Bima

Bima
Part. 57


__ADS_3

Pagi itu mereka kembali dikumpulkan Briant, pemuda itu pun meminta Aulia dan Razka juga yang lainnya berkumpul di Aulia gedung tersebut. Semua orang berkumpul di sana tak terkecuali. Ada Hendi dan keluarganya juga di antara mereka. Farel tumbuh menjadi pemuda tampan dan pintar, ia memimpin perusahaan milik keluarga Atmaja.


Deri ... entalah, di mana anak itu? Setelah kepergian Mamah dan Papah, ia memutuskan untuk pergi melanjutkan pendidikan ke negara yang dia inginkan.


Razka yang paling terakhir datang. Ia dituntun seorang pekerja untuk memasuki aula, desas-desus tentang sang pewaris sesungguhnya pun tak terelakan dari telinganya. Ia tersenyum, apakah Bima telah diketahui penyamarannya.


Pintu aula dibukakan untuk Razka, matanya melebar luas memindai seluruh penjuru. Senyum di bibirnya memudar kala ia menangkap sesosok tubuh tinggi tegap yang menunduk di antara yang lain. Wajahnya masih tertutupi masker dan topi, kecewa segera hadir dalam hatinya.


Terutama saat ia menoleh ke atas panggung, di sana Aulia sedang memeluk sebuah tubuh yang tak tahu siapa? Tubuh yang tak setinggi dan setegap Bima, anaknya. Di belakangnya Ayra menangis sembari mengusap-usap punggung Aulia.


Kedatangan Razka menyita perhatian semua orang. Begitu pula dengan Aulia dan Ayra, Fahru dan yang lainnya tersenyum melihat Razka. Manik-manik mereka memancarkan cahaya kebahagiaan yang kentara. Mereka pikir, Razka akan mendatangi panggung dan ikut memeluk pemuda itu.


Nyatanya, langkah Razka justru bertolak-belakang dengan arah panggung. Ia berjalan di antara belasan pengawal yang ditugaskan olehnya kemarin. Mendatangi sesosok pemuda yang tertunduk dengan wajah yang tertutup masker.


"Juan!" Tangan Razka menempel di bahu Bima. Perlahan kepala itu terangkat, matanya yang memerah menyiratkan kekecewaan yang dalam. Tersenyum Razka kala dapat secara langsung menyentuh tubuh anaknya.


Tanpa segan ia memeluk Bima membuat Aulia dan pemuda yang dipeluknya terheran-heran dengan sikap Razka, begitu pula dengan yang lainnya.


"Tuan!" Suara Bima menyadarkannya. Razka mengurai pelukan, dan memegangi kedua lengan atas Bima.


"Aku dengar kau kuliah, kenapa masih di sini? Berangkatlah! Jangan sampai kau tertinggal kelas." Ia menepuk-nepuk bahu Bima layaknya seorang Ayah yang merasa bangga terhadap anaknya.


"Tu-tuan. Boleh saya memeluk Anda sekali lagi?" tanya Bima menetap lekat manik kelam di hadapannya. Sebentar saja sebelum ia membuang pandangan. Razka tersenyum mendengarnya.


Kau bisa melakukanya sesuka hatimu, Nak. Aku Ayahmu, Baim. Ayahmu.

__ADS_1


Ia hanya mampu mengucapkannya dalam hati, tanpa berani berucap secara lisan. Razka tersenyum, ia menarik tubuh Bima ke dalam pelukan. Menepuk-nepuk punggung pemuda itu sambil berucap dalam hati ... anakku! Anakku kembali!


Rasa hangat seketika menjalar ke seluruh tubuh Razka ketika tangan Bima ikut melingkar di tubuhnya. Ia tersenyum walau air mata menetes tak terkendali, Razka menyapu matanya sebelum melepas pelukan.


Hal itu menjadi tontonan semua orang, Ayra melangkah maju ke depan memastikan siapa yang dipeluk Razka, sedangkan pemuda yang dicari ayahnya berdiri bersama mereka. Aulia sendiri tercenung menyaksikannya, begitu pula dengan wajah-wajah lainnya mereka semua tak mengerti apa yang sedang terjadi terhadap Razka.


"Berangkatlah! Aku tidak ingin kau terlambat ke kelas," ucap Razka sembari menepuk lembut pipi Bima. Bibir tipis itu tersenyum, sebelum mengangguk.


"Terima kasih, Tuan. Jika begitu saya permisi, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!" Bima menatap ke arah panggung, tentu saja semua mata tertuju padanya. Ia melengos sembari membenarkan letak topinya. Terus melangkah keluar tanpa mempedulikan desas-desus di sekitarnya. Ia berjalan tegap, nampak gagah. Razka masih berdiri di tempatnya dengan senyum tersemat sampai punggung Bima menghilang di balik dinding ruangan.


Ia berbalik, senyum yang diukirnya raib entah ke mana. Ia berjalan mendekati panggung di mana Ayra dan Aulia berada bersama seorang pemuda yang sekilas memang mirip dengan istrinya itu. Di tangannya memegang sesuatu yang membuat Razka mengernyitkan dahi.


"Jadi, apa yang sedang terjadi di sini?" tanyanya sembari terus melanjutkan langkah untuk sampai di sisi istrinya.


Ia menunduk melihat wajah Aulia yang basah, tapi nampak bahagia itu. "Katakan padaku, siapa pemuda itu?" tanya Razka tanpa memperhatikan sosok lain di atas panggung itu.


"Sayang, kemari!" Aulia menarik tangan Razka mendekati sang pemuda, "ini Ibrahim, anak kita. Ayra yang membawanya. Coba lihat, bukankah dia mirip denganku? Dia pasti anak kita," sambung Aulia memperkenalkan pemuda itu sebagai Ibrahim. Anak mereka yang hilang.


Razka melangkah mendekati pemuda itu, menelisik sosoknya yang bergeming terpaku di tempatnya. Mata itu, memang sama dengan milik Aulia, tapi milik Bima tak ada beda sama sekali. Ia melirik Aulia, membandingkan kemiripan di antara keduanya.


"Memang mirip, tapi kalian memiliki warna mata yang sedikit berbeda. Apa bukti jika kau adalah Ibrahim?" ucap Razka penuh penekanan. Ia melirik Ayra yang nampak ragu telah membawa pemuda tersebut.


"Ayra! Atas dasar apa kau menganggap dia adalah adikmu yang hilang? Sementara kita tidak tahu apakah dia sedang berbohong ataukah tidak jujur?" Razka memberikan pertanyaan pada Ayra. Sama saja, bukan?

__ADS_1


Gadis itu gelisah, ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan gugup di dada. Razka berdiam diri menunggu Ayra yang tak kunjung menyahut.


"Aku ... aku tidak yakin, Ayah. Dia memiliki apa yang aku berikan saat Baim bayi dulu," jawab Ayra dengan gugup. Razka tersenyum, ia tahu anaknya itu sedang meragukan pilihannya.


"Memangnya apa yang kau berikan pada adikmu dulu, Ayra, hingga kau begitu yakin dan langsung membawanya," tanya Razka lagi semakin membuat Ayra gamang.


Ayra menyentuh tangan pemuda itu. "Haram untukmu menyentuhnya, Ayra. Kalian bukanlah mahram, lepaskan tangannya!" tegas Razka tidak main-main. Ayra lekas melepas tangannya, ia menatap sekeliling yang tengah memperhatikan dirinya.


"Eh ... sayang, kenapa kau marah begitu? Bukankah mereka adik dan kakak? Jadi wajar saja jika bersentuhan, bukan?" Aulia mendekat dan meredakan emosi Razka.


Baru saja ia tahu sebuah kenyataan, Bima adalah Baim. Sekarang ada yang mengaku-ngaku sebagai dirinya. Apa motif pemuda itu dengan melakukan kebohongan besar ini. Razka memejamkan mata, ia akan mengikuti alur permainan si pembohong itu.


"Baiklah. Tunjukan padaku benda apa yang dia miliki?" ucap Razka menurunkan ego di hatinya.


Pemuda itu mengangkat apa yang dia genggam. Sebuah kalung dengan bandul inisial 'B' yang nampak biasa saja. Razka memang mengenali kalung itu, tapi ia sedikit melupakannya.


"Kalung itu yang aku belikan untuk Ibrahim. Lihat! Aku memilikinya juga. Kalung itu yang membuatku yakin jika dia adalah Baim, Ayah, tapi aku ragu saat melihat Ayah memeluk pengawal Ayah sendiri. Siapa ...?" ungkap Ayra memelankan nada suaranya di ujung kalimat.


"Namanya Juan, dia anak dari salah satu pengawal di perusahaan ini. Ayahnya sedang sakit dan mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah hanya merasa kasihan padanya tadi," ucap Razka. Ia tersenyum sembari mendekati sang pemuda, menepuk bahu itu lantas memejamkan mata.


Rasanya sungguh berbeda, di saat ia menyentuh Bima ada getaran yang terasa mengalir ke dalam hatinya. Namun, pemuda itu biasa-biasa saja, ia tak merasakan apa pun jua.


"Jadi benar kau adalah Baim? Aku mengenal kalung itu, Ayra membelinya saat kau masih bayi dulu," ucapnya sambil tersenyum dan memeluknya.


"Ayah!"

__ADS_1


Aulia ikut tersenyum. Akhirnya ia menemukan Ibrahim. Bayi mereka yang hilang dua puluh tahun silam.


__ADS_2