Bima

Bima
Part. 80


__ADS_3

Di salah satu sudut kota, di dalam rumah sederhana, wanita tua itu berjalan mondar-mandir gelisah. Ia tak tahu apa yang harus dia kerjakan, sedangkan hatinya sedang tak menentu. Berkali-kali ia menghentak napas mengurangi rasa cemas yang melanda.


Namun, tetap saja, gelisah datang merundung. Detak jantungnya berdebar tak karuan, satu nama yang tersebut di dalam sana. Bima, ngapa ama lu, Tong? Ya Allah, mudah-mudahan anak gua kagak ngapa-ngapa. Ya Allah, lindungin dia.


"Tin? Lu ngapa mondar-mandir kaya triskaan begitu? Ngapa lu?" tegur Dewa yang nampak bingung melihat istrinya berdiri gelisah di dapur. Tak hanya sekedar berdiri, wanita yang tak lagi muda itu pun berjalan bolak-balik ke sana kemari.


Gelisahnya tak surut meski sosok suami telah nampak di matanya. Buru-buru ia menghampiri Dewa, meremas kedua lengan suaminya itu dengan mata yang tergenang air.


"Bang, hati gua kagak tenang. Perasaan gua gelisah, Bang. Gua takut kenapa-napa ama anak kita, Bang. Gua takut Bima kenapa-napa. Gimana ini, Bang? Gua ngerasa ada yang kagak beres ama Bima. Gua mau nyusul dia, Bang. Gua mau nyusul dia," ucap Tina terburu-buru tanpa berpikir lebih tenang.


Dewa ikut merasakan gelisahnya, ia mencekal tangan Tina yang hendak beranjak meninggalkannya.


"Tunggu, Tin. Lu mau ke mana?" tanya Dewa dengan dahinya yang berkerut dalam.


"Gua mau nengok anak gua di kampus dia, Bang. Gua takut dia kenapa-napa," jawab Tina dengan air matanya yang jatuh dan itu membuat Dewa ikut merasakan seperti apa cemasnya sang istri.


"Nyok, ama gua. Gua kagak mungkin biarin lu pegi sendiri," ucap Dewa menggenggam jemari istrinya dan membawa wanita itu keluar rumah.


"Nyak! Beh!"


Langkah keduanya terjeda saat mendengar suara Bima yang berteriak. Saling melempar pandangan sebelum bergegas mendekati pintu. Membukanya dengan cepat dan lebar.


"Bima?"


"Nyak! Babeh!" Pemuda itu melompat dari motor dan berlari menubrukkan dirinya pada kedua lansia yang berdiri di ambang pintu rumah.

__ADS_1


Ia menangis, benar perasaan Tina sesuatu terjadi terhadap putranya. Dewa dan Tina sama-sama memeluk pemuda itu. Tina bahkan sudah ikut menangis mendengar suara isak pilu dari Bima.


"Maafin Bima, Beh. Maafin Bima, Nyak. Maaf ...," ucapnya lirih dan bergetar.


Tina yang sejak tadi gelisah memikirkan merasa sedikit lega melihat anaknya telah pulang dalam keadaan baik-baik saja, tak kurang satu apapun. Ia mengusap punggung Bima dengan lembut, memberikan ketenangan pada hati anaknya itu.


Bima melepas pelukan, memandangi wajah tua keduanya yang nampak khawatir dan bingung. Lama ia menatap Tina sebelum memeluk wanita tua itu lagi. Erat sekali hingga rasanya tak ingin lepas lagi.


Gua kagak bisa ninggalin mereka, gua kagak bisa jauhin mereka apalagi lupa ama mereka. Gua pengen ngerawat mereka.


Ia bergumam sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Tina. Dewa mengusap matanya yang berair. Memalingkannya dari Bima yang memeluk Tina. Ia melepas pelukan lagi, menciumi wajah Tina dan memeluknya lagi.


"Makasih, Nyak, karena Nyak udah ngerawat Bima. Semua cinta yang Nyak kasih ke Bima kagak bakal bisa Bima bales. Makasih, karena udah sabar ngasuh Bima yang nakal. Semua waktu Nyak yang kebuang karena ngurusin Bima kagak bakal bisa Bima balikin. Bima sayang Nyak." Tergugu pemuda itu. Air matanya jatuh membasahi daster lusuh yang dikenakan Tina.


Bima kembali melepas pelukannya, memandang Tina yang sesenggukan. Ia mengusap air mata wanita itu, tangan besarnya menangkup wajah tua di hadapan.


"Bima anaknya Nyak, pan? Bima anak Nyak ama Babeh, pan? Bima anaknya Babeh Dewa itu, 'kan?" tanya Bima dengan hatinya yang hancur lebur. Tangisnya menyayat hati, air matanya meleleh tiada henti.


"Lu anak Nyak, biar kata bukan Nyak yang lahirin lu. Lu tetep anak Nyak, anaknya Tina. Lu anak gua," ucap Tina yang tak kuasa menahan dirinya. Ia tergugu.


Dewa di sampingnya masih memalingkan wajah dari mereka berdua. Ia tahu apa yang menyebabkan Bima seperti sekarang ini. Ia sangat tahu betul. Hal ini pun yang ia takuti terjadi, tapi jika Bima memilih pergi, ia bisa apa? Itu hak dia menentukan akan tinggal bersama siapa.


Bima beralih pada Dewa, tanpa kata ia memeluk laki-laki tua itu. Laki-laki yang terlihat tak acuh itu memiliki kasih sayang besar di hatinya. Cintanya tak nampak, tapi ia tak pernah lepas perhatian dari bayi yang ditemukan istrinya.


"Makasih, Beh. Babeh udah rela banting tulang buat kasih makan Bima. Babeh rela panas-panasan, kotor-kotoran, hujan-hujanan, cuma buat cari duit bakal Bima jajan. Bima kagak bakal bisa bales tenaga Babeh yang udah kebuang cari duit biar Bima kagak kekurangan. Bima sayang Babeh. Bima anaknya Babeh Dewa," tutur Bima lagi kembali terisak dalam pelukan hangat lelaki renta itu.

__ADS_1


"Lu anak gua, Tong. Lu anaknya Babeh Dewa."


Laki-laki memang pantang menangis, lihat saja. Sekalipun ingin menjerit seperti Tina, tapi dewa tetap bisa menahannya. Hanya air mata yang jatuh menggambarkan kesedihan hatinya. Tangannya yang rapuh menepuk-nepuk punggung Bima pelan. Ia sayang anak itu, ia teramat mencintainya.


Namun, kenyataan tetap harus ia terima. Kisah yang telah terkuak itu, ia harus bersiap menerima segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa hadapan. Meski sepahit empedu, tetap harus ditelan.


Sementara di rumah Razka, gurat penyesalan terlihat di manik Aulia, tapi ego dalam dirinya masihlah sangat besar dan menguasai. Ia tak rela Bima lebih memilih hidup dengan orang lain daripada dirinya.


"Seharusnya kau tidak mengatakan itu, Aul. Jujur saja, aku kecewa padamu," ucap Razka sepemergian Bima dari rumahnya. Ia menatap kecewa pada wanita yang sudah dua puluh tahun lebih menemani perjalanan hidupnya itu.


Aulia mengangkat wajah menatap suaminya. Sungguh ia tak menduga Razka akan mengatakan itu, padahal dia ibu kandung dari Bima.


"Tapi aku Ibu kandungnya, aku yang melahirkan dia, Kak. Sudah seharusnya dia kembali pada kita, bukan terus-menerus tinggal bersama orang lain," sahut Aulia dengan nada yang meninggi.


Razka menggelengkan kepala, ia pun tak mengira Aulia akan berubah egois seperti saat ini. Ia seperti orang lain dan Razka tak mengenalnya.


"Kau tahu sendiri bagaimana rasanya kehilangan, kau pun tahu bagaimana rasanya jauh dari seorang anak. Coba kau bayangkan, coba kau pikirkan, bagaimana perasaan mereka seandainya kita mengambil Ibrahim dari mereka yang sudah dua puluh tahun merawatnya, mengasuhnya, mendidiknya, menjaganya hingga ia menjelma menjadi pemuda hebat?" ucap Razka dipenuhi tekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Lalu, kita datang dengan tiba-tiba dan ingin merampas anak itu dari asuhan mereka ... tidak, Aul!" lanjut Razka sambil menggelengkan kepala dengan tegas, "sekalipun kita orang tua kandungnya, kita tidak bisa semena-mena terhadap mereka. Jangan lupakan waktu mereka yang terbuang hanya untuk merawat anak kita itu. Jangan lupakan keringat mereka yang mengucur hanya untuk memberi makan anak kita itu. Berpikirlah bijak, Aul. Posisikan dirimu di tempat mereka," pungkas Razka seraya berdiri menyambar kunci mobil.


Sementara Aulia bungkam tak dapat menyahut. Hanya air mata yang meleleh melukiskan kesedihan hatinya. Ayra dan Nasya mengejar Razka ke luar rumah, hujan di luar telah reda.


"Ayah!" panggil mereka seraya berlari mendekati Razka yang telah membuka pintu mobilnya. Ia menunggu kedatangan mereka.


"Masuklah!" Tanpa meminta, ia tahu apa yang diinginkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2