
"Nyak, udah kagak usah nangis lagi. Bima kagak ngapa-ngapa, kok. Bentaran lagi juga sembuh," ucap Bima menenangkan Tina yang kembali menangis selepas kepergian semua orang.
"Iya, Tin. Yang penting, 'kan, anak kita udah kagak kenapa-napa. Kita doain aja semoga cepet sembuh, biar bisa cepet balik," timpal Dewa yang ikut menenangkan istrinya.
Bima melirik laki-laki tua yang berdiri di belakang wanita itu, tangannya memijit-mijit pundak sang istri menyalurkan ketenangan hati untuknya.
"Coba lu ceritain gimana tadinya bisa kaya gini?" pinta Dewa yang sedikit beranjak dari posisinya berdiri mendekati Bima.
Pemuda itu termenung, mengingat kembali kejadian naas yang menimpanya siang tadi. Ia menghela napas, rasanya tak percaya saja kenapa bisa sampai seperti itu. Tina meredakan tangisnya, ingin mendengar cerita sang anak tentang kronologi kejadian tabrakan yang menimpa dirinya.
"Waktu itu, Bima udah mau nyampe ke rumah Ayah. Bima lihat Ibu di pinggir jalan kaya orang bingung, linglung kaya gitu. Jalan kagak liat kanan kiri. Bima liat ada motor yang kenceng banget kaya sengaja mau nabrak Ibu. Ga mikir dah nyebrang aja taunya ada mobil," tutur Bima dengan pelan sambil meraba ingatannya sendiri.
Dewa manggut-manggut mengerti, ia nampak berpikir mencerna cerita Bima tadi.
"Mungkin kagak ada orang yang sengaja pengen nabrak Ibu lu, Tong? Ini, sih, cuma pikiran Babeh yang curiga aja ama tu orang," sahut Dewa berspekulasi.
Tina memandang suaminya, tangis wanita itu sudah mereda sejak Bima memulai kisahnya. Bima sendiri terdiam, ia tak berpikir sampai ke sana.
"Bima kagak tahu, Beh, tapi emang motor itu datangnya tiba-tiba. Masih untung Ibu denger suara Bima, jadi bisa ngehindarin tu motor," ungkap Bima lagi. Dahinya berkerut nampak berpikir.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka sekaligus menjeda bincang-bincang yang mereka lakukan.
"Bentar, Babeh liat dulu!" Dewa bergegas mendatangi pintu. Membukanya perlahan, ia sempat terkejut sebentar sebelum tersenyum dan mempersilahkan masuk tamunya.
"Tu-tuan Besar! Mari, silahkan masuk!" ucap Dewa dengan riang gembira. Ia pikir, Tuannya itu ingin menjenguk Bima karena bagaimanapun pemuda itu adalah pekerjanya.
__ADS_1
Laki-laki yang bertamu ke ruangan Bima itu tak kalah terkejut, ia berjengit. Terkesima dan diam cukup lama. Menatap Dewa dengan mata yang membulat sempurna sebelum menyadari sesuatu.
Ia tertunduk, perasaan bersalah dan malu menyelubungi hatinya saat ini. Rasanya terlalu malu untuk bertemu dengan korban sang anak di ruangan itu. Namun, ia harus kembali pada tujuan awalnya bertemu dengan pemuda yang ditabrak anaknya itu.
Ia mengangkat wajah, menatap Dewa dengan pancaran mata yang dipenuhi rasa bersalah dan sesal yang mendalam.
"Pak Dewa? Kenapa Bapak ada di ruangan ini? Siapa yang sakit?" tanyanya berharap apa yang dia pikirkan tidak sama dengan kenyataan yang akan dia hadapi.
"Oh, anu, Tuan. Anak saya tadi siang ditabrak orang. Mari, Tuan, silahkan masuk?" jawab Dewa tetap dengan senyum karena yang ada di pikirannya saat ini adalah perhatian dari sang majikan.
Jadi yang ditabrak anak itu adalah Juan? Kebetulan yang luar biasa.
Ia bergumam dalam hati, tersenyum segan pada Dewa yang menyambutnya ramah. Mungkin jika laki-laki tua itu tahu siapa yang menabrak anaknya, rasanya tak mungkin dia akan seramah ini dalam menyambut kedatangannya.
Ia mengikuti langkah Dewa memasuki ruangan Bima. Pemuda itu, tersenyum saat melihat sang majikan datang menjenguk.
"Alhamdulillah, Tuan, Allah masih menyelamatkan saya. Hanya kaki saja yang cedera tidak yang lain," sahut Bima dengan rasa syukur yang dalam jelas terlihat, "terima kasih, Tuan mau repot menjenguk saya di sini," sambung Bima lagi semakin membuatnya merasa bersalah.
Ia menarik napas dalam dan panjang sambil membuang pandangan dari pemuda itu, wajah yang hampir tua miliknya nampak dipenuhi rasa sesal saat menatap Bima. Mengenryit dahi pemuda itu.
"Juan, maafkan saya. Saya datang ke rumah sakit ini untuk melihat kondisi pemuda yang menjadi korban tabrakan tadi siang. Saya benar-benar tak menyangka jika korbannya itu adalah kau. Tolong maafkan saya, Juan." Ia beralih pada Dewa dan Tina, menatap kedua lansia itu yang terdiam tak mengerti.
"Ibu, Bapak, saya juga minta atas kejadian yang menimpa Juan. Saya benar-benar tidak tahu jika korbannya adalah pekerja saya sendiri yang tak lain anak Bapak Dewa," ungkapnya lagi semakin membuat bingung mereka bertiga.
Laki-laki paruh baya itu kembali memutar pandangan, menjatuhkannya pada Bima yang terdiam dengan kebingungannya. Helaan napas kembali terdengar berat, seolah sedang menumpahkan luapan emosi yang menumpuk di benak.
"Sebenarnya yang menabrak motormu itu adalah anak saya, Juan. Revan, dia baru saja datang dari luar negeri dan tak sabar ingin bertemu dengan ibunya hingga mengemudi dengan kecepatan tinggi dan membuatnya hilang kendali. Tolong maafkan anak saya, tapi kalian tenang saja saya yang akan menanggung semua biaya selama Juan dirawat di rumah sakit ini," ungkap laki-laki yang tak lain adalah Fahru itu.
__ADS_1
Baik Bima maupun Dewa, keduanya sama-sama melongo tak percaya. Sedangkan Tina, terdiam dengan menahan geram. Siapapun dia, tetap bersalah dan harus bertanggungjawab.
"Maaf, Tuan. Saya tidak peduli siapa yang telah menabrak anak saya. Tetap saja dia harus dihukum karena kesalahannya, dan untuk masalah biaya ... semua sudah selesai, Ayah anak saya sendiri yang membayar semuanya," tukas Tina dengan kesal yang tak ia sembunyikan.
Dalam hati, Dewa setuju dengan apa yang dikatakan istrinya. Mungkin Tina lupa bahwa Bima dan Revan adalah teman, dan anak itu sering bermain di rumahnya saat kecil dulu.
"Nyak, Revan itu temannya Bima. Apa Nyak lupa waktu kecil dulu dia sering main ke rumah dan bilang pengen makan masakan Nyak. Nyak inget kagak?" sela Bima mengingatkan wanita tua itu siapa Revan.
"Gua kagak peduli, mau dia temen lu mau dia siapa, kek, gua kagak peduli. Dia kudu tetep dihukum karena udah bikin lu celaka!" sahut Tina dengan nada yang meninggi karena kesal.
Bima dan Dewa memandang tak enak pada Fahru yang seketika tertunduk mendengar ketegasan Tina. Tak lama ia mengangkat wajah, tersenyum sambil memandang Tina yang masih mendengus kesal. Bibir wanita itu berkedut-kedut, entah apa yang sedang dia gumamkan.
"Ibu tenang saja, dia saat ini ada di dalam penjara. Saya pun tidak berniat membantunya keluar supaya menjadi pelajaran untuknya ke depan nanti. Saya datang ke sini murni karena ingin meminta maaf pada kalian juga ingin bertanggungjawab atas semua biaya," ungkap Fahru lagi dengan tenang dan sabar.
"Baguslah!" dengus Tina.
Hatinya harus siap menerima hinaan dan cercaan dari keluarga korban. Sungguh, ia tak menyangka jika korban anaknya adalah Bima. Ia tersenyum getir.
"Ah ... maaf, tadi saya dengar kau menyebut nama Bima? Saya ingat saat kecil dulu, Revan mempunyai teman bernama Bima, tapi saya belum pernah bertemu dengannya," ucap Fahru yang tak tahu jika Juan adalah Bima.
Jika dilihat-lihat, wajah Juan mirip sekali dengan Kak Razka. Apa karena itu selama ini dia selalu menutupi wajahnya dengan masker? Sama sekali tak ada jerawat di wajahnya. Hmm ... aku penasaran, siapa sosok anak Pak Dewa ini?
Fahru bergumam dalam hati setelah menelisik wajah Bima dengan betul-betul. Dilihatnya Bima yang tersenyum, pemuda itu juga memiliki lesung di pipi seperti sang kakak ipar. Semakin serupa terlihat.
"Saya Bima, Tuan. Revan teman saya waktu kecil. Maaf karena saya mengganti nama saat bekerja pada Anda," ungkap Bima berterus-terang.
Sumpah demi apa pun! Fahru benar-benar syok mendengarnya.
__ADS_1