apa maksud kalian? Jelaskan kepada kami?" tuntut Emilia yang sudah tak tahan dengan kebingungannya. Ia menatap bergantian ketiga orang itu meminta jawaban untuk rasa bingung yang melandanya.
Begitu pula Fahru, suami Emilia itu pun nampak bingung dengan ucapan Nasya dan Razka. Namun, detik kemudian ia mengerti apa yang dimaksud mereka.
"Jadi ... di-dia, anak Kakak yang hilang?" ucap Fahru terbata-bata. Revan membelalak, terlebih lagi Akmal yang baru saja merendahkannya.
"Apa maksud, Ayah? Kita semua tahu dia adalah anak Dewa yang menggantikan pekerjaan orang tua itu karena sudah tak layak bekerja," ketus Fahru yang berhasil menyulut emosi Bima saat nama Dewa disebut dan direndahkan.
"Jaga mulut lu! Dia Babeh gua, kagak boleh ada yang rendahin Babeh gua. Termasuk lu!" sarkas Bima. Kemarahan yang memuncak terpancar jelas di maniknya yang menghitam. Nasya selalu bergidik melihat Bima yang marah seperti sekarang.
Akmal meneguk ludah, ia gemetar ketakutan. Matanya sudah sering menyaksikan bagaimana pemuda itu saat marah.
Bima melepas tangan Nasya, melangkah perlahan menuruni tiga anak tangga di teras. Sosoknya telah berubah, bagai sang pemangsa yang sedang menunjukkan eksistensinya pada dunia.
"Lu boleh rendahin gua, tapi jangan coba-coba lidah lu itu rendahin Babeh gua! Lu cuma orang asing di hidup gua, kagak tahu gimana hebatnya laki-laki tua yang lu rendahin itu. Jaga lidah lu dari amukan gua!" ucap Bima pelan dan penuh tekanan.
Tangannya yang kekar mencengkeram rahang Akmal dengan kuat, mengangkatnya hingga laki-laki sedikit tambun itu harus berjinjit demi mengurangi rasa sakit pada bagian rahang dan kepalanya.
Emilia histeris, Fahru bingung harus apa. Razka sendiri tak kalah terkejut melihat tindakan Bima yang tiba-tiba. Nasya bersama Revan gegas berlari menghampiri, keduanya tak ingin Bima lepas kendali. Hafal betul, bagaimana rupa pemuda itu ketika amarah tersulut.
__ADS_1