Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 6 calon menantu idaman


__ADS_3

" Pagi.. Mari makan semoga kamu suka makanannya Rein." Ucap Mahendra membalas sapaan Reina.


...Reina dan Lila kemudian menarik kursi meja makan dan duduk. Posisi duduk mereka yaitu Reina berhadapan dengan Revan dan ibunya sedangkan Saina duduk di sebelah Reina....


" Sain apa kamu masih lapar? Atau mau makan buah?" Tanya Reina kepada Saina mengingat tadi Saina sudah memakan seporsi bubur bersamanya.


" Aku mau salad buah kakak tantik."


Jawab Saina dengan senyum tanpa dosanya.


" Baiklah, segini cukup? Mau kakak bantu?"


Reina dengan cekatan mengambil salad buah yang dihidangkan di meja makan kemudian memberikannya untuk Saina, tidak hanya sampai disitu Reina bahkan berinisiatif untuk menyuapi Saina.


" Biarkan Sain makan sendiri, biar dia mandiri." Kata kata ketus Revan menghentikan gerakan Reina membawa salad buah itu masuk ke mulut Saina.


" Menyuapi anak makan bukan tidak mendidik mereka menjadi mandiri, itu bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak mereka."


Balas Reina tak kalah ketus kepada Revan.


...Sadar Reina sudah terpancing emosi disaat yang tidak tepat bahkan didepan kedua orang tua Revan membuatnya sedikit malu. Reina kemudian sebisa mungkin menahan dirinya agar tidak terpancing emosi ketika berbicara dengan Revan....


...Lila dan Mahendra yang melihat adegan itu justru tersenyum bahkan mereka berdua tampak memikirkan sebuah rencana. Entah rencana mereka berdua sejalan atau tidak pasalnya ketika Lila menoleh kearah suaminya sambil tersenyum Mahendra membalasnya dengan anggukan seakan mengerti apa yang ada dipikiran sang istri tercintanya itu....


" Biarkan saja van, jangan terlalu kaku.


Silahkan dilanjutkan Rein."


Ucap Mahendra memecah keheningan antara Revan dan Reina.


...Reina membalas tanggapan Mahendra dengan senyuman kemenangan kemudian Reina menoleh kepada Revan seakan mengejek Revan dan mengatakan kemenangannya dengan alis sedikit naik turun dengan wajah tersenyum. Revan yang melihat itu hanya menanggapinya dengan datar dan membuang wajah kesamping kemudian melanjutkan ritual makannya....


...Adegan selanjutnya di meja makan hanya diisi keheningan dan celoteh manja dari Saina yang sesekali ditanggapi oleh Reina....


...Tak ada tanggapan dari Mahendra, Lila maupun Revan untuk menimpali cucu kecilnya itu. Mereka bertiga hanya menikmati momen langka yang tersaji di depan mereka yang tidak pernah mereka lihat. Ya apalagi kalau bukan interaksi Reina dan Saina, Reina terlihat begitu telaten dalam mengurus Saina penuh perhatian dan kasih sayang sehingga siapapun yang melihat akan mengira bahwa Reina dan Saina sepasang ibu dan anak yang saling menyayangi....


...Setelah selesai sarapan Saina mengajak Reina untuk bermain di taman belakang sambil duduk di ayunan, Reina menggoyang ayunan secara perlahan sambil menceritakan dongeng anak anak. Rencana awal untuk bermain harus gagal karena Reina melihat Saina yang terus saja menguap sambil sesekali bermain, pada akhirnya Reina mengajak Saina untuk menyenderkan kepala di pangkuannya dengan terus mengayun ayunan perlahan sambil menceritakan sebuah kisah....

__ADS_1


" Harimau terus berlari mengejar kancil sambil marah, karena harimau tau iya telah dibohongi oleh sang kancil. Kancil yang mengetahui harimau mengejarnya tercetus sebuah ide agar bisa lolos dari harimau. Kancil terus berlari dan berlari sampai kemudian....."


...Reina menggantung ceritanya kemudian menoleh ke arah bawah melihat apakah Saina sudah tertidur. Dengkuran kecil serta nafas beraturan mulai terdengar perlahan menandakan Saina sudah mulai masuk menuju pulau impian. Reina mengelus punggung kecil Saina dengan sayang secara perlahan agar Saina lebih nyenyak dalam tidur dan tidak terbangun ketika digendong nantinya....


...Dari kejauhan Revan menatap interaksi itu dengan wajah yang teduh dan damai, tidak ada niat Revan untuk mengganggu ia hanya berdiri di depan pintu menuju taman sambil mandang ke arah keduanya....


" Reina sangat telaten ya van mengurus Saina. Bagaimana kalau kamu menikahinya." Ucap Mahendra yang tiba tiba sudah berdiri di sebelah Revan.


" Apa papa bercanda? Atau papa lupa. "


Jawab Revan dengan wajah datarnya.


" Lupakan Iriana, tidak semua perempuan sama dengannya tentu Reina berbeda bukan? Kamu bisa melihatnya tanpa harus papa tunjukan. Sain butuh figur seorang ibu itulah yang papa lihat ketika Sain bersama Reina, pikirkan baik baik van."


...Setelah memberi nasihat Mahendra pergi meninggalkan Revan sendiri agar bisa merenungi ucapannya....


..........


Di dalam kamar Lila dengan cemas dan penasaran menunggu kabar dari suaminya.


Cittt


" Gimana pa? Apa Revan setuju ? Ayo dong pa mama udah penasaran nih." Celoteh Lila yang tak sabar menunggu suaminya berbicara.


" Mbok ya sabar jadi orang." Jawab Mahendra sengaja untuk menggoda sang isteri.


" Iss sih papa, jadi cerita gak nih." Ucap Lila dengan nada yang sedikit kesal terhadap suaminya.


" Revan sepertinya masih belum bisa menghapus kenangan pahitnya bersama Iriana ma." Ucap papa dengan helaan nafas yang panjang menandakan bahwa ia khawatir namun tidak bisa melakukan apapun.


" Harusnya dulu mama jangan mau mengalah dengan keputusan Revan menikahi Iriana, harusnya ma..ma.. "


...Perkataan Lila tercekat tak bisa keluar mengingat kenangan itu yang masih menjadi momok tersendiri bagi Revan....


" Sudahlah ma, ini bukan salah mama. Biarkan Revan mengobati lukanya dulu ya."


Ucap Mahendra sambil mengelus perlahan punggung Lila memberikan ketenangan.

__ADS_1


" Tapi mama terlanjur suka dengan Reina, papa lihat sendiri kan Sain butuh figur seorang ibu." Ucap Lila tak mau kalah dengan mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh disudut matanya.


" Mama baru ketemu udah main suka suka aja, kalau dia hanya akting gimana?"


Ucap Mahendra dengan nada bercanda .


...Tentu saja hal itu langsung membuat Mahendra mendapat pukulan di bagian dadanya dari Lila yang gemas dengan mulut suami satunya ini, bagaimana bisa ketika sedang serius dia malah bercanda....


..........


Kembali ke Reina


...Reina yang sudah memastikan Sain tertidur, dengan gerakan perlahan menggendongnya untuk ditidurkan ke kamar. Ketika langkahnya sudah mendekati pintu Reina terkejut karena tanpa ia sadari Revan berdiri diam di depan pintu memandanginya sedari tadi, hal itu membuatnya sedikit salah tingkah dengan jantung yang berdebar....


" Apa yang terjadi dengan jantungku, santai dong biasa aja. Masak sama Revan si muka datar aja kamu kesemsem, big no ok." Ucap Reina dalam hati sambil terus mengatur ritme jantungnya.


" Emm permisi bisa tolong tunjukan kamar Saina dimana. " Ucap Saina sambil berusaha menetralkan debaran jantungnya.


...Revan yang tidak fokus karena memikirkan ucapan papanya dikagetkan dengan suara Reina yang menanyakan kamar Saina. Dengan tetap memasang muka datarnya Revan mengantar Reina menuju kamar Saina....


...Sesampainya di kamar Reina membaringkan Saina ke ranjang dengan hati hati sambil mengelus rambut Saina agar ia tidak terbangun. Revan yang berinisiatif menyelimuti Saina tiba tiba gerakannya terhenti ketika Revan baru menyadari bahwa jarak antara ia dan Reina begitu dekat hingga hembusan hangat nafas Reina terasa menerpa wajahnya....


...Dengan perlahan Revan mengangkat wajahnya, detik berikutnya pandangan mereka bertemu. Manik mata Revan dan Raina terkunci cukup lama seakan akan mereka hanyut kedalam kilauan mata masing masing. Sampai kemudian fokus Revan beralih kepada bibir ranum berwarna peach alami milik Reina yang begitu indah dan menggoda hingga tanpa sadar Revan semakin mendekat kearah bibir Reina, semakin dekat dan semakin dekat......


" Hoaaaammm kakak tantik ayo main." Ucap Seina yang membuyarkan gerakan Revan.


...Reina dan Revan yang terkejut dengan suara Saina lantas langsung menoleh kearah Saina dengan gerakan canggung, tapi si pembuat suara dengan polosnya masih tertidur lelap dan terus berlayar ke alam mimpi tanpa sadar bahwa ia telah merusak adegan romantis tersebut....


" Sepertinya Saina hanya mengigau. " Ucap Reina sambil menoleh kesamping menyembunyikan wajahnya yang sudah merona.


" Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Revan dan langsung berlalu meninggalkan Reina di sana.


" Adegan apa barusan? Jantungku? Bukannya kamu tidak menyukainya? Kenapa kamu malah ikut ikutan memonyongkan bibirmu. Hadeh Reina sadar bangun, dasar bodoh." Ucap Reina dalam hati sambil terus merutuki kelakuannya yang hanya mengikuti insting tanpa berfikir dahulu. Kemudian bangkit berdiri dan menyusul Revan.


Hayo jadi gagal kan first kiss nya....


selow, ikuti terus ceritanya..

__ADS_1


see you


__ADS_2