
Malam itu, Bima memutuskan untuk tidak kembali ke rumah secepatnya. Ia butuh hiburan sedikit, memanjakan diri lewat hobi yang beberapa waktu ia tinggalkan. Balapan liar, walau hanya sekedar menjadi penonton tanpa berniat ikut serta di dalamnya, hatinya sedikit terhibur.
Setidaknya, untuk beberapa saat ia dapat melupakan kejadian siang tadi. Duduk bersama rekan-rekannya ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok yang tak henti mengepulkan asap lewat hidung dan mulutnya.
"Kenapa kau meninggalkan balapan, Kawan?" tanya Roy, ia menemani Bima duduk menonton teman-teman yang lain beradu mesin di jalanan.
"Gua kagak mau liat Nyak ama Babeh sedih. Gua kagak tega liat mereka kecewa," sahut Bima sembari menyesap rokok dan meniupkan asapnya ke udara. Roy termangu pada garis wajah lelah sahabatnya itu.
"Sepertinya kau sedang dalam masalah? Ada apa? Berceritalah seperti biasanya!" pinta Roy tanpa menuntut banyak dari Bima. Helaan napas tersentak kasar dari arah Bima. Ia tak tahu apakah perlu bercerita karena ia sendiri tidak yakin pada hatinya, yang ada mereka hanya akan menganggapnya membual saja.
"Kagak ada. Cuma masalah sepele, biasa pekerjaan," jawab Bima setelah menentukan pilihannya. Mengenai dirinya yang bukan anak kandung Dewa dan Tina, orang lain tak perlu tahu.
Bima melirik jam di tangannya, waktu hampir menunjukan tengah malam. Terbayang Tina yang tak henti mengkhawatirkannya, terbayang Dewa yang tak dapat memejamkan mata menunggunya walau ia baru saja pulih.
"Gua mau balik. Lu bisa antar gua ampe gang, 'kan?" ucap Bima. Ia membuang puntung rokok di tangan dan menginjaknya. Menyeruput kopi di gelas plastik sebelum beranjak.
"Yah, Bim ... ini masih sangat sore. Duduklah lebih lama di sini bersama kami. Kami semua rindu padamu, Bim," pinta Roy memelas. Bima meliriknya, lanjut melirik teman-temannya yang mengangguk pasrah.
Ia menarik udara dan membuangnya. Menunduk sejenak guna menguatkan hatinya sebelum kembali memandang semua sahabat yang mengelilinginya.
"Sorry, tapi Babeh gua baru aja pulih dari sakit. Gua cuma kuatir dia kagak bisa tidur lantaran nungguin gua balik." Mereka tertegun, itu alasan yang melankolis. Bima amat menyayangi orang tuannya. Dia memang bebas, tapi tahu batas.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku antar. Maaf karena memaksamu, Kawan." Roy bangkit, menepuk bahu Bima sambil tersenyum. Dilanjut dengan anggukan kepala dari teman-temannya yang lain.
"Makasih. Lu semua emang kawan terbaik gua," ucap Bima sedikit terharu dengan persahabatan yang terjalin di antara mereka. Semua teman-temannya beranjak, satu per satu memeluk Bima sebelum pemuda itu pergi menaiki motor temannya.
Sementara di rumah Razka, Aulia tak henti merayu suaminya untuk pergi mencari Bima. Ia amat penasaran dengan pemuda itu.
"Sayang ... Aul. Kau dengar, dokter memintamu untuk beristirahat karena kondisimu pasca kejadian tadi siang. Besok kita akan ke sana mencari Juan, untuk malam ini kau tidurlah." Razka mengusap rambut lembut istrinya, ia mengecup dahi Aulia sebelum merebahkan tubuh wanita itu.
"Tapi, Kak ... katakan padaku sudah berapa lama Kakak mengenalnya? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" ucap Aulia memandangi wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.
"Sehari sebelum Ibrahim yang dibawa Ayra waktu itu. Aku menahan diri karena masih mencari tahu tentang siapa Juan sebenarnya. Lalu, dia datang dan merusak rencanaku. Kemudian mengambil hatimu dariku, mengadu domba, membuat kesalahpahaman di antara kita. Aul, aku ingin bertanya bagaimana rasanya saat kau bertemu dengan Juan?" ungkap Razka sambil mengusap dahi Aulia dengan lembut.
Lama kedua bola matanya menatap Razka. Bibirnya terkunci rapat bahkan bernapas saja ia jeda. Aulia membuang pandangan, mengingat kembali rasa saat bertemu dengan pemuda yang bernama Juan tadi siang.
Razka tersenyum, ia akan sedikit menguak tentang Bima pada Aulia. Selebihnya, ia berencana mempertemukan Aulia dengan Dewa dan Tina.
"Namanya Bima. Juan hanyalah nama samaran yang ia gunakan saat bekerja. Entahlah, kenapa dia melakukan itu ... sudah, lebih baik kita tidur. Ini sudah larut malam tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Razka.
Ia mendekap tubuh istrinya, membuat Aulia bungkam meskipun masih ingin bertanya seputar Bima. Ia menurut, melingkarkan tangannya di tubuh Razka hanyut dalam dekapan hangat yang sama persis seperti saat Bima memeluknya.
Malam semakin larut, tapi kedua gadis di rumah itu tak dapat memejamkan mata mereka. Nasya dengan pikirannya yang melanglang-buana mencari keberadaan Bima. Ayra dengan pikirannya tentang Ibrahim.
__ADS_1
Ia dan Briant berhasil menemukan tempat tinggal Ibrahim dulu. "Apa ini bisa menjadi bukti jika dia itu bukanlah Ibrahim." Lisannya bergumam.
Ia berguling ke samping, kelopak matanya berkedip berat memandangi sebuah figura kecil. Foto dia di saat kecil bersama bayi Ibrahim. Pikirannya melayang pada tempat yang ia kunjungi tadi siang bersama Briant.
"Apa dia benar tinggal di daerah ini?" tanya Ayra merasa tak percaya karena komplek tempat tinggal Ibrahim bukanlah komplek sederhana. Komplek kelas menengah ke atas.
"Beberapa hari lalu, aku menyelidikinya dan tempat ini yang aku temukan. Kita hanya harus mencari rumah nomor 206 di sekitar sini," sahut Briant menunjukkan hasil penyelidikannya pada Ayra.
Mereka kembali melanjutkan pencarian, menggunakan sepeda motor dengan helm yang menutupi wajah. Briant mengajak Ayra mengelilingi komplek tersebut. Tibalah mereka di sebuah rumah yang berbeda dengan rumah lainnya. Rumah yang lebih besar dari rumah yang mereka tempati.
"Inikah?" Briant mengangguk dikala Ayra bertanya. Ia mencari tempat aman untuk mengintai, duduk di sebuah warung sambil memesan minuman. Keduanya menghadap ke rumah itu, waspada dan tak berpaling sama sekali.
Seorang wanita paruh baya keluar dari gerbang rumah tersebut. Usinya lebih muda dari Aulia jika dilihat sekilas. Wanita itu berjalan menuju warung tempat mereka duduk mengintai. Berbelanja keperluan sederhana untuk rumahnya.
"Nyonya, maaf kalau lancang. Beberapa hari ini saya tidak melihat Lucky di sekitar sini. Ke mana anaknya Nyonya itu?" tanya pemilik warung tersebut pada wanita itu.
Ia tersenyum, nampak senang sebelum menyahut, "Dia sedang menjalankan misi dari Ayahnya. Yah ... untuk melatih dia agar mandiri nantinya." Ia membawa belanjanya lantas pergi setelah berpamitan.
Ayra dan Briant saling menoleh satu sama lain. Sama-sama menggumamkan kata misi tanpa suara. Tak lama setelah wanita itu pergi dari warung, sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.
Seseorang turun dan menghampiri si wanita, memberikan apa yang dia bawa disambut senyum sumringah oleh wanita tersebut.
__ADS_1
Baik Ayra maupun Briant, keduanya membelalak. Tak ingin kehilangan momen itu, Ayra diam-diam merekamnya.