
"Apa hak mu mengaturku Reina istriku kau hanya orang luar yang tidak memiliki hak apapun jadi berhenti mencampuri urusan rumah tanggaku." ucap Revan dengan emosi.
" Persetan dengan rumah tanggamu itu, yang jelas Reina tetap milikku baik ketika dia sendiri atau bahkan ketika bersamamu!" ucap Gerald dengan senyum mengejek.
...Revan yang mendengar ucapan itu langsung naik pitam dengan perlahan Revan menurunkan Saina dari pangkuannya lalu berlari dan mencengkram kerah jas milik Gerald kemudian memukulnya dengan sangat keras....
Brukkkkkk
Gerald langsung jatuh tersungkur ke tanah dengan noda darah di sudut bibirnya akibat pukulan dari Revan.
" Br*ngs*k kau " ucap Gerald seraya bangkit berdiri dan membalas pukulan Revan.
...Pertarungan sengit terjadi diantara keduanya Revan dan Gerald sama sama tidak mau mengalah. Sedangkan Saina yang melihat pertengkaran dady nya langsung jongkok sambil menangis, Reina yang tersadar karena mendengar tangisan Saina kemudian berusaha melerai Revan dan Gerald....
...Jadilah adegan tarik menarik antara Revan, Gerald dan Reina. Sekuat tenaga Reina mencoba melerai mereka namun selalu gagal hingga pada akhirnya ketika keduanya berhasil di pisah Reina berusaha dengan sekuat tenaga memegangi Revan....
" Sudah cukup hentikan kita pulang sekarang " ucap Reina sambil menatap ke arah Revan.
...Gerald yang mendengar hal itu tentu sangat marah hingga dengan kesetanan Gerald bergerak cepat kearah Revan ingin melayangkan pukulan kembali, Reina yang melihat Gerald berlari ingin memukul Revan dengan gerakan reflek Reina maju dan menerima pukulan tersebut....
Ngingggggggggg
...Telinga Reina berdengung dengan cukup keras setelah mendapat pukulan telak dari Gerald. Reina tidak bisa mendengar apapun ia hanya bisa melihat Revan seperti berteriak dengan menggoyang goyangkan tubuhnya namun tidak terdengar suara apa pun di telinga Reina. Detik berikutnya semua berubah menjadi gelap Reina pingsan setelah menerima pukulan dari Gerald untuk menggantikan Revan....
...Revan yang melihat Reina pingsan dengan noda lebam diarea pipi serta darah di sekitar area telinganya menjadi sangat panik, Gerald yang melihat Reina pingsan lantas mundur secara perlahan dengan tatapan tidak percaya....
"Apa yang telah kulakukan? apa pukulan ku sangat keras?" ucap Gerald sambil terus mundur dengan tatapan masih tidak percaya.
...Revan yang melihat Reina tak kunjung sadar meski bahunya di goyang goyangkan lantas langsung menggendong Reina ala bridal style dan tak lupa menggandeng Saina yang sedang menangis. Gerald yang melihat Revan membawa Reina pergi hanya menatap dengan tatapan kosong hingga ketiganya hilang dari pandangan Gerald....
Sementara itu Revan bingung harus membawa Reina ke rumah sakit atau kantor, yang jadi permasalahannya kini Revan lupa membawa ponselnya bahkan ia tadi berlari kesini tanpa membawa kendaraan.
...Dengan keadaan yang panik akhirnya Revan memutuskan untuk membawa Reina ke kantornya. Revan masuk melalui lift khusus menuju ruangannya yang terletak di basement yang digunakan untuk keadaan darurat, Revan sengaja memilih lift ini karena untuk menghindari pandangan karyawannya yang tentu saja akan langsung menimbulkan gosip bila Revan masuk melalui lobi depan....
__ADS_1
Ting
suara pintu lift terbuka
Ketika pintu lift terbuka Revan lantas langsung membawa Reina menuju ruangannya.
" Tuan apa yang terjadi?" ucap Wili saat berpapasan dengan Revan ketika hendak menaiki lift untuk turun ke bawah.
" Cepat telpon Rian dan suruh dia datang ke sini dalam 5 menit" ucap Revan sambil membaringkan Reina di sofa panjang.
" Baik tuan " ucap Wili sambil melangkah keluar untuk menghubungi Rian.
" Sayang tenang ya mami tidak apa apa dia hanya sedang tidur jadi berhenti menangis ya" ucap Revan menenangkan Saina yang sedari tadi masih menangis.
Setelah menenangkan Saina Revan mengambil beberapa tisu untuk membersihkan darah di area telinga Reina dengan hati hati.
Hati Revan sungguh sakit melihat keadaan Reina seperti ini, ia sungguh menyesal terlalu mengedepankan emosinya terlebih dulu tanpa berpikir akibat yang akan diperolehnya.
" Maafkan aku Rein lagi lagi aku membuatmu terluka." ucap Revan dalam hati sambil membersihkan darah yang hampir mengering di telinga Reina.
Suara pintu terbuka menampilkan sosok Rian dan Wili yang berjalan mendekat.
Ketika Rian sudah dekat dan memeriksa Reina ia begitu terkejut dengan luka yang di dapatkan oleh Reina.
" Van apa lo melakukan KDRT? " ucap Rian sambil kemudian mengeluarkan senter kecil khusus untuk melihat seberapa parah robekan di telinga Reina.
" Lo tentu tahu van bahwa KDRT itu melawan hukum, apa lo mau di penjara van?" cibir Rian sambil terus memeriksa Reina.
" Bisakah lo diam aja dan lakukan tugas lo dengan benar?" ucap Revan dengan nada datar.
Rian bangkit berdiri setelah memeriksa Reina kemudian menghadap Revan dengan tatapan seakan tak percaya.
" Jadi lo benar benar melakukannya gil......." belum juga Rian meneruskan ucapan nya sudah terlebih dahulu di potong oleh Revan.
__ADS_1
" Kau pikir aku seorang psiko yang doyan nyiksa anak gadis orang " ucap Revan dengan ngegas memotong ucapan Rian.
" Psiko sih bukan malah yang lebih tepat untuk muka muka kayak lo itu muka kriminal" ucap Rian sambil terkekeh.
" Sudahlah bagaimana keadaan Reina ?" ucap Revan dengan nada khawatir.
" Tenang aja bro setelah ku periksa luka robekan di telinga Reina tidak terlalu dalam jadi tidak perlu untuk di jahit, syukurlah itu tidak melukai gendang telinganya atau akan membuatnya tuli. Kita lihat saja kedepannya apakah ada reaksi yang ditunjukan pasca pendarahan atau tidak, jika semuanya baik dan tidak ada gejala bisa dipastikan Reina baik baik saja." ucap Rian memberi penjelasan kepada Revan.
" Lalu kenapa ia tidak sadar juga?" ucap Revan
"Tenang saja bro Reina hanya mengalami shock pasca mendapat luka tersebut sehingga pingsan sebentar lagi dia akan siuman kok." ucap Rian menenangkan temannya.
" Hemm syukurlah, Saina sayang apa kau lapar?" ucap Revan sambil menoleh ke arah Saina namun ketika pandangannya tepat mengarah ke arah Saina Revan mendapati putri kecilnya itu tertidur karena kelelahan.
" Sepertinya Saina kelelahan van biarkan dia istirahat dulu." ucap Rian yang tahu kemana arah pandangan Revan.
Rian yang melihat tatapan khawatir dari sahabatnya itu tersenyum dengan cerah, kemudian terlintas suatu ide untuk menggoda Revan.
" Apa lo sudah mencintainya van" ucap Rian dengan senyum menggoda.
" Apaan sih lo yan" ucap Revan dengan nada datar.
" Udahlah jujur aja, pakek acara rahasia rahasian lo kayak abg" ucap Rian yang semakin gencar menggoda sahabatnya itu.
" Bukannya lo udah tau jawabannya, gue itu menikahi Reina karena Saina butuh sosok seorang ibu kenapa lo tanya lagi" ucap Revan
" Gila lo van lo kira Reina itu barang apa, kalau memang hanya itu alasannya kenapa lo marah ketika Reina dekat dengan laki laki lain?" ucap Rian lagi lagi memancing sahabatnya itu agar mau mengungkapkan perasaannya, sebenarnya Rian tidak tahu permasalahannya apa tapi jika di lihat dari luka Reina pasti itu bekas pukulan laki laki dan yang pasti itu bukan Revan, maka bisa dipastikan pelakunya jelas laki laki lain yang bersama dengan Reina dan ternyata bumm tebakan Rian benar adanya.
" Lo tau sifat gue seperti apa, gue paling tidak suka barang milik gue di sentuh orang lain sebelum gue sendiri yang membuangnya, apa kamu masih belum mengerti juga?" ucap Revan dengan santai dan datar.
...Jelas bukan ini jawaban yang diinginkan Rian ia sengaja memancing sahabatnya itu dengan tujuan agar Revan mau mengakui perasaannya pada Reina tapi yang terjadi sekarang malah hal menyakitkan seperti ini yang keluar dari mulut Revan. Rian perlahan menoleh kearah Reina berharap agar Reina belum sadar dan tidak mendengar ucapan Revan namun saat pandangannya tepat ke arah Reina tanpa sengaja Rian melihat air mata Reina menetes perlahan menuruni pipi Reina dengan tubuh yang sedikit bergetar seperti menahan tangis namun tetap dengan mata terpejam....
" Ah sial jadi sedari tadi Reina sudah bangun, goblok kau Rian bisa bisanya lo memancing di air yang keruh." ucap Rian dalam hati sambil merutuki kesalahannya.
__ADS_1
Bersambung