Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 96 Menuai hasil


__ADS_3

" Hai Rein........


pasti kamu sangat marah kan bila mengingat kelakuanku kemaren, aku sungguh minta maaf jika memang aku membuatmu terluka tapi sungguh aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu .....


Meski ini tidak sepenuhnya kesalahanku namun jika ditanya aku tidak pernah menyesal melakukannya karena aku benar benar sangat menyukaimu Rein....


Oh ya untuk Revan ....


Tolong jaga Reina baik baik ya, aku tidak tahu pasti apakah tuan besar mengincar mu atau Reina tapi yang jelas kalian dalam bahaya karena musuh yang kalian hadapi mampu melakukan segala cara untuk membuat keinginan mereka terkabul dan kau tahu ini juga yang terjadi padaku saat ini. Percaya atau tidak percaya sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini, apa kau mau bertaruh?


Lain kali jaga Reina dengan sungguh sungguh bukan malah lalai seperti ini, satu hal lagi asal kamu tahu Reina sangat mencintaimu van bahkan disaat aku bercumbu dengannya yang keluar dari mulut Reina secara terus menerus adalah namamu.


Semoga kalian bahagia, aku minta maaf karena sudah membuat perpecahan diantara kalian..."


...Revan membaca seksama surat yang ditinggalkan oleh Putra, dari s...


...surat tersebut ia menangkap satu hal bahwa dalang dari semua ini adalah tuan besar sedangkan Putra hanya sebagai korban yang dimanfaatkan karena terlalu mencintai Reina....


" Siapa sebenarnya tuan besar yang dimaksud oleh Putra?" tanya Revan dalam hati


" Apakah saya harus meminta untuk melakukan otopsi tuan?" tanya Wili yang langsung menyadarkan Revan dari lamunannya.


" Tidak perlu wil urus saja pemakamannya dengan layak setelah itu temui aku di rumah" ucap Revan kemudian melangkah pergi meninggalkan Wili.


...Ketika Revan hendak melangkah meninggalkan klinik lapas, Revan melihat seperti siluet bayangan seseorang sedang mengintip di balik pohon kemudian menghilang....


" Aku rasa firasat Putra tentang kematiannya benar benar menjadi kenyataan" ucap Revan dalam hati kala melihat siluet pria berjas hitam di balik pohon.

__ADS_1


.......................................


Suasana di ruang kerja yang terletak di mansion utama keluarga Permadi.


" Bagaimana bisa dia mati?" ucap Permadi kala mendengar berita bahwa Putra telah tewas di lapas tadi pagi.


" Saya tidak tahu pastinya tuan namun menurut para dokter yang memeriksanya Putra meninggal karena gagal jantung" ucap Farhan asisten Permadi


" Kau yang bodoh atau aku yang bodoh? kau jelas jelas tahu bahwa Putra tidak memiliki riwayat penyakit jantung, pasti ada yang dengan sengaja membunuhnya. Entah dia di pihak kita atau di pihak Revan, yang jelas kita harus segera mencari tahu masalah ini." ucap Permadi dengan geram


" Baik tuan saya akan menyelidikinya segera." ucap Farhan kemudian melangkah keluar.


" Siapa sebenarnya yang bermain di belakangku kali ini?" ucap Permadi pada diri sendiri setelah kepergian Farhan.


...Setelah cukup lama menghabiskan waktu di ruang kerjanya Permadi lantas keluar untuk membuat wedang jahe sebelum pergi tidur ke kamar....


...Suasana gelap gulita menyelimuti mansion milik Permadi karena memang sebagian lampu dalam mansion telah di matikan....


...Ketika Permadi melewati ruang keluarga ia menangkap siluet seseorang tengah duduk di kursi membelakanginya karena Permadi mengira itu hanya halusinasinya lantas melanjutkan langkahnya kembali ke dapur....


...Permadi meracik wedang jahe kesukaannya dengan sangat ahli ia mencampur beberapa bahan seperti sereh yang di geprek sedikit dengan madu serta perasan limau menambah kesan kesegaran dalam wedang jahenya....


...Permadi lantas duduk di meja makan dan menyeruput wedang jahenya hingga tandas tak tersisa. Cukup lama Permadi duduk di meja makan sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar, saat ia melintasi ruang keluarga tiba tiba suara yang tidak asing di pendengarannya mengejutkan Permadi....


" Apa papa senang aku meneruskan usaha papa" ucap Gerald yang lantas mengejutkan Permadi di kegelapan.


" Gerald?"

__ADS_1


" Bagaimana papa, apakah papa suka?" ucap Gerald kemudian bangkit berdiri dan melangkah mendekati Permadi.


" Jadi kamu yang sudah membunuh Putra?" ucap Permadi menduga ucapan anaknya


" Yes papa, bukankah aku anak yang berbakti pada orang tua? papa yang mendalangi semua dan aku yang membereskan bekas kotoran papa. Wah kita sungguh pasangan orang tua dan anak yang sangat serasi" ucap Gerald dengan bangga menatap Permadi.


" ....................." Permadi hanya diam tidak menanggapi ucapan Gerald karena ia tahu betul karakter anaknya yang persis sama sepertinya.


" Kenapa papa diam? sudah kehabisan kata kata? atau ingin memberi selamat atas keberhasilanku menyingkirkan kecoa itu?" ucap Gerald lagi dengan menatap lurus ke arah Permadi.


" Hentikan ge... papa tidak pernah menyuruhmu membereskan Putra " ucap Permadi akhirnya


" Memang tidak pernah tapi papa yang menuntut ku untuk membersihkannya" ucap Gerald


" Apa maksudmu?" tanya Permadi yang tidak mengerti dengan ucapan anaknya.


" Bukankah aku sudah memperingatkan untuk jangan menyentuh Reina tapi papa tetap melakukannya, jadi apa aku salah jika membereskan kecoa kotor yang hinggap ditubuh Reina?" ucap Gerald sambil menatap tajam ke arah Permadi ditengah gelapnya ruang keluarga.


" Gerald kamu...." ucap Permadi namun tercekat tidak bisa keluar karena tidak habis pikir dengan arah pemikiran anaknya.


" Apa ? aku adalah hasil dari didikan papa, apa papa belum menyadarinya juga? anak umur belasan tahun yang melihat ibunya sendiri di bunuh di depan mata kepalanya bahkan oleh papanya sendiri, apa yang papa harapkan dari anak itu ha? beginilah nasib anak itu sekarang! jika dulu papa bisa kenapa sekarang aku tidak bisa?" ucap Gerald dengan emosi karena kembali membuka luka lamanya.


...Gerald sebenarnya adalah seorang pria yang penyayang, Reina bahkan bisa merasakan hal itu dulu ketika berpacaran dengan Gerald hanya saja trauma dimasa lalunya yang membuat dia menjadi seperti pria psiko....


...Apa yang direkam Gerald waktu ia kecil hingga pembunuhan itu terjadi, semua terekam di memorinya tanpa Gerald sadari Gerald mengulang kembali apa yang dilakukan papanya terhadap ibunya dulu, mulai dari kekerasan fisik, sifat posesif, bertindak semaunya, kasar bahkan membunuh semua seperti kenangan yang terulang kembali dan di putar oleh Gerald sendiri....


...Dan kini Permadi baru menyadarinya bahwa Gerald adalah buah yang tumbuh dari perbuatannya dulu dan sekarang mau tidak mau Permadi harus menuai hasil dari perbuatannya....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2