
Senyum secerah sang mentari, langkah ringan berayun, hati bertabur cinta, terpesona dengan kemolekan sang bunga di hadapan. Senyumnya, tawanya, suaranya, semua yang ada padanya melekat erat dalam jiwa.
Ia berdiri menyandarkan tubuh di sebuah batu tak jauh dari tempat sang pujaan melakukan pekerjaannya. Akhir-akhir ini, Khaira sering terlihat di pinggir sungai. Entah apa sebabnya?
Dua orang temannya berpamitan usia menyelesaikan tugas mereka. Tinggallah sang bunga seorang diri menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Suara gesekan kain di atas batu berbaur dengan suara aliran sungai yang beriak. Sungguh, menambah kesan indah untuknya menyatakan cinta.
Revan meniti langkah mendekatkan diri pada sosok yang masih belum menyadari kehadirannya.
"Ekhem!" Ia berdehem tepat di belakang gadis itu mencuci.
Tangan Khaira terjeda, mendongak ke belakang tubuh. Terperenyak ia oleh rasa terkejut karena kehadiran sosok itu yang tak terduga.
"Ka-kau? Kenapa Kakak di sini?" tanyanya terbata seraya membenarkan tampilannya. Ia duduk menunduk, teramat malu karena pakaian yang ia kenakan basah membuat lekuk tubuhnya kentara.
Tangan Khaira sigap mengambil sebuah kain, membungkus tubuhnya sendiri. Itu lebih baik setidaknya kain itu membuat samar lekukan tubuhnya. Ia beranjak memposisikan diri berhadapan dengan laki-laki itu.
"Aku sengaja mendatangimu di sini. Kenapa kau tutupi tubuh seksimu itu, Ara?" Ia mendekat, Khaira mundur menjauh.
"Jangan mendekat!" sergahnya dengan tetap menundukkan wajah enggan berpandangan dengan laki-laki tampan di hadapan. Kedua tangannya mencengkeram erat kain yang ia lilitkan di depan tubuh.
"Kenapa? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Aku akan ke rumahmu sekarang ini, mendatangi Ibumu untuk melamar anak gadisnya yang cantik jelita ini," ucap Revan yang lagi-lagi maju ke depan.
Khaira sigap mundur beberapa langkah semakin menjauhi sosoknya. Setiap kali Revan datang, setiap itu juga hatinya berharap Bima akan muncul dan menegaskan perasaannya. Namun, laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya itu, tak kunjung muncul sesuai harapan.
"Bukankah aku sudah katakan bahwa seseorang telah melamarku. Aku sedang menunggunya saat ini. Maaf, Kak. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu pada Kakak. Jangan lagi mengharapkan aku karena aku sudah menjadi milik orang, Kak. Aku tidak ingin dia salah faham dan merusak hubungan kami. Tolong, mengertilah!" mohon Khaira dengan sangat.
Wajahnya tak berani ia angkat, tak ingin bersitatap dengan sosoknya. Berharap dalam hati laki-laki itu akan segera pergi dan tak datang lagi.
__ADS_1
Senyum itu raib dari wajahnya, seri telah hilang bersama hati yang patah. Cintanya tetap tertolak, bertepuk sebelah tangan. Siapa sebenarnya sosok yang dia tunggu?
"Aku akan pergi jika kau mengatakan siapa laki-laki itu, Ara? Bagaimana dirinya dan kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku yang sering mengunjungimu? Katakan, Ara! Katakan siapa dia?" tuntut Revan dengan mata menyalang tajam.
Dalam hati ingin ia mengungkapkan siapa laki-laki yang dimaksudnya itu, tapi mengingat Bima yang belum pernah mengatakan perasaannya, tidak juga menolak kehadirannya, membuatnya ragu. Kecuali, dia telah menegaskan sendiri bagaimana posisinya.
"Aku tidak bisa mengatakannya, maaf. Yang pasti dia laki-laki yang telah lama ada di hatiku jauh sebelum Kakak datang. Aku telah berjanji padanya akan menunggu dia datang ke rumah. Jadi tolong, jangan menuntut apapun dariku. Lupakan aku, pertemuan kita hanyalah sebuah kebetulan yang sekilas saja. Kita tidak bisa bersama, Kak," ungkap Khaira sedikit mengangkat wajah menegaskan lewat sorot mata akan ucapannya yang tidak main-main.
Jawaban yang diberikan Khaira tak sesuai dengan apa yang diinginkan hatinya. Ia menggeleng, menolak alasan Khaira. Ia pikir gadis itu hanya sedang beralasan karena tak ingin menerimanya sebagai kekasih.
Revan melangkah, bunga yang digenggamnya ia lempar ke sembarang arah.
"Berhenti di sana, Kak! Cukup! Jangan mendekat lagi!" seru Khaira yang mulai panik. Ia berjalan mundur sesekali menoleh ke belakang khawatir tersandung batu.
Revan menarik tangannya dengan kasar, meronta gadis itu saat kedua tangan kekar mengerat di tubuhnya.
"Kau harus menjadi milikku. Apapun akan aku lakukan untuk bisa memilikimu seutuhnya. Menurutlah, Ara. Kita lakukan dengan pelan!" ucap Revan memberikan seringai bagai sang pemangsa yang siap mencabik buruannya.
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Lepaskan aku! Lepaskan aku, brengsek!" teriak Ara semakin berani.
Revan tertawa terbahak, tapi pelukannya semakin kuat. Air mata Khaira berjatuhan tak terkendali. Meronta dan merintih, memohon meminta dilepaskan. Akan tetapi, laki-laki itu seperti kerasukan telinganya tuli tak dapat mendengar.
"Tolong! Lepaskan aku! Siapa saja, tolong aku!" jerit sang bunga dengan isak tangis semakin menggema.
"Tak akan pernah aku lepaskan. Tenanglah! Kita akan melakukannya dengan pelan," katanya lagi. Ia mulai lancang, mencoba mendapatkan benda ranum di wajahnya, tapi gadis itu menolak keras tak ingin ia menyentuhnya.
"Argh!"
__ADS_1
"Sial!"
Revan mengumpat ketika cairan amis merembes di atas lidah. Khaira menggigit bibirnya kuat-kuat dan berhasil melepaskan pagutan yang ia lakukan. Revan yang telah dikuasai nafsu itu, melempar kasar kain yang melilit tubuh Kharia. Ia mendorong tubuh gadis tak berdaya itu hingga membentur batu besar.
Lagi-lagi, berbuat lancang menyusuri setiap ceruk miliknya.
"Jangan lakukan ini, kumohon! Jangan!" rintih Khaira sembari menahan wajah Revan menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa kau selalu menolakku? Kenapa kau lebih memilih laki-laki tak jelas itu dari pada aku?" bentak Revan sedikit menjauhkan wajah. Ia menarik tangan Kharia menjauhkannya dari wajah. Kembali menyerang tanpa belas kasihan.
"Kakak! Tolong aku!" Ia kembali menjerit. Menangis histeris. Kakinya menghentak-hentak, tangan meronta-ronta. Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat membentur batu besar.
"Panggil dia! Mintalah tolong padanya! Aku akan membuktikan padanya bahwa kau akan menjadi milikku seutuhnya!" Revan bukan lagi dirinya, entah seperti apa dia saat ini. Sosoknya telah berganti dengan iblis tak berhati.
"Berteriaklah, Ara! Berteriaklah sekencang mungkin, panggil dia untuk menolongmu!" ucapnya lagi.
Ia pandangi wajah yang dipenuhi derai air mata itu, napasnya memburu tak terkendali. Gejolak dalam tubuhnya semakin bergelora menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan tepat di depan mata.
"Tolong! Jangan lakukan ini padaku. Lepaskan aku. Jangan lakukan ini padaku. Kumohon!" pinta Ara dengan pelan. Isak tangisnya terdengar pilu, air mata yang mengucur tak berujung.
Sekilas Revan merasa kasihan, akal sehatnya tidak membenarkan apa yang dia lakukan saat ini. Namun, nafsu yang meraja, lebih kuat dan menguasai akal pikirannya.
"Tidak! Kali ini aku tidak akan melepaskanmu! Aku tidak akan mengalah. Tenanglah, Ara. Aku akan menikahimu setelah ini, aku berjanji," ucapnya memberikan belaian lembut di pipi gadis itu.
"Tidak! Kumohon, jangan!" pinta Ara tersedu-sedan. Revan kembali melancarkan serangan kali ini lebih lembut.
"Lepas, sialan!" Ara semakin gencar melawan. Membuat Revan menjadi berang. Ia semakin kasar dan tak berperasaan.
__ADS_1
"LANCANG!"