
...Revan yang terus mendapat penolakan dari Reina akhirnya sedikit terpancing emosi kemudian tanpa sadar dengan kasar Revan mulai m*l***t bibir Reina secara paksa, Reina yang mendapat serangan mendadak dari Revan awalnya menolak dan memukul dada bidang Revan berulang kali. Namun karena hal itu tidak juga berefek pada Revan pada akhirnya yang Reina lakukan selanjutnya hanya diam dan membiarkan Revan m*l***t serta menikmati bibirnya....
Air mata Reina kembali menetes perlahan menuruni pipinya.
" Aku benar benar bodoh bahkan hanya untuk menolak ciumannya saja aku tidak sanggup. " ucap Reina dalam hati dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Revan yang sadar Reina tengah menangis mulai menghentikan aksinya kemudian menatap Reina dengan intens.
" Apa aku menyakitimu Rein?" ucap Revan sambil menghapus bulir demi bulir air mata yang jatuh di pipi Reina.
Reina yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Revan hanya memalingkan wajahnya ke samping.
" Jawab Rein jangan hanya diam saja " ucap Revan yang lagi lagi mendapat penolakan dari Reina.
Reina yang mendengar hal itu langsung menatap Revan dengan tajam.
" Apa yang ingin kamu dengar dariku?" ucap Reina
" Aku ingin sebuah penjelasan, tentang sikapmu, tentang ucapan mu, tentang tatapan mu serta segala hal yang tidak aku mengerti akar permasalahannya." ucap Revan dengan sedikit mundur dari tubuh Reina.
" Apa yang tidak kamu mengerti van? kamu mengerti segalanya untuk apa kamu harus bersandiwara? bahkan Rian pun mengerti segala hal tanpa ku jelaskan lalu bagaimana denganmu mana yang tidak kamu mengerti" ucap Reina dengan menumpahkan segala emosinya yang sudah lama terpendam.
Revan yang mendengar hal itu diam seketika tidak menanggapi ucapan Reina.
" Kenapa kamu diam? apa kamu tengah menyadari sesuatu?" cibir Reina
" Aku salah Rein, aku akui aku salah tidak bisakah kamu lebih bersabar dan memaafkan ku. Kita mulai lagi semuanya dari awal ya Rein" ucap Revan dengan nada lirih memohon.
" Sabar kamu bilang, kurang sabar apalagi aku Revan. Ketika kamu bahkan merenggut kesucianku dengan menyebut nama wanita lain aku tetap diam memaklumi oh mungkin suamiku masih mencintai istri pertamanya, ketika kamu berciuman dengan mantan istrimu di depan mataku aku tetap diam oh mungkin aku telah salah faham kepada suamiku, dan ketika kamu menyebutku sebuah barang aku mencoba untuk tetap diam dan masih berpikir positif oh mungkin suamiku menganggap ku barang berharga miliknya. Dimana letak kurang sabarku van padamu? katakan dimana " ucap Reina dengan emosi karena melihat Revan yang begitu entengnya dalam mengatasi sebuah masalah.
Revan terperangah mendengar penuturan Reina ternyata Reina terluka lebih dalam daripada perkiraan Revan.
__ADS_1
" Aku... aku benar benar minta maaf" ucap Revan dengan menyesal.
" Maaf....hanya kata itu yang selalu saja kamu ucapkan, tidak bisakah kamu memandangku sebagai Reina? tidak bisakah kamu membuka hatimu untukku van? Aku Reina bukan Iriana." ucap Reina dengan memohon.
...Revan menatap Reina dengan tatapan tak percaya dia tidak pernah sedikitpun membandingkan keduanya hanya saja wajah mereka yang mirip sehingga membuat Revan terkadang melihat bayang bayang Iriana dalam wajah Reina....
" Kenapa kamu diam lagi van? jika kamu masih mencintai Iriana kejar dia van jangan malah menikahi ku dan menjadikanku pelampiasan mu van. Aku manusia bukan barang aku punya hati untuk merasa van." ucap Reina dengan berlinang air mata.
" Apa yang kamu katakan hubunganku dan Iriana sudah lama berakhir tidak ada lagi kata Iriana di hidupku." ucap Revan dengan tegas.
" Oh ya van, jika memang benar kenapa kamu masih menyimpan segala hal tentang Iriana di sana, kau tahu van kau bahkan lebih mirip seorang psiko yang tidak bisa move dari mantan istrinya." ucap Reina pada akhirnya karena sudah lelah akan tingkah Revan.
" Kamu memasukinya Rein? Sudah ku katakan jangan masuki ruangan itu dan kau melanggarnya?" ucap Revan yang tiba tiba berteriak sehingga membuat Reina terkejut dan sadar bahwa yang dia katakan barusan adalah sebuah pengakuan yang terpendam.
" Bodoh kau Rein" ucap Reina dalam hati ketika menyadari ucapannya.
" Jika aku melarang berarti itu artinya tidak, kamu sudah membuatku kecewa Rein" ucap Revan dengan nada yang lebih rendah kemudian meninggalkan Reina untuk naik ke atas menuju kamarnya.
...Melihat kepergian Revan dengan seperti itu Reina langsung jatuh terduduk kebawah dengan berlinang air mata, Reina baru melihat Revan semarah ini pada dirinya....
...Setelah lama Reina menangis Reina kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke kamar, perlahan Reina melangkah menuju kamar namun tanpa sadar malah berhenti tepat di kamar Revan....
" Tidak, tidak mungkin kita bisa tidur berdua setelah pertengkaran tadi." ucap Reina dengan perlahan mundur dan beranjak dari kamar Revan menuju kamar yang sejak awal Reina tempati ketika sampai di mansion ini pertama kali.
...Reina merebahkan diri di kamarnya, air mata Reina bahkan sudah kering apalagi mata jangan ditanya lagi mata Reina sudah membengkak dan sembap karena terlalu banyak menangis....
...Reina kemudian merogoh ponselnya untuk menelpon Fina berharap dengan mendengar suara sahabatnya itu dapat sedikit meringankan bebannya....
Call on
" Halo Rein, gila lo ya udah hampir 4 bulan lo gak pernah ke toko lagi bahkan untuk menghubungiku saja baru kali ini wah parah lo gue sebenarnya sahabat lo apa bukan sih?" celoteh Fina ketika pertama kali telpon itu terhubung.
__ADS_1
"........." Reina yang mendengar celoteh dari Fina sedikit merasa terangkat bebannya, perlahan bibir Reina mulai terangkat ke atas walau sedikit.
" Halo Rein kemana sih lo ? kenapa hanya ada suara angin yang gue denger" ucap Fina di seberang sana dengan masih mengomel.
" Iya fin " ucap Reina singkat dengan nada yang serak.
" Rein are you ok?" ucap Fina ketika sadar sahabatnya sedang tidak baik baik saja.
...Ya ini adalah salah satu kebiasaan Reina ketika sedang terjadi masalah baik besar maupun kecil ia akan selalu menghubungi sahabatnya itu namun bukan untuk bercerita hanya sekedar mendengar celotehnya. Fina yang sadar Reina sedang tidak baik baik saja selalu menghiburnya walau hanya suara angin yang menjawab Fina. Fina bahkan hafal betul dengan perilaku aneh sahabatnya ini, Fina tidak pernah bertanya apa masalahnya ia selalu membiarkan Reina hanya mendengar celotehnya saja dan mengalihkan Reina dalam masalahnya....
" hemm " jawab Reina lagi dengan air mata yang mulai mengalir lagi.
" Rein kamu pernah mendengar bahwa sebuah badai tidak akan selamanya terjadi? Bersabarlah Rein semua pasti akan berlalu dan baik baik saja." ucap Fina menenangkan sahabatnya.
" Finnnnn " ucap Reina dengan menahan tangisnya.
" No jangan menangis Rein, Reina yang ku kenal selalu bisa melewati badai yang menimpanya, kamu bisa Rein aku yakin itu." ucap Fina kembali meyakinkan sahabatnya itu.
" Makasih fin " ucap Reina
" Sudah ya jangan menangis lagi, sekarang kamu pergi cuci muka terus tidur jangan terlalu memikirkannya oke" ucap Fina lagi
" Kamu sahabat terbaikku Fina" ucap Reina dengan sedikit tersenyum.
" Ya ya ya aku akui itu hehehe, sudah sana pergi jangan lupa langsung tidur dan jangan memikirkannya paham Rein" ucap Fina mengingatkan Reina lagi.
" Iya Fin makasih"
Call off
...Reina kemudian bangkit berdiri dan mengikuti semua yang di katakan Fina setelah selesai kemudian kembali berbaring di kasur....
__ADS_1
" Kamu bisa Rein, kamu pasti bisa." ucap Reina kemudian memejamkan matanya untuk mulai berlayar ke pulau impian.
Bersambung