Bima

Bima
Part. 94


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, keadaan Bima semakin membaik. Namun, baik Tina maupun Aulia, tidak mengizinkannya untuk bepergian sampai dia benar-benar pulih. Hidupnya benar-benar membosankan sekarang, kebebasan yang dulu dia miliki harus terenggut karena dua wanita itu selalu berada di dekatnya.


Meskipun Bima kembali ke rumah Dewa dan Tina, Aulia setiap hari datang bahkan terkadang menginap dan tidur bersama putranya itu. Memiliki dua Ibu, ada senangnya juga ada tak enaknya. Ia bosan, ingin berkeliaran di luar atau bahkan sekedar bekerja dan bertemu dengan sahabatnya, Revan. Tetap saja, Aulia paling keras melarang Bima untuk pergi keluar.


"Bima bosen, Beh. Bima pengen maen, kaki Bima juga udah kagak sakit buat jalan, tapi Nyak sama Ibu kagak bolehin Bima keluar. Babeh tolongin Bima ngapa, Beh? Cariin alesan apa, kek," keluh Bima kepada Dewa yang menemaninya di halaman belakang saat ini.


Sementara kedua wanita di dalam, asik memasak berbagai menu sambil bercerita ini dan itu. Cepat sekali akrab, Aulia bahkan memanggil Kakak pada Tina karena merasa lebih muda usianya.


"Yah, gimana? Emang mereka keterlaluan ngekang lu kaya gini, tapi Babeh juga kagak bisa ngapa-ngapain. Lu tau ndiri, pan, Nyak lu bakal melotot ama Babeh klo minta izin bawa lu keluar," sahut Dewa diam-diam melirik keduanya dari pintu belakang.


Khawatir kedua wanita itu akan mendengar, dan melabrak dirinya. Bima menghela napas, kedua bahunya turun, lesu sudah. Berbagai cara telah ia lakukan bahkan melompat di depan keduanya pernah ia lakukan, tapi sayang kakinya saat itu memang masih terasa sakit. Jadilah, keduanya murka dan berceloteh panjang lebar.


"Assalamualaikum!" Suara Razka dan Nasya terdengar.


"Wa'alaikumussalaam!" Dua wanita penguasa Bima menyahut dengan kompak.


"Nah, Ayah lu tuh. Coba lu ngomong ama dia, siapa tahu bakal diizinin," saran Dewa. Bima tersenyum sumringah, matahari yang sempat meredup di wajah, kini nampak bersinar cerah.


"Babeh bener, kalo gitu Bima nemuin Ayah dulu," katanya semangat. Dewa mengangguk, ia terkekeh ingin melihat Razka meminta izin istrinya yang over protective menjaga Bima. Ia menumpuk kedua kaki ... ah, terlupa jika ia sudah tak lagi merokok. Hampa terasa hidup yang ia jalani saat ini tanpa sahabat karibnya itu.


"Baim! Jangan berlarian, kakimu belum pulih benar, sayang!" tegur Aulia ketika melihat Bima yang lari berjinjit-jinjit di sebelah kaki melintasi dapur.


Bima tak acuh, tetap berlari sambil menahan ngilu di kaki kanan. Berhambur menyambut sang Ayah dengan wajah secerah mentari pagi.


"Ayah! Beruntung Ayah datang!" serunya dengan cepat menyambar tangan Razka dan menarik laki-laki yang masih terkesima bingung ke kamar.

__ADS_1


Nasya buru-buru berlari tak ingin tertinggal melihat tingkah aneh sang Kakak.


"Ngapain lu ngikut masuk ke kamar?" sungut Bima melihat Nasya yang langsung duduk di kursi belajarnya. Ia hanya mengangkat bahu tak acuh, sambil memutar kursi memeriksa buku-buku Bima.


"Awas lu bilang-bilang ama Nyak ama Ibu!" ancamnya disambut hendikan bahu oleh adiknya itu.


Razka menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya itu. Ia menatap Bima masih dengan raut bingung dengan sikap sang putra.


"Ada apa? Kenapa kau menarik Ayah ke kamar?" tanyanya sembari duduk di atas ranjang single milik Bima. Kamar yang tidak luas, tapi cukup rapi dan nyaman membuat Razka betah berlama-lama dalam ruangan. Tak ada AC, tapi ruangan cukup sejuk karena hembusan angin alami dari jendela yang sengaja dibuka.


"Ayah, seperti yang Ayah tahu bahwa Ibu dan Nyak melarang Bima untuk keluar. Bima bosan, Yah. Bima ingin melihat dunia luar, Bima sudah sembuh, Ayah. Tolong, katakan pada Ibu dan mintakan izin pada Nyak juga buat bawa Bima keluar sekedar berjalan-jalan. Ayah, please!" mohon pemuda itu dengan wajah menggemaskan. Hampir Razka tersedak tawanya sendiri, tapi ia menahan diri untuk tidak melakukannya.


Kedua tangannya yang hangat memegangi lengan Razka. Sedikit meremasnya menekankan keinginan. Razka tersenyum, ditatapnya manik kelam yang sama menghanyutkan dengan miliknya sendiri itu. Ada keinginan yang kuat, persis seperti dirinya saat muda dulu.


"Ayah akan coba membicarakannya dengan Ibumu, kau tenang saja. Ayah akan mengajakmu berkeliling karena mungkin hanya itu yang akan diizinkan oleh mereka," katanya. Bima mengangguk cepat. Tak apa, yang penting dia keluar dari kandang.


Di rumah besar Emilia, Akmal telah kembali dari luar kota. Ia tak menyangka, Revan telah kembali di rumah itu. Beberapa hari sebelum Bima pulang dari rumah sakit, Razka mencabut laporan dan membebaskan Revan dari hukuman sesuai keinginan Bima.


"Revan? Sejak kapan kau di rumah? Dan kenapa wajahmu itu nampak lesu?" tanya Akmal seraya duduk di kursi dan menikmati sarapannya. Ada Emilia juga Fahru di sana, wajah wanita di hadapan mereka masih terlihat kesal.


Revan tak menyahut, ia lanjut memakan sarapan tanpa peduli pada Kakaknya itu.


"Bagaimana pekerjaanmu, Nak? Apa masalah di sana sudah diatasi?" tanya Fahru mengalihkan pertanyaan Akmal pada Revan.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar tanpa kendala dan sudah dapat diselesaikan dengan baik lagi sempurna," sahutnya dengan bangga.

__ADS_1


Fahru tersenyum puas mendengar jawaban Akmal. Putra sulungnya itu memang bisa diandalkan.


"Revan, kudengar kau menabrak seseorang? Kenapa kau ceroboh sekali? Apa kau mabuk saat mengemudi?" cecar Akmal sambil mengunyah makanannya.


Revan mendengus, dugaan Akmal tepat sekali. Emilia melirik tajam pada putra bungsunya itu. Amarah yang ditahannya, kembali meluap tak terkendali.


"Revan hanya tak sabar ingin bertemu Mamah kalian, dia terlalu rindu padanya hingga mengemudi terburu-buru, sedangkan jalanan licin bekas hujan. Yang penting sekarang, semuanya sudah selesai," jelas Fahru menutupi keadaan Revan yang saat itu memang mabuk. Ia melirik putra keduanya yang terdiam tiba-tiba.


"Oh ... syukurlah. Lain kali mengemudilah dengan hati-hati. Kita tak pernah tahu akan terjadi apa di jalanan. Kakak saja selalu membawa supir ke mana pun Kakak pergi," nasihat sang Kakak yang disambut dengusan kesal oleh pemuda itu.


Keempatnya menghening, melanjutkan makan mereka tanpa kata terucap. Sampai Akmal mengingat sesuatu ... sesuatu yang selama di luar kota menjadi beban pikirannya. Mengganjal di hati, memenuhi ruang dada dengan segala kecemasan dan kegelisahan.


"Mmm ... Papah!" panggilnya terjeda. Ia yang masih menunduk saat Emilia dan Fahru menoleh, perlahan mengangkat wajah memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang cemas.


Sepasang suami istri itu mengernyitkan dahi bingung dengan kegelisahan yang nampak di wajah sang putra sulung.


"Ada apa, Nak?" tanya Fahru mendesak.


"Mmm ... kudengar anak laki-laki Paman Razka yang hilang telah ditemukan, apa benar, Papah?" Bertanya dengan hati-hati.


"Benar," jawab Fahru sambil mengangguk. Akmal menghembuskan napas berat, kegelisahan dalam dadanya semakin meraja.


"Jika begitu, posisiku sebagai pemimpin tertinggi di perusahaan Pratama akan lengser dan digantikan olehnya, betul begitu?"


Ketegangan seketika menguasai ruangan mereka berada. Entah apa yang dipikirkan Akmal saat ini?

__ADS_1


__ADS_2