Bima

Bima
Part. 53


__ADS_3

Ngapa ciri-ciri yang disebutin tadi mirip ama gua, ya? Warung itu ... itu waktu gua nganter majikan ke restoran itu. Apa yang dimaksud dia itu gua, ya? Penasaran. Kalo itu gua apa maksudnya dia nyari gua?


Bima terdiam di tempatnya, sama sekali tak berani memandang laki-laki tua yang serupa dengannya itu. Telinganya awas mendengar, hatinya tak berhenti cenat-cenut dibuat penasaran oleh ucapan laki-laki tersebut.


"Seperti yang telah kalian ketahui sebelumnya bahwa kami pernah kehilangan seorang bayi. Dua puluh tahun silam dan pihak kepolisian telah menutup kasus tersebut pada tahun yang sama. Namun, kemarin saya melihat pemuda itu, pemuda yang telah saya sebutkan ciri-cirinya tadi berada di sekitar pusat kota ini-"


"Saya, istri, dan juga anak saya merasakan hal yang sama. Kami menduga pemuda itu adalah anak kami yang hilang. Tuan muda yang terlempar ke jurang dua puluh tahun silam. Sebagai dugaan sementara, bayi itu dirawat seseorang dan telah tumbuh menjadi dewasa. Saya pribadi mengandalkan insting kalian sebagai pengawal terbaik untuk menemukannya," lanjut Razka sesekali matanya melirik pemuda yang berdiri di tengah barisan.


Wajah yang tertutup masker itu, membuatnya penasaran sekaligus curiga. Sementara Bima, debar di dadanya semakin menjadi ketika mendengar siapa pemuda yang sedang dicari olehnya itu.


Gua? Apa gua anak yang mereka cari? Ya Allah ....


Antara harus bahagia ataukah bersedih, Bima bimbang sendiri. Ia memejamkan mata, mencoba meresapi kenyataan yang baru saja dia terima.


Tapi gua kagak yakin.


Menolak ataupun menerima, Bima tetap tak bisa menunjukkan diri untuk saat ini. Mungkin lain waktu saja setelah hatinya benar-benar siap menerima semua kenyataan.


"Kalian mengerti!" Suara Briant menyambung.


"Ya, Tuan!" Serempak mereka menjawab, kecuali Bima yang bercucuran keringat hingga membasahi kemeja dalamnya yang dibalut jas.

__ADS_1


"Cari ke setiap sudut kota, dan jangan mencurigakan apalagi sampai membuatnya ketakutan. Pergilah!" titah Briant lagi yang segera dilaksanakan oleh semua orang yang berbaris tersebut. Di antaranya Bima, yang langsung mengenakan topinya dan melengos sembari menutupi wajah.


Ia sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Tuan besar di sana, tak lepas dari menatapnya. Bima belum ingin menunjukkan dirinya di hadapan mereka. Setidaknya jangan sekarang.


"Tunggu!"


Debaran jantung Bima membuat dadanya kembang-kempis karena sesak. Suara itu begitu dekat terdengar, seperti menempel di telinganya. Bima mematung membelakangi. Kakinya gemetar, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi?


"Siapa namamu?" Bima berbalik. Ia memainkan bola matanya agar tak dikenali.


"Tuan bertanya kepada saya?" katanya menunjuk hidungnya sendiri. Ia gugup karena harus menahan getar di lidah saat menjawab pertanyaan darinya.


Kepala Razka mengangguk, dahi keriputnya mengernyit, matanya menyipit karena terpaan sinar matahari pagi. Bibirnya berkedut-kedut seolah-olah ingin berucap sesuatu.


Mulut laki-laki tua itu terbuka hendak berucap, tangannya terangkat hendak mencegah Bima. Namun, pemuda itu telah hilang di antara kerumunan lalu-lalang manusia lainnya. Air mata Razka menetes dengan sendirinya, tanpa sadar kepergian pemuda itu meninggalkan jejak rindu di hatinya.


Rindu pada dia yang telah lama pergi. Rindu pada sang buah hati. Rindu yang tak terperi dan tiada bertepi.


"Apakah dia ...? Mata itu hampir serupa, tapi aku tidak tahu pasti karena sekalipun pemuda itu tak pernah menunjukkan wajahnya. Ya Allah ... jika benar dia anakku, maka jangan jauhkan aku darinya. Biarlah aku hanya melihatnya dari jarak jauh saja. Mungkin saja dia belum ingin menunjukkan diri." Razka tersenyum, merasa hatinya telah menemukan yang hilang itu.


Untuk saat ini, ia akan menyimpan kehadiran Bima untuk dirinya sendiri. Sampai dia benar-benar memastikan bahwa Bima adalah pemuda yang sedang dicarinya.

__ADS_1


"Paman? Apa mau saya antar pulang?" Suara Briant membuyarkan lamunan Razka. Lelaki tua itu menoleh, riak di wajahnya berubah cerah meskipun ada air yang menggenagi matanya. Senyum yang diukirnya tak lagi semu dan menyedihkan. Namun, menampakkan kebahagiaan seolah-olah ia telah mendapatkan sesuatu yang dicarinya selama ini.


"Terima kasih, Briant, tapi Paman akan pulang sendiri saja. Ada urusan yang harus Paman kerjakan," ucap Razka sembari menepuk bahu pemuda itu dan berlalu pergi memasuki mobilnya sendiri.


"Baik, Paman." Briant menunduk dan memandangi Razka yang berubah drastis hingga mobil yang dikendarai laki-laki itu melintasinya. Ia kembali menunduk tatkala Razka menekan klaksonnya.


Tak ada tujuan yang pasti, tak ada pertemuan yang berarti, Razka pergi sendiri karena ingin membuntuti Bima. Menguntit pemuda itu ke mana ia pergi. Kali ini, ia tak ingin lagi kehilangan jejak. Beruntung, ia sempat menukar mobilnya dengan Rendy. Membuat Bima tak curiga sama sekali.


Pemuda itu mengemudi dengan pelan, hatinya diliputi rasa gelisah. Memikirkan Dewa dan Tina yang sudah tua, tak mungkin ia mengatakan kepada mereka bahwa ia sudah menemukan orang tuanya.


Akan tetapi, sebelah hatinya yang lain tak menampik ia ingin bertemu dengan mereka. Memeluk dan bercerita perjalanan hidupnya yang keras. Bercerita tentang dua orang tua hebat yang telah mengasuhnya. Dia ingin menceritakan pada dunia karena memiliki Dewa dan Tina sebagai orang tua yang luar biasa.


"Gimana Nyak ama Babeh, ya, entar kalo tahu? Mereka pasti sedih. Ah ... gua males ngampus. Balik ke rumah sakit aja, lah. Gua kangen Babeh," gumam Bima pelan. Ia memutar arah kemudi menuju jalan lain.


"Ke mana dia akan pergi?" Razka pun ikut berbelok di jalan yang sama. Dahinya berkerut tatkala ia mengingat jalan yang ditempuh pemuda di hadapannya. "Ini jalan ke rumah sakit. Apa kampusnya di sekitar sini?" Ia kembali bergumam sendiri menerka-nerka ke mana Bima akan pergi.


"Kok, perasaan gua kagak enak, ya? Kaya ada yang ngikutin gua di belakang, tapi siapa? Buat apa coba?" Ia melirik belakang mobil dari spion tengah. Memperhatikan setiap kendaraan yang melaju di belakang, tak ada satupun yang mencurigakan.


"Kagak ada yang bikin curiga, tapi hati gua rasanya kagak enak kaya gini, ya?" gumam Bima kembali tanpa memperhatikan salah satu mobil di belakang mobil lainnya itu tengah membuntuti. Razka ada di sana, tapi tersembunyi. Menguntit Bima yang berkendara di depan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan menepi.


"Kenapa dia masuk ke rumah sakit? Bukankah tadi dia mengatakan ada kelas? Seharusnya dia pergi ke kampus, bukan?" Bingung sendiri Razka dibuatnya. Namun, ia tetap mengikuti ke mana mobil Bima pergi. Ia terus melaju disaat mobil yang dibuntutinya berbelok masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Razka menepi di lahan lain tak jauh dari tempat yang dituju Bima.

__ADS_1


"Rumah sakit? Apa yang dia lakukan di rumah sakit?" Ia bergumam sebelum beranjak turun dan kembali menguntit. Sampai di sini.


__ADS_2