
...Setelah mengantar Saina pulang Revan bergegas menuju mansion Gerald....
...Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota....
" Aku akan membawa Reina pulang! aku akan membawanya bagaimanapun caranya" ucap Revan dengan amarah yang menggebu gebu siap untuk menerkam siapa saja yang dengan berani mengusiknya.
...Beberapa menit kemudian Revan sampai di mansion milik Gerald, Revan memarkirkan mobilnya dengan serampangan kemudian bergegas keluar memasuki mansion yang kebetulan sedang lenggang atau kosong saat itu....
...Namun di saat Revan mulai memasuki mansion tersebut api yang semula membara perlahan mulai pudar kala Revan melihat Reina tengah duduk di kursi roda sambil mengaduk susu formula....
" Rein......" ucap Revan dengan suara parau
...Reina yang mendengar hal itu langsung menghentikan gerakannya kala mendengar suara tak asing mengusik pendengarannya....
" Rein.... kemana saja kamu selama ini?" ucap Revan lagi sambil berjalan mendekat ke arah Reina.
...Reina yang sempat mengira suara itu adalah halusinasinya perlahan mulai memutar kursi rodanya untuk memastikan apakah itu benar benar Revan....
...Air mata Reina lantas mulai berjatuhan kala mendapati suara itu memang benar benar Revan....
" Rein..." panggil Revan lagi sambil terus mendekat ke arah Reina namun tiba tiba.
"Hentikan langkah kaki mu, dia milikku!" ucap Gerald menggelegar memenuhi hampir seluruh ruangan mansion.
...Revan yang mendengar hal itu mencoba acuh tak acuh dan tetap melangkahkan kakinya menuju ke arah Reina....
...Gerald yang melihat Revan mengacuhkannya tentu saja menjadi geram kemudian menarik pelatuknya dan menembakkannya kesembarang arah....
Dor ....
...Suara tembakan pertama menggema memenuhi seluruh ruangan mansion membuat langkah kaki Revan yang hampir sampai kepada Reina terhenti seketika....
...Reina yang mendengar suara tembakan itu lantas mulai khawatir, Reina benar benar tahu bagaimana sifat Gerald, ia bisa saja bertindak nekat jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan kemauannya....
...Reina menoleh Gerald sekilas kemudian kembali menatap ke arah Revan dan menggelengkan kepalanya perlahan sebagai isyarat untuk Revan agar tidak melakukan tindakan gegabah saat ini....
__ADS_1
...Gerald menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan menuju ke arah Revan dan Reina berada....
" Aku bilang hentikan ya hentikan.....kau sudah tidak ada hak lagi untuk menyentuh Reina, dia milikku" ucap Gerald dengan penuh penekanan
...Revan yang mendengar hal itu lantas menatap tajam ke arah Gerald menandakan ketidaksukaannya pada perkataan Gerald....
" Atas dasar apa kau mengakui Reina sebagai milikmu? bahkan dalam mimpipun aku tidak akan pernah sudi mengizinkannya." ucap Revan dengan penuh penekanan.
" Hahahahhahaha" tawa Gerald mulai menggema membuat Revan semakin kesal akan wajah pria di depannya ini.
" Bukankah Reina mu sudah mati setahun yang lalu, dan sekarang apa masalah mu mengganggu ku dan juga Reina ku?" ucap Gerald di akhir tawanya
" Kau ...." ucap Revan dengan geram hendak melangkah menuju Gerald namun Gerald langsung mengacungkan pistolnya tepat ke arah Revan.
Reina yang melihat hal itu lantas menjadi panik setengah mati.
" Stop....ge...ku mohon hentikan semuanya oke...kita bicarakan ini baik baik" ucap Reina reflek karena takut Gerald akan kembali menarik pelatuknya.
Gerald yang mendengar suara Reina lantas langsung menoleh ke arahnya.
...Reina benar benar berada di antara dua pilihan yang sulit, Reina menggigit bibir bawahnya bingung akan menjawab apa ucapan Gerald, ingin sekali rasanya Reina mengatakan tidak namun nyawa Revan masih lebih penting ketimbang hanya dirinya yang bahkan sudah tidak lagi berguna untuk siapa pun....
" Tenang lah dulu ge.... kita bisa bicarakan semuanya..... aku tidak akan kemana mana" ucap Reina lagi mencoba menenangkan Gerald.
" Rein" panggil Revan ketika mendengar ucapan Reina barusan yang lantas di balasi Reina dengan gelengan kepala.
" Aku tidak akan membiarkan Reina mengorbankan dirinya lagi, cukup sudah" ucap Revan dalam hati.
...Revan kemudian lantas berjalan ke arah Gerald ingin menyelesaikan segalanya dengan jantan, Reina yang melihat itu lantas tambah khawatir karena semakin di pancing Gerald akan semakin diluar kendali, Reina berusaha memajukan kursi rodanya namun entah karena terburu buru atau apa kursi rodanya tidak mau berjalan seperti tersangkut sesuatu, tak putus asa perlahan Reina mulai menurunkan kakinya dan berusaha bangkit untuk mencegah Revan agar tidak ke sana....
" Ayo Reina ayo..... kenapa kakiku sulit sekali di gerakkan ayo Rein...........kamu pasti bisa..... ah...dasar tidak berguna" ucap Reina sambil berusaha berdiri dengan kaki yang bergetar hebat.
...Reina berusaha sekuat mungkin untuk bisa bangkit dan berjalan menghentikan langkah Revan menuju gerbang kematian, namun siapa sangka yang terjadi selanjutnya adalah......
Dor......
__ADS_1
....................................
Mansion milik Permadi
...Terlihat Permadi tengah asyik menikmati santai sorenya dengan bermain golf di halaman mansion miliknya yang sudah di desain khusus menyerupai lapangan golf....
" Bi ... ambilkan stik golf saya yang baru.." teriak Permadi
...Mendengar teriakan Permadi asisten rumah tangga tersebut lantas bergegas melaksanakan perintah Permadi untuk mengambil stik golf....
...Sambil menunggu sang art mengambil stik golfnya, Permadi perlahan mendudukkan bokongnya sambil mulai menyeruput kopi kesukaannya....
" Permisi tuan ada yang ingin saya sampaikan" ucap sekertaris Permadi yang tiba tiba datang dan sudah berdiri tepat di sebelah Permadi.
" Ada apa?" tanya Permadi sambil terus menyeruput kopi di gelasnya.
" Beberapa anak buah kita melihat kedatangan Revan di mansion tuan muda Gerald, sepertinya tengah terjadi masalah di sana tuan karena mereka mengatakan bahwa terdengar beberapa kali tembakan dari mansion tersebut" ucap sekertaris tersebut memberikan laporan.
...Mendengar hal itu Permadi lantas langsung menghentikan gerakannya kemudian menatap ke arah sekertaris tersebut....
" Ini yang aku takutkan... Gerald si kepala batu itu pasti akan melakukan segala cara agar Reina tetap berada di sisinya." ucap Permadi sambil menaruh cangkir tersebut ke meja.
" Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya sekertaris tersebut
...Mendengar hal itu Permadi lantas terdiam, jujur saja Permadi ingin sekali ke sana namun bisa kalian tebak jika Permadi ke sana pasti Gerald akan marah dan mengacuhkannya, namun jika Permadi tidak ke sana Gerald pasti akan menjadi liar dan tak terkendali....
" Baiklah kita pergi ke mansion Gerald sekarang, aku berharap ketika sampai di sana semua belum terlambat" ucap Gerald kemudian bangkit berdiri bersiap untuk pergi.
" Apa anda yakin tuan?" tanya sekertaris tersebut memastikan
" Ya, meskipun nanti aku pasti akan di usir setidaknya kita harus mencobanya bukan?" ucap Permadi kemudian melangkah keluar.
" Loh tuan anda mau kemana? stik golfnya mau di taruh di mana tuan?" ucap art tersebut yang melihat Permadi bersiap pergi.
" Tidak perlu, kau bereskan saja semuanya aku pergi dulu" ucap Permadi sambil terus berjalan.
__ADS_1
Bersambung