Bima

Bima
Part. 130


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Tina dan Bima mulai kembali tenang meskipun suasana masih berduka. Mereka sudah bisa menerima dan terbiasa dengan ketidakhadiran sosok itu. Aulia dan Ayra selalu datang membantu menyiapkan segala keperluan untuk acara tahlilan Dewa di rumahnya. Menyusul Nasya yang akan berkumpul sepulang kuliah bersama Razka.


Tina menghampiri Bima yang masih berada di kamar. Pemuda itu bahkan enggan pergi ke kampus karena hatinya masih mencemaskan Tina di rumah jika ia tinggal.


"Lu kagak kuliah lagi, Tong? Mau sampe kapan di rumah terus? Entar lu ketinggalan pelajaran," tanya Tina seraya duduk di samping Bima yang masih berbaring di ranjangnya.


"Apa Nyak kagak apa-apa Bima tinggal?" Wajah pemuda itu terangkat menatap Tina yang mengusap rambutnya. Kedua tangannya melingkar manja di pinggang wanita tua itu. Menelusupkan wajah di atas pahanya persis seperti seekor kucing yang merindukan belaian.


"Emang ngapa ama Nyak? 'Kan, tiap hari Nyonya ama Kakak lu nemenin Nyak di rumah. Nyak kagak apa-apa. Noh, Nasya udah datang dia kangen pengen berangkat bareng ama lu," ucap Tina sembari memberikan belaian di rambut Bima yang terlihat memanjang.


Tak ada sahutan, anak itu telah menemukan kenyamanannya di pangkuan Tina. Enggan rasanya untuk beranjak. Biarlah, dia masih ingin merasakan kehangatan belaian dari wanita tua itu.


"Kakak! Tebak siapa yang datang?" pekik Nasya yang berhambur masuk ke kamar Bima dengan panik. Napasnya tersengal, wajahnya memerah dan ada senyum samar yang menyembul di bibirnya.


Bima berdecak, sama sekali tak mengangkat wajah dari pangkuan Tina.


"Memangnya siapa yang datang, Nak?" tanya Tina menoleh pada gadis itu. Nasya menggerakkan bibirnya menyebut satu nama tanpa suara. Tina menyunggingkan senyum, memberikan angukkan kecil tanda mengerti.


"Kalau lu masih pengen tidur, tidur aja. Nyak mau nemuin calon mantu Nyak di luar," ucap Tina menggoda Bima.


Seketika kepalanya terangkat, cepat-cepat ia bangun dan turun dari ranjang.


"Cih! Mendengar Kakak ipar datang, langsung saja bangun!" cibir Nasya saat Bima melewatinya.


Bima tak acuh, ia terus saja melangkah meski masih mengenakan celana pendek selutut dan kaos oblong polos saja. Di dapur, Ayra dan Aulia tengah disibukkan oleh segala keperluan untuk acara sore nanti.


Bima terus membawa langkahnya keluar rumah. Seorang gadis duduk dengan santun di kursi yang biasa diduduki Dewa. Bima tersenyum. Dia tetap tampan meski rambut tak karuan dan masih berbau bantal.


"Ara!" panggilnya dengan lembut. Gadis itu menoleh, menatap sendu sang kekasih yang masih dalam keadaan berduka. Khaira beranjak, ia berdiri dan melangkah pelan mendekati Bima.


"Kakak!" Gadis itu berhambur memeluk Bima. Entah apa yang terjadi, tapi tubuhnya berguncang karena tangisan.


"Ngapa lu nangis?" tanya Bima sambil mengurai pelukan. Kedua ibu jarinya mengusap air mata Khaira dengan lembut. Wajah itu tertunduk, gejolak kesedihan masih menguasai hatinya.


"Maafkan aku karena baru saja mendengar kabar soal Babeh. Maafkan aku, Kak. Aku tak dapat hadir disaat Kakak berduka," sesal Khaira yang terlambat mengetahui perihal kabar Dewa.

__ADS_1


Bima mengusap kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum. Pandang mereka beradu lekat.


"Kagak apa-apa, lu kagak usah ngerasa bersalah." Khaira melipat bibir sambil memutuskan pandangan. Tetap saja, Dewa dan Tina begitu baik terhadapnya.


"Lu mau kerja? Biar gua yang antar sekalian mau ke kampus," tawar Bima saat melihat penampilan Khaira dengan pakaian kerjanya.


Kharia mengangkat wajah, mengangguk pelan, tapi lekas menggeleng. Ia ingin menemani Tina, membantunya menyiapkan keperluan acara tahlilan. Ia kira Tina sendirian di rumah tak ada yang membantu.


Bima mengernyitkan dahi bingung dengan jawaban gadis di hadapannya.


"Kenapa?"


"Aku mau izin saja, mau membantu Nyak di rumah. Pasti Nyak tidak ada yang membantu," katanya penuh perhatian.


"Nyak kagak apa-apa, di sini juga Nyak kagak sendiri. Ada Ibunya Bima juga Kakaknya yang bantuin Nyak," sambar Tina yang menghampiri mereka di teras.


Melihat Tina, Khaira mendatangi wanita itu. Menyalaminya sebelum memeluk tubuh rentanya.


"Maafkan Ara, Nyak. Ara terlambat mengetahui kabar tentang Babeh. Ara turut berduka," lirih gadis itu dalam pelukan Tina.


Tangan renta Tina mengusap-usap punggung Khaira dengan lembut.


Tina tersenyum, wanita tua itu tampak tegar meski kesedihan masih terlihat di maniknya yang berkabut.


"Nyak bilang Ibu dan Kakak Kak Bima? Siapa?" tanya Ara saat teringat pada ucapan Tina tadi.


"Iya, mereka di dalam. Ayo, Nyak kenalkan pada mereka sambil menunggu Bima mengganti pakaian," ajak Tina seraya menggandeng tangan Khaira untuk memasuki rumah.


Bima mengangguk tatkala kepala gadis itu menoleh ke arahnya. Ia turut beranjak masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mengganti pakaian bersiap pergi ke kampus.


Di dapur, Tina membawa Khaira menemui Aulia dan Ayra.


"Nyonya, Nak Ayra, ini Khaira." Kedua wanita yang tengah berkutat dengan segala macam keperluan itu menoleh bersamaan.


"Oh, hallo!" Aulia menyalami meskipun dengan raut bingung yang tak dapat ia tutupi.

__ADS_1


"Aulia-"


"Khaira, Nyonya."


"Hai, aku Ayra. Kakaknya Bima."


"Khaira."


Keduanya menyambut dengan baik kedatangan gadis itu. Ingin bertanya, tapi takut menyinggung.


"Ara calon menantu kita, Nyonya," terang Tina pada akhirnya membuka suara. Gadis itu menundukkan wajah, menyembunyikan rona merah yang menyembul di kedua pipinya.


Ada Ibu lain selain Nyak. Kak Bima masih penuh misteri dan aku belum tahu apa-apa soal dirinya.


Hati Khaira bergumam, tapi ia pandai mengatur perasaan. Wajahnya kembali terangkat melihat respon Aulia dan Ayra yang sama-sama berucap 'oh' saja.


"Cantik sekali calon menantuku ini. Aku benar, bukan?" ujar Aulia sambil mengusap dagu Khaira dengan lembut. Tersipu Khaira dibuatnya.


"Anda benar, Nyonya," sahut Tina. Aulia memeluk gadis itu sebagai sambutan untuknya. Namun, Khaira justru ragu untuk membalasnya. Ia takut dianggap lancang jika ikut memeluk Aulia.


"Selamat datang calon adik iparku!" Ayra pula ikut menyambutnya dengan pelukan. Khaira merasa diterima, ia menyambut pelukan Ayra.


"Ara! Ayo, nanti terlambat," panggil Bima yang telah bersiap dengan pakaiannya.


"Kakak akan berangkat dengan Kakak ipar? Bagaimana denganku? Siapa yang akan mengantarku?" pekik Nasya yang berhambur ke dapur dengan panik.


"Nasya? Kau di sini juga?" Khaira terlihat bingung. Sementara gadis itu tersenyum canggung.


"Lu bisa nelpon Ayah atau siapa aja. Si Revan aja, dia pasti mau ngantar lu," ucap Bima tak acuh. Ia berpamitan pada semua orang diikuti Khaira yang juga hendak berangkat. Nasya menjatuhkan rahangnya tak terima, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Kedatangan Khaira merubah Bima yang murung.


Beruntung, Emilia dan keluarganya datang beberapa saat setelah Bima pergi meninggalkan rumah dengan motornya. Ia diantar Revan ke kampus.


"Ish ... gara-gara kak Bima, aku kesiangan," gerutu Nasya sambil berjalan tergesa menuju kelasnya.


Bruk!

__ADS_1


"Aw!"


"Maaf!"


__ADS_2