Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 48 Tanpa sadar


__ADS_3

"Lo tau sifat gue seperti apa, gue paling tidak suka barang milik gue di sentuh orang lain sebelum gue sendiri yang membuangnya, apa kamu masih belum mengerti juga?" ucap Revan dengan santai dan datar.


...Jelas bukan ini jawaban yang diinginkan Rian ia sengaja memancing sahabatnya itu dengan tujuan agar Revan mau mengakui perasaannya pada Reina tapi yang terjadi sekarang malah hal menyakitkan seperti ini yang keluar dari mulut Revan. Rian perlahan menoleh kearah Reina berharap agar Reina belum sadar dan tidak mendengar ucapan Revan namun saat pandangannya tepat ke arah Reina tanpa sengaja Rian melihat air mata Reina menetes perlahan menuruni pipi Reina dengan tubuh yang sedikit bergetar seperti menahan tangis namun tetap dengan mata terpejam....


" Ah sial jadi sedari tadi Reina sudah bangun, goblok kau Rian bisa bisanya lo memancing di air yang keruh." ucap Rian dalam hati sambil merutuki kesalahannya.


" Van ayo kita ngopi dulu di pantry biarkan Reina dan Saina istirahat dulu" ucap Rian yang seakan memahami sesuatu bahwa Reina ingin sendiri sekarang.


" Tidak bisakah kamu pergi sendiri, aku akan menunggu mereka disini" ucap Revan menolak ajakan Rian.


" Ayo lah van kapan lagi kita ngopi berdua." ucap Rian sambil mendorong tubuh besar Revan untuk menuju ke pantry.


" Kau juga wil ayo kita ngopi bersama" ucap Rian dengan mengedipkan mata seakan memberi kode kepada Wili untuk ikut pergi.


...Wili yang mengerti maksud kode tersebut kemudian menuruti Rian dan ikut meninggalkan ruang kerja Revan....


Brukk


Suara pintu yang tertutup.


...Reina langsung bangkit dan duduk begitu mendengar suara pintu tertutup dan memastikan semua orang sudah pergi meninggalkan ruangan....


...Reina duduk termenung sambil melipat kakinya keatas dan menaruh dagunya pada kedua lutut Reina. Air mata terus tumpah membasahi pipi Reina sedari tadi, tangisannya begitu pilu dan menyayat hati bahkan untuk mengumpat pun Reina sudah tidak sanggup lagi. Rasa sakit akibat pukulan dari Gerald seketika sirna tertutupi oleh sakit hatinya yang terlalu perih karena menaruh harapan pada sesuatu yang tidak pasti....


" Aku yang bodoh sejak awal Revan sudah menekankan bahwa aku hanya bisa menjadi ibu Saina bukan istri Revan, ya aku yang bodoh benar benar bodoh aku bahkan menyerahkan kesucian ku hanya demi dianggap sebuah barang olehnya bukankah harga ku terlalu murah. Ya Allah.... kenapa rasanya begitu sakit ketika mengetahui suami yang hamba cintai dan sayangi bahkan tidak mencintai hamba, aku yang terlalu lugu karena termakan kata kata manisnya." ucap Reina pada diri sendiri dengan sesenggukan.


" Aku aku aku apa yang harus aku lakukan, apa aku tidak pantas untuk bahagia? mengapa semua lelaki hanya memanfaatkan ku dulu Gerald sekarang Revan, apa aku tidak layak bahagia?" ucap Reina pada diri sendiri dengan terus menangis sambil memukul mukul dadanya yang sesak berharap akan berkurang rasa sesaknya dengan memukul mukulnya berkali kali.


...Reina kemudian menoleh menatap Saina yang sedang tertidur pulas dengan damai, Reina perlahan mendekat dan bersimpuh dibawah karpet tepat di hadapan Saina yang tertidur....


" nak mami yang bodoh atau mami yang terlalu polos? bahkan ayahmu tidak pernah menganggap mami istrinya. Mana mungkin ada seorang suami yang terang terangan selingkuh dengan mantan istrinya sendiri di depan mata istri sahnya. Bukankah mami yang terlalu bodoh nak, mami mami mami sungguh sangat bodoh karena menganggap ayahmu berubah karena mencintai ibu nak" ucap Reina pada Saina sambil mengelus rambut Saina dengan sayang.


...Tidak ada yang Reina lakukan selain hanya menangis dan menangis tanpa henti, hingga ketika Reina merasa lelah Reina menghentikan tangisannya dan bangkit berpindah duduk di atas sofa tanpa melakukan apapun dengan menatap kosong ke arah depan....

__ADS_1


Cklek


Pintu ruangan Revan terbuka menampilkan sosok Revan dan Rian yang berjalan masuk ke dalam.


" Rein kamu sudah sadar? apa rasanya sakit? kamu habis menangis Rein? sangat sakit ya?" cerocos Revan setelah memasuki ruangan dan melihat Reina sudah duduk di sofa dengan mata yang sembap.


" Benar dugaan ku Reina mendengar semuanya" ucap Rian dalam hati yang turut melihat mata sembap Reina.


" Aku ingin pulang van" ucap Reina dengan nada singkat.


" Biar aku yang antar ya?" ucap Revan dengan nada khawatir melihat kondisi Reina yang seperti itu.


"Tidak perlu aku bisa naik taksi" ucap Reina tetap dengan pandangan lurus tanpa melihat Revan sedikitpun.


" Tapi Rein...." ucap Revan namun terpotong oleh Rian.


"Biar aku saja sekalian aku kembali ke rumah sakit" ucap Rian menengahi ke duanya.


Revan yang melihat tingkah laku Reina hanya bisa menghela nafas panjang dan menyaksikan kepergian Reina dan Rian hingga menghilang dari pandangannya.


" Wil siapkan rekaman CCTV 40 menit yang lalu di ruangan ku, aku ingin disertai dengan kualitas suara yang jernih." ucap Revan pada Wili setelah kepergian Reina dan Rian.


" Baik tuan" ucap Wili kemudian pergi meninggalkan Revan untuk mencari apa yang di minta Revan.


" Pasti ada sesuatu yang tidak beres, aku yakin itu." ucap Revan pada diri sendiri.


...15 menit kemudian Wili kembali dengan membawa laptop ditangannya, Wili menyerahkan laptop tersebut di depan Revan dan mulai menekan tombol play....


...Revan melihat dengan seksama dan mencari tahu apa yang salah, Revan memutar rekaman CCTV ketika Reina sudah bangkit dan duduk di sofa di sana Revan melihat Reina yang menangis dan meraung dengan kata kata yang sulit untuk Revan pahami, Revan menjeda rekaman tersebut dan berpikir sebentar....


" Apa Reina benar benar mencintaiku? Lalu bukannya dia harusnya bahagia? Kenapa dia malah menangis dengan histeris?" ucap Revan dalam hati sambil terus memikirkan alasannya.


...Ketika lama berpikir akhirnya Revan seperti menemukan titik terang, Revan kemudian memutar kembali rekaman CCTV tersebut ke menit sebelum Revan dan Rian pergi ke pantry....

__ADS_1


CCTV on


"Apa lo sudah mencintainya van" ucap Rian dengan senyum menggoda.


" Apaan sih lo yan" ucap Revan dengan nada datar.


" Udahlah jujur aja, pakek acara rahasia rahasian lo kayak abg" ucap Rian yang semakin gencar menggoda sahabatnya itu.


" Bukannya lo udah tau jawabannya, gue itu menikahi Reina karena Saina butuh sosok seorang ibu kenapa lo tanya lagi" ucap Revan


" Gila lo van lo kira Reina itu barang apa, kalau memang hanya itu alasannya kenapa lo marah ketika Reina dekat dengan laki laki lain?" ucap Rian lagi lagi memancing sahabatnya itu agar mau mengungkapkan perasaannya.


"Lo tau sifat gue seperti apa, gue paling tidak suka barang milik gue di sentuh orang lain sebelum gue sendiri yang membuangnya, apa kamu masih belum mengerti juga?" ucap Revan dengan santai dan datar.


CCTV off


Revan menjeda kembali rekaman tersebut setelah mendengar ucapannya sendiri.


" Sial apa yang sudah ku ucapkan, aku benar benar tidak sadar telah mengucapkan kalimat itu." ucap Revan pada diri sendiri sambil merutuki kesalahannya.


" Sepertinya nona Reina tahu tentang pembicaraan tuan" ucap Wili dalam hati yang juga ikut menerka nerka alasannya.


...Revan kemudian melihat kembali ke arah rekaman CCTV dan baru menyadari satu hal, ada yang aneh dalam rekaman CCTV tersebut....


Bersambung


Hayo loh gak sadar kan Van udah ngomong kayak gitu?


Apa yang selanjutnya terjadi ya?


Ikuti terus kisahnya


See you...

__ADS_1


__ADS_2