Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 35 Wajahnya dan Saina mirip?


__ADS_3

Karena rencana masak memasak sudah gagal tadi pagi alhasil Saina merengek meminta diantar jalan jalan ke mall. Revan akhirnya mau tidak mau mengikuti kemauan putrinya tersebut.


Revan pergi ke mall dengan menggunakan mobil Bugatti La Voiture Noire yang merupakan salah satu mobil kesayangannya.


" Van apa tidak terlalu berlebihan? kita hanya pergi ke mall van bukan pesta di gedung putih." ucap Reina yang protes karena Revan terlalu berlebihan.


" Apa yang berlebihan bukannya sama sama mobil" jawab Revan dengan santainya sambil terus fokus menatap jalanan.


" Memang bener sama aja mobil, tapi jika nanti sesuatu terjadi atau bahkan ada yang lecet alamak bisa mampus tuh nanti orang yang nyenggol kalau di suruh ganti rugi." ucap Reina dalam hati sambil cemberut tak suka dengan jawaban datar Revan.


Ketika sampai di mall bukannya turun diparkiran belakang Revan malah menghentikan mobilnya di depan pintu mall yang al hasil tentu saja itu mengundang banyak perhatian pengunjung apa lagi di hari weekend seperti ini.


" Aduh emang bener bener tuh si Revan ya bikin malu orang gak nanggung nanggung, eh pakai acara di datangin satpam lagi aduh apes apes." ucap Reina seraya menunduk karena menahan malu ketika seorang satpam datang ke arah Revan kemudian mengetuk kaca pintu mobil.


Ketika kaca mobil perlahan di buka...


" Eh pak Revan, pagi pak mau belanja ya? Silahkan biar saya bantu." ucap satpam tersebut sambil membukakan pintu mobil untuk Revan.


" loh eh kenal, jangan bilang kalau ini mall punya dia. wih wih sekaya apa nih suami gue" ucap Reina dengan tersenyum geli pada diri sendiri.


" Makasih pak" ucap Revan kemudian keluar dari mobilnya.


" ayo tulun mi kita main bola yeii" ucap Saina dengan gembira kemudian turun dari mobil.

__ADS_1


Ketika Reina turun dari mobil ia sempat kikuk ternyata Revan tengah jadi pusat perhatian


sedari tadi namun ketika melihat Reina dan Saina turun seketika tatapan mereka berubah menjadi kecewa apalagi setelah mendengar Saina memanggil dady dan mami mau tak mau akhirnya para pengunjung mall hanya bisa menghela nafas sambil sesekali melirik wajah tampan Revan tanpa bisa memiliki.


" Jelas saja mereka terpesona, siapa coba yang tidak terpesona dengan ketampanannya apalagi tajir melintir pasti klepek klepek tuh, sayang aja sifat angkuhnya sudah mendarah daging." ucap Reina sambil melirik sesekali ke arah Revan.


Mereka bertiga kemudian berjalan menuju play ground, setelah sampai di sana Saina langsung menarik tangan Reina untuk memasuki area bermain sedangkan Revan duduk menunggu di sofa khusus ruang tunggu orang tua.


Revan melihat Reina dan Saina bermain dengan ceria bahkan tak jarang Reina terjatuh karena mengejar Saina yang berlarian ke sana ke mari, entah mengapa melihat hal itu Revan sangat nyaman dan damai rasanya seperti ia menginginkan semua ini sedari dulu, kini sesuatu yang kosong karena di tinggalkan Iriana 5 tahun yang lalu mulai terisi dan berganti dengan Reina. Bahkan Revan yang dulu hanya memanfaatkan Saina untuk balas dendam kini perlahan mulai menyayanginya.


Revan kini merasa seperti benar benar menjadi sosok seorang ayah dalam rumah tangga kecil nan bahagia seperti dambaannya.


Ketika Revan telah hanyut kedalam kebahagiaan tiba tiba terdengar suara familiar yang merusak imajinasinya yang sudah melambung sangat tinggi.


" Apakah itu wanita yang kau banggakan." ucap Iriana dengan tiba tiba dan mengambil duduk di sebelah Revan.


Iriana yang mendengar hal itu tentu sakit hati, sekejam kejamnya seorang ibu tetap saja mempunyai perasaan sayang kepada anaknya walau sekecil apapun. Apalagi ketika melihat sang anak yang harusnya bahagia bersamanya malah tertawa bahagia bersama orang lain bukankah itu menyakitkan.


" Hentikan kata kata kasar mu van, bagaimana pun kita pernah hidup bersama. Tidak kah ada kenangan indah yang tersisa di mata mu selain penghianatan itu?" ucap Irian dengan nada rendah.


" Penghianat tetaplah penghianat kau tahu jelas bagaimana sifatku, aku mungkin masih bisa memaafkan kesalahan lain namun tidak dengan penghianatan mu itu." ucap Revan dengan tegas sambil terus menatap lurus ke arah Reina dan Saina yang tengah bermain tanpa melihat Iriana sedikitpun.


" van kau juga tahu aku melakukan itu karena mengikuti naluri ku sebagai perempuan van. Aku juga membutuhkannya." ucap Iriana memberi alasan.

__ADS_1


" Kau kira aku pria impoten, aku juga membutuhkan itu namun apakah pernah aku mencari selain dirimu. Lalu apa bedanya kau dengan aku jika memang kita berdua sama sama membutuhkan itu? aku bisa menahannya kenapa kau tidak?" ucap Revan dengan nada yang mulai meninggi namun masih dalam kontrolnya.


" aku.. aku...." ucap Iriana dengan terbata bata.


" Kenapa? baru terpikir kan? jika memang sudah sadar cepat pergi aku sudah lebih bahagia bersama Reina dan Saina" ucap Revan sambil melirik sekilas ke arah Iriana kemudian kembali menatap ke depan.


" Kau jahat van kau memang bahagia dengannya, namun bagaimana denganku? bahkan anakku pun kau merebutnya dariku lalu bagaimana aku harus bahagia katakan padaku bagaimana" ucap Iriana sedikit meninggi sambil menatap ke arah Revan.


" Ibu? ibu yang mana? bahkan ketika ia baru lahir pun kau tidak menoleh nya, ketika hak asuh aku ajukan pun kau hanya diam menerimanya lalu mengapa kau tiba tiba menyalahkan ku, bukankah itu lucu?" ucap Revan dengan nada sinisnya.


" van kau tidak mengerti posisiku jadi stop terus menyalahkan ku atas segala hal " ucap Iriana menanggapi kata kata Revan yang tajam.


Iriana dulu memang mengenal Revan sebagai sosok yang dingin dan cuek namun selama bersamanya Revan adalah seorang yang penyayang dan juga pengertian, namun ketika penghianatan itu terjadi semua seolah berubah Revan yang sekarang tidak hanya sosok yang dingin dan cuek namun juga bermulut tajam dan kasar.


Dari kejauhan terlihat Reina dan Saina sudah selesai bermain dan berjalan mendekat ke arah Iriana dan Revan yang tengah duduk berdua. Iriana yang merasa tak asing dengan wajah Reina kemudian tampak berpikir keras dimana ia melihat wajah itu.


" wajahnya aku seperti pernah melihatnya tapi dimana itu aku lupa" ucap Iriana dalam hati sambil terus berpikir.


Reina yang berjalan mendekat ke arah Revan agak bingung dan bertanya tanya siapa yang duduk dengan Revan di sana.


" siapa itu? apakah temannya Revan? tunggu kenapa wajah Saina dan wajah nona itu hampir mirip ya apa aku yang salah lihat atau bagaimana." ucap Reina sambil terus berjalan mendekat ke arah Revan .


Ketika ke empatnya sudah semakin dekat Iriana kemudian teringat dimana ia melihat wajah Reina.

__ADS_1


" dia kan........"


bersambung


__ADS_2