
Malam bertabur bintang, menari-nari di atas awan. Bersama rembulan yang hilang timbul, malu-malu menampakkan dirinya. Sebatang rokok yang mengepulkan asap, membumbung tinggi ke langit. Padahal nyatanya, ia tetap berada di bumi.
Apa bener anak yang mereka yang cari itu gua? Gimana kalo bukan? Ah ... cuma kepedean aja si Bima. Belum tentu yang dicari lu, Bim.
Bibir tipisnya tersenyum, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang berharap dialah Tuan Muda yang hilang itu.
Eh ... sialan, lu! Gua kagak ngarep, cuma ciri-ciri itu tuh mirip ama gua.
Ia murka sendiri pada pemikirannya. Menepuk nyamuk dengan kuat hingga tubuh kecil itu hancur menjadi terasi di atas permukaan kulitnya.
"Mati lu!" umpatnya kesal sendiri.
Di malam yang sama, di bawah payung langit yang sama pula, Razka tengah asik merenung seorang diri. Duduk di teras rumah, sembari memandang bintang di langit. Teringat akan hasil dari menguntit Bima tadi siang, seperti itukah kehidupan anak yang selama ini dia cari?
"Kenapa balik ke mari? Lu kagak pergi ke kampus?" Suara seorang wanita renta terdengar telinga Razka kala siang itu ia menempelkannya di daun pintu sebuah ruangan rumah sakit.
"Hah ... hari ini Bima lagi males ngampus, Nyak. Bima mau nemenin Nyak ama Babeh aja. Kagak apa-apa, 'kan?" sahut sebuah suara yang begitu ia rindukan.
Bima? Jadi, namanya bukan Juan? Tapi Bima?
Tersenyum Razka mengetahui fakta lain dari sosok pemuda misterius yang beberapa hari ini mengganggu ketenangan pikirannya. Bima! Akan aku ingat nama itu.
Mungkin saja dia melupakan sesuatu. Suatu cerita tentang seorang bocah bernama Bima di desa dulu. Cerita tentang seorang preman yang mereka curigai dulu.
"Emang kenapa lu males? Ada masalah?" Suara Tina terdengar lagi. Razka semakin antusias mendengarkan.
"Kagak ada, sih, Nyak. Bima cuma lagi pengen nemenin Babeh ama Nyak. Dari pada keluyuran kagak jelas, mending Bima di mari, pan?" Nada manja Bima membuat Razka merasa iri kepada wanita itu.
__ADS_1
Seharusnya kepadanya Bima bermanja, kepadanya Bima merajuk. Bukan pada yang lain. Seandainya tak pernah ada tragedi penculikan itu, sudah pasti tangannya sendiri yang akan membantunya tumbuh. Takdir memang tak terduga, siapa yang bisa memilih jalan hidupnya sendiri? Mungkin hilangnya Baim memberikan kebahagiaan untuk orang lain.
"Ya udah, Tin. Biarin aja dia di mari. Gua juga pengen ditemenin ama anak gua," timpal suara lain yang terdengar parau dan lemah. Suara seorang laki-laki yang tak lagi muda. Suara batuknya membuat Razka meneguk ludah.
Dia anakku! Bukan anak kalian. Ya Allah ... bagaimana jika aku mengambilnya dari mereka?
Sisi keegoisan Razka mulai serakah. Manusiawi, bukan? Dia berhak mengambil kembali anaknya, tapi bagaimana dengan perasaan kedua orang tua asuh Bima? Tangan merekalah yang telah merawatnya. Laki-laki itu pula yang telah memberikan dia makan selama dua puluh tahun ini. Lalu, dia tiba-tiba datang dan mengambil anak yang mereka asuh itu ....
Ah ... tidak! Itu egois namanya. Aku tidak bisa melakukan itu. Itu sama saja aku menyakiti orang tua lainnnya. Rasa sakitnya pasti akan lebih dalam daripada yang aku rasakan dulu.
Sisi lain dalam dirinya menolak dan menimbang kembali keputusannya. Berjauhan, memperhatikan dari jarak jauh sepertinya memang lebih baik. Sampai mereka memiliki kesempatan untuk saling bicara di waktu yang tepat dan lebih baik tentu saja.
Ya Allah ... jika dia anakku, maka aku sangat bersyukur dia baik-baik saja. Akan tetapi, seperti apa kehidupannya selama ini? Aku akan mencari tahunya.
"Nyak, Bima cariin camilan, ya?" katanya setelah lama tak terdengar suaranya. Berlanjut dengan suara langkah kaki yang mendekati pintu.
Dagdag-dugdug.
Degup jantungnya berdentam-dentam menghantam rongga dada ketika seorang pemuda dengan masker di bawah mulutnya keluar dari ruangan. Air mata Razka menetes, dialah pemuda yang dia cari. Dia orangnya!
Baim! Anakku!
Ingin ia menyentuhnya, ingin ia memeluknya, perasannya tak pernah salah. Dia anak yang selama ini dicarinya. Pantas saja hatinya begitu dekat, ternyata dia memang sangat dekat. Bima mengenakan kembali maskernya, dia harus tetap waspada karena orang-orang yang diutus Tuan Besar itu pasti menyebar ke mana-mana.
Jadi selama ini dia bekerja di perusahaan keluarganya sendiri? Itu perusahaanmu, Nak. Itu milikmu, tahta itu menantimu, Ibrahim. Kau pemiliknya. Anakku!
Tubuh Razka lemas seketika, ia bersandar pada dinding dengan mengambil napas pendek-pendek untuk menetralkan kondisi jantungnya yang telah rapuh. Air matanya tak kunjung mereda, terus mengalir tanpa ada niat berhenti.
__ADS_1
Ia pergi meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan kekuatannya kembali. Hatinya puas dapat melihat wajah yang selama ini tertutup masker itu. Mulai hari ini, ia akan selalu datang ke kantor untuk dapat melihat wajah itu. Atau ke rumah lama untuk mengobati rindu.
Biarlah semua itu ia tahan dulu. Jika Aulia tahu, ia khawatir wanita itu tak dapat menahan diri untuk tidak mengambil Bima dari orang tua asuhnya itu. Keduanya berpapasan di lorong rumah sakit yang berbeda.
Hembusan angin terasa asing di kulit Bima, ia memutar kepala merasakan kehadiran seseorang yang ia rindukan di hatinya. Namun, tak ada siapa pun di sana, selain lalu-lalang para petugas medis dan para pembesuk.
"Kakak!"
"Astaghfirullah!"
Bima tersentak kaget di saat Khaira memapak jalannya. Ia termundur dua langkah dengan mata yang membeliak dan dada yang berdebar. Senyum jenaka gadis berseragam sekolah itu, membuatnya mengendurkan urat-urat yang sempat menegang.
"Lu! Ngapain di mari?" pekiknya sembari mendekat kembali. Gadis itu menunjukkan bungkusan di tangan dengan terus tersenyum tanpa pudar.
"Aku mau jenguk Babeh, boleh?" Bima terkekeh, ia merangkul bahu gadis itu dan membawanya ke ruangan Dewa bersama dirinya. Memeluknya gemas karena rasa terkejut itu jujur saja belum pergi sepenuhnya.
Razka berbalik, tersenyum melihat Bima yang menjauh bersama gadis itu. Ia pikir itu adik angkatnya, anak orang tua angkat Bima.
Kembali padanya yang sedang termenung seorang diri. Cangkir teh di depannya bahkan sudah tak mengepulkan asap lagi. Sudah dingin karena hembusan udara malam. Namun, laki-laki itu bergeming menatap benda yang menghiasi langit malam. Wajah Bima tersenyum di atas sana, menyapa dirinya dengan sebutan Ayah.
"Ayah? Kenapa melamun?" tegur bungsu di keluarga itu. Razka berpaling pada putrinya, tersenyum bibir itu saat melihat Nasya berdiri di samping tubuhnya.
Gadis itu duduk di pangkuan sang Ayah tanpa segan. Melingkarkan tangan di leher tua itu dengan manja.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Kenapa belum tidur?" Razka membelai kepalanya dengan lembut. Gadis itu menghujam manik Razka dalam-dalam, ada rahasia yang tidak ia ketahui dan baru ia sadari.
"Ceritakan padaku, Ayah, siapa itu Ibrahim? Kenapa aku tidak tahu soal itu? Apakah dia Kakak laki-lakiku? Seperti apa wajahnya? Lalu, di mana dia sekarang?" cecar Nasya. Manik tajamnya berbinar penuh tekad. Razka tersenyum, baru saja ia memikirkan Bima, Nasya sudah menanyakannya.
__ADS_1
"Baiklah. Duduk di sana, Ayah akan ceritakan semuanya." Malam itu, Nasya tahu bahwa ia memiliki Kakak lainnya selain Ayra.