Bima

Bima
Part. 30


__ADS_3

Seperti mengambang hati dan pikiran Bima. Di saat kedua kaki menapak bumi, berayun mengambil langkah, serasa menapak di atas awan yang tiada permukaan. Melayang tanpa batas, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang bangir menutupi mata sembabnya bekas tangisan tadi pagi.


"Ck! Ngapa gua kepikiran terus mobil tadi, ya?" Ia menggerutu sembari terus melangkah semakin memasuki gedung tempat di mana ia menimba ilmu.


Bima terus membawa langkah menuju kelasnya, tak acuh dengan sapaan para gadis yang tebar pesona kepadanya. Langkahnya tak terjagal.


"Hallo, sayang! Kenapa terburu-buru?" Seorang gadis berpakaian seksi menghadang langkahnya, Bima menatap tajam dari balik kacamata hitam yang ia kenakan. Jemari lentiknya menari-nari di atas bidang milik Bima yang nampak menyembul dari balik kaos yang ia kenakan.


"Ada undangan pesta untukmu. Apa kau bersedia datang denganku?" katanya dengan nada suara yang dibuat-buat. Kedipan matanya nakal, ia menggigit bibir seksinya menggoda Bima.


Namun, laki-laki itu bergeming, ia mencomot jemari yang masih menyentuh dadanya itu menggunakan dua jari. Menjauhkannya, lalu menepis bekas yang disentuhnya.


"Gua kagak bisa!" katanya. Ia yang hendak melanjutkan langkah terhenti tatkala gadis itu dengan berani membentang kedua tangan dengan dada yang dibusungkan.


"Setidaknya kita mengobrol dulu sebentar. Apa kau tidak tertarik padaku? Kenapa?" Ia merajuk manja. Membuat Bima merasa jengah dan jijik melihatnya.


"Sorry, tapi gua ada kelas," sahut Bima dingin. Ia melanjutkan langkah tanpa tertarik pada godaan gadis yang dijuluki primadona kampus tersebut. Gadis itu hanya dianggap Bima seperti kerikil dan menyingkirkannya amatlah mudah.


Gadis itu berbalik dengan kedua kaki yang dihentakkan. Kesal bukan main karena ia tak pernah berhasil membuat Bima tunduk padanya. Matanya menatap nyalang punggung Bima yang kian menjauh.


"Awas saja kau Bima. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkanmu," sumpahnya. Kedua rahang beradu kuat, pandangan tajam menusuk. Ia tidak main-main.


Seolah-seolah dapat mendengar apa yang diucapkan gadis itu, Bima menoleh. Ia membuka kacamata, sorot matanya yang tajam seolah berkata 'jangan mencoba bermain denganku.'


Bima melengos dengan kacamata yang telah terpasang kembali di tempatnya usai melihat keterkejutan di wajah gadis tersebut. Langkah kaki diayunnya dengan cepat, tak ingin tertinggal kelas. Berlomba dengan dosen yang dalam perjalanan menuju kelasnya di lorong yang lain.


Dosen tua itu bukanlah tandingan, Bima berlari lebih cepat dari kedua kakinya. Ia bahkan tidak membalas sapaan temannya dan lekas duduk di bangku. Dadanya kembang-kempis karena napas yang memburu akibat berlari.


"Dari mana kau? Kenapa baru datang?" tanya teman yang duduk di bangku sebelahnya.


"Kesiangan gua gara-gara semalam," sahutnya sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. Ia membuka halaman per halaman buku tersebut menunggu dosen datang.

__ADS_1


"Waw! Berapa ronde kalian main sampai kesiangan seperti sekarang?" godanya tanpa tahu malu.


"Sialan lu! Emang gua maen tinju pake ronde segala!" sungut Bima sembari memberi pukulan sedikit kuat di lengan temannya itu.


Ia menjerit tanpa suara, mengusap-usap bekas pukulan Bima yang berdenyut-denyut. Bima mendengus. Keadaan hening saat dosen memasuki kelas. Belajar dengan tenang hingga jam selesai.


"Bima! Mau ke mana?" teriak temannya di saat Bima terus berjalan keluar sambil menenteng tas miliknya. Ia berlari menghampiri dan merangkul lengannya.


"Gua mau pulang, ada urusan," katanya. Bima melepas rangkulan temannya dan cepat-cepat berjalan ke parkiran. Pikirannya tak dapat konsentrasi di kelas, terbayang gadis di dalam mobil itu membuatnya penasaran setengah mati.


Bima mengenakan helmnya, di saat itu seseorang duduk di belakangnya tanpa izin. Bima mendengus, ia melepas paksa lingkaran tangan Yola di perutnya. Beranjak turun, selanjutnya menarik tangan Yola agar turun dari motornya tanpa perintah.


Gadis primadona genit itu terjerembab di atas tanah yang dilapisi batako. Ia menjerit kesakitan sambil mengusap-usap bokongnya yang telak menghantam jalanan.


Bima tak acuh, ia yang jengah dengan tingkah gadis itu segera menjalankan motornya meninggalkan Yola yang masih merintih kesakitan.


"Kejam sekali kau, Bima! Apa salahku sampai kau begitu membenciku?!" jeritnya membahana. Bima tak peduli, terus menjalankan motornya tak menanggapi teriakan Yola.


"Sialan si Bima! Awas saja kau Bima, aku tidak akan tinggal diam dengan penghinaanmu ini!" kecamnya. Rasa di hatinya berubah menjadi dendam. Ia yang mengejar-ngejar Bima, tapi laki-laki itu terus-menerus menolak semua usahanya.


"Sabar! Tenang! Aku ada ide." Salah satu temannya berbisik. Memberikan ide yang membuat Yola tersenyum licik.


Kita lihat saja! Mampukah kau menolak ini, Bima?


"Bagaimana? Kapan kau akan menjalankan rencananya?" tanya temannya.


Yola melirik sinis. "Secepatnya! Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia lakukan setelah kita menjalankan rencana," katanya dengan sorot mata penuh tekad dan dendam. Bibirnya membentuk senyuman sinis.


Secepatnya! Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Kau tidak akan bisa lolos lagi dariku, Bima!


Hatinya mengancam, bagaimanapun Bima harus menjadi miliknya. Banyak gadis yang menginginkan Bima, tapi hanya Yola yang berani mendekat dan mengganggu.

__ADS_1


Ketiganya meninggalkan bangku tersebut meskipun terbungkuk karena pinggangnya masih berdenyut-denyut ia tetap melangkah menuju kelas. Di hatinya tak henti mengancam dan mengumpati Bima.


Sementara Bima, entah ke mana hatinya menuntun. Ia terus maju tanpa memikirkan arah tujuan. Hatinya berkelana entah ke mana. Ia tak dapat menampik, jauh di palung yang terdalam, ia ingin tahu dan ingin bertemu dengan orang tua kandungnya.


Sekalipun tak ada niat untuk meninggalkan Dewa dan Tina. Bima hanya ingin tahu siapa dan kenapa ia dibuang sampai jatuh ke tangan seorang preman yang berhati lembut seperti Dewa.


Siapa orang tua kandung gua sebenarnya? Hatinya bergumam. Pikiran buruk berseliweran kian kemari. Panas sengatan matahari, tak lagi ia peduli. Tangannya terus menarik pedal gas melaju di jalanan yang tiada bertepi. Selanjutnya, ia tak tahu apa yang akan dia lakukan saat bertemu nanti.


Bima menghentikan laju motornya di sebuah pohon tua pinggir jalan. Ia membuka helmnya, menengadah memandangi langit cerah yang menyilaukan. Air ludah diteguknya saat ia memejamkan mata.


Bima menurunkan kepala, menatap sekitar. Termangu ia di tempatnya saat mengenali rumah siapa yang ia datangi.


"Ngapa gua datang ke mari?" Bergumam heran. Kedua matanya memandang pada sebuah rumah besar di seberang jalan tempatnya memarkir motor.


Gerbang rumah itu terbuka, ada deretan mobil terparkir di halamannya. Tak lepas kedua bola mata Bima dari memandangnya.


Ngapa rasanya gua pernah masuk tu rumah, ya? Padahal, datang aja gua jarang. Segen bet rasanya masuk rumah gedongan.


Hatinya masih merasakan hal yang sama. Setiap kali datang ke rumah itu, ia selalu merasa pernah berada di dalamnya. Ada sebuah tarikan magnet yang kuat dari dalam rumah tersebut.


Seorang gadis berhijab keluar dan berdiri di teras. Ia memandang Bima sekilas sebelum berteriak memanggil Ayahnya.


"Ayah!"


Bima buru-buru mengenakan helm, menghidupkan mesin, dan dengan cepat melesat meninggalkan jejak debu yang berterbangan di jalanan.


"Ada apa?" Razka dan yang lainnya muncul mendatangi gadis itu.


"Aku melihat motor itu lagi. Motor yang membuntuti kita di jalanan, dia terus melihat ke arah rumah di seberang jalan sana, Ayah!" Tangannya menunjuk pada tempat Bima memarkir motornya tadi.


"Apa ada yang mengintaimu? Padahal, kau baru saja sampai," ucap Rendy tak habis pikir.

__ADS_1


"Entahlah. Kenapa kota ini selalu berbahaya untuk aku tinggali?" Razka menghendikan bahu.


__ADS_2