Bima

Bima
Part. 107


__ADS_3

Malam menggembirakan itu membuat hati semua orang turut merasakan kebahagiaan. Berbagai celoteh ringan mengandung kisah riang gembira. Mereka yang dahulu masih kanak-kanak, masih merengek meminta uang jajan. Sekarang, semua telah beranjak dewasa.


Dewa dan Tina duduk bersama semua orang tua. Mereka diterima dengan baik di keluarga besar itu. Melihat bagaimana sosok Bima yang begitu mengagumkan dibawah asuhan keduanya, membuat pandangan semua orang berbeda.


Keduanya layak dihormati, layak dihargai sebagai orang tua yang sukses mendidik anak. Semua orang mengakui itu.


Di belahan tempat duduk lain, Bima bersama anak-anak mereka. Berkenalan dan saling bertukar cerita. Celoteh menggelikan tentang Akmal dan Farel yang sering berebut perhatian Ayra, juga kisah sang Kakak yang selalu menempel pada calon suaminya.


Di antara mereka, sepasang mata tak lepas memperhatikan bintang baru dalam perkumpulan itu. Bibirnya tersenyum tipis, hatinya mengagumi. Ia terpesona dan terhanyut dalam pesona seorang Bima.


"Bagaimana denganmu sendiri, Bima? Apa ada seorang gadis yang berhasil mencuri hatimu? Kau tampan pastinya banyak wanita yang menginginkan dirimu," celetuk Farel. Pemuda itu mudah akrab meski baru pertama kali bertemu.


"Ah, aku tidak tahu. Satu-satunya wanita yang berhasil mencuri perhatianku hanyalah dia. Ini, gadis kecil manja yang terus saja menangis saat terjatuh di pintu pasar," sahut Bima sambil memeluk Nasya dan mengecup kepalanya gemas.


Pemilik sepasang mata itu, memanas. Ia terbakar api cemburu, merasa iri pada Nasya karena menjadi yang spesial di hati lelaki pujaannya. Senyumnya memudar berganti bibir yang cemberut. Namun, tak ada yang memperhatikan. Semua orang sibuk tertawa mendengar cerita-cerita.


"Beruntung aku bertemu Kakak. Pantas saja waktu itu aku merasa dekat dengan Kakak, ternyata kita memang lebih dekat dari apa yang aku pikirkan saat itu," sahut Nasya sembari melingkarkan tangan di pinggang Bima. Sikap manjanya semakin membakar hati pemilik sepasang mata yang mengagumi sosok Bima itu.


"Lucy? Kau mau ke mana?" tegur Briant pada adiknya yang tiba-tiba beranjak.


"Ah, aku mau ke toilet, Kak," jawabnya gugup. Ia salah tingkah ketika pandang Briant mencurigainya. Cepat-cepat wajahnya berpaling dan berjalan meninggalkan perkumpulan.

__ADS_1


"Ada apa?" bisik Ayra sembari melirik punggung Lucy yang kian menjauh. Laki-laki di sampingnya hanya mengangkat bahu tak tahu, tapi hatinya sedang menilai.


"Pak Dewa dan Bu Tina adalah orang tua hebat, meski tahu Bima bukanlah anak kalian, tapi kalian tetap menyayanginya juga mendidiknya dengan baik. Entah, kata apa yang pas untuk kami ucapkan atas semua yang telah kalian berikan," ungkap Mega mengagumi sosok kedua lansia yang tanpa pamrih menunjukkan cinta dan kasih sayang pada anak yang mereka temukan.


"Semua itu karena kami sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi orang tua. Takdir yang tak disengaja itu, membuat kami dapat merasakan bagaimana menjadi orang tua seperti yang lainnya. Itu hanya ungkapan rasa syukur kami kepada Allah Yang Maha Baik. Tak akan lagi ada kesempatan seperti itu, bukan? Jadi, saya dan suami merawatnya seperti anak kami sendiri," sahut Tina dengan segala kerendahan hatinya.


Semua orang menganggukkan kepala, mengerti apa yang baru saja diucapkan Tina. Perbincangan para orang tua hanya membahas seputar Bima dan Bima. Bima diwaktu kecil, Bima di sekolah, dan Bima di masa kini.


"Oya, Pak, aku pernah melihat Bima bersama seorang gadis saat Bapak dirawat di rumah sakit? Kupikir dia adiknya Bima, anak kalian mungkin?" tanya Razka disaat mengingat Bima yang merangkul bahu seorang gadis di lorong rumah sakit pada waktu itu.


"Oh, itu ... dia Ara. Teman Bima, bukan anak kami. Dia datang menjenguk waktu itu," jawab Dewa yang tak lupa dengan kedatangan gadis itu ke ruangannya. Ara juga rajin mengantar sarapan setiap pagi selama ia di rumah sakit. Gadis cantik dan manis, lugu juga polos. Dewa dan Tina terpikat pada ketulusan hatinya.


Acara bincang-bincang dilanjutkan dengan makan malam. Sebuah keluarga besar ditambah tiga orang anggota semakin meluas persaudaraan mereka.


"Bima, sekali-kali lu nginep di rumah Ibu lu. Kasian, dia juga mau lu tidur di rumahnya. Nyak kagak apa-apa, kok. Iya, 'kan, Bang?" bisik Tina di telinga Bima di saat mereka semua berjalan ke parkiran. Acara telah selesai, semua orang akan kembali ke rumah masing-masing.


"Apa Nyak ama Babeh kagak apa-apa Bima tinggalin. Kagak kesepian gitu kagak ada Bima? Atau, Nyak udah kagak mau Bima tinggal di rumah Nyak lagi?" Ia memasang wajah menyedihkan, kedua mata berkaca, pandai betul dia berakting.


"Haih!" Tina memukul lengan Bima sedikit kuat. Gemas melihat sikapnya yang selalu menggoda.


"Nyak udah bilang kalo Nyak kagak apa-apa. Mereka, 'kan, orang tua lu. Jadi wajar aja kalo lu sekali-kali nginep di rumah mereka biar lu makin deket ama orang tua kandung lu," sungut Tina terlihat sedih.

__ADS_1


Bima memeluknya, dikecupnya kepala wanita tua itu dengan segenap hati. Dewa yang berjalan di belakang mereka, menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


"Iya, iya, Bima faham. Udah, Nyak kagak usah cemberut lagi. Entar cantiknya ilang, loh. Terus Babeh jadi sedih," godanya lagi yang berhasil membentuk senyum di bibir Tina, "Bima anter Nyak ama Babeh dulu sampe rumah. Baru abis itu pergi ke rumah Ayah." Wanita luar biasa itu mengangguk setuju.


Mereka berpisah ke tujuan masing-masing. Pembahasan tentang Bima masih berlanjut, mereka perbincangkan dengan keluarga masing-masing. Betapa mereka mengagumi sosoknya, pun dengan kedua orang tua yang mengasuhnya.


"Lucy? Ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi Kakak melihat wajahmu murung begitu, kau juga diam saja. Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Briant dalam perjalanan pulang. Diliriknya Lucy yang menunduk, gadis itu menggelengkan kepala dan melayangkan senyuman untuk kakaknya itu.


Kembali pada Bima yang mengantar Dewa dan Tina ke rumah. Memastikan kedua orang tua itu sampai dengan selamat. Malam itu, dia akan menginap di rumah Razka. Ia gugup karena ini pertama kalinya akan tidur di rumah mereka.


Sementara di rumah Razka, semua telah masuk ke kamar masing-masing. Ayra terbaring dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Membayang di pelupuk mata wajah Briant yang dipenuhi cinta sore tadi. Ia tersenyum, berguling tertawa sendiri, pada akhirnya dialah ratu di hati laki-laki tersebut.


Tok-tok-tok!


Lamunan Ayra terhenti, dengan riang ia melangkah menuju pintu utama. Tertegun dirinya disaat melihat Bima yang berdiri dengan senyum tersemat, di teras dengan sebuah tas di tangan.


"Baim? Kau ...?"


"Aku mau menginap, Kak. Apa aku diizinkan masuk dan tidur di rumah ini?" tanya Bima penuh harap. Senyumnya sedikit mengiba agar Ayra segera memintanya masuk. Ia lelah, ingin segara berbaring meluruskan tubuhnya.


"Kau ini ... masuk! Kakak tunjukkan kamarmu!"

__ADS_1


__ADS_2