Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 10 Mami ?


__ADS_3

...Semalaman Reina tak bisa tidur kala memikirkan nasib terburuk yang akan menimpa ke dua orang tuanya, walau begitu Reina tidak berani menelpon orang tuanya karena takut mereka akan khawatir, sebab Reina adalah salah satu orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya dengan benar. Jika Reina menghubungi orang tuanya semalam, bukan malah merasa tenang yang ada malah kedua orang tuanya yang merasa khawatir dengannya. Alhasil terdapat bulatan besar di kedua matanya akibat kurang tidur....


" Hmmm apakah keputusanku sudah benar meminta tolong pada Revan?" Ucap Reina pada diri sendiri yang sudah kesekian kalinya bahkan jika dihitung sudah lebih 1000 kali sejak semalam, pertanyaan ini terus menerus ditanyakan pada dirinya sendiri.


" Apa gak jadi aja ya.." tanya Reina pada diri sendiri lagi dan lagi.


Kring kring kring


Suara telpon genggamnya membuyarkan lamunan Reina.


" Nomor baru? " Ucap Reina dalam hati sambil menekan ikon hijau dalam layar ponselnya.


" Ya halo." Ucap Reina


" Rein, ini tante Lila " ucap penelpon di seberang sana yang ternyata adalah ibu dari Revan.


" Oh iya tante ada apa?" Ucap Reina dengan bertanya tanya.


" Emm gini nak, Sain sekarang sedang di rawat dirumah sakit dan dia terus meracau. Apa kamu bisa datang kesini? " Tanya Lila


" Ia tante, tante kirim saja alamatnya ya biar Rein langsung otw kesana." Ucap Reina kemudian mematikan telponnya.


...Setelah mendapat telpon dari ibu Revan Reina langsung bergegas ke kamar mandi dengan gerakan cepat atau yang biasa disebut mandi bebek. Setelah selesai dengan mandi kilatnya Reina terpaksa harus menambahkan fondation ke wajahnya karena lingkar mata yang ia dapatkan semalam, padahal Reina kurang suka dengan dandanan yang tebal ia lebih suka terlihat natural dan tidak berlebih. Reina memang bukan tipe orang yang suka ber make up tebal tidak hanya itu bahkan dalam gaya berpakaian Reina lebih menyukai yang simpel namun tetap cantik dengan kata lain Reina lebih menyukai sesuatu yang tidak ribet namun tetap indah dipandang....


...Pada akhirnya Reina memoles wajahnya dengan sapuan yang setipis mungkin namun tetap bisa menutupi lingkar matanya karena tidak mungkin ia menutupi lingkar matanya dengan kaca mata hitam, apa yang akan dikatakan mereka semua jika Reina datang ke rumah sakit menggunakan kaca mata hitam besar, sehingga mau tidak mau jalan satu satunya adalah dengan memoles wajahnya sedikit....


Reina pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi, ada rasa cemas yang sedikit menyentil hatinya.


"Apa aku sudah menyayangi anak itu?" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


...Setelah sampai di rumah sakit Bakti Husada Reina bergegas menuju ruang rawat inap Saina yang sebelumnya sudah diberitahukan ibu Revan kepadanya....


Tok tok tok


...Reina mengetuk pintu ruang rawat inap Saina sambil memegang handel pintu kemudian membukanya secara perlahan. Di sana Reina melihat Lila duduk di samping brankar Saina dengan wajah yang terlihat lelah dan khawatir....


" Masuklah Rein, Sain baru saja tidur." Ucap Lila yang melihat kedatangan Reina.


" iya tante"


...Perlahan Reina mendekati brankar milik Saina, melihat Saina yang biasa sangat ceria kini harus terbaring lemah membuat Reina merasa kasihan kepadanya, kemudian mengelus rambut Saina secara perlahan....


" Rein tante tinggal dulu sebentar, apa kamu mau nitip sesuatu?" Ucap Lila yang dibalas gelengan kepala oleh Reina. setelah mendapat jawaban dari Reina kemudian Lila pergi meninggalkan ruangan.


...Reina duduk di kursi yang sudah tersedia di pinggir brankar sambil terus menatap Saina dengan perasaan iba, badannya masih terasa panas mungkin itulah yang membuat Saina tampak gelisah dalam tidurnya pikir Reina karena melihat Saina yang terus bergerak gelisah tidak bisa tenang. Reina kemudian perlahan mengusap tangan Saina dengan hati hati berharap dengan sentuhannya Saina bisa tidur dengan sedikit lebih tenang, saat perlahan mata kecil itu terbuka dan memandang area sekitar dengan tatapan bingung, Reina memberikan sebuah senyuman kepada Saina....


" Mami..." Ucap gadis itu lirih sambil memandangi Reina.


" Mami? mami siapa, aku? Apa mungkin Saina merindukan ibunya sampai salah mengenali? Tapi kenapa malah aku yang dipanggil mami?" Ucap Reina dalam hati.


" Mami.." Lagi lagi Saina memanggilnya dengan panggilan tersebut.


...Karena Reina yang tidak tega melihat Saina yang terus menerus memanggilnya mami dengan wajah yang hampir menangis, pada akhirnya Reina hanya mengiyakan panggilan tersebut sambil sesekali tersenyum dan mengusap tangan mungil Saina untuk memberikan ketenangan....


" Iya Sain mami disini, jangan menangis ya anak pintar." Ucap Reina menenangkan Saina.


" Sakit mi, Sain mau pulang mau pulang." Rengek Saina


" Sabar ya nak, besok kalau Saina sudah sembuh kita pulang. Sekarang Saina disini dulu ya." Ucap Reina hati hati memberi pengertian pada gadis kecil itu.

__ADS_1


...Saina yang pada dasarnya haus akan kasih sayang seorang ibu, begitu dekat dengan Reina Saina akan selalu merengek minta diberikan perhatian....


" Mami gendong." Ucap Saina sambil mengangkat tangannya sedikit meminta untuk di gendong Reina.


" Uluh uluh bayi besar mami minta digendong. Oke sini sini biar mami gendong." Ucap Reina sambil mencolek hidung mancung Saina.


...Dengan hati hati Reina menggendong Saina sambil membetulkan letak selang infus memastikan agar cairan itu tetap bisa masuk. Reina menggendong Saina sambil mengelus punggung Saina agar gadis itu bisa tertidur lagi....


" Mami celita kancil.. celita kancil." Ucap Saina yang meminta Reina untuk mendongeng.


" Pada suatu hari di hutan yang sangat lebat hiduplah beraneka binatang yang di pimpin oleh seekor harimau. Sayangnya semua binatang sangat membenci harimau karena selalu berlaku se mena mena, terlebih dengan aturan konyol harimau bahwa setiap minggunya harus ada hewan yang sukarela untuk menjadi santapannya. Karena tidak tau lagi harus berbuat bagaimana untuk menghentikan harimau kemudian...


Astaga.." ucap Reina yang terkejut karena ia baru menyadari bahwa sedari tadi Revan duduk di sofa sambil memperhatikannya.


...Revan yang melihat Reina akan terjatuh karena terkejut melihatnya, lantas langsung berdiri menghampiri Reina dan dengan sigap memegang tangan Reina agar tidak terjatuh. Ketika Revan memegang tangan Reina untuk membantunya, manik mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain cukup lama seakan mereka terhanyut akan keindahan pancaran bola mata mereka masing masing....


" Apa kau seceroboh itu?" Ucap Revan yang langsung membuyarkan tatapan kagum Reina akan manik mata Revan yang begitu jernih.


" Bisahkah mulutmu itu mengatakan hal yang manis?" Ucap Reina yang mulai jenggah dengan kata kata Revan.


" Kau.." Belum juga Revan melanjutkan sudah dipotong oleh Reina.


" Ssssttt jika tidak bisa maka diamlah, biarkan Saina tidur." Ucap Reina sambil memberi isyarat kepada Revan untuk diam.


Mendengar hal itu Revan kemudian diam memasang wajah datar sambil melepaskan tangannya.


bersambung


jangan lupa untuk vote ya kakak

__ADS_1


see you


__ADS_2