
Hening menyelimuti keduanya. Gadis yang sudah gugup sejak kedatangannya ke ruangan itu, kini dirundung gelisah. Pasalnya, Razka terdiam cukup lama tanpa tahu kapan akan memulai lagi percakapan.
Ia menunduk, menghindari tatapan sang majikan yang terus tertuju ke arahnya. Remasan tangan di ujung pakaian semakin menguat ketika ia menjatuhkan pandang padanya.
Hatinya mewanti-wanti sebenarnya apa yang ingin dikatakan Razka? Kenapa sedari tadi terus berputar pada sosok Bima.
Razka berdehem, sekonyong-konyong Khaira memejamkan mata karena rasa terkejutnya. Masih menunggu dengan kepala yang semakin merunduk.
"Kau tahu siapa orang tuanya ... aku melihat ketertarikan di matamu terhadap pemuda itu. Kau tak apa hidup secara sederhana jika menikah dengannya kelak?" tanya Razka setelah sekian lama terdiam.
Kenapa pertanyaannya mengarah pada hal pribadi? Apa perlu aku jawab? Siapa sebenarnya laki-laki ini?
Khaira memberanikan diri mengangkat wajah, menatap teduh manik kelam menghujam di hadapannya. Bukan rasa takut ataupun cemas yang ia perlihatkan, tapi tekad yang kuat terpancar dari sinar mata miliknya.
"Kenapa Tuan membahas soal pribadi saya? Saya menyukai Kak Bima ataupun tidak, menurut saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan karena saya bisa pastikan hubungan kami tak akan menganggu kerja saya," tegas Khaira.
Razka tersenyum, dari jawabannya ia sudah bisa menyimpulkan bahwa gadis itu tak tahu soal Bima yang sesungguhnya. Dari pancaran biji manik itu, ia melihat kesungguhan dan ketulusan terhadap apa yang ia rasakan untuk Bima.
Kau tidak salah pilih, Nak. Gadis ini tulus mencintaimu. Ayah merestui kalian.
"Kau benar, ini bukan lagi soal pekerjaan. Baiklah, karena saya sudah mendapatkan jawabannya kau boleh kembali bekerja. Hati-hati pada karyawan laki-laki di sini karena pemuda yang mengantarmu bisa saja mematahkan tulang-tulangnya," ingat Razka dengan senyum aneh terlihat di mata Khaira.
"Baik, Tuan. Terima kasih," sahutnya merasa lega. Gegas ia beranjak dan meninggalkan ruangan Razka. Laki-laki yang tak lagi muda itu terkekeh selepas pintu tertutup. Ini akan menjadi kejutan untuknya saat Bima melakukan lamaran resmi kelak.
"Gadis yang manis, dan dia calon menantuku. Kau hebat, anakku!" pujinya dengan pandangan mengawang pada langit-langit ruangan seolah-olah di sana ada Bima yang sedang tersenyum bangga ke arahnya.
__ADS_1
Khaira melepas napas sepanjang-panjangnya setelah ia berada di luar ruangan Razka. Tangannya memegangi dada bagian kiri yang tak berhenti berdegup kuat. Menghentak-hentak rusuknya menimbulkan sedikit sesak.
Ia mengangkat wajah yang tertunduk, berjalan pelan meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tak lupa merapikan pakaian yang sedikit kusut akibat remasan tangannya tadi. Kembali memulai pekerjaannya, mengambil piring-piring dan gelas bekas makan para pengunjung. Mengelap meja-meja yang tercecer makanan juga minuman, merapikannya berikut kursi yang keluar dari meja.
Razka tersenyum dari balik tirai ruangannya. Melihatnya melakukan pekerjaan itu, teringat pada Aisyah disaat ia berjualan sosis bakar. Bersama merapikan meja dan kursi juga tempat panggangan. Saling melempar senyum, mencintai dalam diam.
"Aisy, dia persis sepertimu. Lihat! Aku melihat sosokmu ada padanya. Aku merindukanmu, Aisy. Apa kau baik-baik saja di sana? Sudah lama aku tidak mengunjungimu. Kau rindu padaku? Aku akan datang berkunjung," katanya.
Ia keluar dan berbicara singkat dengan managernya. Terus berjalan keluar restoran dan masuk ke dalam mobil. Ia akan mengunjungi Aisyah, juga Mamah dan Papah, Kakek dan Nenek di pemakaman keluarga, di belakang rumah besar yang ditempati Emilia.
Sementara di rumah, Bima baru saja tiba mengantarkan Nasya. Ia tak berniat singgah dan segera pergi ke rumah Dewa melihat keadaan mereka.
Orang tua itu masih sama, duduk di teras berdua menunggu kepulangannya. Keduanya tersenyum saat mendengar suara deru mobil di halaman. Anaknya pulang. Ia tak lupa jalan pulang.
Bima mengulas senyum saat melihat keduanya baik-baik saja. Ia mendatangi mereka yang sigap berdiri menyambut kedatangannya, memeluk dan mencium pipi mereka penuh kerinduan.
Ke mana Bima yang sangar tadi? Sekarang dia menjadi kucing yang manja lagi imut di hadapan keduanya.
"Nyak juga kangen ama lu, Tong. Nyak pikir lu bakal lama tinggal di sana," sambut Tina sembari menggandeng Bima memasuki rumah diikuti Dewa yang menyusul di belakang.
"Lu kangen kagak ama si jagur?" tanya Dewa sambil membuka kain yang menutupi motor Bima di ruang tengah rumah.
"Ah ... sohib gua! Kangen gua ama lu." Bima berhambur memeluk sahabatnya, mengelus badan kuda besi itu sambil menciuminya.
"Kemaren orang bengkel yang anter, Ayah lu yang bayar servisnya. Sekarang dia udah sembuh, udah siap lu ajak keliling lagi. Asal kagak balap-balapan," ungkap Dewa memberitahu Bima perihal kedatangan motor tersebut.
__ADS_1
Bima tersenyum, ia melepas pelukannya dan berganti memeluk Dewa.
"Makasih, Beh. Bima udah kagak tertarik balap-balapan, Beh. Makasih," tuturnya penuh haru. Lengkap rasanya hari ini, bisa memberikan pekerjaan pada Khaira, menyelamatkan Nasya tepat waktu, dan kembalinya motor legenda ke rumah.
"Udah, lu mandi Sono! Baru pulang kuliah, pan, lu. Keringetan," titah Tina mengusap punggung Bima yang dipenuhi keringat. Itu karena dia baru saja menghajar orang, Nyak.
"Siap!" Bima bergegas ke kamarnya, melempar tas dan menyambar handuk. Masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Malam nanti ia akan menjemput Khaira di restoran. Ia tak akan membiarkan gadis itu pulang pergi seorang diri.
"Makan dulu, Tong. Lu mau ke mana? Udah rapi aja," ajak Tina saat melihat Bima keluar kamar dengan pakaian yang rapi.
"Bima mau jemput Ara, Nyak. Dia kerja di restoran Ayah," katanya sambil duduk dan mengambil makanan.
"Ara? Gadis cantik yang sering datang ke rumah sakit waktu Babeh lu sakit itu?" Bima mengangguk menjawab pertanyaan Tina.
"Romannya ada benih-benih cinta nih." Dewa memainkan alis pada istrinya.
"Elah, Bang. Anak kita udah gede kallee ... bentaran lagi kita bakal punya mantu. Asik bener, dah, gua jadi ada temennya," timpal Tina. Wajahnya berbinar membayangkan hari-harinya akan ditemani sang menantu.
"Duh, Nyak ama Babeh. Bima nunggu Kak Ayra dulu nikah. Bima juga belum kerja, mau dikasih makan apa anak orang?" ucap Bima sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Lah? Pan, lu udah kerja jadi supir. Berenti lu? Apa lu mau duduk di dalem kantornya aja? Enak itu, adem. Pasti pake AC di dalemnya," sambar Tina dengan cepat.
"Iya, sih, Nyak. Bima sekarang emang kerja, tapi Bima pengen buka usaha sendiri biarpun kecil-kecilan. Kagak bergantung terus ama orang," ucap Bima dengan yakin.
"Emang lu mau usaha apa?" Dewa bertanya.
__ADS_1
"Buka bengkel, Beh," katanya. Tina dan Dewa saling memandang satu sama lain.